“Aaaa...!!!”
Pekikan itu membuat suasana kamar yang sepi tiba-tiba menjadi gaduh. Belum lagi seseorang tengah meringis karena jatuh dari atas tempat tidur dengan posisi yang sungguh tidak ada keren-kerennya.
Kamar pengantin baru itu gaduh sekali. Teriakan Rana, ringisan Yuda, semua menjadi bumbu di pagi hari yang cerah ini.
Rana tentu saja terkejut dengan keberadaan laki-laki asing yang tidur di sampingnya, tepat saat membuka mata dan hidung mereka bahkan hampir bersentuhan kalau saja salah satu dari mereka bergerak dari posisi tersebut. Namun refleks Rana malah mendorong begitu kencang sampai sang empu terjatuh dari tempat tidur.
Yuda yang menjadi korban pagi ini benar-benar dibuat meringis. Pantatnya kena lantai dengan begitu tiba-tiba, belum lagi kepala yang menyentuh ujung meja membuat pening sekali. Mau marah tetapi Yuda tidak tega, masa di hari pertama menjadi suami-istri sudah terjadi perang, meski Rana juga sudah membuat dia sakit seperti ini. Paginya sungguh luar biasa.
“Nggak usah teriak, masih pagi,” seru Yuda dengan masih meringis karena pantatnya yang menyentuh lantai cukup keras. “Kamu kalau bangun lihat-lihat dong, nggak usah main tendang segala. Sakit semua tubuh saya,” protes Yuda mencoba untuk beranjak.
Rana mendengkus. Yuda sendiri yang membuat dia terkejut tiba-tiba sudah berada di samping dirinya. Rana kan lupa kalau dia sudah menikah dengan Yuda, wajar kan kalau tadi dia terkejut karena ada laki-laki asing yang tidur di sampingnya.
“Lo juga ngapain sih jadi tidur di sini, terus tadi mepet segala. Jangan-jangan semalem lo ngelakuin yang nggak-nggak sama gue!” seru Rana dengan kedua tangan menghalangi daadanya dan mata yang begitu tajam menatap Yuda.
“Ngelakuin yang iya-iya juga sudah sah.”
“Mau lo!”
Yuda sudah berdiri dengan wajah bangun tidurnya yang menurut Rana begitu lucu. Tunggu ... apa katanya, lucu? Astaga kenapa Rana jadi berpikir begitu, tidak jangan sampai Rana terpesona dengan suaminya ini.
“Kenapa geleng-geleng? Mikir jorrok?”
“Enak aja! Keluar sana gue mau mandi!” usir Rana kepada Yuda.
“Mandi ya di kamar mandi, ngapain saya harus keluar.”
Rana geram sekali, kemudian beranjak dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Sambil menggerutu karena kesal sekali dengan Yuda. Pagi-pagi sudah di sungguhkan dengan wajah menyebalkan Yuda membuat naik darah saja.
“Dasar cewek aneh. Sakit juga tendangan dia,” gumam Yuda melihat Rana masuk ke dalam kamar mandi.
**
Selesai mandi dan berganti pakaian, Rana memilih keluar dari kamar dan membiarkkan Yuda dengan kegiatan paginya. Dia tidak ingin satu ruangan hanya berdua dengan suaminya itu. Apalagi Yuda sudah merusak paginya yang seharusnya indah ini.
Rana berjalan ke arah dapur dan melihat sudah ada ibu mertuanya di sana. Dengan langkah pelan Rana menghampiri Bu Nurma yang sedang sibuk dengan peralatan dapur. Pagi hari memang kegiatannya sudah berkutat dengan segala macam bahan masakan untuk sarapan bersama.
“Pagi, mantu Mama.”
Bu Nurma menyapa Rana dengan wajah yang begitu berbinar. Senang sekali karena sekarang dia sudah memiliki menantu dan ada yang menemani saat memasak seperti kali ini.
“Pagi, Ma. Rana bantuin apa?” menghampiri Bu Nurma yang sedang sibuk memotong sosis dan bakso goreng untuk pelengkap nasi goreng sebagai sarapan mereka pagi ini.
“Potongin ini bisa?” Rana mengangguk lalu mengambil alih pisau yang sejak tadi di gunakan untuk memotong sosis dan bakso goreng.
“Yuda udah bangun?” tanya Bu Nurma.
“Udah, Ma. Lagi mandi,” jawab Rana. Padahal tadi Rana tidak tahu Yuda sedang di mana, karena saat dia keluar dari kamar mandi Rana tidak melihat keberadaan Yuda. Tetapi kalau Rana bilang dia tidak tahu Yuda di mana kepada mama mertunya, masa satu kamar tetapi tidak tahu keberadaan suami, kan tidak lucu.
Mereka pun sibuk dengan urusan masing-masing. Sesekali berbincang tentang pesta pernikahan kemarin yang berlangsung dengan begitu meriah dan khidmat. Pun dengan bagaimana Bu Nurma yang merasakan bahagia luar biasa karena anaknya sudah menikah dengan Rana.
Rana tidak begitu banyak berkomentar, hanya sesekali saja menanggapi perkataan mama mertuanya. Lagi pula dia harus mengatakan apa, kalau memang keluarganya dan keluarga Yuda senang atas pernikahan mereka, Rana juga ikut senang. Apalagi amanat dari mendiang kakek mereka sudah terlaksana dengan baik.
**
Meja makan keluarga Alhanan sudah terisi penuh. Sekarang di tambah dengan anggota baru di antara mereka membuat semakin lengkap sarapan pagi ini. Rana tidak begitu canggung berada di antara keluarga Yuda. Mungkin karena sudah mengenal cukup lama dan Rana sudah menganggap Bu Nurma dan Pah Hedy sebagai orang tuanya sendiri.
Sarapan kali ini tentu saja berbeda sekali untuk Yuda. Karena tadi dia di layani oleh istrinya, meski Yuda tahu itu hanya untuk formalitas di depan orang tuanya. Karena kalau hanya berdua, Yuda tidak yakin Rana akan semanis itu memberikan sepiring nasi goreng untuk dirinya di meja makan.
“Kalian ada rencana honeymoon ke mana?”
“Uhuk ...”
Yuda tersedak mendengar pertanyaan mamanya yang membahas tentang honeymoon. Terkejut saja karena membahas itu saat sarapan seperti ini. Dengan sigap Rana memberikan satu gelas air kepada Yuda dan mengelus punggung laki-laki itu.
Perlakuan Rana yang seperti ini malah membuat Yuda terdiam. Padahal Rana belum menyadari dengan apa yang baru saja dia lakukan. Mungkin refleks yang baik dari perempuan itu saat ada yang tersedak.
“Mama apa sih udah bahas begituan segala,” ucap Yuda setelah meminum air.
“Lho emangnya ada yang salah? Mama kan tanya doang.”
“Ya nanti-nanti aja tanya itunya, lagi makan juga.”
“Alah kamu aja yang lebay. Pake acara keselek segala,” cibir Bu Nurma.
Ingin kembali membalas perkataan mamanya tetapi Yuda urungkan. Tidak baik juga kan terus membalas perkataan orang tua. Sarapan pagi malah menjadi berdebat kan jadi aneh rasanya.
“Belum tau mau ke mana, Ma. Nanti Rana sama Yuda bicarain dulu,” akhirnya Rana memilih untuk mengeluarkan suaranya. Tidak mau memperpanjang jadinya dia jawab begitu saja. Kenapa juga Yuda tidak bisa berpikir cepat.
Yuda bernapas lega karena istrinya berbicara seperti itu. Jadi dia tidak perlu pusing untuk membalas perkataan mamanya tadi yang membahas tentang honeymoon. Ngomong-ngomong soal honeymoon, memangnya Rana mau melakukan honeymoon dengan dirinya di saat situasi pernikahan mereka yang seperti ini.
“Kalau udah tau tujuannya. Kasih tau Mama ya, nanti Mama siapin tiket buat hadiah pernikahan kalian.”
Rana mengangguk saja. Lebih cepat mengiyakan apa yang di katakan oleh mama mertuanya kan dari pada urusannya panjang dan membuat dia harus berpikir untuk menjawabnya.
**
“Gimana malam pertamanya, sukses?” tanya Galang diakhiri dengan kekehan.
Yuda memutar bola mata malas, kenapa juga dia harus bertemu dengan kedua sahabatnya satu hari setelah dia menikah dengan Rana. Tentu akan di bahas kan tentang malam pertama dia dengan istrinya. Tetapi memang tujuannya bukan bertemu saja sih, Nino dan Galang kan hendak memberikan hadiah untuknya, jadi Yuda terima dengan senang hati kalau hadiah seperti itu.
“Padahal gue ke sini, mau tagih janji lo pada soal hadiah pernikahan, bukan malah bahas malam pertama gue.”
“Ya apa salahnya berbagi pengalaman, Yud.”
“Halah! Bukannya lo berdua yang udah berpengalaman.”
“Jadi gimana nikmat kan belah duren?”
“Kamvret lo, Lang! Udah nggak usah di bahas lagi, mana hadiah buat gue?” tagih Yuda tidak ingin membahas malam pertama yang memang dia belum menerimanya. Semalam dia dan Rana hanya sekedar tidur kan. Benar-benar tidur tanpa melakukan apapun kecuali ya kecupan singkat yang Yuda curi diam-diam.
“Kasihan kali, Lang. Jangan di godaa gitu pengantin baru lagi hot-hotnya.” Nino selalu menjadi penengah tetapi perkataannya sungguh membuat Yuda ingin melempar sahabatnya itu. Hott dari mana, yang ada dia kedinginan malam tadi.
“Lo juga sama aja. Bukannya bela gue malah pake ngomong hott segala.”
Tawa Nino dan Galang berderai. Mereka suka kalau sudah menggodaa sahabatnya ini.
“Lo mau hadiah apa sih, Yud?” tanya Nino kemudian.
“Ya masa gue bilang mau hadiah perumahan.”
“Rampok sih kalau itu,” timpal Galang.
“Gue kan terima apapun.”
“Ya udah, tiket honeymoon dari kita plus fasilitasnya. Bilang lo mau ke mana?”
“Nah justru itu. Tadi pagi nyokap gue juga udah bahas. Heran banget gue kenapa pada bahas honeymoon. Padahal bikin anak kan sama-sama aja di ruangan tertutup, ujungnya di kamar juga kan.”
“Ya emang gitu konsepnya, Bang Yuda. Tapi kan kalau pake embel-embel honeymoon itu bakalan berasa gitu bikin anaknya.”
“Emang rasa apaan?” tanya Yuda yang malah membuat Nino dan Galang terbahak. Sahabatnya ini benar-benar lucu sekali, kenapa juga harus bertanya seperti itu.
“Rasa cokelat, Yuda. Ah anjirr kocak lo!” seru Galang.
"Rasa-rasanya gue mengakak."