5 : Persiapan

1268 Kata
Acara makan malam kemarin berjalan dengan lancar, dua keluarga sudah sepakat dengan keputusan mereka yang menikahkan Yuda dan Rana seperti apa yang di amanatkan oleh kakek mereka. Baik Yuda maupun Rana tidak ada yang menolak keputusan tersebut karena keduanya dari awal memang sudah sepakat meski Rana yang dengan terpaksa menyetujuinya karena alasan tidak memiliki perasaan apapun kepada Yuda, si calon suaminya itu. Berbeda dengan Rana yang tidak memiliki perasaan kepada Yuda dan biasa saja mengetahui kabar kesepakatan perjodohan mereka. Yuda malah merasakan perasaan yang tidak menentu. Jantungnya berdebar cukup kencang setiap kali Yuda mengingat bahwa dirinya akan menikah dengan Rana, teman masa kecilnya itu. Kedua keluarga juga sudah sepakat untuk segera melangsungkan pernikahan Yuda dan Rana karena niat baik memang tidak boleh di tunda terlalu lama dan harus segera di laksanakan. Hal itu membuat Rana agak kesal karena artinya dia sebentar lagi akan menyandang status sebagai istri dari seorang laki-laki yang tidak dia cintai. Kenal saja Rana baru saat mereka bertemu tanpa sengaja di acara Alan waktu itu, apalagi cinta mana mungkin semua itu terjadi dengan cepat. Di tambah Rana sudah memiliki kekasih hati, tentu tidak akan cepat jatuh pada hati yang lain. Karena pernikahan mereka akan segera di laksanakan. Persiapan pernikahan akhirnya di lakukan, Bu Nurma begitu antusias memersiapkan segala keperluan untuk pernikahan anak semata wayangnya dengan calon menantu yang memang sudah lama dia inginkan. Rana itu kandidat calon menantu kesayangan Bu Nurma sejak lama. Tidak heran begitu sayangnya Bu Nurma kepada Rana apalagi saat keinginannya sebentar lagi akan terkabul, menjadikan Rana sebagai menantunya. Yuda menyerahkan semua persiapan kepada ibu dan calon istrinya. Lagipula dia tidak tahu menahu tentang segela hal yang harus di persiapkan untuk acara pernikahan. Yang terpenting dia bisa mengucapkan janji pernikahan dengan benar dan tanpa menyebutkan salah nama. Sepertinya tidak akan sih, karena nama Rana sudah lama tersemat di dalam hati dan pikirannya. Tidak mungkin Yuda salah mengucapkan nama Rana Naava Zerlina, gadis yang sejak dulu begitu dia sayangi dalam diam. ** Sepanjang hari ini Rana cemberut. Untung saja masih profesional kalau masalah pekerjaan dia sebagai model dan melakukan pemotretan dengan begitu baik. Brian yang melihat kekasihnya tidak seperti biasa tampak bingung apa yang terjadi kepada kekasihnya sampai membuat wajah manis itu menjadi begitu masam. Tetapi masih belum mau bertanya karena kalau kata Mbak Yuli tadi Rana mungkin sedang kedatangan tamu bulanan membuat moodnya naik turun tidak menentu. “Mau jalan keluar habis ini?” Brian duduk di samping kekasihnya yang baru saja selesai berganti pakaian setelah dua jam melakukan sesi foto untuk pakaian kerja dari salah satu desainer yang menunjuk Rana sebagai modelnya. Menoleh sebentar kemudian menggeleng. Setelah ini dia harus bertemu dengan calon ibu mertuanya dan melakukan fitting gaun pengantin dan tentu saja Rana tidak mungkin mengatakan itu kepada kekasihnya. “Aku ada janji sama Tante Nurma,” menyebut nama ibu mertuanya karena memang Brian tahu kalau Rana dekat dengan salah satu sahabat dari mendiang orang tuanya. Jadi tidak akan curiga kalau Rana bertemu dengan Bu Nurma. “Mau aku anterin?” “Nggak usah. Kamu masih ada kerjaan kan, lagian aku tadi bawa mobil sendiri. Nanti aku kabarin kalau udah selesai ketemu sama Tante Nurma ya,” berkata dengan penuh kelembutan agar Brian tidak menaruh curiga. Rana memang sengaja membawa mobilnya. Bahkan tadi berangkat lebih awal agar Brian tidak menjemput dia ke rumah. Karena sejak kemarin kakak dan kakak iparnya berada di rumah dan sudah pasti Daffa tidak akan suka kalau tahu Rana di jemput oleh Brian, meski laki-laki itu kekasihnya. Karena sampai sekarang tidak ada restu yang Daffa berikan untuk hubungan adiknya dengan laki-laki itu. Tidak mungkin juga kan Daffa memberikan restu kalau calon suami adiknya saja di mata Daffa lebih baik dari pada kekasih dari Rana. “Oke, nanti kamu hati-hati nyetirnya.” Brian mencium kening kekasihnya dengan penuh kelembutan. Rana mengangguk dan membiarkan Brian melakukannya. ** “Gimana, Sayang? Kamu suka nggak sama gaunnya?” tanya Bu Nurma kepada Rana yang sudah memakai gaun pengantinnya. Ini gaun kedua yang akan ia kenakan untuk acara resepsi pernikahannya nanti. “Suka, Ma. Bagus banget gaunnya,” karena tadi Bu Nurma meminta dia untuk memanggil dengan sebutan Mama, alhasil Rana pun mengiyakan meski agak canggung tetapi nanti juga terbiasa. “Syukur lah. Mama juga sreg banget sama gaun yang kamu pake ini. Cocok juga di pake sama kamu. Tapi emang namanya model kan selalu cocok pake apapun,” tersenyum cerah melihat calon menantunya tampak begitu anggun mengenakan gaun pengantin. “Mama berlebihan banget, Rana jadi malu.” “Tapi bener kamu emang cocok pakai apapun sih, Yuda pasti terpesona kalau lihat kamu pakai gaun ini sekarang.” Tidak tahu harus berkomentar apa, Rana hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Bu Nurma yang menyebut nama Yuda. Bahkan sejak tadi Rana tidak memikirkan keberadaan laki-laki yang akan menjadi calon suaminya itu. Karena calon mama mertuanya bilang kalau Yuda sedang sibuk dengan pekerjaannya, pakaian untuk Yuda pun biar laki-laki itu sendiri yang mencobanya nanti. Mereka pun kembali sibuk dengan gaun pengantin yang akan di gunakan oleh Rana nanti, pernikahan yang seharusnya menjadi pernikahan impian untuk setiap perempuan apalagi menikah dengan laki-laki yang di cintai nyatanya pernikahan ini bagi Rana hanya sebagai bakti dia pada mendiang kakeknya. Namun tentu saja Rana tahu bagaimana kewajiban dia nanti sebagai seorang istri dan mungkin dia akan menjalankan semua itu dengan baik, meski dia tidak menikah dengan laki-laki yang dia cinta tetapi bagaimana pun juga Yuda yang nanti akan menjadi suaminya adalah kepala keluarga yang harus dia hormati. ** “Gimana persiapan pernikahan lo sama Rana?” tanya Nino pada Yuda. Akhir-akhir ini mereka memang sering sekali berkumpul, bertiga dengan Galang juga. Apalagi setelah tahu kalau sahabatnya akan melangsungkan pernikahan, pasti kedua laki-laki itu menjadi nomor satu yang ingin tahu bagaimana persiapan pernikahan Yuda dan Rana. “Lancar, selancar jalanan tol. Yang pasti gue udah kasih semua urusan ini ke nyokap sama Rana. Gue mana ngerti lah yang begituan.” “Lo ngertinya malam pertama.” “Kamvret lo!” seru Yuda mendengar celetukan Galang. Dia malah belum memikirkan tentang malam pertamanya dengan Rana, entah akan ada malam itu atau tidak karena Yuda hanya ingin Rana terbiasa dulu dengan kehadiran dia. “Kan, belum apa-apa ini anak pasti udah mikir jauh banget. Lihat tu, No. Si Yuda lagi mikir malam pertamanya pake acara senyum kek gitu,” ucap Galang melihat Yuda yang diam dan tampak senyum-senyum tak jelas padahal mereka tidak sedang melucu. “Woy! Bang Yuda!” seruan Nino membuat Yuda tersadar akan lamunannya. Astaga ada apa dengan dirinya, kenapa malah jadi melamun seperti tadi. Ngomong-ngomong dia juga jadi kepikiran Rana, apa calon istrinya itu sudah selesai fitting gaun pengantin? “Anjirr lo pada! Diem deh gue lagi mikir.” “Alah anjirr paling mikir jorrok,” timpal Galang yang sejak tadi tidak hentinya mengejek Yuda si calon pengantin itu. “Sialaan banget lo, Lang. Itu sih lo yang tiap hari mikir yang iya-iya.” Nino yang berada di antara mereka hanya terkekeh melihat kedua sahabatnya itu. Yuda dan Galang memang tidak pernah bisa berhenti kalau sudah saling ejek atau saling menggodaa satu sama lainnya. “Lah ada yang di ajak iya-iya, gue nggak perlu mikir langsung aja kelonan,” balas Galang. “Sumpah emang demitt lo! Pake di perjelan kelonan segala.” “Jangan gitu lah, bini gue lagi palang merah. Ntar gue pengen kan berabe,” timpal Nino karena keduanya malah membahas yang iya-iya membuat otaknya berpikir untuk bermesraan dengan sang istri tetapi apalah daya istrinya sedang kedapatan tamu. “Anjirr banget emang sama kalian. Udah otak gue yang polos ternodaii.” “Alah polos-polos, nanti juga lo masuk gawang.” “Galang kamvret!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN