9 : Berubah

1979 Kata
Rana kembali melakukan pekerjaanya. Tidak ada yang berbeda karena Yuda memberikan kebebasan kepadanya soal pekerjaan yang memang masih harus dia kerjakan sampai kontrak berakhir. Pernikahan yang mereka jalani juga biasa saja. Jangan tanya apa ada keromantisan di dalamnya, tentu saja sangat tidak mungkin apalagi dengan sikap Rana yang tampak acuh sekali pada suaminya kalau urusan perasaan. Tetapi Rana juga sadar dengan posisinya sebagai seorang istri yang harus melayani dan menghormati suami. Tentu setelah mendapatkan nasihat dari kakak dan kakak iparnya setelah satu minggu Rana resmi menjadi istri dari Yuda Malik Alhanan. Satu minggu menikah dengan Yuda, Rana memang kembali ke rumahnya. Lebih tepatnya rumah sang kakak dan menginap di sana beberapa hari. Selama itu juga Daffa tentu mengawasi Rana yang bersikap kepada Yuda. Dan karena sikap Rana yang tampak acuh sekali terutama saat mereka sedang makan dan melihat Rana tidak melayani Yuda dengan baik, akhirnya sebagai seorang kakak Daffa pun menegur adiknya dan terjadilah ceramah panjang dari Daffa untuk Rana. Karena itu juga sekarang Rana selalu menyiapkan segala keperluan suaminya, meski semula terpaksa, lama-lama nyatanya jadi terbiasa. Seperti sekarang Rana sedang mengambilkan sarapan untuk Yuda, mereka sedang berada di meja makan masih di rumah Daffa dan Husna. Rencananya hari ini Yuda akan mengajak Rana untuk tinggal di apartemen, karena rumah untuk tempat tinggal mereka berdua masih belum Yuda temukan. Apalagi setelah bertanya perihal rumah impian yang di inginkan oleh Rana. Tentu Yuda harus kembali mencarinya sesuai dengan apa yang di inginkan istrinya. “Hari ini jadi pindahan?” tanya Daffa di sela-sela sarapan mereka, duduk melingkar dengan anggota keluarga lengkap seperti ini membuat hatinya menghangat. Apalagi dengan keberadaan anggota baru di antara mereka yang tak lain adalah adik iparnya, Yuda. “Iya kak, biar biasa tinggal berdua aja,” balas Yuda. Daffa mengangguk. “Benar, biar kalian juga dekat satu sama lain. Dan biar Rana bisa terbiasa siapin kebutuhan suaminya,” menatap adiknya yang tampak asyik menikmati makanannya. Rana yang mendengar perkataan yang di tujukan kepada dirinya malah mendengkus. Iya dia tahu dia harus menyiapkan kebutuhan Yuda sebagai suaminya, tetapi tidak usah lah pakai di perjelas seperti itu. Kakaknya ini memang paling bisa kalau sudah memojokkan dirinya. “Benar kan apa yang kakak bilang?” “Iya benar, kak. Kak Daffa emang selalu benar,” timpal Yuda. “Sudah, Mas. Kasihan Rana kamu dari kemarin begitu terus, kan namanya juga baru menyesuaikan punya suami. Aku juga dulu gitu kan.” Rana mengacungkan jempolnya, senang sekali ada yang membela dirinya. Husna memang selalu ada untuknya kalau sudah berdebat dengan sang kakak. “Senang ada yang bela. Kamu juga selalu kaya gitu, Yang. Anaknya jadi manja sama kamu, heran deh.” “Ya nggak pa-pa, adik ipar aku kan.” “Tau tu kak Daffa sirik aja, mentang-mentang nggak di manjain.” “Siapa bilang? Kamu kali yang sirik, tu minta sama Yuda biar di manjain.” “Apa sih, kak.” “Lah malu dia pipinya merah,” godaa Daffa kepada Rana. “Kak Daffa ih!” Yuda dan Husna terkekeh melihat tingkah adik dan kakak itu. ** Yuda kembali ke rumah setelah bertemu dengan kedua sahabatnya. Sudah tidak aneh lagi kalau mereka sering bertemu seperti ini padahal beberapa waktu lalu sudah bertemu tetapi tidak pernah ada bosannya. Suasana rumah tampak sepi, tadi Daffa memang mengatakan akan pulang terlambat karena pergi dengan Husna ke salah satu acara teman Husna dan membuat Yuda pulang cepat karena tahu kalau istrinya sendiri di rumah. Rencana pindahan mereka ke apartemen di tunda, karena mereka belum selesai membereskan barang-barang. Tepatnya Rana yang begitu banyak membawa barang dan belum juga selesai di bereskan. Yuda menurut saja. Langkah kakinya semakin melebar mendekat ke arah ruang tengah di mana suara-suara yang tampak samar mulai terdengar jelas. Lalu kedua matanya menangkap sosok perempuan yang tengah selonjoran di atas sofa dengan tangan yang memeluk toples yang sepertinya berisi keripik singkong. Yuda menggeleng melihat kelakuan istrinya. Iya istrinya yang baru dia nikahi yang sekarang tengah asyik dengan keripiknya dan tontonan drama korea yang sedang tayang kali ini. Begini kelakuan Rana kalau sedang sendiri, bahkan pakaiannya ... astaga harus kah Yuda menarik istrinya ke kamar dan melakukan yang iya-iya, lihat saja lengan pendek dan celana yang hanya menutupi sampai pahanya. Yuda melempar bantal membuat Rana menoleh dan berdecak kesal. Padahal dia sedang asyik dengan tontonannya, kenapa juga Yuda harus datang di saat dia sedang menikmati waktu sendirinya seperti ini. Rana kan tadi senang karena kakak dan kakak iparnya sedang keluar dan di rumah tidak ada siapa-siapa membuat dia bisa agak bebas melakukan yang sedang ingin di lakukan, seperti menonton drama korea seperti ini. Tetapi sekarang malah datang suaminya. “Ganti baju. Kamu pikir di rumah cuma ada kita doang,” ucap Yuda menyuruh Rana berganti pakaian. Meski sekarang tidak ada orang di rumah dan hanya ada mereka berdua tetap saja kalau tiba-tiba ada tamu datang dan Rana berpakaian terbuka seperti ini kan Yuda tidak senang. “Sebentar lagi dramanya selesai.” Masih di tempatnya dengan posisi seperti semula, Rana tidak mengiyakan apa yang di katakan Yuda. “Nanti ada orang datang dan kamu berpakaian terbuka seperti ini.” Yuda menatap Rana dengan tajam, belum lagi perkataan dengan nada penuh penegasan membuat Rana agak takut mendengarnya. “Iya-iya. Ribet banget sih,” seru Rana beranjak dari sofa. Padahal dia sedang asyik menonton dan sebentar lagi dramanya akan selesai tetapi Yuda malah mengganggunya seperti ini. Yuda mengikuti Rana yang sudah naik ke lantai atas di mana kamar mereka berada, menggeleng melihat kelakuan istrinya yang tampak merajuk seperti anak kecil. Tetapi Yuda senang karena Rana menuruti keinginannya meski harus dengan paksaan. Bagaimana pun Yuda tidak ingin miliknya di lihat oleh orang lain. Benar kan, Rana miliknya? ** Rana sudah berganti pakaian, dia melihat Yuda sedang sibuk dengan handphonenya. Entah apa yang sedang Yuda lihat karena laki-laki itu tengah tersenyum sendiri membuat Rana mendengkus melihatnya. Kenapa juga dia kesal melihat Yuda melihat handphone sambil senyum-senyum seperti itu? Apa Yuda sedang bertukar kabar dengan kekasihnya? Yuda menoleh mendapati Rana yang sudah berganti pakaian, wajah istrinya tampak cemberut membuat Yuda mengernyit heran. Padahal dia hanya menyuruh Rana untuk berganti pakaian saja kenapa malah kesal begitu. Menyimpan handphone di atas meja, Yuda pun berjalan ke arah kamar mandi untuk berganti pakaian karena tadi dia ingin berganti pakaian di kamar tetapi takut Rana keluar dari kamar mandi dan akan sangat canggung kalau sampai Rana melihat dia tanpa busana, meskipun sebenarnya sah-sah saja karena mereka suami-istri. Rana yang melihat Yuda masuk ke kamar mandi, penasaran dengan apa yang tadi Yuda tertawakan di dalam handphonennya. Tetapi Rana ragu untuk mengecek handphone milik suaminya. Akhirnya Rana urungkan saja rasa penasarannya karena takut Yuda memergoki dia tengah memainkan handphone milik Yuda, dia pun memilih keluar dari kamar, melanjutkan tontonan dia yang sempat terhenti karena Yuda. ** Yuda juga selesai berganti pakaian, kembali menghampiri Rana yang sudah berada di ruang tengah dengan dramanya lagi. Duduk di samping istrinya yang begitu fokus pada aktor korea yang sudah pasti di gilai oleh sang istri meski Rana tidak mengatakan, sudah terlihat dengan cukup jelas bagaimana Rana yang begitu berbinar melihat aktor tersebut. “Bikin mie buat saya dong,” ucap Yuda. Dia sudah kembali lapar dan cocok sekali makan mie apalagi di luar sudah mulai mendung. Sekarang cuaca memang tidak bisa di prediksi, kadang panas sekali tetapi setelah itu tiba-tiba turun hujan. Mendengar suara Yuda membuat Rana menoleh sebentar tetapi setelahnya kembali fokus dengan drama yang ada di hadapannya membuat Yuda mendengkus. “Kamu dengar saya ngomong nggak sih,” ucap Yuda agak kesal. “Lo ngomong sama gue?” Pertanyaan Rana membuat Yuda ingin sekali menerkam istrinya. Astaga ternyata Rana menyebalkan sekali, kalau bukan bicara dengan Rana, lantas Yuda bicara dengan siapa. Tidak mungkin kan dia berbicara dengan toples berisi keripik singkong. “Ya ngomong sama siapa lagi kalau bukan sama kamu.” “Bisa kan nggak nyuruh gue tapi minta tolong.” “Iya-iya, tolong bikin mie buat saya ya, Sayang,” ucap Yuda. Lemparan bantal tepat di wajah Yuda. Sudah pasti pelakunya Rana. “Sayang-sayang pala lo peyang. Geli banget sih!” seru Rana beranjak dari sofa dan segera pergi ke dapur. Nadanya memang ketus sekali tetapi percayalah saat ini jantungnya berdebar tidak menentu hanya karena mendengar Yuda yang memanggilnya seperti tadi. Yuda yang melihat Rana sudah berjalan ke arah dapur terkekeh. Tidak sengaja sih dia memanggil Rana seperti itu, refleks dan dia gemas juga. Lagi pula tidak apa-apa kan kalau Yuda ingin sedikit romantis pada istrinya. ** “Makasih.” Yuda berbinar melihat mie di tambah telur dan sayuran yang begitu menggugah seleranya. Ternyata Rana pinta memasak mie dengan paket komplit seperti ini, bisa lah menjadi nilai plus di mata Yuda. Rana mengangguk. Dia juga tidak sabar mencicipi mie buatannya. Tadi ada sayuran di dalam lemari pendingin, sekalian saja dia tambahkan ke dalam mie bersama dengan telur. Membuat mie untuk mereka berdua dan makan bersama di meja makan seperti ini hal yang pertama kali untuk mereka. Keduanya begitu menikmati mie tersebut, apalagi di luar hujan mulai turun membuat suasana mendukung sekali dengan di temani mie paket komplit seperti ini. “Ada yang mau gue omongin sama lo.” Perkataan Rana membuat Yuda menatap sang istri. Tampak sekali raut serius di wajah Rana membuat Yuda bertanya-tanya apa yang akan di bicakan oleh istrinya sampai seserius itu. “Tentang apa?” “Pernikahan kita.” Yuda mengangguk lalu kembali menikmati makanannya. “Bagi gue ini emang mendadak banget, tapi gue senang karena sekarang punya keluarga lengkap. Ada Mama yang sayang banget sama gue, Papa yang perhatian sama gue. Hal yang selama ini nggak pernah gue terima lagi karena orang tua gue udah nggak ada.” Yuda masih menyimak semua perkataan Rana tanpa berniat untuk memotong perkataan sang istri. “Gue juga tau meski pernikahan ini ada karena perjodohan, tetapi pernikahan ini sah secara hukum dan agama. Nggak ada pernikahan yang main-main dan gue mau menikah hanya sekali seumur hidup gue.” Kembali melanjutkan perkataannya. Rana tadi sempat memikirkan ini. Tentang pernikahan mereka yang memang begitu mendadak dan terlalu mengejutkan untuk dirinya. Tetapi bagaimana pun terlepas dari perjodohan yang mereka lakukan sekarang, Rana juga ingin memiliki pernikahan yang baik-baik saja, di mana menikah sekali seumur hidup dan tentu saja artinya hanya dengan Yuda, suaminya saat ini. Rana ingin mencoba menerima pernikahan mereka dengan hati yang ikhlas. Soal dia yang memiliki kekasih, bisa di pikirkan nanti. Yang pasti Rana ingin memulai semuanya dengan baik. Karena Rana juga tidak ingin mengalami perpisahan dan perceraian dalam sebuah pernikahan. Tuhan tentu membenci itu dan dia tidak ingin mengecewakan mama mertanya yang begitu menyayangi Rana seperti anak sendiri. “Begitu juga dengan saya. Dari awal bagi saya semua ini tidak main-main,” ucap Yuda. “Jadi lo setuju kalau kita jalani pernikahan ini dengan baik?” Yuda mengangguk, “Pernikahan yang seperti pada umumnya. Di awali dengan nggak ada lo-gue dari mulut kamu saat berbicara dengan saya,” ucapnya menatap Rana dengan begitu lekat. “Dan nggak ada sikap sok kaku pake ngomong saya-saya segala,” balas Rana yang juga protes karena risih sekali mendengar Yuda yang berbicara dengan memakai saya-kamu. Sudah seperti atasan dan bawahan saja yang berada di kantor. “Ok, Sepakat,” ucap Yuda sambil mengulurkan tangannya. Rana membalas uluran tangan itu, mereka berjabat tangan. “Sepakat. Kalau gitu gu- ah maksudnya aku mau kita menjalani semuanya seperti pasangan di luar sana.” “Termasuk urusan ranjang.” “No!” seru Rana dengan tangan yang menutup daadanya. Kalau urusan itu dia masih tidak mau, bukan tidak mau tetapi mereka kan baru saja memulai dan kalau sudah saling terbiasa ya bisa lah mereka bicarakan lagi. Yuda terkekeh melihat ekspresi Rana yang tampak panik. “Aku bercanda, kita jalani semua pelan-pelan,” ucapnya membuat Rana mengembuskan napas lega. Menjalani semuanya pelan-pelan, iya mereka harus melakukan itu. Karena pernikahan bukan lah hal yang bisa di permainkan. Setidaknya dia bisa menjalani hubungan yang baik-baik saja dengan Yuda, itu yang Rana pikirkan sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN