Yuda baru saja sampai di apartemen, mendapati suasana apartemennya begitu sepi. Dia baru ingat tadi mendapat pesan dari Rana kalau dia pulang terlambat karena pergi ke pesta temannya. Sebenarnya tidak masalah untuk Yuda tetapi Rana harus ingat waktu saja dan jangan sampai pulang begitu larut.
Setelah Yuda mengirimkan balasan agar Rana memberitahu lokasinya karena Yuda akan menjemput, Yuda tidak lagi mendapatkan balasan dari istrinya. Yuda pun merogoh saku celana membawa handphone dan mencari kontak yang bertuliskan “My Love” lalu menekan tombol memanggil.
Yuda mendesah kecewa karena handphone Rana tidak aktif. Dia juga tidak tahu teman-teman Rana karena tahu sendiri kan kalau hubungan mereka ini rahasia, tidak ada yang datang ke pernikahan mereka kecuali keluarga dekat dan juga Mbak Yuli yang sudah seperti kakak Rana sendiri. Pun dengan teman-teman Yuda seperti Nino dan Galang. Setahu Yuda teman Rana hanya Emi yang juga merupakan pegawai di kedai milik kakak iparnya. Hanya Emi yang tahu status Rana sekarang.
Kalau yang di maksud Rana adalah teman-teman sesama modelnya, tentu saja Yuda tidak tahu. Mengingat ini membuat Yuda ingin sekali memberikan pengumuman ke seluruh penjuru dunia jika Rana ini adalah istrinya, miliknya. Tetapi Yuda harus bersabar sampai kontrak kerja Rana selesai setelah itu dia akan memberitahu seluruh dunia.
**
Jam menunjukkan pukul dua belas malam dan Yuda belum juga tidur. Bagaimana bisa tidur kalau istrinya saja belum ada di apartemen dan Yuda tidak tahu harus menjemput Rana di mana. Ingin bertanya kepada Daffa tetapi Yuda tidak ingin membuat kakak iparnya nanti marah kepada Rana karena Rana malah asyik di pesta dan tidak ingat dengan statusnya sekarang.
Sampai akhirnya Yuda baru ingat, dia lupa dengan keberadaan Mbak Yuli yang pasti tahu di mana Rana sekarang tetapi kalau sudah larut begini Yuda tidak ingin mengganggu istrirahat manager istrinya itu. Alhasil Yuda sejak tadi hanya memandanggi handphonenya berharap Rana menghubungi dirinya lebih dulu, karena sejak tadi Yuda tidak juga mendapatkan jawaban karena handphone istrinya masih mati.
Sampai jam menunjukkan pukul satu dini hari, Yuda yang ketiduran di sofa terusik dengan suara pintu yang di buka cukup kencang. Yuda pun beranjak menghampiri seseorang yang baru saja masuk ke dalam apartemen.
Mendapati Rana yang masuk ke dalam apartemen dalam keadaan mabuk, berjalan dengan sempoyongan membuat Yuda mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras bahkan sudah tidak bisa di tahan lagi emosi dalam dirinya membuat kepala Yuda ingin sekali meledak. Yuda melangkah dengan lebar, menarik tangan Rana dengan cukup kasar
“KAMU INI BODOH ATAU APA!” teriak Yuda di wajah Rana, tetapi gadis itu masih belum sadar karena dalam kondisi mabuk. Padahal Rana tadi tidak minum banyak, hanya beberapa gelas tetapi memang Rana yang tidak kuat membuat dia cepat mabuk.
Rana pulang bersama dengan Brian, di antar sampai apartemen tetapi tidak sampai unit apartemennya. Tadi Brian yang setengah sadar pun hanya membiarkan Rana berlalu setelah kekasihnya itu mengatakan menginap di tempat sepupu.
Rana hanya meringis, menutup kupingnya karena teriakan Yuda yang memekkan. Tidak perduli wajah marah sang suami, Rana malah senyum-senyum sendiri.
“SEJAK KAPAN KAMU MINUM! AKU BILANG KAN JANGAN PULANG TERLALU MALAM TAPI KAMU MALAH PULANG PUKUL SATU. OTAK KAMU DI MANA RANA!”
Rana mendengkus, “Berisik banget sih, lagian aku juga butuh senang-senang. Sumpek kalau di apart,” balasnya tampak begitu santai. Mungkin karena pengaruh minuman juga membuat Rana tidak merasa takut meski Yuda sejak tadi membentaknya.
Yuda menggeram, pikirannya sudah tidak bisa di kendalikan. Yuda memikirkan hal yang terjadi saat mendapati Rana yang mabuk seperti ini. Yuda menyadari bagaimana kehidupan Rana di luar, seperti ini kah Rana yang asli yang bahkan begitu akrab dengan minuman seperti ini, Yuda terus mengumpatt melihat kelakuan istrinya yang seperti ini.
Lalu menyadari bagaimana pergaulan Rana di luar sana, Yuda jadi meragukan keperawanan istrinya. Emosi sedang melingkupi dirinya membuat Yuda hilang kendali.
Yuda menatap Rana dengan penuh intimidasi, mencengkram dagu istrinya membuat Rana meringis namun tidak bisa melawan karena tenaga Yuda jauh lebih besar di bandingkan dengan dirinya.
“Aku jadi bertanya-tanya, melihat pergaulan kamu kaya gini. Aku pikir kamu cewek polos tetapi ternyata jauh dari kata polos.”
“Atau kamu udah nggak perawan lagi,” lanjut Yuda begitu tajam.
Rana menatap Yuda dengan wajah sendu, di tengah rasa pusing yang menyerang dirinya karena efek dari minuman yang tadi dia habiskan, kali ini Rana samar-samar mulai sadar, melihat wajah Yuda yang begitu marah di hadapannya lalu mendengar Yuda yang mengatakan bahwa dirinya sudah tidak perawan membuat Rana tersinggung.
“Kamu pikir aku cewek murahann,” lirih Rana.
Yuda menyeringai, “Lebih dari itu, lihat sekarang kamu bahkan nggak ingat kalau status kamu udah jadi istri aku. Kamu pulang ke rumah kaya gini, otak kamu di mana, Ran. Kamu nggak mikir aku sejak tadi khawatir nunggu kamu tahu-tahu kamu pulang dengan keadaan mabuk kaya sekarang, atau kamu juga udah tidur sama pacar kamu.”
Plak.
Satu tamparan berhasil membuat Yuda meringis. Rana menamparnya cukup kencang, mendengar perkataan terakhir yang di ucapkan Yuda tentu saja membuat Rana semkin tersulur emosi, selama ini meski yang Yuda lihat Rana seperti perempuan tidak baik, tetapi Rana menjaga kehormatannya.
“Jangan asal bicara!” seru Rana.
“Kenyataan kaya gitu kan!” balas Yuda. “Kalau pacar kamu bisa tidur sama kamu, kenapa aku nggak bisa bahkan aku suami kamu sendiri. Kita buktikan seberapa nikmatnya kamu dan siapa yang lebih memuaskan kamu, aku ada pacar kamu yang brengsekk itu!”
Tangan Yuda kembali menarik Rana membuat gadis itu ketakutan karena di seret dengan paksa ke dalam kamar mereka. Rana semakin sadar dan sudah tidak terpengaruh dengan minumannya, sekarang dia sudah ketakutan melihat apa yang akan Yuda lakukan.
“Jangan ...” Rana terisak saat Yuda berhasil mendorongnya dan terlentang di atas tempat tidur mereka. Wajahnya mulai di basahi dengan air mata tetapi Yuda tidak menaruh simpati, laki-laki itu terlalu kalut, emosinya tidak bisa di tahan lagi.
Dan malam itu Yuda melakukan kesalahan, meski Yuda berhak atas seluruh tubuh Rana kerena gadis itu adalah istrinya. Tetapi apa yang di lakukan Yuda menyakiti Rana, mengambil haknya dengan begitu terpaksa, bahkan tidak menyadari kalau dirinya menjadi yang pertama untuk Rana, pun sebaliknya.
Malam itu tidak hanya kenikmatan yang Yuda terima, tetapi juga Yuda harus menerima akibat dari apa yang dia lakukan kepada istrinya, Yuda kembali membuka luka lama yang selama ini telah Rana lupakan.
Luka yang membuat Rana menjadi dirinya yang sekarang, jauh berbeda dengan Rana yang di kenal oleh Yuda di masa dulu.