bc

Satu Malam Dengan Asisten CEO

book_age18+
867
IKUTI
3.8K
BACA
one-night stand
HE
blue collar
drama
bxg
bold
witty
campus
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Anggun Maheswari adalah seorang janda yang datang ke Jakarta untuk merantau. Namun, siapa sangka satu malam membuat hidupnya runtuh. Ia terjebak cinta satu malam bersama karyawan majikannya. "Jangan bercanda! Aku tidak mungkin bercinta denganmu. Lagi pula kau seorang janda, pasti bukan hal yang pertama untukmu, bukan?"Tangan Anggun terkepal ketika mendengar ucapan pria itu. Ia tidak menyangka jika pria itu tidak memiliki hati nurani.Bagaimanakah Anggun dapat meneruskan hidupnya? Akankah pria itu mau bertanggung jawab pada Anggun?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Malam Kelabu
“Lepas!” pekik seorang gadis yang tengah berada di bawah kungkungan seorang pria yang tengah berusaha meraih bibir merah jambunya untuk dicium. Gadis itu terus meronta walau tahu kekuatan mereka tidak sebanding. Tenaganya tentu tidak sebanding dengan milik pria tersebut. Ia tidak dapat berkutik ketika kedua tangan diletakkan di atas kepalanya. Air mata yang sejak tadi ia tahan luruh seketika mana kala merasakan sentuhan pada bagian dadanya yang tidak pernah disentuh oleh pria mana pun. Sakit, nyeri, dan ada gelenyar aneh yang belum pernah dirasakan. Gadis itu mendesis menahan desahan yang akan keluar dari mulutnya ketika mendapatkan hujaman dari pria itu. Air mata kembali luruh. Kehormatan yang selama ini ia jaga hilang diambil oleh laki-laki yang dikenal sebagai asisten pribadi majikannya. Rasa nikmat yang ada tidak dapat menggantikan sakit pada hatinya. Kini gadis itu sudah tidak meronta lagi. Ia biarkan pria itu menikmati seluruh tubuhnya. Malam itu merupakan malam yang kelabu bagi gadis yang baru kehilangan mahkotanya. Hujan salju di Spanyol menjadi saksi betapa ganasnya laki-laki itu merenggut sesuatu yang paling berharga. Dunianya runtuh dalam sekejap. Perempuan itu menyingkirkan tubuh pria yang baru saja menanamkan benih di rahimnya. Laki-laki itu terkulai lemas, bahkan tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus menandakan sudah terlelap. Perempuan berambut sebahu itu menyibakkan selimut. Ia menahan nyeri pada bagian inti ketika turun dari ranjang menuju kamar mandi di dalam resort setelah memungut baju yang berserakan di lantai. Setelah meraupkan air ke wajah, perempuan itu menatap dirinya dalam pantulan cermin. Tubuhnya penuh dengan noda merah bekas kissmark pria itu. Air mata kembali luruh. Jemari lentik mencengkeram erat bibir wastafel. Ingin rasanya berteriak meluapkan amarah yang menguasai hatinya, tetapi yang keluar hanya isakan tangis begitu menyayat hati. Perempuan itu sangat menyesal, niat hati ingin menolong Kevin membawa ke kamar karena mabuj justru di perkosa oleh pria itu. “Maafkan Anggun, Bu, ndak bisa jaga kehormatanku sebagai wanita,” gumam perempuan itu di sela tangisnya. Anggun Maheswari, seorang gadis yang datang dari salah satu kampung di Purwokerto-Jawa Tengah, bekerja sebagai baby sitter di rumah majikan dari bibinya. Namun, ternyata ia harus kehilangan kesuciannya saat mengikuti sang majikan ke Spanyol untuk mengadakan perayaan pesta pernikahan. Perempuan itu membersihkan tubuhnya di bawah shower yang mengalirkan air dingin cukup deras. Di luar sedang turun salju, tetapi Anggun tidak berniat menggunakan air hangat. Ia menggosok tubuh putih dan mulus itu dengan sangat keras berharap noda bekas pria itu segera hilang. Gadis itu berteriak ketika merasa usahanya sia-sia. Anggun mematikan shower dan menunduk, lalu tangan kiri terkepal. Dengan kasar perempuan itu meraih bathrobe. Setelah mengeringkan tubuhnya, ia kembali mengenakan baju yang tadi malam digunakan. Tanpa menoleh pada pria yang masih terlelap di ranjang, Anggun keluar dari kamar itu dan menuju kamarnya. Perlahan perempuan itu berjalan menahan nyeri dan memastikan keadaan aman tidak mau ada yang memergoki dari kamar seorang pria. *** Keesokan paginya, Anggun beraktivitas seperti biasa. Ia memandikan bayi yang diasuhnya. Dengan telaten bayi tersebut di taburi bedak dan dikenakan pakaian, kemudian perempuan itu mencium pipi bayi itu yang bernama Elmier anak laki-laki berusia empat bulan yang dipanggil cah bagus oleh Anggun. Setelah selesai, Anggun membawa Elmier ke meja makan karena sudah ditunggu oleh majikannya. “Anggun. Kenapa jalan kamu seperti itu?” tanya Vlora– sang majikan, ketika melihat Anggun jalan dengan pincang. “Ah, itu, Nona. Saya jatuh di kamar mandi tadi pagi,” kilah Anggun. “Benarkah?” tanya Vlora sambil memicingkan mata menatap baby sitter-nya dengan curiga. “Betul, Nona.” “Apa sakit banget? Nanti biar diantar sama Kevin.” “Ah-tidak perlu, Nona. Nanti siang pasti sembuh.” Vlora mengangguk. Meski khawatir, tetapi perempuan itu tidak mau memaksa baby sitternya. “Aro, di kantor sudah ada lowongan kerja untuk Anggun? Dia lulusan D3. Kasihan kalau harus mengurus anak kita,” ujar Vlora pada suaminya. “Daddy bilang di kantornya ada, tapi sebagai resepsionis. Apa Anggun mau bekerja di sana?” “Saya tidak masalah, Tuan. Mengurus Cah bagus, Elmier juga saya senang.” “Tapi Cah bagusmu itu sudah ada baby sitter, Ang. Lagian gajinya tidak seberapa dibandingkan di kantor Daddy.” Anggun mengangguk membenarkan ucapan Vlora. Memang sekarang ia hanya menjadi pengganti baby sitter karena yang sebelumnya sedang pulang kampung. “Kalau gitu, saya manut Nona Vlora saja.” “Bagus. Nanti kamu bisa kos atau pulang ke rumah saya. Kalau kos nanti aku yang bayar.” “Saya kos saja, Nona. Biarkan saya membayar biaya sendiri. Tidak enak rasanya kalau dibayarkan. Takutnya merepotkan Nona.” “Jangan sungkan. Biaya kos bukan apa-apa bagi suamiku. Sayang kalau dianggurin.” Anggun hanya dapat menggelengkan kepala melihat sikap sang majikan. Sebenarnya ia tidak tega meninggalkan Elmier. Namun, perempuan itu juga tidak mau kalau mengambil rezeki orang lain. Anggun tidak mau menambah jumlah pengangguran di Indonesia lagi. *** Berbeda dengan Anggun. Di tempat lain terlihat seorang pria baru saja terjaga. Pria itu adalah Kevin, sepupu ipar Vlora sekaligus asisten pribadi ayahnya. Kevin mencoba duduk sambil memegang kening karena pusing melanda kepalanya. Ia meraih ponsel yang ada di atas nakas. “Sial! Sudah pukul delapan. Apa yang terjadi padaku? Kenapa kepala ini terasa berat?” Kevin turun dari ranjang dan baru menyadari jika saat ini dalam keadaan naked. “Astaga! Apa yang … sial! Siapa yang sudah memperkosaku?” gerutu Kevin. Pria itu menyibakkan selimut dan melihat ada noda darah di sprei yang berwarna putih. Kevin mengacak rambutnya. Ia memilih untuk mendinginkan tubuh dan pikirannya di bawah guyuran shower. Pria itu mencoba mengingat apa yang terjadi, tetapi tidak dapat apa-apa selain kepalanya yang kembali pusing. “Sial! Kenapa aku tidak mengingat apa pun kecuali malam tadi aku keluar dari panggung dan mengambil satu gelas air minum. Sial! Sial! Aku tidak menyangka itu alkohol.” Kevin mengusap wajahnya, kemudian menengadahkan kepala sambil memejamkan mata. “Siapa perempuan itu? Sekarang apa yang harus aku lakukan? Kalau Alvaro sampai tahu matilah aku.” Setelah selesai membersihkan tubuh dan rapi dengan setelan kemeja, Kevin memanggil pelayan. “Tolong tinggalkan sprei itu dan bawakan aku satu gunting,” ujar Kevin pada pelayan menggunakan bahasa Spanyol. “Sí, señor.” Pelayan tersebut meninggalkan kamar Kevin untuk mengambil gunting. Sedangkan Kevin keluar kamar menghampiri Alvaro untuk sarapan yang terlambat. “Selamat pagi, Big guy,” sapa Kevin pada Elmier yang ada di stroller. “Apa kamu tidur seperti kerbau, Vin? Sudah jam berapa ini?” ejek Alvaro, suami Vlora. “Yeah, sangat nyenyak. Apalagi mimpi bertemu bidadari.” Alvaro yang sudah selesai sarapan hanya dapat menggelengkan kepala. Anggun hanya dapat menyimak pembicaraan majikannya. Ia makan dalam diam, hanya sesekali melirik Kevin. Setelah selesai sarapan, Alvaro dan Vlora membawa putranya keluar, sedangkan Anggun terlihat sangat canggung hanya berdua dengan Kevin di meja makan. Perempuan itu memilih beranjak meninggalkan sarapan yang belum habis. “Mahes, tunggu!” panggil Kevin yang lebih nyaman memanggil Anggun dengan nama itu. Anggun menghentikan langkah kaki ketika mendengar Kevin memanggil namanya. "Ya Tuhan, untuk apa dia memanggilku? Aku benar-benar belum siap bertemu dengannya,' batin Anggun, kembali teringat akan kejadian pilu yang tadi malam dialaminya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Revenge

read
35.6K
bc

Oh, My Boss

read
387.0K
bc

Beautiful Pain

read
13.6K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.1K
bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.3K
bc

Penghangat Ranjang Tuan CEO

read
34.0K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
6.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook