Bab 6. Kehilangan

1015 Kata
Kevin menoleh pada meja resepsionis, dahi mengernyit ketika tidak menemukan sosok perempuan yang dicarinya. Ia kembali melangkahkan kaki mengikuti atasannya. Kemana Mahes? Tumben jam segini belum ada di meja kerjanya. Selama bekerja Kevin benar-benar tidak fokus. Pikirannya masih tertuju pada Anggun. Ia mulai mengkhawatirkan keadaan perempuan itu. Berkali-kali ia mengirimkan pesan pada Anggun, tetapi tidak ada satupun yang dibalas. Kevin menghela napas, kemudian meraih gagang telepon. "Dengan Leoni." "Halo, Leoni, saya Kevin. Saya mau bicara dengan Anggun." "Maaf, Pak Kevin. Anggun tidak masuk hari ini. Apa jam makan siang nanti Pak Kevin tidak sibuk? Jika boleh saya ingin berbicara empat mata. Ini menyangkut Anggun." "Boleh. Nanti kamu ke ruangan saya saja?" ujar Kevin dengan cepat. "Baik, Pak." Kevin meletakkan kembali gagang telepon pada tempatnya. Ia begitu penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Leoni apalagi ini tentang Anggun. Kenapa semakin ke sini semakin peduli dengan perempuan itu? Pria itu menghela napas pelan. Ia mengingat saat kedatangannya ke Spanyol pada hari Sabtu. "Bagaimana hasil cctv-nya?" tanya Kevin menggunakan bahasa Spanyol pada salah satu petugas IT di resort milik sepupunya. "Semua sudah ada di dalam sini, Tuan." Petugas IT menyerahkan flashdisk padanya. Sebenarnya bisa saja ia menyuruh orang tersebut untuk mengirimkan file melalui surel, tetapi Kevin ingin memeriksa langsung dan mengambil sesuatu yang ketinggalan di sana. Begitu tiba di kamar, Kevin langsung memeriksa cctv di macbook. Kedua netranya tidak ingin lepas dari layar tersebut. "Sial! Jadi bener gadis itu Mahes." Kevin mengumpat ketika melihat ia membawa paksa Anggun masuk ke dalam kamarnya hingga perempuan itu keluar esok pagi. Kevin meremas rambutnya kasar. Dalam hati meminta maaf pada Anggun. Jika bukan karena minuman alkohol yang ia minum di pesta sang sepupu tidak mungkin sampai mabuk dan merenggut kesucian Anggun. Kevin tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara telepon. "Halo, Tuan." "Kemarilah." Setelah panggilan ditutup oleh atasannya, Kevin bergegas menuju ruangan pria itu. "Tuan," ujar Kevin ketika tiba di dalam ruangan. "Vin, besok kita ke Bandung. Tolong siapkan berkasnya ya." "Baik, Tuan." "Saya lihat akhir-akhir ini kamu sering melamun. Apa ada masalah? Kamu bisa cerita kalau punya kesulitan, Vin." Kevin terlihat sedang berpikir. Memang mertua dari sepupunya itu sangat baik. Namun, untuk menceritakan hal pribadi ia masih sungkan. "Hanya memikirkan kuliah, Tuan," kilah Kevin yang dijawab anggukan kepala oleh atasannya yang bernama Abizar. "Oke. Kamu boleh kembali ke ruangan." Kevin berpamitan pada Abizar dan kembali ke ruangannya. Jam makan siang pun tiba, Leoni benar-benar datang menemui Kevin. Yang membuat pria itu heran adalah ketika melihat wajah perempuan di depannya seolah ingin memakan hidup-hidup. "Dasar cowok b******k!" pekik Leoni sambil menyiramkan satu gelas air putih yang ada di meja ke wajah Kevin. Kevin memejamkan mata. Ia mengambil tisu, kemudian mengeringkan wajahnya. "Apa maksudmu, Leoni? Jaga sopan santunmu." "Persetan dengan sopan santun dengan pria b***t kayak lo! Gara-gara lo Anggun hamil dan dengan brengseknya lo nggak mau tanggung jawab." Hilang sudah bahasa formal yang selalu Leoni tunjukkan pada Kevin. "Jadi kamu sudah tahu? Sa-" "Tentu aja gue udah tahu. Kalau bukan karena Anggun keguguran, gue nggak akan tahu dia hamil!" Karena kesal Leoni memotong ucapan Kevin. Perempuan itu mendekati Kevin yang masih duduk di kursinya. Ia meraih dasi pria itu, kemudian ditarik hingga hampir saja mencekik jika saja Kevin tidak menahannya. "Lo adalah pria b******k yang gue kenal! Pantas Anggun selalu murung dan ternyata semua gara-gara pria sampah kayak, lo! Ini untuk pria yang tidak mau tanggung jawab dan b******n macam, lo!" Leoni memberikan satu buah pukulan di pipi kanan Kevin. Tidak puas, gadis berambut sebahu itu kembali memukul pipi kiri hingga sudut bibirnya sobek dan berdarah. Leoni menghempaskan Kevin yang tidak melawan sama sekali walaupun sebenarnya ingin mendorong perempuan itu. Meski sangat ramah pada siapapun, Kevin tidak mau sembarang orang menyentuhnya. "Sudah puas? Kali ini gue biarin lo nyentuh wajah ini karena perbuatan gue ke Mahes. Tapi, lain kali nggak akan gue biarin, Leoni," ucap Kevin dengan kesal. "Emangnya gue peduli? Satu lagi jangan pernah temui Anggun lagi selain di kantor!" Leoni beranjak pergi meninggalkan ruangan Kevin. "Sial!" umpat Kevin memukul pelan meja kerjanya. Pria itu menyandarkan tubuhnya dengan kasar ke kursi. Ia tidak tahu jika Anggun keguguran. Entah kenapa hatinya seperti tercubit ketika mengetahui Anggun keguguran. Kevin meraih ponselnya mencoba menghubungi Anggun, tetapi tidak ada jawaban. Pesan yang ia kirimkan pun belum mendapatkan balasan. Sementara itu, di sebuah rumah sakit Anggun hanya dapat menatap layar ponsel yang tidak berhenti bergetar sejak tadi. Bahkan notifikasi pesan masuk hanya dilirik saja tanpa berminat membukanya setelah tahu siapa yang mengirim. Anggun mencoba memejamkan mata dan membuka kembali ketika merasakan tangannya digenggam. "Ngapain kamu ke sini?" tanya Anggun dengan ketus pada Kevin. Ia langsung menarik tangannya dari genggaman pria itu. "Mahes, aku minta maaf. Gara-gara aku jadi kehilangan anak kita," ujar Kevin menatap sendu pada Anggun yang masih terlihat sangat pucat. Anggun tertawa hambar ketika mendengar ucapan Kevin. "Anak kita kamu bilang? Bukannya kamu bilang bukan anak kamu kemarin? Apa perlu aku ingatkan sekali lagi apa yang kamu bilang? Kebetulan ucapanmu masih terekam dengan jelas di kepalaku," ujar Anggun dengan sinis. "Aku sungguh menyesal, Mahes. Katakan apa pun supaya kamu maafin aku." "Pergi dari sini!" Anggun membuang muka enggan menatap pria itu. "Selain itu. Aku mohon, Mahes." "Bukannya kamu bilang apa pun akan kamu lakukan? Aku mau kamu pergi dari sini, Vin! Aku nggak mau lihat muka kamu!" Kevin menyesali perbuatannya. Anggun yang dulu selalu tersenyum dan bersikap ramah padanya kini telah berubah menjadi Anggun yang bersikap dingin. "Tapi, Mahes, ak-" "Pergi! Ke mana kamu saat aku meminta tanggung jawab dari mu, hah? Kamu adalah laki-laki b******k yang aku kenal, Kevin! Pergi, aku ndak mau lihat muka kamu lagi!" teriak Anggun dengan suara tertahan karena tidak mau mengganggu pasien lain. Ia bukan di vip room sehingga satu ruangan dengan pasien lainnya. Kevin mengepalkan tangannya. Dengan menahan kesal ia keluar dari ruangan itu. Sedangkan Anggun langsung menutup hordeng dan menutup wajah sambil terisak. Meski ia terluka karena kehamilannya, tetapi lebih sakit saat harus kehilangan janin yang bersemayam di rahim. Perempuan itu benar-benar tidak mau melihat wajah Kevin. Ia yakin yang memberi tahu keberadaannya pada pria itu adalah Leoni. "Bukankah Leoni sudah berjanji akan merahasiakannya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN