16 : Curiga

1244 Kata
Rana menggeliat dalam tidurnya. Kedua mata gadis itu terbuka dan pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah wajah sang suami yang masih begitu lelap. Kemudian ingatannya melayang pada kejadian semalam di mana mereka yang larut dalam suasana malam hari dengan di temani hujan di luar kamar mereka. Namun tidak berakhir dengan melakukan yang iya-iya karena Rana kembali merasakan kegelisahan. Rana sendiri menyadari semua ini ketika dulu Brian hendak melakukan kontak fisik yang menurut Rana terlalu intim, memeluknya namun sebelah tangan kekasihnya itu merambat hampir membuka pakaiannya, saat itu mereka sedang berada di salah satu ruangan yang memang selalu di pakai untuk istrirahat saat di tempat kerja mereka. Saat itu tubuh Rana menegang dan wajahnya begitu pucat, lalu dia merasakan perasaan asing, rasa takut yang luar biasa bersama dengan perasaan gelisah setelahnya. Dan dari sana lah Rana mulai menjaga jarak, tidak begitu suka ketika Brian melakukan kontak fisik yang berlebihan kepadanya. Lalu wajah Rana tiba-tiba memerah mengingat ciuman yang terjadi tadi malam. Ciuman pertamanya bersama dengan laki-laki, pun ciuman pertama dengan Yuda selama mereka menikah. Keintiman pertama di antara mereka berdua yang membuat Rana larut dalam suasana karena kelembutan Yuda. Namun apa yang Rana lakukan semalam bersama dengan Yuda tidak membuat dirinya risih atau sampai tidak suka. Mungkin karena Rana ingat bahwa hubungan mereka adalah suami-istri dan sangat wajar jika melakukan itu, bahkan lebih dari ciuman pun sudah sangat sah untuk mereka lakukan. Mungkin juga karena Yuda memerlakukannya dengan penuh kelembutan, meski pada akhirnya Rana kembali merasakan ketakutan dan berakhir dengan mereka yang tidur dengan saling memeluk. Lebih tepatnya Yuda yang memeluk Rana sepanjang malam saat mereka memutuskan untuk tidur. Sadar akan semua yang terjadi tadi malam, Rana merasakan pergerakan dari Yuda membuat gadis itu kembali memejamkan mata dan pura-pura tidur. Yuda bangun dan melihat istrinya masih memejamkan mata, senyumnya terbit saat mengingat kejadian yang semalam, meski tidak berhasil melakukan malam pertama mereka namun Yuda tetap bahagia karena mendapatkan apa yang selama ini selalu dia dambakan setiap kali melihat bibir milik istrinya. Ciuman mereka yang membuat canduu untuk Yuda karena kembali menginginkannya. Semalam ketika mereka berciuman, Yuda merasakan Rana yang begitu kaku dan tidak membalasnya, hal itu membuat Yuda sadar bahwa ciuman itu juga yang pertama untuk Rana dan Yuda sangat bahagia mengetahui itu semua. Karena mereka sama-sama menjadi yang pertama dalam hal tersebut. Yuda beranjak dari posisinya, namun sebelum turun dari tempat tidur dia menyempatkan untuk mencium kening istrinya, pun dengan kecupan di bibir Rana, hanya kecupan saja namun apa yang di lakukan oleh Yuda sukses membuat Rana terkejut, beruntung masih bisa bersikap biasa saja dan semoga Yuda tidak tahu kalau dirinya sedang berpura-pura tidur. Setelah itu Yuda beranjak dari tempat tidur, berjalan ke arah kamar mandi untuk melakukan ritual paginya. Apalgi mengingat yang semalam membuat Yuda harus segera mandi dengan air dingin untuk menyegarkan pikirannya karena mengingat yang iya-iya. Astaga Yuda hampir saja tidak bisa mengendalikan dirinya kalau saja tidak melihat Rana yang begitu ketakutan. Merasa Yuda sudah tidak lagi berada di dekatnya, perlahan Rana membuka kedua matanya. Gadis itu bernapas lega, memegang dadaanya dengan kedua tangan dan merasakan jantungnya yang berdebar cukup kencang. Di tambah kedua pipinya kembali memanas mengingat apa yang sudah Yuda lakukan barusan. Tangan kanannya menyentuh bibir yang baru saja mendapatkan kecupan pagi dari sang suami. Hal itu membuat perutnya terasa menggelitik dan hatinya menghangat. Mungkin kah ini perasaan menenangkan karena melakukan sesuatu yang di mana keduanya sudah memiliki status yang jelas, merupakan suami dan istri. Rana menggeleng, saat pikirannya berkelana ke mana-mana. Kemudian memilih untuk segera beranjak dari tidurnya. Membereskan tempat tidur sambil menunggu giliran ke kamar mandi setelah sang suami selesai. Pagi ini dia ada pekerjaan dan harus segera bersiap-siap. ** “Makasih ya,” ucap Rana. Pagi ini Yuda yang mengantarnya sampai ke tempat kerja, mau bagaimana lagi dia tidak membawa mobil dan tadi kakaknya menyuruh Rana untuk pergi bersama dengan Yuda saat Rana mengatakan sedang menunggu taksi pesanannya. Bahkan Daffa mengganti ongkos taksinya saat sang supir baru saja sampai di depan rumah. Rana mana bisa menolak lagi kalau Daffa sudah seperti itu. Kalau Yuda, tentu saja laki-laki itu tidak masalah Rana berangkat bersama dengan dia atau pun tidak. Karena sudah seperti itu kan hari-hari mereka, apalagi Rana tidak ingin sampai ketahuan jalan bersama dengan Yuda. Memang susah sekali kalau merahasiakan pernikahan mereka, apa-apa harus berpikir dulu sebab dan akibatnya. Yuda mengangguk sembari terus memperhatikan Rana yang sedang merapikan rambutnya. Agak tidak suka ketika istrinya itu mengikat rambut menampilkan leher putihnya. Tetapi lagi-lagi Yuda tidak bisa melarang apalagi tidak ingin sampai Rana merasa terkekang saat bersamanya. Tidak untuk sekarang, kalau Rana sudah menjadi istri sesungguhnya tentu saja Yuda akan melakukan semua yang dia ingin kan termasuk melarang Rana untuk melanjutkan kontrak kerjanya. Toh sebenarnya Yuda lebih dari sanggup untuk membayar denda jika Rana memutuskan kontrak kerja. Rana hendak membuka pintu ketika suara Yuda kembali terdengar dan membuat dirinya menoleh. “Nggak mau pamitan sama suami?” Ini kali pertama Yuda mengantarkan Rana sampai tujuan dan boleh kan kalau Yuda menginginkan Rana berpamitan kepada dia seperti pasangan lainnya. Karena selama ini ketika Rana bekerja, hanya mengatakan “aku berangkat” dan mereka masuk ke dalam mobil masing-masing. “Aku berangkat,” ucap Rana seperti biasa. Kemudian mencoba untuk membuka pintu mobil, “Kenapa nggak di kun—hmmp ...” Yuda mencium bibir Rana sesaat setelag Rana membalikkan badan membuat kedua mata Rana membulat saking terkejutnya. “Sana kerja, hati-hati ya, Sayang,” ucap Yuda setelah berhasil mencium bibir istrinya. Setelah ciuman pertama mereka rasanya Yuda tidak bisa mengontrol keinginannya untuk tidak menyentuh bibir itu. Yuda jadi kecanduann. Rana mendengkus mendengar Yuda yang kembali menyebalkan, lalu memilih untuk segera keluar dari mobil dari pada harus ada season dua dari ciuman yang tadi mereka lakukan. Anehnya Rana tidak bisa menolak dan menikmati apa yang mereka lakukan, membuat pipinya merona kembali membayangkan lembutnya bibir Yuda. Astaga Rana lo kenapa?! “Kamu di anterin sama siapa, Beb?” Rana tersentak mendapati Brian sudah berada di hadapannya, mencoba untuk bersikap biasa saja agar Brian tidak menaruh curiga kepadanya. “Kak Daffa,” balas Rana berbohong. “Kok asing banget mobilnya, ganti mobil?” tanya Brian kembali seolah tidak merasa puas dengan apa yang di katakan oleh Rana. “Punya teman dia, kemarin gantian gitu. Nggak tahu deh aku juga nggak ngerti.” Bria mengangguk, “Malam nanti Bunga ngadain pesta ulang tahun, nanti aku jemput.” “Hah?! Kayanya aku nggak bisa.” “Ayo lah, Beb. Kamu kenapa kaya ngehindar gini sih sama aku?” “Perasaan kamu aja, aku biasa aja sih.” “Nggak! Bukan perasaan aku aja tapi emang kaya gitu kan. Ada cowok lain selain aku iya?!” Brian tampak terpancing emosi, akhir-akhir ini memang merasa aneh saja dengan kekasihnya, lebih banyak menghindar dan mereka pun sangat jarang berteleponan saat malam hari seperti dulu. “Kok kamu marah gitu. Pake nuduh aku yang nggak-nggak, apa kamu yang punya cewek baru?” Rana jadi ikut terpancing. Walaupun yang di katakan Brian benar kalau ada laki-laki lain tetapi kondisinya berbeda. “Ok. Aku salah, aku minta maaf dan aku nggak punya cewek lain selain kamu.” “Ya udah aku nanti datang ke acaranya Bunga.” Brian tersenyum mendengar perkataan kekasihnya, “Nanti aku jemput.” Rana mengangguk, mungkin tidak apa-apa keluar malam apalagi sudah lama dia tidak berkumpul dengan teman-temannya. Jenuh juga selama ini selalu berada diapartemen, sampai menunggu Yuda pulang. Rana harap Yuda mengerti kalau dia masih ingin bermain dengan teman-temannya di luar sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN