Yuda yang tengah menonton pertandingan badminton yang tengah di tayangkan di televisi sembari menikmati makanan yang dia pesan lewat ojek online tadi yang merupakan kerak telor dan martabak. Tengah asyik dengan tontonannya, Yuda menoleh saat mendengar suara pintu apartemen terbuka. Sepertinya Rana sudah pulang, karena tadi istrinya memang ijin keluar untuk bertemu dengan Mbak Yuli yang Yuda ketahui sebagai manajer sang istri.
Melihat Rana yang pulang dengan beberapa belanjaan di tangannya membuat Yuda mengernyit. Heran saja Rana membawa banyak sekali belanjaan padahal tadi tidak mengatakan akan pergi berbelanja.
“Bantuin ih malah lihatin kek gitu!” seru Rana mendapati Yuda yang malah memerhatikannya yang kesulitan membawa barang belanjaan.
Yuda beranjak dari sofa, “Bilang dong, Mas bantuin aku, gitu kek.”
“Kamu aja yang nggak peka jadi cowok,” cibir Rana.
Memang benar kan? Yuda saja yang tidak peka, melihat Rana tengah kesusahan dengan membawa beberapa kantung belanja bukannya langsung sigap membantu malah menonton seperti itu. Rana kan jadi kesal dibuatnya. Punya suami kok begitu amat.
Hah? Apa tadi? Suami katanya? Astaga ... kalau Yuda tahu sudah pasti laki-laki itu akan semakin percaya diri karena di akui oleh Rana.
Yuda membawa belanjaan istrinya ke arah dapur, karena kelihatannya merupakan bahan makanan. Tadi sih Yuda melihat ada beberapa sayuran dan buah-buahan. Lagipula Rana kenapa tidak bilang kepadanya kalau mau berbelanja, dia kan bisa membantunya.
“Kok kamu nggak bilang kalau mau sekalian belanja?” tanya Yuda. Dia sudah membuka belanjaan Rana dan mengeluarkan satu per satu dari kantung belanjaan tersebut.
Rana juga ikut membereskan. Kalau begini terlihat sekali kan pasangan suami-istri yang begitu kompak karena membereskan barang belanjaan mereka. Apalagi Yuda yang sudah seperti suami penuh perhatian sampai membantu istrinya.
Sayang sekali pemandangan ini tidak sering terjadi, meski begitu setidaknya sudah ada perubahan dari pasangan pengantin baru ini. Bukannya mereka bilang akan menjalani semuanya seperti pasangan di luaran sana kan.
“Emang awalnya nggak niat mau belanja, tapi pas mau pulang ya kepikiran aja sekalian mumpung lagi keluar. Lagian stok bahan makanan juga udah menipis kan, kamu lupa kalau belum belanja apapun dan nggak ada makanan di apart.” Yuda mengangguk masih membantu istrinya beres-beres.
“Makanan kesukaan kamu apa?” tanya Rana kemudian.
Pertanyaan Rana itu malah membuat Yuda terdiam. Tidak langsung menjawab namun malah berpikir kenapa Rana sampai lupa juga dengan makanan kesukaannya. Padahal dulu saja Rana begitu tahu makanan apa yang Yuda sukai. Hal ini membuat Yuda semakin bertanya-tanya apa yang terjadi sampai Rana melupakan semua hal tentang dirinya.
“Yuda!” seru Rana karena melihat suaminya malah terdiam cukup lama.
Yuda tersentak. “Hah? Apa?” tampak bingung membuat Rana mendengkus. Sejak tadi Yuda ternyata melamun, pantas tidak menjawab pertanyaan dia.
“Aku tanya sama kamu, makanan kesukaan kamu apa? atau ada makanan yang di hindari nggak, walau kamu bilang makan semuanya. Tapi kan bisa jadi ada yang bikin alergi, bikin gatel-gatel atau bikin pingsan,” cerocos Rana.
“Oh ... Kayanya nggak deh kalau alergi, tapi kalau makanan yang di suka. Aku paling suka makan telur balado gitu, terus aku juga suka sama rendang.”
“Susah banget bikinnya,” keluh Rana mendengar makanan yang disukai oleh Yuda.
Kalau telur balado sih Rana bisa membuatnya, karena pernah belajar juga dari kakak iparnya waktu dia ingin memasak untuk Daffa saat kakaknya itu berulang tahun. Kebetulan juga Daffa suka dengan telur balado persis seperti Yuda.
“Emangnya kamu mau masakkin?” tanya Yuda.
“Ya udah kalau gitu makan di luar aja!” balas Rana agak ketus.
Yuda ini kenapa suka sekali membuat Rana kesal sih, memangnya kalau bukan dia yang masak untuk mereka, Yuda mau makan apa. Tidak mungkin kan membeli di luar setiap kali mau makan, iya sih tidak perlu di ragukan lagi tentu saja Yuda mampu membeli apapun dengan uangnya, tetapi tidak harus boros juga kan.
Kita tidak tahu kehidupan kita ke depannya nanti akan seperti apa, belum tentu selalu memiliki uang banyak. Pun pikirkan juga masih ada orang-orang di luar sana yang susah untuk sekedar makan nasi, jadi kita yang memiliki rejeki lebih sebaiknya memanfaatkan itu dengan sebaik-baiknya.
“Aku tanya doang, kenapa ketus banget sih. Kalau gitu aku mau minta di masakkin telur balado aja, kalau rendang kapan-kapan,” pinta Yuda kepada Rana.
“Emangnya aku mau masakkin buat kamu!” seru Rana berlalu meninggalkan Yuda yang masih terpaku di dekat meja makan.
Menyadari Rana yang sudah pergi ke ruang tengah membuat Yuda mendengkus. Istrinya itu sedang membalas perkataannya tadi ya. Menyebalkan sekali.
“Kamu kok nyebelin banget sih, Yang!” seru Yuda.
Rana yang mendengarnya malah mendengkus. Yuda selalu saja memanggil dia seenaknya, sayang-sayang memangnya Yuda tidak berpikir kalau panggilan itu membuat Rana terbawa perasaan alias baper sendiri. Rana kan perempuan yang sudah pasti akan luluh kalau lama-lama di perlakukan dengan begitu manis.
Hah? Jangan sampai Rana jatuh pada pesona Yuda, meski tidak apa-apa karena mereka sudah suami-istri tetapi kan Rana masih memiliki kekasih, Rana masih mencintai Brian dan tidak mudah untuk jatuh cinta ke yang lain.
Entah kepada Yuda, apa mungkin Rana tidak mudah jatuh cinta?
**
Yuda baru saja selesai mandi saat hidungnya mencium wangi masakan yang begitu menggugah seleranya. Senyumnya terbit saat mengetahui bau masakan apa yang sudah di siapkan oleh istrinya. Melangkah menuju ruang makan, Yuda melihat Rana yang tengah menata masakannnya di atas meja.
Kalau seperti ini bagaimana mungkin Yuda bisa berpaling dari cinta pertamanya ini. Apalagi sekarang Yuda sudah mendapatkan Rana meski dengan alasan perjodohan tetapi Yuda begitu bahagia karena perempuan yang selama ini dia cintai sekarang sudah menjadi istrinya.
Yuda merasa beruntung, meski dia melihat perubahan yang cukup drastis dari gadisnya ini tetapi cara Rana memerlakukan dia sebagai suami sekarang ini dengan memasakkan makanan yang Yuda sukai membuat hatinya menghangat.
Rana menjadi sosok istri yang begitu Yuda idam-idamkan. Rana selalu terlihat sempurna di mata Yuda, sejak dulu sampai sekarang membuat perasaan yang Yuda miliki untuk Rana semakin besar. Yuda mencintai Rana, tanpa harus dia utarakan sekarang biar lah seperti ini.
“Wangi banget, jadi nggak sabar buat cicipin,” ucap Yuda duduk di kursi memerhatikan masakan yang sudah tersaji di atas meja. Ada telur balado yang merupakan makanan kesukaannya.
“Aku mandi dulu, kamu kalau mau makan duluan aja.” Rana selesai menyajikan semua masakannya.
Ada telur balado sesuai yang di inginkan oleh Yuda, ayam goreng, tempe dan tahu, tidak lupa dengan kerupuk, karena dia selalu suka makan di tambah dengan kerupuk sebagai pelengkapnya.
Tubuhnya terasa lengket, karena tadi sibuk di dapur dan belum sempat mandi. Rana pikir sekalian saja setelah dia menyelesaikan masakan untuk makan malam mereka baru dia mandi. Dari pada kembali kegerahan setelah mandi lalu memasak di dapur kan.
Yuda tampak keberatan mendengarnya. Dia mau maka malam dengan istrinya, apalagi sekarang mereka hanya berdua saja. Tentu menjadi momennya dengan Rana bisa makan malam berdua seperti ini. Bayangan pengantin baru yang hidup berdua seperti ini menjadi terwujud kalau sudah melakukan semuanya berdua seperti makan malam ini.
“Aku tunggu kamu selesai mandi, lagian nggak habisin waktu dua jam juga kan kamu mandinya,” ucap Yuda.
“Kamu pikir aja, aku mandi atau bikin candi.”
“Bercanda kamu nggak lucu, Yang.”
“Kamu ngeselin banget sih dan jangan panggil aku kaya gitu, geli tau dengarnya,” balas Rana yang kembali mendengar Yuda memanggilnya “Sayang” bukan apa-apa karena itu juga jantungnya berdebar tidak menentu. Rana tidak suka seperti ini.
“Bilang aja kalau kamu jadi grogi di panggil sayang sama aku.”
Yuda ini benar-benar ya, mana sikap kakunya yang dulu-dulu. Apa memang begini kelakuan Yuda yang suka sekali menggodaa dan begitu menyebalkan.
“Tau ah! Aku mandi dulu.” Rana pergi, memilih untuk segera menyegarkan tubuhnya dari pada berdebat dengan Yuda yang akhirnya membuat mereka terlambat untuk makan malam.
“Lucu banget kalau lagi salah tingkah.” Yuda terkekeh, tadi dia melihat pipi istrinya yang merona karena panggilannya. Lama-lama Yuda jadi terbiasa dengan panggilan sayang dia kepada Rana. Awalnya sih hanya untuk menggodaa istrinya saja tetapi Yuda jadi menyukainya. Terlihat seperti pasangan suami-istri yang saling mencintai kan.