13 : Cemburu

1452 Kata
“Kamu habis dari mana tadi?” Baru saja masuk Rana selesai berganti pakaian dia sudah mendapatkan pertanyaan dari Yuda yang tampaknya baru masuk ke kamar. Rana tampak santai malah berjalan ke arah cermin dan duduk di kursi lalu sibuk dengan skincarenya membuat Yuda mengepalkan kesal karena tidak mendapatkan jawaban dari istrinya. “Kamu punya kuping nggak sih, aku tanya malah nggak jawab!” seru Yuda sudah tidak bisa menahan emosinya. Cemburu butanya tadi membuat darahnya mendidih, Yuda tidak suka melihat Rana dengan laki-laki lain meskipun itu kekasihnya. Karena di sini posisi Yuda lebih unggul dari laki-laki itu. “Kamu baru datang kenapa pake acara marah-marah sih,” balas Rana masih sibuk dengan skincare. “Tadi aku selesai pemotretan makan sebentar di cafe. Habis itu ke sini terus nunggu kamu jemput,” lanjutnya. “Makan berdua sama cowok, pake adegan romantis segala.” Yuda begitu ketus, kali ini suami yang tengah dalam mode cemburu itu duduk di tepi ranjang memerhatikan istrinya yang sedang merawat wajah dengan segala macam produk yang tidak Yuda pahami. Rana menoleh lalu mengembuskan napas pelan. Tidak menyangka kalau Yuda bisa tahu dia tengah makan di cafe dengan Brian. Kenapa setelah menikah dengan Yuda sepertinya setiap apa yang dia lakukan bisa begitu cepat di ketahui oleh suaminya. “Iya sama Brian, lagian kenapa sih kan kamu tau aku punya pacar.” “Dan aku suami kamu kalau kamu lupa.” timpal Yuda dengan penuh penegasan. “Aku udah pernah bilang kan sebelumnya sama kamu dan kamu kan nggak masalah juga dengan status aku yang punya pacar karena pernikahan kita juga gara-gara perjodohan. Lagian di bandingkan kamu yang meski punya posisi lebih unggu dari Brian, nggak bisa di hindari kalau Brian lebih dulu mengenal aku. Kamua hanya orang baru di kehidupan aku.” Perkataan Rana membuat Yuda terdiam. Rana tidak menyadari rahang Yuda yang tampak mengeras, tangannya yang mengepal karena perkataan yang baru saja dia lontarkan dengan begitu santai tanpa merasa bersalah bahwa Yuda tampak begitu terluka. Seharusnya Rana tahu Yuda bahkan lebih dulu ada dalam hidupnya di bandingkan dengan Brian yang baru dua tahun ini menjadi kekasihnya. Yuda beranjak dari ranjang, tanpa mengatakan apapun dia keluar dari kamar. Memilih untuk meninggalkan istrinya dari pada dia tidak menahan emosinya yang bisa saja berakhir menyakiti Rana, Yuda tidak ingin Rana terluka karenanya. Rana menatap punggung Yuda yang sudah menghilang di balik pintu. Masih belum menyadari dengan apa yang baru saja dia katakan, yang menyakiti hati suaminya. Malah perempuan itu kembali dengan kegiatannya, tadi memang memilih mandi di sini sambil menuggu Yuda yang menjemputnya. ** Yuda duduk di ruang tengah rumah Daffa. Dia memang menjemput istrinya di sini setelah Rana mengabarkan bahwa dia pulang ke sini setelah selesai pemotretan. Yuda tahu alasannya tanpa harus Rana katakan dengan jujur. Sudah pasti karena Brian yang mengatarkan Rana selesai bekerja dan tentu saja tidak ada tujuan lain selain pulang ke sini. Yuda cukup sabar dengan apa yang Rana lakukan, meski menahan rasa cemburunya yang sekarang mulai muncul karena status Rana yang merupakan istrinya tetapi bisa jalan dengan laki-laki lain bahkan menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Yuda sabar dengan semua itu. Namun ketika mendengar sendiri dengan telinnganya, mendengar bagaimana Rana mengatakan kalau Brian lebih dulu ada dalam kehidupan Rana di bandingkan dengan dirinya yang merupakan orang baru, tentu saja Yuda kecewa dan sangat terluka. Kenapa bisa Rana melupakan semua tentang dirinya seperti ini. Daffa yang melihat adik iparnya tengah melamun menghampiri dan duduk di samping Yuda. Menepuk bahu laki-laki itu membuat Yuda sedikit tersentak. “Ada apa?” tanya Daffa melihat raut wajah Yuda yang tampak tidak bersahabat. Begitu jelas terlihat ada luka di kedua sorot mata adik iparnya ini. Yuda menggeleng, “Nggak, gue mungkin capek aja.” “Kalau gitu nginep dari pada harus nyetir sampe apart,” balas Daffa. “Nanti gue tanya Rana dulu.” “Gue bisa tanya sesuatu sama lo?” tanya Yuda setelahnya. Sorot mata yang begitu serius membuat Daffa bertanya-tanya apa yang akan Yuda katakan kepadanya. “Tentang apa?” “Istri gue.” Daffa mengernyit keheranan. Ada apa memangnya dengan Rana? “Kenapa sama Rana? Dia bikin lo kesal karena tingkahnya?” Daffa malah balik bertanya. Adiknya memang jauh berbeda dari dulu jika di lihat dari segi penampilan Rana tetapi bagi Daffa, Rana tetap adiknya yang sama, yang begitu dia sayangi dan harus tetap dia jaga meski sudah ada Yuda sebagai suaminya. “Nggak. Gue cuma mau tau selama gue nggak ada, apa yang terjadi sampai Rana melupakan semua tentang gue?” Pertanyaan Yuda membuat Daffa terdiam, harus kah dia mulai menjelaskan kepada Yuda tentang apa yang terjadi kepada adiknya di masa lalu? Tetapi apakah sekarang waktunya sudah tepat untuk membuka semuanya dan menjelaskan semua kepada Yuda? “Itu karena—“ “Kak, Kak Husna ke mana?” Perkataan Daffa terhenti setelah Rana menghampiri mereka berdua kemudian duduk di samping Yuda, membuat laki-laki itu berada di antara Daffa dan Rana di atas sofa panjang ini. “Lagi ketemu sama temannya, kenapa?” “Oh nggak pa-pa, tanya aja soalnya dari tadi aku nggak lihat.” “Kalian nginep di sini aja, tadi Yuda kecapekan katanya,” ucap Daffa. Sepertinya penjelasan dia tentang Rana kepada Yuda harus di urungkan. Karena ada Rana dan Daffa tidak ingin adiknya kembali mengingat apa yang terjadi di masa lalu. Kenangan yang begitu buruk, bahkan rasanya tidak di sarankan untuk di kenang. “Maaf ya, kamu harus jemput aku ke sini padahal habis kerja seharian.” Rana menatap Yuda dengan penuh rasa bersalah. “Nanti kalau pulang biar aku aja yang nyetir, jadi kamu bisa istirahat di jalan,” lanjutnya. “Nggak pa-pa, kita nginep aja. Kamu juga capek kan habis kerja,” balas Yuda. Interaksi keduanya di saksikan oleh Daffa dan laki-laki itu tersenyum melihat adik dan adik iparnya tampak berhubungan baik meski pernikahan mereka karena sebuah perjodohan. Daffa harap keduanya bisa menjalani pernikahan seperti pasangan pada umumnya dan tentu saja harapan lain adalah semoga Rana lepas dari laki-laki seperti Brian. ** Yuda tidur membelakangi Rana membuat perempuan itu keheranan karena sikap suaminya. Mereka akhirnya memutuskan untuk menginap di sini karena Yuda melarang Rana untuk menjadi supirnya, laki-laki itu tidak mungkin membiarkan istrinya menjadi supir sementara dia duduk di kursi penumpang. Karena kalau bersama dia, Rana tidak boleh menyetir, tugas itu hanya di lakukan olehnya ketika mereka berdua. Rana sebagai seorang istri pun menurut saja. Namun setelah mereka selesai makan malam dan sempat berbincang dengan Daffa dan Husna, saat beranjak ke kamar masing-masing untuk segera tidur. Rana malah mendapatkan sikap Yuda yang berubah, bahkan tidur memunggunginya seperti ini. Apa Yuda marah kepadanya? Tetapi dia sudah melakukan apa sampai Yuda marah seperti ini? Dan Rana masih saja tidak sadar dengan apa yang sudah dia katakan tadi kepada suaminya. Melukai hati Yuda seperti ini. Yuda yang tidur membelakangi Rana tampak membuka matanya, dia tidak bisa tidur apalagi Rana yang berada di sebelahnya sejak tadi tidak bisa diam. Berguling ke kanan kiri membuat pergerakan di atas ranjang mereka. Yuda ingin mendiamkan Rana supaya istrinya itu sadar kalau dia sedang marah, tetapi memang Yuda yang bucin sekali kepada Rana, tidak bisa kalau mendiamkan Rana seperti ini dengan waktu yang lama. Membalikkan tubuhnya membuat suami-istri itu saling berpandangan karena Rana yang juga berada di posisi menghadap Yuda saat ini. “Kenapa sih nggak bisa diam?” Yuda mengeluarkan suaranya setelah tadi memilih untuk mengunci mulut. Rana mencebik. Terbiasa dengan Yuda yang tidur memeluknya membuat dia susah memejamkan mata. Iya, setelah cukup lama terbiasa tidur dengan seseorang di sampingnya, lalu tidur dengan Yuda yang entah sejak kapan memeluknya sepanjang malam, Rana jadi terbiasa dengan semua itu. Dan sekarang Yuda tidur tanpa memeluknya malah membuat dia tidak bisa tidur. Kenapa juga dia seperti ini? “Ya kamu kenapa tidur punggungin aku,” kesalnya. “Emang ada yang salah?” tanya Yuda kembali karena ingin mendengar jawaban dari istrinya. “Salah! Aku nggak bisa tidur kalau nggak di peluk sama kamu!” seru Rana, saat dia sadar dia menutup mulutnya dan berbalik memunggungi Yuda. Astaga kenapa dia bisa keceplosan seperti ini. Malu banget gue. Yuda tersenyum kecil. Apa yang dia lakukan selama ini memang sengaja untuk membuat Rana terbiasa dengan kehadirannya dan segala tingkahnya. Terbukti kan Rana tidak bisa terlelap karena Yuda yang tidak mendekapnya. Suatu kemajuan yang luar biasa menurutnya dalam pernikahan mereka. Yuda mengalah lalu merapatkan tubuh mereka, memeluk Rana dari belakang membuat tubuh istrinya menegang namun setelahnya tampak rileks. “Selamat tidur, istri,” bisiknya tidak lupa memberikan kecupan di bahu Rana yang saat ini tidak tertutupi apa pun, kebiasaan Rana tidur dengan pakaian pendek menampilkan bahu mulusnya. “Selama tidur, suami,” gumam Rana lirih. Mereka berdua memejamkan mata dan masuk ke alam mimpi. Sebenarnya pernikahan mereka begitu hangat kalau keduanya seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN