Yuda dan Rana sudah berada di apartemen milik Yuda. Setelah kemarin batal pindah, hari ini mereka akhirnya pindah karena semua barang sudah selesai di bereskan. Cukup banyak barang yang Rana bawa karena katanya semua begitu penting membuat apartemen yang sebenarnya cukup luas ini –kalau hanya barang-barang Yuda saja- menjadi tampak penuh dengan barang-barang milik Rana.
Mereka baru selesai membereskan sebagian apartemen. Rana juga sedang memasak menyisakan Yuda yang tengah sibuk dengan kamar mereka yang masih agak berantakan. Tadi mereka berdua sudah menata dengan penuh perdebatan perihal barang-barang Rana yang di bawanya dari rumah Daffa.
Yuda hanya tidak habis pikir, kenapa harus semua barang di bawa ke apartemen padahal menurut Yuda beberapa barang tidak begitu di perlukan. Misalnya saja cermin, Yuda juga punya cermin di sini tetapi Rana kekeh ingin membawanya karena kalau tidak memakai cermin sendiri, tidak enak. Memangnya lagi ada rasa enak dan tidak enak, Yuda pikir semua cermin sama saja.
Terserah istrinya saja kalau begitu, karena berdebat pun pada akhirnya Yuda kalah. Ingat kan kalau perempuan itu selalu benar dan kalau salah para laki-laki harus kembali ingat dengan point pertama yaitu perempuan selalu benar.
Yuda angkat tangan kalau sudah seperti itu.
Tentang mereka yang ingin menjalani kehidupan rumah tangga seperti pasangan suami-istri pada umumnya. Sedikitnya sudah mereka lakukan, misalnya saja Rana yang sudah semakin terbiasa menyiapkan semua keperluan suaminya. Pun dengan Yuda yang sudah mulai memberikan nafkah kepada Rana, dengan di berikannya kartu atm kepada Rana untuk kebutuhan mereka dan keperluan Rana sendiri.
Meski Yuda tahu Rana mendapatkan penghasilan yang tidak bisa di katakan sedikit dari pekerjaannya menjadi seorang model tetapi Yuda tetap memberikan haknya untuk sang istri. Yuda juga meminta Rana untuk menabung penghasilannya sendiri karena sekarang segala keperluan sudah di tanggung oleh Yuda sebagai kepala keluarga.
Rana sih tidak masalah. Malah senang jadi memiliki tabungan dari hasil bekerja dia sebagai model. Dan lagi dia tidak begitu gilaa belanja jadi tetap aman untuk menggunakan kartu yang di berikan oleh Yuda. Meski suaminya itu tidak masalah kalau memang dirinya berbelanja, begitu yang Yuda katakan kepada Rana.
Intinya Yuda tidak ingin membuat Rana kesusahan hidup bersama dirinya, bukannya pernikahan dan hubungan mereka sebagai suami-istri ingin terlihat normal seperti pasangan lain di luar sana, jadi tidak ada salahnya kan kalau Yuda memberikan kenyaman untuk Rana apalagi dalam hal berbelanja memenuhi keinginan istrinya itu.
Rana selesai memasak. Dia hanya memasak menu biasa saja, sayur bayam dan tempe goreng karena itu yang ada di dalam kulkas milik Yuda yang berada di apartemen ini. Katanya Yuda belum sempat belanja kebutuhan mereka, jadi seadanya saja. Untungnya Yuda tidak ribet dalam urusan makanan.
Yuda mencium bau masakan istrinya, sudah lapar juga karena seharian ini mereka beres-beres. Akhirnya segera menghampiri Rana yang sudah berada di ruang makan. Apartemen Yuda memang cukup lengkap, ada dapur yang terpisah dengan ruang makan. Lalu ruang menonton televisi dan dua kamar. Tetapi mereka sepakat untuk berada di kamar yang sama, mereka juga sudah sepakat kan menjalani kehidupan seperti biasa layaknya suami-istri, jadi sudah pasti harus satu kamar.
“Nggak tau kamu suka atau nggak masakannya, yang ada di kulkas kan tadi itu doang,” ucap Rana melihat keberadaan Yuda yang baru saja duduk di hadapannya.
Sebenarnya Rana bingung dengan dirinya sendiri. Kenapa bisa dengan cepat berubah seperti ini dan merasa nyaman dengan keberadaan Yuda di dekatnya.
Padahal waktu itu benar-benar sebal apalagi melihat bagaimana kakunya Yuda kalau sudah bicara, tetapi sekarang apalagi Yuda sudah begitu “normal” di mata Rana membuat semuanya mengalir begitu saja. Keduanya tidak lagi canggung, kecuali pada saat tidur di atas ranjang yang sama. Rana kadang lupa kalau dia sudah menikah dan beberapa kali mendorong Yuda dari atas tempat tidur mereka.
Yuda selalu menjadi korban keganasan Rana di pagi hari. Setidaknya selama lima hari setelah mereka menikah. Kalau sekarang tidak seperti itu karena saat Rana membuka mata dia langsung ingat kalau dirinya sudah menikah. Kadang-kadang sih masih lupa juga, intinya begitulah kehidupan pagi mereka yang berwarna, bagi Yuda.
“Aku udah bilang nggak rewel kalau soal makanan. Apa aja aku makan,” balas Yuda menerima piring yang berisi nasi dan lauk-pauknya. Terlihat begitu enak, atau mungkin karena perutnya sudah berdemo ingin segera di isi makanan.
“Jadi aku masak batu sama tanah, kamu bakalan makan,” balas Rana dengan begitu santai membuat Yuda mendengkus.
Ya masa Yuda makan batu dan tanah.
“Ya nggak gitu juga sih, aku kan manusia yang makan nasi.”
“Kali aja begitu. Habisnya kamu bilang makan apapun.”
“Bukan berarti batu dan tanah aku makan juga. Sayang.” Yuda selalu mengatakan begitu kalau sudah kesal. Memanggil Rana dengan panggilan Sayangnya membuat Rana mendengkus. Bukan tidak suka tetapi setiap kali Yuda memanggilnya seperti itu dengan kedua mata yang menatapnya begitu lekat, jantung Rana jadi aneh.
Tidak mungkin kan dia terkena serangan jantung?
Astaga jangan sampai seperti itu.
Rana kembali berekspresi biasa. Tidak mau ketahuan kalau saat ini jantungnya sedang berdebar tidak menentu. Meski kerap kali merasakan perasaan yang tidak menentu, ternyata tidak burukk juga hidup berdua dengan Yuda. Karena awalnya Rana pikir Yuda ini kaku sekali, tetapi semakin lama ternyata Yuda seperti manusia pada umumnya, bukan seperti robot yang begitu kaku. Dan mungkin itu juga yang membuat Rana mulai terbiasa dengan keberadaan Yuda di hari-harinya.
Mereka makan dengan di selingi obrolan tentang kegiatan mereka satu sama lain setelah hari ini. Rana juga kembali bekerja seperti biasa dengan jadwal yang lumayan padat dan Yuda memaklumi kegiatan istrinya.
Yuda tidak ingin membatasi pergerakan Rana yang sudah mencintai dunia kerjanya. Meski Rana sudah menjadi istri Yuda tidak masalah kalau Rana bekerja dan Rana pun sudah mengatakan dia akan menyelesaikan kontraknya yang sudah dia tanda tangani. Setelah itu Rana akan memikirkan bagaimana ke depannya.
**
Rana sudah meminta ijin kepada Yuda untuk bertemu dengan Mbak Yuli. Hari ini memang tidak ada jadwal pemotretan dan Rana hanya bersantai saja dengan Mbak Yuli. Mereka bertemu di kedai es krim milik Daffa, sekalian juga Rana ingin bertemu dengan Emi –sahabatnya saat sekolah- yang bekerja di kedai kakaknya.
Rana menghampiri Mbak Yuli yang sudah duduk bersama dengan anaknya. Tidak aneh lagi kalau sedang bertemu dengan Rana dalam kondisi santai seperti ini Mbak Yuli selalu membawa anaknya, karena tidak mungkin juga membiarkan anaknya berada di rumah sendirian. Selama kerja pun Mbak Yuli selalu menitipkan pada tetangga sebelah kalau dia pulang terlambat.
“Sorry, nunggu kelamaan mbak,” ucap Rana duduk di kursi yang berada di hadapan Mbak Yuli dan anaknya. Lalu dia pun menyapa anak Mbak Yuli yang bernama Yuna dengan begitu ramah.
“Santai aja, lagian bukan tentang kerjaan. Gimana rumah tangga kamu? Menjadi istri dari keturunan Alhanan,” tanya Mbak Yuli terkekeh melihat wajah Rana yang cemberut. Semenjak Rana menikah dia memang suka sekali menggodaa Rana dengan sebutan menantu tunggal keluarga Alhanan.
“Selalu deh tanya kaya gitu. Biasa aja dan pokoknya biasa aja deh,” balas Rana.
“Ya ampun jawaban kamu nggak ada yang lain selain jawab biasa aja. Kayanya nggak mungkin deh kalau biasa aja, secara suami kamu ganteng banget kaya aktor korea,” timpal Mbak Yuli. Dia memang sudah tahu wajah Yuda karena memang datang ke pernikahan Yuda dan Rana waktu itu. Malah sempat berkenalan juga dan Yuda di matanya begitu ramah, sopan dan ya ... lebih baik dari pada Brian.
“Terus katanya baru pindah? Bukannya kemarin ya kamu bilang rencana pindah ke apartemen Yuda?” tanyanya kemudian.
Rana sudah mengatakan pesanannya pada pelayan dengan melambaikan tangan dan mengatakan “seperti biasa” pada salah satu pegawai kedai ini. Tentu saja mereka tahu siapa Rana dan perihal Rana yang merupakan adik dari pemilik kedai ini. Bahkan tanpa Rana mengatakan pesanannya, mereka sudah tahu lebih dulu karena setiap Rana ke sini, varian rasa es krim yang Rana pesan tidak pernah berubah. Taro dan cokelat.
Rana menoleh kembali ke arah Mbak Yuli, “Iya baru hari ini. Kemarin nggak jadi soalnya belum selesai beresin ke dus-dus gitu. Ribet banget deh, Mbak. Aku pusing sendiri jadinya aku bawa semua barang yang dari rumah Kak Daffa. Mbak tau sendiri semua bagi aku penting.” Rana menjeleskan dengan begitu rinci.
Mbak Yuli mengangguk-anggukkan kepala. “Iya paham banget lah aku gimana kamu yang selalu bilang semua barang kamu itu penting dan nggak bisa di tinggal-tinggal,” akui Mbak Yuli. Rana memang seperti itu. “Soal Brian gimana, nggak mungkin kan kalian pacaran terus sementara status kamu udah jadi istrinya Yuda,” lanjutnya.
Padahal Rana sudah tidak memikirkan lagi. Rana tidak ingin membahasnya saja karena dia juga masih belum tahu harus bagaimana. Perasaannya kepada Yuda juga belum sepenuhnya berubah, Rana masih merasa nyaman saja dan terbiasa dengan kesehariannya yang sekarang sudah ada Yuda.
Rana masih mencintai Brian. Apalagi hubungan mereka sudah di katakan terjalin begitu lama. Brian itu laki-laki yang begitu perhatian dan Rana sangat menyukainya, tidak pernah macam-macam kepada dia seperti apa yang di katakan orang-orang di dekatnya kalau Brian adalah laki-laki yang tidak baik.
Mbak Yuli yang melihat Rana tampak diam memilih untuk membahas hal lainnya. Memang bukan urusan dia juga tetapi dia hanya tidak mau kalau sampai ke depannya Rana mendapatkan masalah, apalagi sampai Brian tahu kalau Rana sudah memiliki suami di belakangnya.
Lebih baik memutuskan hubungan dari sekarang kan dari pada ketahuan lebih dulu tentang statusnya sekarang. Begitu sih yang menurutnya baik, entah bagaimana yang Rana pikirkan. Dia harap apapun itu, tidak membuat Rana berada dalam situasi yang sulit meski sebenarnya sekarang cukup sulit juga karena Rana memiliki suami dan juga kekasih di waktu yang bersamaan.