6 : Pernikahan

1782 Kata
Pernikahan Yuda dan Rana berlangsung dengan begitu khidmat. Persiapan yang di lakukan oleh dua keluarga itu akhirnya mendapat angin segar dengan pernikahan antara Yuda dan Rana yang hari ini berlangsung dengan lancar. Bu Nurma tersenyum begitu lebar dan mengucap syukur saat anak semata wayangnya resmi menjadi seorang suami dari perempuan yang selama ini selalu dia sebut dalam doa untuk menjadi menantu keluarga Alhanan. Yuda dan Rana tampak begitu serasi di atas pelaminan, menyambut tamu yang hadir. Hanya kerabat dan teman-teman dekat mereka saja karena sesuai dengan keinginan Rana yang tidak mau pernikahannya tercium media apalagi dia seorang model yang masih memiliki kontrak kerja dan di sebutkan tidak boleh menikah dalam kurun waktu yang sudah di tetapkan dalam kontrak. Pernikahan ini pernikahan sah secara hukum dan agama namun masih di tutupi dari masyarakat umum yang tentu saja jika terendus kabar pernikahan mereka, media akan saling berburu kabar pernikahan antara Putra tunggal perusahaan Alhanan dengan Zerlina seorang model yang sedang naik daun. Bukan hanya Bu Nurma yang bahagia melihat pasangan penganti baru itu tetapi juga Daffa yang merupakan kakak kandung dari Rana. Melihat adiknya sudah menjadi seorang istri tentu saja tanggung jawabnya sudah berpindah kepada Yuda selaku suami dari Rana. Keinginan almarhum kakek mereka akhirnya bisa di laksanakan dan Daffa lega dengan hal tersebut. ** Rana berada di kamar Yuda, laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya. Seharian menjadi raja dan ratu dalam pernikahan mereka membuat Rana kelelahan. Meski pernikahan mereka masih di rahasiakan dari orang-orang, tetapi tetap saja kerabat dan teman dekat mereka yang berdatangan tidak sedikit. Selesai pesta yang memang di laksanakan di kediaman Alhanan, berubah dari rencana sebelumnya karena jika di rumahnya maka tidak menutup kemungkinan akan ada yang tahu, alhasil memilih melangsungkan acara di kediaman keluarga Alhanan yang tentu di jaga dengan begitu ketat. Rana tidak langsung pulang ke kediamannya dengan sang kakak, tetapi masih di kediaman Alhanan sesuai dengan keinginan suaminya. Tentu Rana tidak bisa menolak karena dari jauh hari kakaknya sudah mewanti-wanti untuk dirinya menuruti apa yang menjadi keinginan Yuda setelah mereka resmi menjadi suami dan istri. Rana juga tidak mungkin kan bersikap seenaknya di depan ayah dan ibu mertuanya. Jadi satu-satunya cara untuk dia tampak seperti istri penurut di depan keluarga mereka adalah mengiyakan apa yang tadi di inginkan oleh Yuda. Karena katanya setelah ini, mereka akan tinggal di apartemen lebih dulu sebelum Yuda mendapatkan rumah yang cocok untuk mereka. Rana baru saja selesai mandi. Tengah mengeringkan rambutnya sambil duduk di tepi ranjang kamar ini. Kamar Yuda cukup nyaman tetapi semua interiornya benar-benar membuat mata Rana perih. Melihat hanya satu warna saja di kamar ini membuat Rana menyangka kalau Yuda ini hidupnya tidak memiliki banyak warna. Lihat saja semua abu-abu, apakah memang semua ini menunjukkan kalau hidup laki-laki itu tidak berwarna dan kelabu begitu. Ah kenapa juga Rana harus memikirkan hidup laki-laki itu yang sayangnya sekarang sudah menyandang status sebagai suaminya. Klek. Pintu kamar terbuka membuat Rana terlonjak dan melihat Yuda baru saja memasuki kamar dengan pakaian yang sudah berganti. Mungkin Yuda mandi di kamar lain tadi karena Rana terlalu lama berada di kamar mandi. Tidak ada pembicaraan di antara mereka, keduanya langsung sibuk dengan kegiatan masing-masing. Rana yang selesai dengan mengeringkan rambutnya tampak kikuk dan memilih untuk memainkan handphone, membalas pesan dari Brian yang sejak tadi bertanya tentang dirinya yang tidak bisa di hubungi. Rana mengatakan dia sedang ada urusan keluar kota dengan keluarganya. Sementara Yuda memilih menyalakan televisi yang ada di kamarnya ini. Cukup membuat dia kebingungan saat satu ruangan dengan perempuan lain meski itu istrinya sendiri tetapi kan Yuda belum terbiasa saja. Tidak ada suara dari dua orang di satu ruangan yang sama ini, sejak tadi hanya suara televisi yang menjadi kebisingan di antara mereka berdua. Rana juga sudah mengantuk dan menyimpan handphone di atas meja, agak ragu untuk berbaring dan memejamkan mata apalagi ini kamar Yuda, meski laki-laki itu suaminya tetapi kan mereka menikah karena di jodohkan. Rana jadi berpikir malam ini dia tidur di mana, apa seperti di novel-novel yang dia baca di mana laki-lakinya malah menyuruh sang perempuan tidur di bawah, karena kamar ini milik pribadi si laki-laki. Atau mereka akan tidur satu ranjang? Rana tersentak melihat pergerakan Yuda yang sejak dari rebahan di sofa cukup panjang sambil menghadap televisi. Suaminya itu berjalan ke arahnya membuat Rana jadi berdebar tak menentu. “Kamu bisa tidur di ranjang, saya tidur di sofa.” Yuda membawa satu bantal dari ranjang tersebut kemudian pergi ke arah lemari dan mengeluarkan selimut tebal dari sana. Setelah itu membawa kedua barang tersebut menuju sofa yang tadi dia duduki. Rana diam tidak mengatakan apapun, tetapi dia bernapas lega karena mereka tidak tidur di satu ranjang yang sama. Karena jujur saja Rana merasa grogi sekali berada di satu kamar yang sama dengan seorang laki-laki. Tidak biasa, meski dia juga harus membiasakan perubahan yang terjadi dalam hidupnya mulai hari ini. Setelah melihat Yuda merebahkan tubuhnya dan menarik selimut, Rana pun mulai menyamankan posisinya. “Lo kalau tidur lampunya nyala atau nggak?” tanya Rana dengan suara yang begitu lembut terdengar di telinga Yuda. “Kondisi nyala atau mati saya tetap bisa tidur.” Rana mengangguk, lalu menekan saklar yang berada tak jauh dari tempatnya. Mematikan lampu utama yang kemudian berganti menjadi lampu tidur yang temaram. Tetapi sayangnya suasana seperti ini malah membuat keduanya kikuk. Apalagi Yuda sudah berpikir yang iya-iya, ini gara-gara Nino dan Galang membahas tentang malam pertama tadi saat mereka masih mengobrol di pesta pernikahan dirinya. Yuda memilih memejamkan kedua matanya, menghilangkan pikiran yang sudah berkelana ke mana-mana. Pun dengan Rana yang sudah terlelap apalagi lampu tidur sudah di nyalakan. Rana ingin tidur dengan nyaman, apalagi hari ini begitu melelahkan. ** Yuda tidak bisa tidur. Posisinya sudah berganti ke kiri lalu ke kanan kemudian kembali lagi ke posisi semula tetapi matanya tidak juga terpejam. Sofa ini memang tidak cukup untuk merebahkan tubuhnya kalau posisi tidur begini, ke mana pun tetap tidak enak rasanya dan Yuda sudah pastikan kalau pagi hari nanti tubuhnya akan terkena pegal-pegal. Yuda beranjak lalu melihat ke arah tempat tidur di mana istrinya sudah terlelap, begitu nyaman sekali di atas sana membuat Yuda jadi mengiginkan tidur di atas ranjang miliknya yang sekarang sudah menjadi milik istrinya juga. Istri. Mengingat itu membuat Yuda tersenyum geli, tidak menyangka kalau sekarang dia sudah memiliki istri dan perempuan itu teman masa kecilnya yang juga perempuan yang di cintai Yuda diam-diam. Yuda berpikir keras apa dia pindah saja ke atas tempat tidur atau dia tetap di sini dengan posisi tidur yang tidak nyaman. Dia jadi galau sendiri, tetapi malam ini dia ingin tidur dengan nyaman apalagi seharian ini sibuk menyalami kerabat dan teman yang datang. Tetapi kalau dia tidur bersama dengan Rana apa gadis itu tidak akan keberatan. Harus apa Yuda sekarang. Pindah atau tidak? Yuda pindah saja lah. Dia pun beranjak dari sofa, tidak lupa membawa kembali bantal yang tadi dia bawa dari tempat tidur, lalu berjalan dengan begitu perlahan agar tidak membuat keributan yang nantinya sang istri akan bangun. Lalu Yuda pun naik ke atas tempat tidur dengan gerakan penuh dengan kehati-hatian. Yuda sudah merebahkan tubuhnya, bernapas lega sekali karena merasa nyaman berada di atas tempat tidur seperti ini. Namun dia terkejut dengan apa yang selanjutnya terjadi, Rana yang sejak tadi dengan posisi tubuh yang membelakangi dirinya tiba-tiba merubah posisi menjadi menghadapnya membuat napas Yuda rasanya terhenti. Yuda menahan napas sekali saat posisi mereka menjadi begitu dekat. Tidak pernah dia tidur di samping perempuan seperti ini. Rana yang pertama dan tentu saja satu-satunya yang tidur dengan dia di atas ranjang seperti ini. Dengan begitu perlahan Yuda menggeser tubuhnya, tidak lucu kan kalau dia sudah di atas tempat tidur seperti ini tetapi terus menahan napas karena posisinya yang begitu dekat dengan Rana. Lagi pula kenapa juga jantung dia berdebar begitu cepat seperti ini setiap kali berdekatan dengan Rana. Yuda ini sebenarnya kenapa sih? Apa dia sakit jantung? Astaga tidak mungkin kan. Yuda merubah posisinya dari terlentang menjadi menyamping menghadap Rana. Melihat wajah Rana sedekat ini membuat hatinya menghangat. Gadis di hadapannya ini yang dulu sering sekali merengek kepadanya untuk di traktir, sekarang sudah banyak berubah. Rananya yang terkesan polos sekarang menjadi sosok perempuan dewasa yang saat pertama kali mereka kembali bertemu, di mata Yuda saat itu Rana tampak memukau dan sexy. Dan sekarang gadis ini yang sudah menjadi istrinya. Namun Yuda masih penasaran kenapa Rana tidak mengenali dirinya di hari pertama mereka kembali bertemu setelah sekian lama. Bukannya nama Yuda juga tidak asing kalau di sebutkan secara jelas tetapi Rana sama sekali tidak mengenalnya saat itu. Ada apa dengan Rana? Tanpa sadar tangannya terulur mengelus rambut yang sejak tadi menutupi wajah istrinya. Yuda seakan terhipnotis dengan wajah Rana yang sudah terlelap, Yuda agak mendekatkan tubuh mereka. Tidak salah kan kalau dia ingin mencium gadis yang sudah memiliki status yang jelas yaitu sebagai istrinya. Satu kali kecupan, tidak masalah kan? Astaga Yuda seperti tengah mencuri, diam-diam begini tanpa membuat suara yang akan membangunkan Rana. Cup Satu kecupan di kening istrinya membuat hati Yuda menghangat. Kalau Rana sedang sadar dan tidak terlelap seperti sekarang tentu saja gadis itu akan menolak kecupan Yuda. Bahkan mungkin saja Rana sudah memukulinya karena mencium sembarangan, padahal kan mereka sudah sah-sah saja kalau pun lebih dari sekedar kecupan di kening. Kedua mata Yuda terfokus pada bibir tipis milik Rana, Yuda laki-laki normal dan di suguhkan pemandangan seperti ini tentu saja membuat jiwa laki-lakinya menggelora. Apalagi perempuan yang ada di dekatnya sekarang sudah sah untuknya. Semakin saja Yuda membayangkan hal yang iya-iya. Ini juga karena Galang, kurang ajarr sekali memang sahabatnya itu karena akhir-akhir ini selalu membahas urusan peranjangan. Dasar laki-laki! Tangan itu menyentuh permukaan bibir Rana dengan begitu perlahan, seperti ada sengatan listrik saat Yuda menyentuh bibir istrinya. Lembut sekali sepertinya, itu yang Yuda pikirkan sekarang. Kata orang juga akan manis rasanya kalau di cicipi, memangnya iya? Yuda belum pernah meski umurnya sudah menginjak 25 tahun, semua yang ada di tubuhnya tentu saja terjaga dan hanya untuk perempuan yang menjadi istrinya. Lalu Yuda berpikir, Rana memiliki kekasih. Apa bibirnya masih terjaga atau malah ... Ah seharusnya Yuda tidak perlu memikirkan itu, tentu saja Yuda harus percaya kalau istrinya juga menjaga apa yang seharusnya di jaga. Yuda yakin kalau Rana belum tersentuh, entah dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Yuda mendekat, embuasan napas teratur dari Rana terasa begitu hangat. Dan bibir itu menyatu dengan begitu cepat. Hanya kecupan sesaat yang ternyata membuat Yuda ingin terus mencobanya. Tetapi Yuda tidak mungkin berbuat lebih apalagi dia ingin Rana terbiasa lebih dulu dengan dirinya. Cukup kecupan singkat saja dan berhasil membuat perutnya tergelitik. Yuda sepertinya mulai kecanduan, apalagi aroma tubuh istrinya begitu memabukkan. Tidak sekarang, nanti akan ada saatnya Yuda memiliki Rana seutuhnya. Malam ini biarkan mereka tidur dengan nyenyak, tanpa melakukan malam pertama yang mungkin menjadi rutinitas pengantin baru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN