4 : Obrolan

1487 Kata
Rana cemberut mendengar apa yang baru saja di katakan oleh kakaknya. Mereka akan pergi ke rumah orang tua dari laki-laki yang akan di jodohkan dengan dia karena keinginan almarhum kakek mereka. Tentu saja wajah Rana langsung di tekuk dam bibir yang sudah seperti bibir bebek karena dia sama sekali tidak ingin ke rumah itu. Iya sih dia kenal sekali dengan Tante Nurma -teman almarhum bundanya- tetapi kan dia malas kalau harus bertemu dengan si laki-laki kaku itu. Sudah pasti dia ada kan apalagi kata kakaknya lagi mereka akan membahas perjodohan tersebut. Dia mimpi apa sih bisa di jodohkan seperti ini di masa modern yang sangat mengalami perubahan drastis dsri jaman dahulu. Tetapi dia juga tidak mungkin menolak keinginan almarhum kakeknya. Rana tidak mau kalau di bilang tidak menurut dan bandel. “Kak, bujuk suami kakak dong. Masa tega bener sama adiknya pake di jodohin segala. Iya sih ini keinginan kakek tapi kan, ya masa harus banget di jodohin mana orangnya kaku banget. Kakak tau nggak sih, dia pake sok banget bicara saya-kamu,” ucap Rana melihat kakaknya langsung beranjak setelah berkata untuk siap-siap karena mereka akan pergi ke kediaman keluarga Alhanan. Husna -kakak ipar Rana- terkekeh. Sudah berulang kali dia mendengar rengekan adik iparnya seperti ini. Dia bukan tidak ingin membantu Rana untuk membujuk Daffa -suaminya- hanya saja ini kan permintaan terakhir kakek mereka jadi tidak mungkin kan kalau di biarkan begitu saja. Husna malah percaya kalau laki-laki pilihan kakek adalah laki-laki yang baik untuk Rana. Setidaknya bisa membimbing Rana dalam rumah tangga mereka nanti dan tentu saja keluarga calon besan mereka pun sudah pasti menerima kehadiran Rana di tengah keluarga mereka nanti. Karena sudah cukup lama keluarga Zerlino dekat dengan keluarga Alhanan. “Kak Una ih, kok malah ketawa gitu bukannya bantuin kek,” rengekan Rana kembali terdengar. “Bantuin gimana sih, Dek? Kamu tau sendiri kalau keputusan kakak kamu itu nggak mudah di ubah apalagi ini sangkut pautnya sama almarhum kakek kalian. Kakak nggak berani ah kalau harus bantuin batalin perjodohan kamu sama Yuda.” Husna tahu betul bagaimana keputusan Daffa jika sudah bulat. Tidak akan mudah untuk merubahnya sekali pun dia sebagai istri yang berusaha membujuk. Daffa malah sudah bilang kalau ini yang terbaik untuk adiknya dan dia sangat percaya dengan Yuda untuk menjaga Rana kelak. Karena dia tidak bisa selalu berada di dekat Rana apalagi sudah memiliki istri juga dan nanti memiliki keluarga kecil sendiri. Rana semakin menekukkan wajahnya. Tidak ada yang bisa membantu dirinya untuk membujuk Daffa agar tidak melakukan perjodohan tersebut. Kalau bukan istri dari kakaknya, Rana bisa meminta bantuan kepada siapa lagi. Belum lagi pihak yang akan di jodohkan dengan dia juga menerima keputusan tersebut. Rana juga sih, tapi itu saat bertemu dengan Yuda saja karena lelah dan tidak mau panjang lebar berbicara dengan laki-laki kaku itu. Dan sekarang saat perjodohan tersebut rasanya semakin dekat untuk di lakukan, Rana jadi kembali ragu. Masalahnya kalau nanti menikah, Rana kan belum tahu sikap dan sifat laki-laki bernama Yuda itu. Kalau dia mengalami kdrt bagaimana? Nah kan, Rana sudah berpikir buruk sampai seperti itu. “Kalau menurut kakak, nggak papa kamu menikah sama Yuda. Lagian dia orangnya ramah, kelihatan penyayang gitu terus perhatian banget sama keluarga apalagi orang tuanya. Kakak emang nggak begitu dekat tapi waktu tau Yuda sampe titip orang tuanya ke Mas Daffa biar nggak kesepian di rumah apalagi ibunya, kakak yakin kalau Yuda itu laki-laki yang baik.” “Tapi kan aku sama dia itu baru kenal, eh malah belum kenal sama sekali cuma tau doang. Terus nggak saling cinta juga, susah lah kalau di satuin.” “Bukan susah tapi belum mencoba. Lagian kamu tau kan orang-orang sering bilang cinta itu bisa datang karena terbiasa. Nah kakak yakin semakin kalian dekat dan berada di satu atap yang sama menjalin hubungan rumah tangga, cinta itu akan hadir di antara kalian. Berawal dari asing lalu berubah menjadi saling membutuhkan satu sama lain.” “Pilihan orang tua nggak mungkin salah. Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Termasuk kakek, nggak mungkin kan kakek jodohin cucunya sama laki-laki yang gak baik. Di lihat dari keluarga aja, keluarga Alhanan itu terkenal dengan keramahan dan kedermawanan.” Perkataan panjang lebar yang di jelaskan oleh Husna di dengar dengan sangat serius oleh Rana. Apa yang kakak iparnya katakan memang ada benarnya. Tentang cinta datang saat mereka saling terbiasa bersama memang kerap terjadi. Tetapi apakah Rana akan jatuh cinta pada Yuda di saat hatinya sendiri telah di isi oleh Brian, kekasihnya. Dan Rana tidak yakin kalau Yuda tidak memiliki kekasih di luaran sana. Atau mereka harus bertemu kembali untuk membahas berdua. Tetapi nanti keluarga mereka akan bertemu kan dan tidak ada waktu untuk bertemu hanya berdua saja. Rana berteriak dalam hati. Kenapa semuanya menjadi sesulit ini? Kenapa harus ada perjodohan di dunia ini? ** Hati Yuda berdebar mengingat malam nanti dia akan kembali bertemu dengan Rana. Gadis manis yang sudah cukup lama menempati relung hatinya. Jika keadaan masih sama seperti dulu, mungkin semua akan berjalan mudah. Tetapi sekarang bahkan keadaan sangat jauh berbeda, Rana-nya saja sudah jauh berbeda dan membuat rencana perjodohan mereka tampak begitu sulit untuk di lakukan. Yuda harus segera bersiap. Dia ingin memberikan kesan baik di mata Rana. Pembahasan perihal perjodohan mereka nanti harus berjalan dengan baik dan semoga Rana tidak membuat ulah di acara makan malam mereka. Misalnya beranjak dari kursi saat mereka mulai membahas perjodohan. Apapun akan Yuda lakukan asalkan Rana tetap menjadi istrinya karena dia begitu mencintai Rana dan tidak ada yang berubah dengan perasaan di dalam hatinya. Rana tetap menjadi yang utama yang menempati hatinya. ** Makan malam keluarga Zelino yang di hadiri oleh Daffa, Husna dan Rana bersama keluarga Alhanan yang lengkap dengan Yuda dan orang tuanya berjalan dengan suasana yang begitu hangat. Apalagi sejak tadi Bu Nurma begitu perhatian kepada Rana, selalu mengajak ngobrol gadis itu. Rana yang awalnya tampak canggung masuk ke kediaman keluarga Alhanan menjadi nyaman apalagi merasakan kasih sayang dari seorang ibu lewat Bu Nurma. Kadang matanya berkaca-kaca menerima perlakuan begitu baik dari Bu Nurma, dia mengingat ibunya. Mereka tidak membahas perjodohan di tengah-tengah makan malam kali ini. Belum membahas karena Hedy selaku kepala keluarga ingin Rana nyaman berada di tengah mereka, tidak langsung membahas tentang perjodohan antara Rana dan Yuda. Selesai makan malam pun, semua tampak biasa saja. Husna yang memang cukup dekat dengan Bu Nurma tengah membantu membereskan dapur. Sudah tidak asing lagi lantaran sering sekali menemani Bu Nurma di rumah ketika Daffa dan Pak Hedy sama-sama sibuk dalam pekerjaan mereka. Daffa dan Pak Hedy pun berada di ruang tengah sedikit berbincang tentang perjodohan Rana dan Yuda sebelum mereka semua yang membahas hal tersebut. Sementara Rana di tarik oleh Yuda ke halaman belakang, ingin memiliki waktu berdua untuk kembali membicarakan tentang mereka. Tidak ada yang mulai bicara. Ke duanya sama-sama diam dengan pikiran masing-masing. Duduk saling bersebelahan tetapi tidak saling bicara. Rana kesal karena laki-laki yang duduk di sampingnya ini tidak juga mengeluarkan suara. Mulutnya hendak bersuara ketika suara Yuda terdengar. Rana kembali mengatupkan bibirnya. “Saya harap kamu tidak melakukan hal macam-macam saat keluarga kita mulai membahas tentang perjodohan,” ucap Yuda. Masih dengan kalimat saya-kamu-nya. Rana menoleh protes dengan apa yang baru saja Yuda katakan. Macam-macam? Memangnya wajah dia menujukkan kalau dia selalu berbuat onar begitu? “Macam-macam kaya gimana ya? Kalau ngomong itu bisa nggak sih yang bener dikit. Sok pake bilang gitu, emang gue ada tampak orang yang selalu bikin ulah?” ketus Rana. “Bisa jadi.” Rana mendengkus. Enak saja kalau ngomong! batinnya berseru. “Yang ada lo kali yang ngomong macam-macam nanti, tampang lo kan kek orang-orang yang kalau ngomong seenak jidat. Sumpah ya mimpi apa gue bisa di jodohin sama orang kek lo gini, ah siallan banget!” umpat Rana membuat Yuda mengepalkan tangannya. Laki-laki itu tidak suka mendengar umpataan yang keluar dari bibir Rana. Yuda beranjak lalu berdiri di hadapan Yuda dengan tangan yang di lipat depan dadaa. Ke dua matanya menatap tajam wajah manis gadis yang selama ini dia cintai dalam diam. “Mau atau tidak. Suka atau tidak. Kenyataan sekarang kamu adalah calon istri saya. Jadi mulai sekarang kamu harus menurut apa yang saya katakan karena kelak seorang istri harus patuh dengan suami.” Rana mendongak membalas tatapan Yuda. “Menuruti apa yang lo bilang? Idih, ogah! Masa gue harus nutut kalau lo nyuruh gue maling,” balas Rana membuat kedua mata Yuda melotot. Mana mungkin dia menyuruh Rana seperti itu. Gadis di hadapannya ini luar biasa sekali kalau bicara. “Saya harap kamu tidak berulah di pembicaraan keluarga nanti.” Yuda pergi begitu saja setelah berkata demikian. Hal tersebut semakin membuat Rana kesal ditempatnya. Merutuki kepergian Yuda yang sudah kembali masuk ke dalam rumah lewat pintu samping yang menghubungkan rumah utama dengan halaman belakang. Rana menghentakkan kakinya. Kesal sekali dia kepada Yuda. “Dasar cowok nyebelin, kaku, seenaknya! Gue sebal!” seru Rana masih dengan pandangan pada pintu masuk yang sudah tidak terlihat lagi Yuda di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN