Rana tidak pulang sehabis menyelesaikan pekerjaannya. Dia memilih untuk bersiap dari studio sebelum pergi ke pesta temannya, Bunga. Tadi Rana sudah memikirkan ini semua kalau dia pulang, sudah pasti ke rumah Daffa dan tidak akan mudah untuk Rana kembali pergi apalagi Daffa pasti tahu kalau dia akan pergi dengan Brian. Dan kalau dia pulang ke apartemen, itu juga tidak mungkin karena Brian yang sudah pasti akan mengantarnya dan Rana tidak ingin Brian tahu kalau dia sekarang tinggal di apartemen. Brian pasti akan terus datang dan itu akan semakin membuat rumit.
Akhirnya setelah tadi berbicara juga dengan Mbak Yuli, meminta pendapat juga aga baiknya bagaimana, Rana pun mengiyakan ketika Mbak Yuli sependapat dengan dirinya untuk pergi dari sini saja dari pada ke depannya menjadi rumit. Meski Mbak Yuli juga selama ini selalu saja meminta Rana untuk segera mengakhiri hubungannya dengan Brian, menghargai status Yuda yang merupakan suaminya dan Mbak Yuli juga tidak ingin kalau sampai Rana menganggap pernikahan ini mainan semata.
“Kalau gitu Mbak pulang ya, kamu beneran nggak mau di tunggu sampai nanti berangkat ke pesta? Kok Mbak ragu gitu biarin kamu di sini berdua doang sama manusia itu,” ucap Mbak Yuli.
Rana mengangguk, “Lagian kan udah biasa kalau aku berdua sama Brian, Mbak.”
“Iya tapi sekarang dia semakin beranj aja cium-cium kamu, biasanya juga ya sewajarnya gitu apalagi kamu yang emang nggak mau terlalu intim selama berhubungan sama dia jadi sepasang kekasih. Kok sekarang jadi kaya gitu, Mbak curiga loh ... takut dia jadi ngapa-ngapain kamu,” corocoh Mbak Yuli.
Akhir-akhir ini dia memang tampak menaruh curiga pada Brian, bukan tanpa alasan tetapi sikap Brian kepada Rana sekarang tampak ingin terus berkontak fisik, bahkan beberapa waktu lalu dia memergoki Brian yang mencium sudut bibir Rana meski gadis itu akhirnya kelihatan marah.
“Mbak tenang aja, dia nggak akan berani macam-macam.”
Mbak Yuli mengembuskan napas pelan, kepikiran juga bagaimana pun Rana ini sudah seperti adik kandungnya sendiri membuat dia merasakan kekhawatiran kalau sampai terjadi sesuatu pada Rana.
“Ya udah deh, Mbak pulang ya. kamu hati-hati,” pamit Mbak Yuli meski masih begitu berat membiarkan Rana di sini dengan Brian, mungkin dia akan meminta penjaga keamanan untuk menjaga Rana dan menghubunginya kalau terjadi sesuatu. Jangan sampai itu terjadi.
“Iya, Mbak juga hati-hati di jalan. “
Selepas kepergian Mbak Yuli, Rana pun memilih untuk menghubungi Yuda dengan mengirimkan pesan singkat pada suaminya itu. Mengatakan kalau dia akan pulang terlambat karena menghadiri acara temannya. Setelah itu Rana menunggu Brian yang tadi katanya akan ke kamar mandi, dia juga sudah berganti pakaian. Kebetulan tadi ada gaun yang dia tinggalkan di studio, membuat Rana tidak usah pulang lebih dulu.
Tak berselang lama Brian datang dan sudah berganti pakaian juga. “Kita berangkat sekarang? Katanya kamu belum beli hadiah buat Bunga,” ucap Brian menghampiri Rana yang sedang duduk sambil memainkan handphonenya.
Rana menatap Brian kemudian mengangguk. Dia memang belum memersiapkan apapun untuk Bunga dan sebelum pergi ke tempat acara tadi sempat mengatakan kepada Brian kalau dia ingin mencari hadiah lebih dulu. Waktunya juga masih cukup panjang sampai pesta tersebut di mulai.
“Yuk!” ajak Rana beranjak dari kursi.
Brian merangkul pinggang Rana keluar dari studio menuju mobil yang terparkir di sekitaran tempat mereka bekerja. Memang mereka menghabiskan waktu di sini untuk bekerja, jarang sekali berada di luar studio, bisa di bilang studio menjadi rumah kedua bagi Brian karena laki-laki itu sangat jarang pulang, selalu menghabiskan waktu di sini.
**
“Kira-kira hadiah yang cocok apa ya?” Rana bingung sekali memberikan hadiah apa kepada Bunga. Sudah cukup lama mereka berpindah dari satu toko ke toko lain, beruntung sekali Brian begitu sabar menemaninya keluar-masuk toko.
“Kalau misal perhiasan gitu, gimana?” Brian memberikan saran, mereka melewati toko perhiasan jadinya Brian memberikan saran begitu.
Rana tampak berpikir lalu mengangguk setuju, setelah itu mereka pun masuk ke dalam toko perhiasan tersebut dan mendapatkan sambutan ramah dari penjaga toko yang tentu begitu tahu siapa Rana. Salah satu dari penjaga toko tersebut pun merupakan penggemar Rana sejak awal kemunculannya di dunia permodelan, di tambah sesekali ada pada iklan beberapa produk kecantikan atau pun makanan.
Rana melihat koleksi perhiasan yang ada di setiap rak, semuanya tampak memukau bahkan Rana pun menginginkannya. Rana akhirnya menujuk salah satu gelang yang memiliki model begitu sederhana namun tampak cantik. Setelah meminta pendapat dari Brian akhirnya Rana memutuskan untuk membelikan gelang sebagai hadiahnya kepada Bunga.
Tidak apa mengeluarkan uang yang cukup fantastis, apalagi penghasilannya sekarang memang di tabung karena segela keperluan sudah Yuda yang memberikan. Jadi tidak masalah kalau memakai uangnya sendiri kan untuk membelikan hadiah ini. Brian yang sempat menawarkan untuk membayar pun di tolak Rana secara halus, karena dia pikir ini hadiah darinya jadi biarkan dia yang membayar. Selesai mencari hadiah, Rana dan Brian pun segera pergi ke tempat pesta.
**
Rana begitu senang bertemu dengan temman-temannya, bahka sudah lama sekali dia tidak berkumpul seperti ini. Rana tampak menikmati pesta yang di adakan oleh Bunga ini, bahkan gadis itu melupakan statusnya yang sudah memiliki suami, meski tadi sempat memberikan kabar kepada Yuda tetapi gadis itu belum membaca pesan balasan dari sang suami malah sekarang lupa dengan handphonenya karena terlalu larut dengan kesenangan dia dengan teman-temannya.
Rana duduk bersebelahan dengan Brian, mereka duduk melingkar dengan pasangan masing-masing. Ada sekita empat pasangan termasuk Bunga yang sedang merayakan ulang tahunnya. Berkumpul dengan teman-temannya seperti ini membuat suasana semakin menyenangkan.
Pesta ini begitu bebas bahkan tidak asing ketika Rana melihat adanya minumal beralkoholl di pesta temannya ini. Sebenarnya semua ini tidak asing bagi Rana karena selama berpacaran dengan Brian, kekasihya itu kerap kali membawanya ke diskotikk dan mengenalkan dengan minuman keras. Meski dulu Rana menolak dan tidak berani meminumnya, hanya melihat Brian dan teman-temannya yang tampak menikmati.
Sepertinya cinta itu memang buta, bahkan Rana tidak menyadari Brian dengan lingkungan yang begitu bebas, tetapi Rana tetap mempertahankan hubungan dan begitu mencintai Brian dengan segala keburukannya—minum alkoholl.
Sekarang Rana seakan penasaran dengan rasanya, bahkan saat Brian memberikan satu gelas kecil kepadanya, Rana dengan senang hati menerima dan meneguknya membuat Brian yang sejak tadi hanya mencoba merayu di buat kaget karena kali ini Rana tidak menolak, menampilkan senyum menyeringai di wajahnya saat melihat sang kekasih meminum minuman yang dia berikan.
Teman-temannya pun bersorak heboh ketika melihat Rana yang berhasil meneguk segelas minuman yang di berikan oleh Brian. Karena selama ini Rana lah yang memang tidak minum saat mereka berkumpul seperti ini.
Brian yang duduk di samping Rana semakin merapatkan tubuhnya, bahkan kedua tangannya begitu santai memeluk tubuh Rana dari samping, tidak perduli dengan teman-teman yang melihat kemesraan mereka, karena yang lain pun sama saja.