3 : Rana

1161 Kata
“Gimana? Kamu udah ketemu kan sama Rana?” tanya Bu Nurma kepada anaknya. Yuda yang sedang menikmati makan malamnya menoleh sebentar kemudian mengangguk singkat. “Terus kalian bahas apa aja? Rana setuju kan sama perjodohan itu? Mama kepengen Rana yang jadi mantu Mama, aduh pasti sekarang makin cantik aja ya dia. Mama senang banget lihat foto dia di majalah gitu.” Bu Nurma tampak antusias sekali membahas Rana. Gadis itu memang sudah lama sekali di kenalnya. Maklum saja dulu Rana dan Yuda satu sekolah di mulai saat masih taman kanak-kanak, pun dengan rumah mereka yang saling berdekatan. Membuat kedua keluarga menjadi semakin dekat. Hanya saja saat mereka berdua beranjak remaja dan rumah keluarga Rana pindah, mereka jarang bertemu sampai akhirnya saat Daffa -Kakak Rana- menikah dan meminta orang tua Yuda mendampingi karena orang tua mereka sudah meninggal, dari sana dua keluarga itu kembali dekat bahkan sudah seperti keluarga besar. Tak heran sekarang Bu Nurma tampak senang dengan perjodohan antara Yuda dan Rana. “Setuju, Ma. Nggak bahas apa-apa lagi soalnya Rana sibuk juga. Nggak enak lah Yuda kalau ganggu jam pemotretan dia tadi.” Padahal boro-boro ngobrol. Mereka hanya bicara seadanya saja tadi. Apalagi Yuda sudah kesal duluan ketika Rana yang seolah terpaksa menerima perjodohan mereka. Iya sih Yuda tahu ini terlalu mendadak bagi Rana tetapi kan harusnya Rana biasa saja apalagi mereka sudah mengenal lama. Yuda juga masih penasaran pada Rana. Kenapa gadis itu seakan tidak mengenali Yuda sebelumnya. Apa ada hal yang sudah Yuda lewatkan selama ini? Ah ... Tentu saja banyak hal yang Yuda lewatkan apalagi dia selama ini berada di Paris. Tetapi kan, apa semua itu membuat Rana lupa dengan dirinya? Dia saja masih ingat dengan begitu jelas Rana, teman masa kecilnya yang saat mereka taman kanak-kanak selalu main bersama. “Ya sudah nanti kita sekalian ngobrol sama Daffa juga. Biar enak kan kalau kumpul semua, rundingkan bersama saja,” ucap Pak Hedy -Papa Yuda- yang sejak tadi menyimak obrolan istri dan anaknya. Baik Yuda maupun Bu Nurma sama-sama mengangguk setuju dengan perkataan Pak Hedy. Mereka pun kembali menikmati makan malam bersama. ** Di sisi lain, Rana yang masih bersama dengan Brian tampak murung dan kesal. Dia masih ingat pertemuannya bersama dengan Yuda yang katanya laki-laki yang akan di jodohkan dengannya. Rana kesal saja dengan sikap kakunya Yuda tadi. Saya? Astaga apa Yuda ini tidak gaul. Lebih keren dia dengan memakai lo-gue kan. Sekarang saja Yuda sudah terlihat kaku apalagi nanti kalau mereka tinggal bersama. Rana tidak mau membayangkannya. “Kamu kenapa sih, Beb?” Brian yang sadar dengan raut wajah kekasihnya sejak tadi cemberut akhirnya bertanya. Takut saja dia melakukan sesuatu yang tidak di sadari dan membuat Rana marah kepadanya. Rana menoleh dan tersenyum kecil. “Nggak ada apa-apa, mungkin aku capek aja,” balasnya berbohong. Tidak mungkin kan dia mengatakan kepada Brian kalau sedang memikirkan perjodohan dengan laki-laki lain. Brian bisa marah jika tahu seperti itu. “Ya udah aku anterin kamu pulang ya, udah malam juga. Sebelum kakak kamu telepon,” ajak Brian. Dia sangat tahu bagaimana over protektifnya kakak dari kekasihnya. Rana akhirnya mengangguk. Sudah malam juga dan dia harus segera pulang. Malam ini dia memang makan malam bersama dengan Brian di salah satu restoran. Tadi setelah pekerjaannya selesai, pun dengan pekerjaan Brian. Mereka memilih untuk makan malam bersama di luar. ** Yuda sedang bersama dengan Nino dan Galang -sahabatnya- di salah satu Kafe. Mereka baru saja bertemu setelah cukup lama tidak berkumpul seperti ini. Apalagi Yuda yang memang jauh dari mereka berdua. Mereka bersahabat cukup lama, terhitung sepuluh tahun semenjak mereka masih memakai seragam putih biru. Komunikasi yang lancar membuat ketiganya masih bersahabat meski melanjutkan pendidikan di Universitas berbeda setelah sama-sama lulus dari sekolah menengah atas. Sekarang tidak terasa mereka sudah beranjak dewasa, bahkan Nino sudah memiliki istri karena baru menikah tiga bulan lalu. Yuda saat itu tidak datang karena sedang sibuk-sibuknya untuk kepindahan dia ke Indonesia meski begitu hadiah spesial dari Yuda untuk mereka tidak main-main, tiket honeymoon ke Paris yang pada akhirnya mereka pun bertemu di sana. Sementara Yuda dan Galang masih lajang. Tetapi jika Yuda masih dengan kesendiriannya, Galang sudah memiliki calon istri setelah beberapa waktu lalu melakukan acara pertunangan, pun masih sama Yuda tidak datang di acara pertunangan tetapi dia tentu saja akan hadir di pernikahan mereka apalagi dia sudah berada di Indonesia. “Jadi lo sama Rana di jodohin gitu? Beruntung banget lo, kamvret! Nggak perlu ngejar tu cewek tapi udah di sodorin aja kaya gitu,” ucap Galang setelah mendengar cerita Yuda bahwa dia tengah di jodohkan dengan teman masa kecilnya. “Sialann! Emangnya barang pake di sodorin segala. Mulut lo emang kurang belaian, Lang,” timpal Nino mendengar perkataan Galang tadi. “Lah lagian bener kan? Si Yuda nggak perlu ngejar eh yang di bucinin dari jaman dulu malah udah mau jadi bininya,” balas Galang kembali. “Bini apaan njiir! Nikah aja belum.” “Tapi beneran sama Rana yang itu?” tanya Nino memastikan kalau memang Rana yang Yuda maksud memang tetap sama dengan yang dicintai Yuda selama ini. Yuda mengangguk. “Di hidup gue, emangnya ada Rana yang lain,” balasnya. “Beruntung banget emang si Yuda. Zerlina kan yang sekarang jadi model terkenal. Lagi naik daun banget,” ucap Galang mengingat model yang tengah naik daun tahun ini. “Istri gue sampe bela-belain pengen ketemu sama dia waktu ngidam kemarin, heran gue. Kok bisa ngidam sampe pengen ketemu model idolanya,” ucap Nino. “Seriusan lo?” Nino mengangguk, “Akhirnya ya, Yud. Lo di persatukan sama cewek yang selama ini lo inginkan. Gue sama Galang ikut bahagia,” kata Nino dengan begitu tulus. “Bener, kita berdoa supaya nanti di lancarkan dan kalian berjodoh,” ucap Galang menambahkan. Tentu saja, baik Galang maupun Nino tahu siapa Rana. Karena perempuan itu yang berhasil membuat Yuda seolah menjadi penyuka sesama jenis karena tidak pernah melirik perempuan lain sampai selama ini. Rana adalah perempuan yang selalu Yuda cintai meski mereka tidak pernah bertemu kembali setelah terakhir kalinya mereka bertemu di sekolah dasar. Karena saat masuk sekolah menengah pertama, Rana dan Yuda berbeda sekolah. Pun dengan rumah Rana yang pindah dari sebelahnya membuat mereka semakin tidak bisa bertemu sesering mungkin. Selama masa sekolah karena begitu sibuk dengan kegiatan di kelas maupun di luar kelas. Yuda juga tidak memiliki waktu untuk sekedar bertemu atau mencari tahu keadaan Rana. Sekolah mereka cukup berjauhan satu sama lain. Meski begitu Nino dan Galang yang saat itu menjadi sahabatnya sangat tahu bagaimana Yuda yang tergila-gilaa akan sosok Rana-nya, begitu yang selalu Yuda katakan. Mereka bahkan tidak menyangka bahwa perasaan Yudan pada Rana ternyata bisa sampai mereka beranjak dewasa. Nino dan Galang pikir Yuda hanya menganggap Rana itu sebagai cinta monyet saja tetapi nyatanya Yuda benar-benar jatuh cinta pada Rana sampai detik ini. Mereka yang menjadi saksi tidak ada perempuan lain yang bisa menembus benteng hati dari seorang Yuda Malik Alhanan. Hanya Rana yang selalu ada di dalam hatinya meski Yuda tidak pernah tahu bagaimana perasaan Rana kepadanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN