“Jadinya mau honeymoon ke mana?” tanya Bu Nurma.
Mungkin ini sudah yang ke tiga kalinya Yuda dan Rana mendapatkan pertanyaan yang sama dari Bu Nurma dan mereka masih belum tahu tujuan mereka untuk melakukan yang namanya honeymoon. Bahkan berpikir untuk hal seperti itu saja tidak pernah, jadi wajar kan mereka tidak tahu mau ke mana.
“Kok malah pada diem? Masih belum ada tujuan juga?” Bu Nurma melihat anak dan menantunya malah diam tanpa berniat menjawab.
Yuda dan Rana saling berpandangan. Seharusnya mereka tidak usah datang saat mamanya mengajak untuk makan malam bersama. Tetapi apa boleh buat tentu saja baik Yuda maupun Rana tidak memiliki alasan untuk menolak ajakan sang mama untuk makan malam di kediaman keluarga Alhanan.
Sore tadi saat Yuda selesai mendatangi pernikahan Galang, pun dengan Rana yang juga selesai dengan pekerjaannya. Mereka sama-sama pulang ke apartemen, lalu melakukan kegiatan masing-masing seperti biasa kalau mereka sedang berada di apartemen. Namun tiba-tiba Rana mendapatkan telepon dari ibu mertuanya yang meminta untuk datang ke rumah sekaligus makan malam. Rana tidak mungkin kan menolak jadi dia akhirnya memberitahu Yuda tentang hal itu. Dan pertanyaan tentang honeymoon kembali terlontar dari mulut Bu Nurma.
“Kerjaan Yuda masih banyak, Ma. Lagian kan nggak perlu ada honeymoon segala,” ucap Yuda membuat sang mama mendelik tidak suka dengan apa yang baru saja di katakan oleh anaknya.
“Kamu ini gimana sih, yang harus honeymoon dong biar kalian itu bisa nikmatin waktu berdua, lepas dari segala aktifitas kerja gitu loh. Kamu emang nggak romantis banget sih jadi suami,” sindir Bu Nurma.
Yuda mengembuskan napas pelan, sudah tidak bisa lagi menjawab lah kalau sudah mamanya yang mengatakan panjang lebar dengan begitu menggebu-gebu, apalagi di tambah dengan sindiran yang mengatakan bahwa dia tidak romantis sebagai suami. Bukannya tidak romantis, dia bisa melakukan yang lebih dari romantis tetapi kan Yuda dan Rana masih sama-sama membiasakan diri dengan pernikahan mereka.
“Rana masih ada beberapa kerjaan, Ma,” ucap Rana kali ini, suaranya begitu pelan karena tidak ingin ibu mertuanya tersinggung. Apalagi sudah lama sekali beliau bertanya perihal tujuan mereka untuk melakukan honeymoon.
Rana juga mengatakan yang sebenarnya. Bagaimana pun dia harus bekerja dengan profesional dan disiplin. Tidak mungkin dia mengambil libur di tengah-tengah kesibukkannya perihal pemotretan. Apalagi nanti ada pemotretan produk baru dan sudah membayar dia cukup besar. Rana harus melakukan pekerjaannya dengan sebaik mungkin. Tidak ingin sampai mengecewekan pihak mana pun.
Bu Nurma menatap menantunya dengan begitu lembut, berbeda sekali saat menatap sang anak dengan delikan seperti tadi. Lihat kan bahkan Yuda merasa siapa di sini yang merupakan anak dari mamanya, sudah jelas mamanya begitu menyayangi Rana dari pada dirinya. Tetapi Yuda tidak iri malah senang saja karena sang istri bisa dekat dengan mamanya bahkan di sayangi dengan begitu besar.
“Kira-kira kalau awal bulan kamu bisa pergi nggak, Ran?” tanya Bu Nurma masih membujuk menantunya agar mau pergi honeymoon. Bu Nurma sudah tidak sabar mendengar kabar bahagia dari anak dan menantunya, iya apalagi kalau bukan kehadiran cucu pertama di tengah keluarga besar Alhanan.
“Rana usahakan ya, Ma. Tapi Rana nggak bisa janji soalnya emang padat banget jadwal pemotretannya, di akhir bulan sampe awal bulan depan,” balas Rana.
Meski tidak mendapatkan kepastikan kapan menantunya akan mendapatkan libur tetapi Bu Nurma tetap senang dengan jawaban Rana, karena gadis itu mengatakan akan mengusahakan untuk libur, berarti ada kemungkinan kan untuk Rana dan Yuda pergi honeymoon.
“Oke, semoga kerjaan kamu lancar terus cepat beres. Biar kalian bisa nikmatin waktu berdua nanti.” Bu Nurma tersenyum lebar, Rana hanya mengangguk dengan senyum tipisnya. Pun dengan Yuda yang menjadi penyimak di antara keduanya.
**
Malam ini Yuda dan Rana menginap di kediaman keluarga Alhanan. Mereka sudah berada di kamar setelah melakukan makan malam bersama dengan orang tua mereka. Tadi Rana membawa beberapa pakaian karena memang tidak ada pakaian ganti lagi di kamar ini. Kecuali pakaian Yuda yang memang di biarkan oleh laki-laki itu sebagian di sini, hitung-hitung untuk gantinya kalau menginap seperti malam ini.
Yuda sudah naik ke atas tempat tidur, sibuk dengan handphonen tengah bertukar cerita dengan kedua sahabatnya. Tetapi hanya dia berdua dengan Nino, karena sudah mereka duga kalau Galang mematikan handphonennya. Tentu saja tidak ingin di ganggu saat malam pertamanya. Alhasil mereka berdua bergosip tentang Galang.
Nino : Aduh, malam ini ada yang belah duren.
-Awas Bang Yuda kepengen.
Yuda : Kayanya beneran di matiin dah handphone si Galang, centang satu bro.
-berisik lo, No. Kaya lo nggak kepengen aja.
Nino : Wkwkwk ... gue bentar lagi kelonan ah.
Yuda : Anjirr! Sana lo!
Nino : Lo juga kan, Yud. Mana lagi hujan begini kan enak anget-angetan.
Yuda “ Setann!
Yuda menyimpan handphonennya. Nino ini kenapa sekarang malah sama seperti Galang, suka sekali menggodaaa dirinya apalagi masalah peranjangan. Yuda mendengkus, dia kan jadi ingat perkataan Nino enak anget-angetan.
Tidak mungkin kan Yuda meminta pada Rana agar mereka melakukan yang iya-iya, Yuda sudah berjanji juga mereka akan membiasakan diri lebih dulu dan tidak akan melakukan yang iya-iya sebelum keduanya memiliki perasaan yang sama.
Di sini Yuda yang menunggu kepastian perasaan Rana kepadanya karena dengan perasaan yang Yuda miliki kepada Rana, dia begitu mencintai Rana jauh sebelum mereka tahu kalau mereka di jodohkan. Jauh sebelum mereka yang berakhir dengan menikah.
Yuda mencintai Rana karena gadis yang menjadi istrinya itu sudah menjadi cinta pertamanya. Namun untuk perasaan Rana, Yuda harus sabar apalagi yang dia tahu kalau Rana memiliki kekasih, rasanya ingin sekali Yuda menunjukkan kepada dunia bahwa Rana miliknya, bukan kekasih dari Brian yang selama ini di ketahui oleh publik.
Klek. Pintu kamar mandi terbuka, muncul lah Rana yang tampak segar sehabis mandi. Katanya dia kembali gerah meski di luar sudah turun hujan, alhasil Rana kembali mandi dan sekarang merasa begitu segar.
Kedua mata mereka bertemu. Ada perasaan asing yang tidak pernah Rana sadari, dia hanya tahu jantungnya berdebar dengan begitu cepat namun tidak tahu karena apa sampai merasakan seperti ini. Pun dengan Yuda melihat Rana sehabis mandi malah membuat pikirannya berkelana, membayangkan kalau saja mereka bisa mandi bersama.
Astaga Yuda, kenapa dia bisa membayangkan hal yang seperti itu.
Yuda memilih untuk segera merebahkan tubuhnya. Tidak ingin terlalu lama memandangi Rana yang nantinya bisa saja membuat dia akan menerkam Rana malam ini. Apalagi melihat Rana yang memakai pakaian tidur dengan celana pendek, di tambah pakaian yang benar-benar membuat kewarasannya hampir saja hilang. Rana memakai pakaian dengan tali spagetti.
Bayangkan semenggodaaa apa Rana malam ini untuk Yuda. Di tambah lagi rambut yang masih basah, lama-lama tubuh bagian bawahnya yang di buat basah. Shitt ... Yuda bisa gilla.
Rana dengan begitu santai tampak mengeringkan rambutnya. Menoleh sebentar ke arah Yuda yang sudah memejamkan kedua matanya. Ngomong-ngomong soal pakaian yang dia kenalan sekarang, sebenarnya Rana salah membawa pakaian tersebut.
Lagi-lagi dia kembali lupa kalau akan menginap dengan Yuda, alhasil mau tak mau Rana pakai saja apa yang dia bawa, karena hanya membawa pakaian tidur dan pakaian untuk besok. Di sini benar-benar tidak ada pakaiannya. Sepertinya Rana harus berpikir ulang, dia harus menyimpan kembali pakaiannya di sini, kalau-kalau dia kembali menginap dengan Yuda di rumah mertuanya seperti sekarang.
Selesai mengeringkan rambut, Rana pun ikut berbaring di samping Yuda. Malam ini hujan cukup deras membuat suasana malam begitu dingin, padahal tadi saja dia kegerahan dan sekarang malah sebaliknya.
Rana menyingkap selimut dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan Yuda membuat pergerakan kecil yang mengusik suaminya. Yuda yang tidur menatap langit-langit kamarnya kemudian berbalik, menyamping ke arah Rana yang sekarang juga tengah tidur dengan posisi menatap ke arah Yuda.
Kedua mata Yuda yang semula terpejam kini terbuka lebar dan menikmati pemandangan di hadapannya. Wajah Rana yang begitu cantik membuat Yuda begitu hanyut dalam pesona gadis itu. Yuda mengikis jarak di antara mereka, tidak ada penolakan dari Rana yang mungkin gadis itu pun terbawa oleh suasana malam ini.
Tangan kanan Yuda menyentuh pipi sang istri, merasakan kelembutan kulit pipi Rana yang mengantarkan pada perasaan ingin terus menyentuhnya, bahkan menyentuh seluruh tubuh Rana dan memiliki istrinya. Namun lagi-lagi Yuda masih dalam kesadarannya, dia tidak boleh membuat Rana merasa terpaksa melayaninya.
Rana yang menerima perlakuan begitu lembut dari suaminya memejamkan kedua mata, merasakan gejolak yang tiba-tiba muncul dalam dirinya, jantungnya kembali berdebar dengan begitu cepat. Apa kah kali ini Rana menyadari bahwa debaran itu di karenakan adanya Yuda di dekatnya dan karena sang suami Rana merasakan perasaan menggebu seperti ini?
Iya. Rana mulai menyadarinya, mungkin apa yang selama ini dia rasanya, dengan semua hal yang membuat Rana terbiasa akan kehadiran Yuda di dalam hidupnya, membuat perasaan itu hadir di dalam dirinya. Perasaan jatuh akan pesona suaminya sendiri, perasaan yang sebelumnya belum pernah Rana rasakan saat bersama dengan Brian.
Bersama dengan Yuda, Rana merasa dia akan begitu di lindungi dan merasakan bahwa tempatnya untuk membagikan semua yang dia rasakan adalah kepada Yuda, suaminya. Sangat berbeda dengan apa yang di rasakannya kepada Brian. Hanya merasa di sayangi.
Wajah keduanya semakin mendekat membuat Rana memejamkan mata kembali di saat dia merasakan sentuhan lembut pada bibirnya. Yuda dengan segala kesadarannya menyatukan bibir mereka, menyesap setiap inci bibir milik istrinya.
Perasaan yang menggebu namun masih bisa Yuda kendalikan, bahwa dia tidak boleh menyentuh Rana lebih dari ini. Cukup dengan menikmati bibir sang istri membuat perasaan Yuda begitu luar biasa bahagia.
Akhirnya ciuman pertama mereka, benar-benar ciuman pertama untuk keduanya. Karena selama ini tidak ada yang menyentuh bibir Rana, dia begitu menjaganya. Pun dengan Yuda yang selama ini tidak pernah menjalin hubungan denan siapa-siapa karena seumur hidupnya hanya ada Rana yang berhasil menempati relung hatinya.
“Stop, Yud.”
Perkataan Rana membuat Yuda tersadar, hampir saja dia menyentuh Rana lebih dari ini meski sebenarnya itu hal yang wajar saja mengingat mereka sah sebagai suami istri.
“Kamu udah janji buat nggak nyentuh aku,” lirih Rana. Bukan tidak ingin memberikan hak kepada Yuda tetapi Rana memang masih belum bisa.
Yuda melihat wajah Rana yang memucat membuat hatinya khawatir karena benar-benar tidak pernah dia melihat Rana yang sepucat ini, di tambah sorot mata yang memancarkan ketakutan membuat Yuda semakin tidak tega untuk menyentuh Rana lebih.
Yuda kembali menurunkan pakaian Rana yang tadi sempat dia tarik ke atas dan satu hal yang Yuda sadari istrinya tidak memakai penghalang lagi di balik pakaiannya membuat tubuh bagian bawah Yuda menengang dengan sempurna.
Rana memejamkan kedua matanya, ada ketakutan sendiri yang dia rasakan, Rana sendiri tidak mengerti apa yang menjadi alasan ketakutan ini muncul tetapi karena ketakutan ini juga selama berpacaran dengan Brian mereka tidak melakukan sentuhan dengan begitu intim, setiap kali Brian hendak melakukan sentuhan di setiap jengkal tubuhnya meski itu hanya memeluk dengan begitu intens wajah Rana selalu pucat dan dia akan merasakan kegelisahan tanpa di duga.
Yuda menenangkan Rana yang kelihatan gelisah, merengkuh tubuh istrinya dan mengelus punggung sang istri sambil meminta maaf. Yuda mencium puncak kepala sang istri dengan penuh kasih sayang.
“Kita tidur ya,” bisik Yuda yang di balas dengan anggukan oleh Rana. Malam ini mereka kembali tidur dengan saling memeluk, Rana berada dalam dekapan Yuda dengan begitu nyaman.