12 : Cafe

1433 Kata
“Kamu kok sekarang beda banget sih, Beb?” Rana dan Brian sedang menikmati waktu mereka selesai melakukan pekerjaan mereka seperti biasa. Sudah tidak heran lagi jika mereka berdua kerap kali melakukan pekerjaan bersama. Tentu saja karena pekerjaan Brian yang juga berhubungan dengan para model dan Brian terkenal dengan fotografer yang begitu handal, menjadi lebih sering di cari sama seperti Rana yang berprofesi sebagai model. Apalagi semua tahu mereka pasangan kekasih dan terkenal tetap profesional dalam urusan pekerjaan membuat keduanya sering di kaitkan satu dengan yang lain kalau sudah dalam pekerjaan. Rana menatap Brian dengan keheranan. Tidak mengert dengan apa yang kekasihnya itu tanyakan. Karena perasaan Rana, dia tetap lah sama seperti biasanya tidak ada yang berubah dalam dirinya. Kecuali status yang dia miliki sekarang sebagai seorang istri yang tidak di ketahui oleh Brian. “Beda gimana sih? Perasaan aku gini-gini aja nggak ada yang berubah,” balas Rana lalu menyuapkan satu potong kue dengan topping keju di atasnya ke dalam mulut. Menikmati makanan yang tadi dia pesan. “Ya beda aja. Sekarang kalau ada waktu luang, kamu nggak pernah bisa jalan lagi sama aku. Ini aja harus aku paksa supaya kamu mau.” “Seriap orang kan punya rasa lelah sama kerjaan, Bri. Aku juga sama, ya aku sekarang lagi menikmati waktu aku kalau lagi nggak kerja, istirahat di rumah gitu.” Rana tidak sepenuhnya bohong, karena akhir-akhir ini dengan segala kesibukannya yang menyita waktu, belum lagi dia yang harus menyiapkan segala keperluan Yuda, membuat dia kelelahan dan di saat dia memiliki libur dari pekerjaannya, Rana memilih untuk beristirahat yang sering kali menolak ajakan Brian untuk pergi berdua. “Ada yang kamu sembunyikan dari aku?” Brian menatap Rana dengan sorot mata yang begitu serius. Tidak puas mendengar jawaban Rana membuat dirinya malah berpikir macam-macam. Karena dia merasa tidak biasanya Rana seperti ini. “Kamu kok ngomong kaya gitu sih! Udah nggak percaya lagi sama aku?” Tidak suka dengan tuduhan Brian meski memang kenyataannya Rana menyembunyikan sesuatu. Karena dia tidak tahu harus menjelaskan seperti apa kepada Brian. Hubungan dia dengan Brian pun semakin lama terasa hambar. Rana sudah tidak lagi merasa begitu bersemangat ketika mereka akan menghabiskan waktu bersama. Entah, Rana juga tidak mengerti setelah kehadiran Yuda dalam hidupnya yang memiliki status lebih dari Brian yang menjadi kekasihnya, Rana merasa semakin ada hal yang membuat dirinya yakin bahwa dia tidak asing dengan Yuda di masa lalu. Terkadang ada ingatan yang agak samar yang mengingatkan dia tentang Yuda. “Nggak gitu, Beb. Ya udah maaf, aku salah deh. Mungkin perasaan aku aja.” Brian memilih untuk mengalah, tidak ingin berdebat panjang dengan kekasihnya dan membuat hubungan mereka menjadi tidak baik. Bagaimana pun Brian tidak ingin kehilangan Rana, tidak sebelum Brian mendapatkan Rana seutuhnya. Iya, selama ini Brian masih memiliki keinginan kuat untuk menjadikan Rana miliknya, tidak hanya hati tetapi tubuh gadis itu Brian ingin memilikinya. Ayo lah, Brian laki-laki dewasa yang ingin kehangatan dalam hubungannya dengan Rana, tetapi susah sekali mengajak Rana untuk menikmati kehangatan itu. Selama ini Brian sudah menahan semua gejolak yang dia rasakan setiap kali bersama Rana, ingin sekali menikmati bibir gadis itu, menciumnya, menggigitnya dan mengecapnya dengan bibir milik dirinya sendiri. Dan lagi ingin sekali Brian menyentuh setiap inci dari tubuh milik Rana, berada di atas ranjang yang sama denga tubuh yang saling menyatu. Semua itu menjadi fantasi liarnya dan Brian ingin mewujudkan semuanya. Sayang sekali Rana sulit untuk di bujuk selama mereka menjalani hubungan dengan status sebagai kekasih. Brian sulit sekali untuk sekedar menyicipi bibir kekasihnya, karena Brian tahu satu kali dia melakukan itu, maka tidak akan pernah puas dan Rana pasti akan meninggalkannya. Brian tidak ingin kehilangan berliannya. Rana tidak kembali membalas perkataan Brian. Dia sudah tidak mood lagi berbicara dengan laki-laki itu. Malah ingin menghabiskan makanan dengan cepat dan pulang ke apartemen. Tetapi tentu saja nanti dia harus pura-pura pulang ke rumah Daffa yang selama ini Brian ketahui dia tinggal dengan kakaknya, karena Rana tidak membawa mobil dan sudah pasti Brian mengantarnya pulang, Rana tidak ada alasan lagi untuk melarang Brian agar tidak usah mengantarkannya. ** Yuda mengepalkan tangannya melihat dua orang yang berada tidak jauh dari mejanya saat ini. Tentu saja sebagai seorang laki-laki dia memiliki rasa cemburu apalagi melihat perempuan yang dia sayang tengah bersama dengan laki-laki lain. Yuda melihat Rana tengah bersama Brian yang di ketahui Yuda sebagai kekasih dari istrinya itu. Yuda tahu Rana belum mengakhiri hubungannya dengan Brian, Yuda juga tidak meminya Rana untuk mengakhiri hubungan itu di saat mereka sudah resmi menjadi suami-istri. Belum saja Yuda meminta Rana untuk melepaskan Brian karena Yuda ingin secara perlahan menarik hati istrinya sampai akhirnya dengan perlahan juga meminta sang istri untuk putus dengan kekasihnya. Tidak di sangka saja melihat istrinya dengan Brian membuat Yuda malah terbakar api cembur seperti ini. “Yuda!” Seruan itu membuat Yuda mengalihkan perhatiannya yang sejak tadi kedua mata itu dengan begitu tajam menatap Rana dengan Brian. Yuda kembali menoleh ke depan, di mana ada perempuan yang merupakan temannya semasa kuliah dan sekolah, tengah menatap Yuda dengan penuh keheranan. “Kamu kenapa sih? Lihatin siapa?” tanya perempuan itu. Mereka memang sedang makan bersama mengingat Maria –perempuan yang ada di hadapan Yuda- baru saja tiba di Indonesia dan sudah lama tidak bertemu dengan teman-temannya, tidak hanya ada mereka berdua saja tetapi juga dengan Nino, sahabatnya itu tengah mengangkat telepon dari sang istri. Sementara Galang memang tidak bisa datang karena ada kepentingan dengan calon istrinya. Yuda menggeleng, “Bukan siapa-siapa. Salah lihat,” balasnya. Maria ini memang teman Yuda dan yang lainnya semasa sekolah dulu. Dan kembali bertemu saat Yuda berkuliah di Paris. Tidak menyangka juga Maria berada di satu Universitas yang sama dengannya waktu itu. Tidak heran Maria dekat dengan Yuda dan kawan-kawan, karena Maria juga merupakan saudara sepupu Galang. “Terus sekarang lo udah yakin tinggal di indo lagi?” tanya Yuda lalu kembali menikmati makanan yang mereka pesan. Marian mengangguk dengan senyum lebar. “Iya, lagian udah bosan gue di sana sendirian, apalagi lo juga udah balik ke Indo. Selama ini kan cuma lo teman yang bisa gue andalkan,” balasnya. “Dasar lo! Mangkannya cari pasangan biar nggak kesepian, kaya gue yang udah punya istri,” timpal Yuda tersenyum mengingat statusnya yang sudah beristri. Tanpa Yuda sadari perkataan dirinya membuat senyum di wajah Maria pudar. Bukan tersinggung dengan perkataan Yuda karena sampai saat ini dia masih belum menemukan pasangan hidup, tetapi karena perasaan yang dia miliki harus terkubur selamanya. Sejak dulu Maria jatuh cinta kepada Yuda, namun sayang sekali laki-laki itu tidak pernah melihat ke arahnya. Karena Maria tahu bahwa hati dan seluruh hidup Yuda hanya tertuju kepada satu nama, Rana dan Maria benci pada perempuan yang sudah membuat Yuda tidak mau melihat ke arahnya. “Sorry, bini gue tiba-tiba sensian,” ucap Nino yang baru saja duduk kembali di samping Yuda. Membuat Maria bernapas lega karena tidak perlu membalas perkataan Yuda tadi. Lagipula dia harus mengatakan apa, memangnya dia harus mengatakan kalau dia tidak tertarik dengan laki-laki lain kecuali Yuda. “Apa lagi sekarang?” tanya Yuda yang sudah tidak aneh lagi dengan keluhan Nino yang mengatakan istrinya tengah sensitif akhir-akhir ini. “Lo kayanya perlu cek bini lo deh, kali aja hamil lagi,” lanjut Yuda. “Jangan ngada-ngada lo. Anak gue masih bocil juga masa udah di kasih adek lagi. Tapi emang aneh sih, tadi dia marah-marah nggak jelas. Katanya baju gue bau parfum cewek, lah bukannya kemarin dia yang minta buat gue pake parfum dia. Kenapa malah dia nggak inget sama bau parfum sendiri,” cerocos Nino mengingat kelakuan istrinya. Yuda dan Maria kompak terkekeh. “Tapi bener yang Yuda bilang, kali aja lo nambah anak, No,” timpal Maria setuju dengan apa yang Yuda katakan tadi. “Nggak usah gue dulu deh, mending tanya sama anak ini. Kapan lo kasih keponakan yang lucu sama kita, Yud?” Nino malah mengalihkan pembahasan tentang dirinya menjadi membahas Yuda sang pengantin baru, begitu yang kerap kali di katakan oleh Nino dan Galang. “Kenapa jadi gue dah!” protes Yuda. “Nggak usah protes gitu, jadi kapan bini lo isi?” Isi-isi, rasain malam pertama juga belum, gerutu Yuda dalam hati. “Kalem aja, ntar gue pasti kasih pengumuman kalau bini gue hamil,” balas Yuda dengan begitu santai. Tidak mungkin kan dia jujur dengan urusan peranjangannya kepada Nino dan Maria. Tanpa Yuda sadari juga, Maria yang berada di hadapannya tersenyum miris. Sudah tidak ada kesempatan lagi untuk dia mengambil perhatian Yuda, apalagi melihat kedua mata Yuda yang tampak berbinar setiap kali menyebut nama istrinya dan menyebut statusnya yang sudah memiliki istri. Maria patah hati tanpa pernah memiliki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN