Rana menghabiskan waktu di rumah saja. Tidak ada yang dia kerjakan, apalagi mama mertuanya malah menyuruh dia beristirahat saja setelah mereka sarapan dan yang lain kembali dengan kesibukan masing-masing. Pun dengan suaminya yang tadi bilang akan bertemu dengan sahabat-sahabatnya.
Rana mana perduli. Terserah Yuda saja mau melakukan apapun.
Setelah Yuda pergi, mama dan papa mertuanya juga pergi karena harus menghadiri acara salah satu teman papanya. Alhasil Rana sendirian saja di rumah, tadi sih sempat ada asisten rumah tangga yang mengurus rumah, tetapi sudah pulang lagi setelah pekerjaannya selesai.
Brian tadi sempat menghubungi dia dan bertanya perihal keberadaanya. Rana menjawab kalau masih ada urusan keluarga dengan kakaknya. Mana mungkin kan dia mengatakan kepada Brian kalau sedang berada di rumah mertuanya. Bisa-bisa Brian marah kalau tahu dia sudah menikah.
Beruntung hari ini dia juga sedang tidak ada pekerjaan. Mbak Yuli mengatakan kalau Rana bisa libur tiga hari. Selain keluarga yang tahu perihal pernikahan dia dengan Yuda, Mbak Yuli juga mengetahuinya karena bagaimana pun Mbak Yuli orang yang dekat dengan Rana seletah keluarnya. Malah perempuan itu tampak senang sekali mengetahui Rana menikah dengan keturunan Alhanan, siapa sih yang tidak tahu keluarga Alhanan dan Mbak Yuli cukup terkejut mengetahui kalau Rana di jodohkan dengan penerus tunggal keluarga kaya raya tersebut.
Perihal hubungan Rana dengan Brian, sejujurnya dia tidak begitu suka melihat Rana dekat dengan Brian yang di kenal dengan laki-laki tebar pesona dan memiliki pergaulan yang tidak cukup baik. Hanya saja dia tidak begitu keras melarang Rana untuk berhubungan dengan Brian, sudah cukup dia memberitahu tentang Brian kepada Rana jadi tidak ada urusan lagi kalau Rana tetap berpacaran dengan Brian.
Rana bosan sekali. Dia sudah membaca novel yang sempat kakak iparnya kirim lewat jasa ojeg online tadi. Karena tidak ada bacaan di sini jadinya Rana meminta Husna untuk mengirimkan beberapa novel miliknya yang berada di kamar pribadi Rana.
Tetapi setelah membaca satu novel sampai tamat, tak lupa dengan beberapa camilan yang sempat di bawanya dari dapur. Rana kembali bosan dan tidak tahu harus melakukan apa setelah ini. Yuda juga belum pulang ke rumah.
Rana pun beranjak dari tempat tidurnya. Keluar dari kamar dan memilih untuk memasak sesuatu untuk mengganjal perutnya.
**
Rana cemberut melihat tidak ada apapun kecuali buah dan sayur di dalam kulkas. Membawa satu buah apel dari sana lalu dia duduk di meja makan. Mengupas apel merah tersebut dan memotongnya menjadi beberapa bagian.
Tiba-tiba dia ingin makanan cepat saji. Nasi dan ayam sepertinya enak atau burger atau pizza. Kenapa Rana jadi ingin makan semuanya, tetapi dia sedang malas kalau harus keluar rumah dan lagi tidak enak juga keluyuran mentang-mentang tidak ada siapa-siapa di rumah. Rana pun melihat handphone, berpikir apa dia menghubungi Yuda saja dan meminta suaminya itu untuk membelikan makanan yang dia inginkan. Kebetulan dia sudah menyimpan nomor Yuda, itu pun dari kakaknya.
Tetapi apa Yuda mau membelikan makanan untuk dia. Kalau suaminya itu menolak bagaimana? Rana jadi galau, harus kah dia mengirim pesan kepada Yuda atau dia memesan makanan tersebut lewat jasa ojek online.
Cukup lama Rana berpikir hanya untuk membeli makanan cepat saji tersebut. Akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Yuda saja, lagi pula buat apa kan dia punya suami dan kata mama mertuanya tadi apapun yang dia inginkan bisa Rana kasih tahu pada Yuda karena sudah menjadi suami-istri. Jadi apa salahnya kalau Rana meminta Yuda untuk membelikan makanan yang dia inginkan. Ini jadi permintaan pertama Rana lho sebagai seorang istri dan harusnya Yuda bangga akan hal tersebut. Iya kan?
Rana : Gue laper. Beliin ayam, kentang sama minuman dinginnya ya.
Pesan tersebut sudah Rana kirim ke nomor Yuda. Tinggal menunggu balasan dari suaminta dan Rana harap Yuda mau membelikan semua itu. Tidak sabar Rana mencicipi semuanya, apalagi sudah lama sekali tidak memakan makanan cepat saji.
Yuda : Ok
Senyum Rana terbit. Meski jawaban Yuda singkat seperti itu tetapi tidak apa-apa asalkan keinginan dia bisa terlaksana. Tidak sabar menunggu kedatangan Yuda, lebih tepatnya kedatangan makanan yang dia titip pada Yuda. Rana memilih menunggu sambil menonton televisi dan menghabiskan apel yang tadi dia potong kecil.
**
Yuda masuk ke dalam rumah dengan membawa beberapa kantung plastik. Dia baru saja membeli makanan cepat saji karena tadi Rana meminta dia untuk membelikan semua makanan itu. Tidak ada alasan untuk menolak apalagi mamanya tadi mengatakan kalau Rana sendirian di rumah dan Yuda harus segera pulang.
Tadi dia memang bertemu dengan Galang dan Nino, membahas pernikahan Galang yang akan segera di laksanakan beberapa waktu ke depan. Tadi Galang juga sudah meminta dia dan Nino untuk fitting baju. Katanya untuk mereka sebagai groomsmen di acara pernikahannya nanti. Sama seperti Galang dan Nino waktu di acara pernikahan Yuda dan Rana.
Masuk ke dalam rumah, Yuda melihat Rana yang sedang selonjoran di depan televisi. Sepertinya Rana memang sudah menunggu makanan yang dia belikan. Untung saja tadi dia masih berada di perjalanan dan masih jauh sampai rumah saat menerima pesan dari istrinya, jadi bisa langsung membelikan makanan yang Rana inginkan tanpa harus memutar balik arah mobilnya.
Menyadari kedatangan seseorang, Rana berbinar melihat Yuda yang sudah membawa pesanananya. Beranjak dan langsung membawa kantung plastik yang berada di tangan suaminya. Yuda menggeleng melihat kelakuan Rana, begitu semangat melihat makanan yang dia pesan tadi.
Ikut duduk di samping sang istri, Rana tengah mengeluarkan makanan dari dalam kantung plastik. Lalu gadis itu duduk di karpet tebal begitu nyaman kelihatannya dan mulai makan tanpa menawarkan makana itu kepada Yuda membuat laki-laki itu mendengkus. Dia juga lapar kan dan semua itu tidak mungkin hanya untuk Rana saja.
“Kamu mau makan sendirian?”
Rana menoleh mendapati wajah Yuda yang tampak kesal malah membuat gadis itu terkekeh. Dia lupa kalau ada Yuda di sini, hanya fokus pada makanan saja apalagi perutnya sudah berdemo. Salah kan Yuda kenapa sampai lama membuat Rana kelaparan jadinya.
“Lupa, ya udah tinggal makan aja,” balas Rana kembali menikmati kentang goreng yang di beli oleh Yuda.
Yuda mendengkus namun tak urung ikut makan dengan Rana dan duduk di samping istrinya. Kalau seperti ini mereka tampak begitu kompak dan sangat serasi sekali menjadi pasangan suami-istri.
“Ini buat kamu, saya nggak suka,” ucap Yuda memberikan kulit krispi kepada Rana membuat gadis itu berbinar.
“Seriusan? Demi apa lo kasih kulit sama gue dengan begitu ikhlas,” hebohnya menerima kulit kripsi tersebut. Tentu saja dia senang, setiap orang juga begitu suka kalau soal perkulitan krispi begini tetapi Yuda malah memberikannya, sungguh Rana kalau seperti ini beruntung sekali dan akan mengajak Yuda saja kalau makan makanan cepat saji begini.
Yuda mengangguk membiarkan Rana menikmati kulit krispi yang baru saja dia berikan. Satu hal yang Rana tidak ingat, sejak dulu bukan kah Yuda selalu memberikan kulit krispi dari ayam yang selalu mereka makan bersama. Yuda selalu dengan senang hati memberikannya kepada Rana karena Yuda suka melihat wajah Rana yang berbinar hanya karena menerima kulit ayam krispi.
Tetapi Rana benar-benar melupakan semuanya, membuat Yuda penasaran apa yang sudah terjadi selama dia jauh dari Rana beberapa tahun kebelakang. Tidak mungkin kan secepat itu Rana melupakan padahal Yuda saja masih ingat dengan begitu jelas tentang Rana, pun tentang mereka berdua di waktu dulu.