Bab 2. Spanyol Happy New Year

1155 Kata
"Mahes." Kevin kembali memanggil Anggun karena perempuan itu tidak menjawab. Anggun menarik napas, kemudian dikeluarkan dengan perlahan. "Ya," jawab Anggun tanpa menoleh pria itu. "Kamu kenapa?" Anggun mengepalkan tangannya. Ia tidak habis pikir pada Kevin yang masih bisa bertanya "kenapa?" setelah apa yang pria itu lakukan padanya. Perempuan itu tahu jika tadi malam Kevin tengah mabuk. Namun, Anggun tidak tahu jika pria itu tidak mengingat kejadian tersebut. "Aku baik-baik saja," jawab Anggun dengan ketus. "Tapi kamu menghindariku?" "Itu hanya perasaanmu saja!" Lagi-lagi Anggun ketus. Tanpa mengucapkan sepatah kata perempuan itu meninggalkan Kevin yang masih duduk di tempatnya. "Kenapa dengannya? Apa aku membuat kesalahan?" gumam Kevin. Tidak biasanya Anggun meninggalkan Kevin begitu saja. Mereka cukup dekat karena memang Kevin merupakan pria yang sangat ramah dan mudah dekat dengan orang lain. Kevin masih memikirkan perubahan sikap Anggun. Sedangkan Anggun memilih untuk beristirahat di kebun anggur yang ada di dekat resort. Tanah subur tidak lagi terlihat karena tertutup putihnya salju. Bayang-bayang saat Kevin menyentuh tubuhnya terlihat dengan jelas di mata seolah ia sedang menonton. Berkali-kali perempuan itu menggelengkan kepala berusaha mengenyahkan bayang-bayang tersebut. Rasa bersalah pada orang tua dan kesal pada Kevin menjadi satu. Ingin sekali Anggun mengadukan perbuatan Kevin pada majikannya, tetapi butuh bukti. Tanpa Sama saja dengan omong kosong. Bagaimana kalau ia dianggap w************n yang sengaja ingin menjebak pria itu? Tidak, Anggun tidak mau mengambil resiko seperti itu. Perempuan itu tidak ingin sang majikan hilang kepercayaan dan merasa jijik. "Menyedihkan sekali nasibku, ditinggal suami kemudian diperkosa. Apa ada yang lebih buruk dari ini?" gumam Anggun sambil menatap cincin pernikahan yang belum dilepas sejak suaminya meninggal. Tanpa sadar air mata jatuh begitu saja tidak bisa dicegah. Ia menunduk menangis tanpa suara hanya bahu saja yang bergetar. Anggun masih menatap cincin yang belum genap satu bulan melingkar di jari manisnya. Ia masih belum bisa terima kematian sang suami yang meninggal tepat beberapa jam setelah mereka menikah. Satu minggu setelah kepergian suaminya, Anggun memilih untuk pergi ke Jakarta menyusul bibinya bekerja di kediaman Abizar Hermawan– orang tua Vlora. Hari ini tepat ia satu minggu bekerja bersama keluarga kaya itu. "Kamu melamun?" Anggun menoleh ketika mendengar suara yang ia kenali pemiliknya. "Jangan sering melamun, nanti kamu kesurupan setan kebun anggur mau?" Anggun hanya mendengkus, tidak berniat gurauan Kevin. "Mau jalan bersamaku?" "Ndak mau!" Anggun berdiri hendak beranjak dari sana, tetapi Kevin mencekal tangannya. "Kenapa kamu berubah? Apa salahku? Sejak tadi kamu ketus padaku." "Kalau aku katakan apa kamu akan percaya?" Kevin terdiam, lalu mengernyitkan dahi. Ia menghela napas dengan perlahan. "Tergantung konteksnya." "Aku yakin kamu ndak akan percaya." "Bagaimana aku bisa tahu kalau kamu menyembunyikannya, Mahes? Atau kamu sedang PMS?" Kevin menaik turunkan alisnya menggoda Anggun yang justru membuat perempuan itu geram. Anggun menyentak tangan Kevin dengan keras, lalu meninggalkan pria itu di sana dengan banyak sekali pertanyaan dalam benaknya. Kevin mengedikkan bahu. Ia tidak mau ambil pusing dengan sikap Anggun. Satu minggu kenal dengan perempuan itu, baru kali ini melihat perubahan sikapnya. Kevin memilih berjalan berkeliling resort sama seperti yang dilakukan Anggun hanya berbeda jalan saja. Setelah berjalan cukup lama, ia melihat Anggun yang tengah menatap orang-orang sedang mempersiapkan perayaan The 12 Lucky grapes atau Las doce uvas de la suerte. Warga Spanyol kerap melakukan perayaan tersebut tepat jam dua belas malam ketika pergantian tahun seperti nanti malam. Terlihat sekali Anggun sangat antusias ketika melihat mereka mempersiapkannya, bahkan sesekali Anggun akan membantunya. "Aku nggak tahu kalau kamu bisa bahasa Spanyol," ujar Kevin yang tiba-tiba sudah berada di dekat Anggun. Perempuan itu enggan menjawab. Ia juga kesal karena Kevin selalu datang tiba-tiba. Biasanya perempuan itu akan senang jika Kevin menyapa dan berusaha menggoda. Namun, sejak kejadian tadi malam, Anggun membenci pria itu. Anggun kembali meninggalkan Kevin karena haus ingin membeli minuman. Namun, ketika ia merogoh kantong ternyata lupa membawa dompet. "Minumlah ini, aku tahu kamu haus." Kevin menyodorkan satu botol minuman isotonik dingin pada Anggun. Perempuan itu meliriknya, kemudian mengambil botol tersebut karena sudah sangat haus. "Terima kasih, nanti aku ganti uangnya." "Tidak perlu, Mahes. Itu hanya satu botol minuman." "Aku ndak mau berhutang walau itu hanya satu botol minum," jawab Anggun dingin, kemudian meninggalkan Kevin sendirian. Kevin menghela napas kasar. Ia semakin yakin telah terjadi sesuatu pada Anggun. Pemilik netra hitam itu tidak berpaling, masih menatap kepergian Anggun yang masih terlihat punggungnya. *** Malam harinya, keluarga Hermawan dan Alvaro sibuk mempersiapkan perayaan tahun baru. Kali ini bukan di resort, melainkan di kediaman mendiang nenek Alvaro. Anggun menggendong bayi Elmier karena majikannya sedang menyapa beberapa tamu penting undangan dari mamanya Alvaro. Ia menimang bayi tersebut dan mengajaknya bergurau. Mata Anggun tidak sengaja melihat Kevin yang sedang bersenda gurau bersama perempuan-perempuan tetangga di sana. "Anggun, kalau baby El tidur tolong pindahkan ke stroller aja ya, biar dia lebih nyaman. Jangan dipindah ke kamar, aku takut ada yang memanfaatkan keadaan." "Baik, Nona." Anggun mengerti kekhawatiran Vlora. Ia terus berada di samping majikannya walau ingin sekali menjauh dari sana karena terlalu ramai. Banyak sekali makanan di depan mata, tetapi tidak ada satu pun yang membuat perutnya lapar. Sudah sejak siang tadi perempuan itu tidak mengisi perut walau satu suap nasi. Pikirannya yang sedang kacau membuat Anggun kehilangan nafsu makan. Ia memegang perut ketika merasakan nyeri. "Asam lambungku pasti kumat," gumam perempuan itu. "Makanlah. Sejak tadi siang perutmu tidak diisi." Anggun memejamkan mata. Lagi-lagi Kevin muncul di dekatnya padahal ia sangat ingin menjauh dari pria itu. Perempuan itu menoleh pada Kevin yang membawakan satu piring makanan. "Aku bisa ambil sendiri!" "Aku tahu. Tapi kamu nggak mau, bukan? Dari tadi kamu berdiri di sini, kalau mau pasti sudah ambil. Ingat perutmu, jangan egois. Cepat makanlah aku gantikan menjaga baby El." Baru saja Anggun hendak membuka mulut, Kevin sudah meletakkan piring tersebut ke tangannya. Pria itu menggandeng Anggun keluar dari kerumunan sambil mendorong stroller mencari tempat nyaman untuk makan. "Duduk dan makan. Di sini nggak ada tamu jadi nggak perlu malu untuk makan." "Siapa juga yang malu," gerutu Anggun. Perempuan itu duduk di sebuah kursi diikuti oleh Kevin yang sedang mengajak bicara Elmier karena bayi itu terjaga. Anggun menatap pria itu. Tiba-tiba ia membayangkan dirinya dan Kevin memiliki anak dan pria berusia dua puluh tahun itu menjadi ayah yang baik. Keluarga mereka sangat harmonis. Tanpa sadar Anggun tersenyum hingga sebuah suara terdengar di telinganya. "Mahes, ada apa? Kamu melamun lagi? Apa yang kamu pikirkan sampai tersenyum seperti itu?" Banyak sekali pertanyaan yang Kevin lontarkan hingga membuat perempuan itu kebingungan hendak menjawab. Letusan kembang api terdengar mengalihkan perhatian mereka lebih tepatnya perhatian Kevin. Cahaya bertuliskan 'Happy New Year' terlihat sangat indah di udara. Ini pertama kali sepanjang hidup Anggun menikmati malam tahun baru dengan pesta. "Happy new year," ujar Kevin mengulurkan dua belas anggur. Anggun menatap Kevin dan anggur bergantian. Tangannya terulur mengambil anggur tersebut dan menyuapkan ke dalam mulutnya sendiri. "Jadi kau melamunkan apa tadi?" Anggun hampir saja tersedak. Ia pikir Kevin benar-benar lupa, tetapi kenyataannya tidak. Pria itu menatap Anggun sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi serta lesung pipi sehingga terlihat begitu tampan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN