14 : Risih

1461 Kata
Yuda berada di tengah keramaian pesta pernikahan Galang dan istrinya yang bernama Amelia. Tentu saja dia tidak datang dengan Rana karena akan menarik perhatian publik kalau sampai dia datang bersama dengan Rana yang merupakan model ternama di kota ini, apalagi pernikahan mereka masih di rahasiakan dari khalayak ramai dan publik hanya tahu kalau Rana memiliki hubungan dengan seorang fotografer bernama Brian. Yuda tengah menyantap makanan yang sudah di hidangkan di pesta ini, dia duduk bersama dengan Maria dan juga Nino beserta anak-istrinya. Mereka juga tampak berbicang santai membahas pernikahan Galang yang akhirnya bisa di selenggarakan setelah drama yang terjadi antara pasangan pengantin baru itu beberapa waktu lalu. “Gue kira lo bakalan datang sama bini lo, Yud,” ucap Nino yang sedang menyuapi istrinya karena sang istri yang tengah menggendong anak mereka sambil menyuapi makanan juga. Tampak begitu romantis karena saling menyuapi. “Nggak lah, lo ngada-ngada aja. Yang ada bakalan heboh ntar kalau sampe gue datang sama Rana Jalan berdua aja gue nggak pernah.” “Seriusan?” Nino tidak menyangka bahwa sahabatnya itu malah tidak pernah jalan berdua dengan istrinya. Apa sesulit itu untuk bisa menghabiskan waktu berdua dengan berjalan-jalan ke luar. “Tapi kan berdua di apart lebih enak ya, Bang Yuda,” celetuknya kemudian membuat sang istri yang duduk di sampingnya ikut terkekeh. “Ya gitu deh,” balas Yuda sekenanya. Enak dari mana, di apart aja nggak ngelakuin yang iya-iya kalau berdua. Astaga kenapa Yuda berpikir ke arah sana, emang kalau sudah membahas yang enak selalu saja pikirannya melalang buana. Mereka tidak menyadari raut wajah Maria yang tidak begitu bersahabat. Dia tidak suka kalau pembahasan malah menyudutkan Yuda seperti ini, membahas Yuda dan istrinya membuat hatinya memanas. “Lo kapan nyusul Galang, Mar?” kali ini Nino menatap Maria yang sejak tadi hanya menyimak obrolan mereka. Marian tersenyum tipis. “Belum ada yang cocok, lagian gue sibuk sama kerjaan juga,” balasnya. “Jangan terlalu sibuk kerja, kita semua udah pada punya pasangan. Masa lo belum kelihatan ada gandengan dari dulu,” timpal Yuda. Mengingat memang di antara mereka berempat, sejak dulu Maria tidak terlihat dekat dengan laki-laki. Kecuali mereka bertiga. “Iya-iya, nanti juga gue ada gandengan.” ** Akhir-akhir ini pekerjaannya cukup memakan waktu membuat Rana pulang lebih sore dari biasanya. Hal itu tidak di permasalahkan oleh Yuda karena suaminya itu sangat mengerti dengan pekerjaan Rana sebagai model. Meski ingin sekali Yuda mengatakan kepada Rana untuk berhenti bekerja apalagi dengan Yuda yang tentu saja bisa memenuhi kebutuhan mereka berdua. Tetapi ada kontrak yang harus Rana selesaikan membuat Yuda tidak mungkin seenaknya melarang Rana untuk segera berhenti dari pekerjaannya. Selagi Rana menjadi istri yang penurut dan bisa melayani dia dengan baik, pun bisa menghargai dia sebagai suami, tidak masalah dan Yuda akan menunggu sampai kontark kerja itu selesai. Kali ini Rana sedang berada di studio foto, baru saja menyelesaikan pemotretan untuk majalah perempuan dan tentu dengan fotografernya adalah Brian. Mereka sepertinya sudah sullit untuk di pisahkan karena selalu melakukan pekerjaan bersama-sama. Brian tidak masalah sama sekali, apalagi bisa selalu dekat dengan kekasihnya. Anehnya, Rana justru akhir-akhir ini merasa tidak nyaman. Entah kenapa perasaan itu muncul begitu saja, atau mungkin karena Mbak Yuli selalu mengingatkan agar dia menjaga sikapnya terutama saat bersama dengan Brian. Iya. Ibu satu anak itu yang menjadi manager Rana selalu mengatakan agar Rana tidak terlalu bermesraan dengan Brian. Menjalin hubungan sewajarnya saja apalagi dengan Rana yang sekarang sudah berstatus sebagai seorang istri. Memang orang-orang tidak tahu dengan statusnya dan yang publik tahu adalah Rana dekat dengan Brian, tetapi Mbak Yuli hanya ingin Rana menjaga diri saja dan menghargai posisi Yuda sebagai suaminya meski hubungan mereka masih di rahasiakan. Rana juga sekarang sudah berpikir tentang semua hal yang sekarang ini membuat kepalanya pusing. Terlalu rumit sekali hubungan yang tengah dia jalani, entah dengan Yuda atau pun dengan Brian. Karena jujur saja Rana belum bisa melepaskan Brian dan tidak mungkin jika dia melepaskan Yuda. Pernikahan bukan untuk main-main kan. Rana juga akhi-akhir ini berpikir untuk mengakhiri hubungannya dengan Brian, rasa cintanya yang dulu menggebu-gebu kepada Brian, sekarang sepertinya sudah mulai tak terlihat. Rana memang menyayangi Brian, tetapi untuk cinta, entah Rana merasa hubungan mereka sekarang begitu hambar. Pun dengan Brian yang akhir-ahir ini tidak begitu perhatian kepadanya. Seperti ada yang tengah laki-laki itu sembunyikan dari dirinya. Namun Rana tidak ingin berpikir macam-macam. Mungkin memang hubungan mereka sedang berada dalam titik jenuh. Begitu yang Rana pikirkan dan dia rasakan. “Katanya hari ini sahabat Yuda nikah?” tanya Mbak Yuli. Rana menoleh dan mengangguk singkat. “Iya, tadi dia pergi ke sana.” “Dan kamu nggak temani dia?” “Ya gimana lagi, Mbak kan tahu sendiri kerjaan aku sama Yuda. Bisa heboh kalau sampai publik tahu aku sama Yuda kelihatan jalan barengan.” “Mbak itu greget banget deh, gini ya kalian itu kan udah punya hubungan yang lebih dari sekedar pasangan kekasih tapi nggak bebas banget kalau mau ke luar sama-sama. Mbak jadi ngerasa bersalah, kalau aja kemarin kamu nggak tanda tangan kontrak, hubungan kalian pasti nggak mesti di rahasiakan kaya gini. Kalian bisa kaya pasangan suami-istri pada umumnya.” Mbak Yuli tampak bersalah, karena memang kontrak baru itu dia yang memberikan dan menawarkan kepada Rana untuk bisa lebih meningkatkan kariernya. “Apa sih, Mbak. Nggak ada yang salah juga, lagian kan emang nggak terduga gitu kalau ternyata aku di jodohin,” ucap Rana. “Tapi ya, Ran. Suami kamu bisa kali bayar denda kalau kamu emang mau lepasin kontrak kerja itu,” ujarnya membuat Rana melotot. “Astaga Mbak Yuli yang baik hati, jangan ngada-ngada deh. Nggak ah, mana bisa aku minta dia buat bayar denda kaya gitu. Aku tetap profesional lagian kontraknya juga nggak lama, jadi selow aja lah, Mbak.” “Ya siapa tahu kamu berubah pikiran.” “Mbak ada-ada aja,” balas Rana. “Oh iya terus kamu sama dia ada rencana buat honeymoon nggak ni?” tanya Mbak Yuli membahas kembali pernikahan Rana dan Yuda. “Honeymoon apa—“ “Siapa yang mau honeymoon?” Rana berjengkit kaget dengan keberadaan Brian yang tiba-tiba sudah menghampiri mereka. Pun dengan Mbak Yuli yang sudah panik karena takut Brian mendengar apa yang sedang mereka bahas. Brian duduk di samping Rana, menunggu jawaban kekasihnya yang tadi mengatakan perihal honeymoon. “Honeymoon apa, Beb?” Brian kembali bertanya. “Ah ... itu tadi ada gosip! Ah iya ada gosip salah satu artis gitu yang mau honeymoon. Jadinya aku sama Mbak Yuli ngobrolin artis itu,” ucap Rana tentu saja berbohong. “Benar kan, Mbak?” Rana menatap Mbak Yuli yang kemudian perempuan itu mengangguk setuju. “Oh, kirain siapa yang mau honeymoon. Kita bisa juga honeymoon besok kalau emang kamu mau, Beb.” “Apa sih, Bri,” timpal Rana tidak begitu suka mendengar perkataan Brian. Brian terkekeh, “Iya deh, bercanda. Kan nikah dulu,” katanya. “Ya udah kita siap-siap pulang, Ran,” ajak Mbak Yuli tidak ingin pembahasan honeymoon membuat Rana malah menjadi kesulitan untuk menjawab jika Brian bertanya macam-macam. Rana mengangguk, bernapas lega karena Mbak Yuli sangat sigap mengalihkan pembicaraan mereka. Kemudian gadis itu segera membereskan tas yang tadi dia bawa, memasukkan barang-barang ke dalam tasnya kembali. “Aku nggak bisa anterin kamu hari ini, nggak pa-pa kan, Beb?” “Iya, kan kamu masih ada kerjaan juga habis ini. Aku bisa pulang sama Mbak Yuli kok,” balas Rana. Sebenarnya senang juga karena Brian tidak bisa mengantarnya karena kalau bersama dengan Brian, dia tentu harus pulang ke rumah Daffa dan Rana tidak ingin sampai Yuda kelelahan karena menjemput dirinya di sana. Tunggu ... sejak kapan Rana mengkhawatirkan Yuda? “Kalau gitu kamu hati-hati ya, kasih kabar kalau udah sampe di rumah.” Brian mencium piipi Rana dengan begitu tiba-tiba, bahkan yang kedua kalinya hampir saja menyentuh bibir gadis itu membuat Rana tersentak. “Bri, malu kalau ada yang lihat,” ucap Rana tidak nyaman sekali kalau sampai ada yang melihat Brian melakukan hal seperti tadi. “Wajar dong, kita kan pacaran. Kamu kenapa sih selalu aja nolak.” “Kamu tau alasannya, aku nggak suka dengan gaya pacaran terlalu berlebihan.” Brian mendengkus. Padahal mereka sudah lama berpacaran tetapi mencium pipi saja, Rana sampai kesal seperti ini. Lagipula apa salahnya, orang-orang juga tahu kalau mereka tengah menjalin hubungan dan wajar kan kalau pasangan kekasih bermesraan seperti ini. “Aku pulang dulu.” Rana memilih untuk segera pergi, berpamitan kepada Brian dari pada mereka beradu mulut nantinya karena keinginan Brian yang dengan gaya pacaran menurutnya sendiri. Sementara Rana sejak dulu risih dengan apa yang di inginkan oleh kekasihnya. Apalagi sekarang, ingat kan Rana ini istrinya Yuda dan Rana jadi merasa bersalah kalau melakukan hal yang terlalu berlebihan –menurutnya- seperti apa yang di lakukan Brian tadi meski hanya mencium pipinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN