BAB - 5

3112 Kata
Roma dan Dien menyusuri hutan bila ingin pergi ke sungai. Iya, daerah mereka masih banyak hutan juga kebonnya. Hewan buas jarang terlihat di tempat mereka. Terpenting, manusia jangan menganggu kehidupan mereka bila tidak ingin diganggu oleh para hewan. Sebab manusia dan hewan pun hidup berdampingan juga dengan makhluk lain seperti tumbuhan. Dien mengejar Roma yang larinya gesit sekali tapi Roma tetap mengimbangi Dien yang larinya memang lambat. Sempat juga Roma dan Dien bertemu dengan sama para warga yang tengah membawa kayu yang besar-besar.            "Roma!!!!" teriak Dien sebal. Dia capek harus mengejar Roma yang larinya kecepatan.            "Ayoooo!!! Lemah banget, sih! Buruan!!!" teriak Roma membalas di depan Dien beberapa meter dari tempat Dien berdiri. Dien merajuk. Dia memilih buat jalan saja. Tanpa melihat langkahnya, dia malah tersandung batu dan membuatnya terjatuh. Lututnya lecet mengenai kerikil-kerikil batu juga tanah. Banyak dedaunan kering yang telah berguguran di sekitarnya dan ranting-ranting pohon. Dien menangis. Mengaduh kesakitan. Roma menghela napas kasar. Dia terpaksa kembali lagi ke tempat di mana Dien berada.            "Gimana, sih, kamu? Lari aja bisa jatoh," omel Roma. Dien melotot, mendongak melihat Roma berdiri saja sambil bertolak pinggang tanpa ada niatan mau menolongnya.            "Lutut Dien berdarah. Perih! Roma kenapa malah marah-marah?" Gantian Dien berbalas membentak Roma yang sudah mengomelinya. Bukannya membantunya. "Harusnya itu Roma itu bantu Dien... Ini lutut Dien perih banget. Dien nggak tahan sakit. Dien..."            "Diam! Berisik aja kamu ini!" sela Roma kesal harus mendengar ocehan Dien yang nggak mau berhenti-berhenti itu mulut. Anak lelaki itu berjongkok untuk melihat luka Dien lebih jelas. Roma hampir menyentuhnya sebelum Dien menepis tangannya dengan kasar. Roma menatap sebentar Dien yang kemudian pergi tanpa pamit. Dien bingung. Kenapa Roma meninggalkannya tiba-tiba tanpa bilang sepatah kata pun. Apakah Roma marah terhadap sikap cetus dan kasarnya tadi? Dien takut sendirian di sini. Ia mau pulang saja tapi mau bangun saja lututnya terasa sakit sekali. Dien sulit berjalan pastinya. Sedangkan Roma bukan bermaksud meninggalkannya tapi Roma harus mencari sesuatu untuk mengobati luka yang ada di lutut Dien karena terjatuh tadi. Terbiasa sudah Roma sering datang ke hutan bersama bapaknya untuk berburu, Roma pernah terjatuh dan diobati dengan tanaman. Bahan alami yang dipercaya dapat menyembuhkan luka. Roma meninggalkan Dien sendirian di tempatnya untuk mencari tanaman yang waktu itu bapaknya gunakan untuk menyembuhkan lukanya. Lima menit Roma mencari mengitari hutan akhirnya ia menemukan tanaman yang dia cari-cari sejak tadi. Roma berjongkok di depan tanaman tersebut. Ia menyunggingkan senyum lebar. Secepatnya ia terburu-buru mengambil tanaman tersebut dan dimasukkannya ke dalam tas sekolahnya. Ia berharap Dien masih di sana, di tempatnya dan tak beranjak ke mana-mana.            "Hushhh!!! Hushhhhhh!!!!!" Roma tiba-tiba menghentikan langkahnya saat melihat Dien menangis di tempatnya sambil melempar batu kecil ke arah anjing hitam liar yang ada di hutan ini.            "Dien!" Roma memanggil keras dengan nada tinggi.            "Roma!" panggil Dien lagi, ia merasa lega sekali Roma ternyata tidak meninggalkannya. Roma mengambil kayu di sekitarnya untuk mengusir anjing liar tersebut yang menganggu Dien. Anjing itu terus menggonggong yang membuat Dien takut digigit.             "Hussshhhh!!! Pergi sanaaaa!!!" usir Roma sambil menggunakan kayu yang ia pegang untuk mengusir Roma. Kayu itu pun Roma lempar sejauh mungkin dan anjing liar itu pergi entah mungkin mencari kayu yang Roma lempar tadi. Secepatnya Roma mengeluarkan tanaman yang ia ambil tadi dari dalam tasnya. Kemudian ia gunakan tanaman itu untuk mengobati luka Dien.             "Itu apa Roma?" tanya Dien.             "Ini namanya tanaman Yodium atau kata orang namanya pohon Betadine. Bisa menyembuhkan luka sekaligus menghilangkan bekasnya. Aku juga pernah jatuh dan bapak obatin aku pake tanaman ini," jelas Roma. Tanaman Yodium yang dipakai oleh Roma ini memang terkenal dapat menyembuhkan luka dan menghilangkan bekas luka tersebut. Karena memiliki kandungan alpha amirin, kampesterol, 7 alfa diol, stigmaterol, beta sitosterol, dan HCN serta batang pohon yodium juga mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, dan tannin. "Jadi cara gunain tanaman ini, ya, aku tunjukin biar kamu tau." Dien nampak antusias melihat Roma memetik selembar daun tersebut. "Cukup selembar daun pohon yodium aja dan kita oleskan getahnya yang keluar dari ujung batangnya ini ke luka kamu yang ini, yang di lutut ini," terangnya sambil mempraktekan caranya.            "Beneran bakal ilang Rom bekasnya?" tanya Dien memastikan.             Roma mengangguk yakin sebab lukanya sendiri pun menghilang setelah beberapa pemakaian menggunakan daun yodium tersebut. "Iya bisa mempercepat penyembuhan luka juga, tanaman ini juga dijamin dapat menghilangkan bekas luka yang menghitam. Kamu tenang aja, jangan khawatir. Sekarang ayo, kita ke sungai," ajak Roma membantu Dien berdiri dengan Dien meraih kedua tangan Roma yang Roma julurkan kepadanya. Dien berjalan tertatih-tatih namun genggaman tangan mereka tak pernah lepas atau lebih tepatnya Roma tak melepaskan tangannya Dien.              Sampai mereka berada di atas batu kali yang besar. Mereka berada di atas meskipun dengan susah payah Dien naik tapi Roma tetap membantunya. Duduk bersampingan, melihat air yang terus mengalir tak terlalu deras.  "Dien senang bisa melihat perubahan Roma sekarang. Roma lebih rajin belajar dan Dien yakin nilai Roma pasti ada peningkatan," ucap Dien sebagai suntikan semangat untuk Roma. Apa yang dikatakan oleh Dien pernah Roma dengar beberapa tahun silam saat mereka masih duduk di bangku kelas enam. Roma menoleh pada Dien yang duduk di sampingnya. Wajah mungil itu kini telah berubah menjadi wajah gadis remaja belasan tahun yang kini tengah duduk di bangku tiga SMP. Mereka masih tetap bersama. Masih sering datang ke sungai untuk menghabiskan waktu sore mereka. Mereka masih satu sekolah. Roma dan Dien masih bersama-sama. Menjalin hubungan pertemanan yang begitu erat. Dien masih menganggap Roma seperti abangnya namun tidak untuk Roma.             Perasaan aneh yang sudah lama bersemayam di hati Roma. Namun, Roma tak memahami perasaan apa itu. Suka? Mungkin bisa jadi iya. Roma hanya merasakan ingin melindungi Dien saja. Dulu mungkin Roma bersikap layaknya dia tak memedulikan Dien. Roma melindungi Dien karena dia anak yang cengeng dan tidak bisa membela dirinya tapi beda sekarang. Tanpa ada alasan apapun, Roma ingin selalu melindungi Dien. "Kamu tau Dien, dulu aku memang tergolong murid yang rajin meskipun aku nggak sepintar kamu tapi ketika orang-orang menghina kami keluarga miskin yang punya banyak hutang itu membuatku jadi malas belajar," kata Roma seakan-akan menanggapi ucapan Dien pada beberapa tahun silam. Dien mengerutkan dahinya hingga menimbulkan garis-garis yang membentang di keningnya. Ia menatap heran Roma sambil terkekeh. "Aku tau, Roma. Kamu udah pernah bilang seperti itu ke aku," balas Dien. Roma sepertinya salah bicara. Ia baru sadar apa yang ia katakan barusan. Ia tadi membayangkan saat mereka masih kelas enam SD. Mereka saat itu datang ke sini dan Dien menyemangatinya. Roma mengatakan apa yang pernah ia katakan pada Dien saat itu. Hari ini ia mengatakannya lagi. "Dan... Aku juga tau kamu jadi giat belajar itu karena kamu ingin membuktikan pada semua orang kalau Roma abangku yang satu ini..." Dien tiba-tiba mencubit kedua pipi Roma dengan kencang sambil menggoyangkannya. 'Tidak sebodoh itu. Roma yang kukenal punya mimpi yang besar. Impian yang ia inginkan untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses," sambungnya pada ucapannya yang sebelumnya. "Tapi bandelnya kamu itu masih aja gak pernah hilang dari dulu," cibir Dien sambil mendengus. Giliran Roma yang terkekeh geli. "Aku itu beda sama kamu. Kamu itu kelewat rajin. Kutu buku. Bandelnya aku ya udah dari dulu nggak akan bisa ilang." Dien memutar bola matanya, malas. Roma mengatakannya seakan-akan ia tidak ingin menghilangkan kebiasaan buruknya itu. "Iya, tapi, kan kamu..." "Kamu bayangin kalo aku nggak nakal, mereka semua pada gangguin kamu terus Dien. Tapi kalo aku ada di samping kamu, mereka tau imageku itu anak yang bandel, b******n, brutal banyak yang pada takut dan gak berani deketin kamu." "Oohhhhhh!!! Jadi, maksud kamu, kamu mempertahankan kenakalan kamu ini supaya mereka-mereka itu pada takut sama kamu? Iya?" "Iya! Apa lagi memangnya?" tantang Roma pada Dien untuk mengatakan apa lagi dalam perdebatan mereka. "Tapi aku gak suka liat kamu berantem, Roma!" ungkap Dien kesal tapi tak dipedulikan oleh Roma. Roma malah mengeluarkan sebatang rokok dari dalam tasnya. Dien melotot. Sebelum Roma menghidupkan rokok itu dengan gasnya, Dien langsung mengambil rokok itu dari sela-sela jarinya. Dien pun berdiri dari atas batu itu. "Dien!" bentak Roma kesal. Dia paling tidak suka sesuatu yang ia punya diambil oleh orang lain. "Merokok itu bisa merusak kesehatan kamu Roma," ujar Dien ketika Roma juga ikut berdiri dan memandangnya penuh kekesalan. Lalu tiba-tiba Dien membuang sebatang rokok itu yang hanya satu-satunya yang Roma punya. "Sekarang kamu nggak boleh merokok lagi," ucap Dien memasang senyuman bangga seolah ia telah berhasil menyelamatkan Roma dari penyakit mematikan yang disebabkan oleh rokok bila dikonsumsi terus-menerus. Saat Dien berbalik badan menghadap ke Roma, senyum yang ada di wajah Dien hilang dan berganti keheranan juga ketakutan yang lebih besar saat-saat di mana Roma memandangnya seakan ingin memakannya hidup-hidup. "Roma...," panggil Dien pelan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tanpa menunggu Dien. Anak lelaki itu, Roma meninggalkan Dien tiba-tiba. "Roma!!!!!" teriak Dien saat Roma sudah berada di bawah lebih dulu lalu pergi menjauh dari keberadaan Dien. "Roma! Tunggu aku duluuuu!!!!!" teriak Dien lagi lebih keras dari sebelumnya. Dien sebenarnya takut turun sendirian namun ia harus melawan rasa takutnya untuk sekarang ini bila ia tak mau semalaman berada di sini sendirian. Dien sangat tahu Roma sangat marah padanya apalagi sikap lancang Dien tadi pasti buat Roma sebal namun apa yang Dien lakukan itu untuk kebaikan Roma sendiri. Dien tidak mau Roma harus merasakan penyakit di usia mudanya akibat rokok yang selalu ia hisap. "Romaaaaa!!!!" teriak Dien yang tidak mau didengarkan oleh Roma, anak yang sangat keras kepala. Dien harus banyak-banyak sabar menghadapi Roma yang gampang emosian itu. Mudah emosi dan tidak suka sabaran. Pernah sewaktu-waktu Roma memberi pelajaran kepada teman sekelasnya karena sering mengejek Dien yang punya kulit hitam dan tidak mirip seperti kakak-kakak perempuannya. Mereka tahu kakaknya ya karena beberapa kesempatan, teman-temannya datang ke rumahnya untuk mengerjakan tugas kelompok dan melihat foto yang terpajang di dinding rumahnya, salah satu dari temannya itu memberikan komentar yang mau tak mau harus Dien telan yang pada akhirnya membuatnya jadi merasa kecil dan minder sendiri.             "Cece-cecemu putih semua, ya, Dien. Kamu, kok, nggak mirip, sih? Kan, kalian sama-sama China gitu. Orang China, kan rata-rata putih, ya," komentar salah satu temannya. Apalagi mereka juga pernah bertemu dengan cece-cecenya sudah diperkirakan bagaimana herannya mereka. Bahkan setelah Dien mengatakan bahwa dirinya ini juga. "Aku ada darah Jawanya. Papaku orang Jawa jadi, ya, aku lebih mengambil ke Papa wajah dan kulitnya." Dien sendiri mengaku merasa mirip dengan mamanya hanya dari matanya yang sipit. Tak masalah bagi Dien. Dia menerima apa adanya dirinya tapi orang-orang disekelilingnya saja yang membuat Dien jadi merasa insecure dengan kulit tubuhnya hingga ia masih saja dibully bahkan ketika sudah duduk di bangku SMP.            Dien tidak terlalu jauh berjalan di belakang Roma. Anak itu masih tidak mau melihat dirinya yang ada di belakangnya dengan beberapa jarak yang memisahkan.           "Iyaa, sih, Mbak Lucia itu orang selingkuhan bosnya. Udah lama dari jamannya pengangkatan dia jadi manager. Itu, kan, dia main dalem." Roma langsung menghentikan langkahnya saat para ibu-ibu tengah merumpi ketika sedang ramai-ramai beli sayuran di tukang sayur depan rumah warga. Ia teringat ketika di mana ibunya pernah membicarakan mamanya Dien kepada bapaknya saat setelah mereka pulang dari puskesmas itu.           "Wonge iso nduwe jabatan manager kui goro-goro ne dadi gendaan bos.e .dekne gelem dadi gendaan.ne bos.e metgo duwekk Pak." (Dia mendapatkan jabatan sebagai manager itu karena dia selingkuhan dari bosnya. Dia mau jadi selingkuhan bosnya demi uang Pak)           "Heh! Nek ngomong ojo seneng ngawur. Roh kondi emange Ibu kui?" (Heh! Kalo ngomong jangan suka ngaur. Tau dari mana memangnya Ibu itu?)           "Pak..ibuk seneng tuku sayur lah akeh seng ngomong yoan seng ngosipno nk mama dien koyo kui. Mangkane Ibu iso. ngomong ngunui . Ibu nduwe konco seng kerjo nang kono, nah wonge yo roh  tenan piye beritane ng tempat kerjo seng berkembang kui." (Pak... Ibu suka beli sayur dan memang banyak yang gosipin mama Dien seperti itu. Makanya Ibu bisa bilang begitu. Ibu punya teman yang bekerja di sana dan memang dia tau betul bagaimana berita di tempat kerjaannya berkembang) Roma sudah tahu kabar mengenai mamanya Dien. Beberapa tahun silam selama mereka masuk SMP, sudah tidak terdengar kabar mengenai mamanya Dien. Ya lama kelamaan surut saja beritanya tapi hari ini mendadak berita miring itu kembali terdengar.            Tak lama datang Dien yang heran mengapa Roma berhenti tiba-tiba. Dien menepuk bahu Roma. "Roma," panggil Dien. Roma mengalihkan tatapannya dari ibu-ibu tadi ke Dien di sampingnya. Roma tidak ingin Dien mendengar hal yang sedang dibicarakan ibu-ibu tersebut. Maka itu, Roma langsung menarik tangan Dien untuk menjauh. Dien bingung. Namun, baru tiga langkah saja mereka bergerak, Dien sempat mendengar celotehan ibu-ibu yang sedang beli sayuran itu.           "Tuh, kan, berarti emang bukan cuma sekedar gosip doang, kan? Emang Mbak Lucia itu selingkuhannya bosnya, kan? Pantesan aja duitnya banyak. Jadi manager di pabrik aja harus jual diri dulu baru bisa dapet duit banyak." Ketika mendengar nama mamanya disebutkan, Dien tak kuasa untuk pergi menjauh malah melainkan ia menoleh ke belakang memerhatikan ibu-ibu yang tengah membicarakan mamanya itu.           "Ih, iya, apa bedanya dia sama p*****r kalo kayak gitu mah," timpal ibu-ibu yang lainnya. Roma bisa merasakan tangan Dien yang berada di belakangnya bergemetar. "Dien..." Dien tak mendengarkan panggilan Roma. Ibu-ibu tadi langsung diam saat menyadari ada anaknya Lucia di sini mendengarkan percakapan mereka. Dien perlahan melepaskan begitu saja tangan Roma. Dien menghampiri ibu-ibu tadi yang berani menjelek-jelekkan mamanya.             "Mama saya bukan p*****r. Mama saya juga bukan wanita selingkuhan. Saya sebagai anaknya tidak terima mama saya dijelek-jelekkan seperti itu." Untuk kali pertamanya Dien berani angkat suara. Roma bahkan nyaris tak percaya Dien punya keberanian melawan orang lain namun bagi Dien siapapun yang telah menyinggung mamanya atau menyakiti mamanya atau keluarganya, Dien tidak akan tinggal diam. Tak peduli jika dirinya yang dihina, tak masalah baginya tapi tidak dengan keluarganya apalagi mamanya yang disamakan seperti p*****r.             "Lho? Memang kenyataannya kok mama kamu itu selingkuhan bosnya tempat mamamu bekerja. Kenapa kamu yang marah? Nggak terima kamu. Kamu kalo nggak percaya, tanya saja sana langsung sama mama kamu."            "Heh! Dien! Mama kamu itu memang bukan perempuan yang nggak bener. Keliatan, kok, dia itu centil. Liat kamu aja beda sama mama kamu. Dia putih cantik, dua anak perempuan yang lainnya juga mirip sama mama kamu. Kamu doang yang beda sama kakak-kakak kamu."            "Iyaa, nih, jangan-jangan kamu ini anak dari laki-laki yang beda dari kakak-kakak kamu. Buktinya aja kamu nggak mirip. Pasti kamu anak dari laki-laki lain, ya, kan? Emang nggak bener keluarga kamu itu. Cecenya aja suka bawa cowok ke rumah. Haduhhhhh!!! Mestinya diusir aja mereka ini dari kampung kita. Bawa sial aja!"            Dien tak mampu lagi jika harus berkata-kata untuk membela keluarganya. Ia saja tak kuat mendengar hinaan dan tuduhan yang tak sesuai dengan kebenaran. Mereka hanya bisa melihatnya dari luarnya saja tanpa tahu dalamnya seperti apa. Mereka semua sudah sangat keterlaluan. Dien lebih baik pergi sejauh-jauhnya. Apa yang mereka katakan tentang dirinya dan tentang keluarganya itu sangat menyakitkan. Ia tidak mungkin anak dari hasil lelaki lain bersama mamanya. Ia sama seperti kakak-kakaknya hanya beda warna kulitnya saja. Memangnya orang China kulitnya harusnya putih saja? Dia, kan ada keturunan darah Jawanya ya wajar kulitnya sawo matang, kenapa orang-orang jadi mempermasalahkannya? Dan mamanya, tidak mungkin mamanya menjadi selingkuhan lelaki lain. Di matanya, mamanya adalah perempuan hebat, kuat, tegar, tegas, dan sosok perempuan yang mandiri meskipun ia hanya orang tua tunggal yang tidak mempunyai pasangan atau suami yang menafkahinya. "Diennnn!!!" teriak Roma sambil mengejar Dien yang menangis tersedu-sedu. Pasti hatinya Dien sangat sakit. Roma tidak bisa membiarkan hal itu terjadi semakin lama. Namun, dia sendiri tak bisa melakukan apa-apa. Langkah kaki Dien membawanya pada daerah persawahan. Ia berdiri di tempatnya dengan memandangi para petani yang tengah bekerja. Biasanya Dien yang suka memanggil Roma karena Roma selalu meninggalkan ia di belakang tapi sekarang Roma yang mengejar Dien sejak tadi. Dien baru sadar jika ia telah mengabaikan Roma. Saat Roma baru sampai dan berdiri menghadapnya, Roma putar bahu Dien agar perempuan remaja itu berdiri menghadap dirinya.            "Roma... Mama aku nggak mungkin berbuat seperti apa yang mereka katakan. Mama aku gak mungkin melakukan hal yang akan membuat keluarga menanggung malu. Mama aku bukan orang yang seperti itu," lirih Dien lemah. Menyangkal semua tuduhan yang dilayangkan pada mamanya. "Kamu percaya, kan sama apa yang aku katakan?" tanya Dien, tersenyum tipis. Roma mengangguk. Hanya itu yang Dien inginkan. Satu harapan yang ia inginkan pada Roma, berharap ada satu orang saja yang percaya pada apa yang dia katakan tentang mamanya jika mamanya bukan perempuan serendah itu. Roma sendiri hanya sekedar untuk menghibur Dien saja. Ia sendiri tidak tahu kebenaran yang sebenarnya. "Syukurlah, aku lega sekarang kamu masih tetap percaya sama aku," ujar Dien tersenyum tulus. "Aku pulang duluan, ya," pamit Diem kemudian. Roma tidak mencegahnya. Ia biarkan saja Dien pergi. Mungkin dia butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikirannya. Selama itu juga Dien hanya berdiam di dalam kamarnya. Ce Melly belum pulang juga. Ia masih sibuk bekerja. Sedangkan cecenya yang satunya, Melly sedang berduaan dengan pacarnya. Dien ingin menanyakan masalah ini pada mamanya langsung. Dien tidak bisa membahas masalah tentang mamanya pada kedua kakak perempuannya karena mereka sendiri jarang berada di rumah juga jarang bersosialisasi dengan para tetangga.             Dien memutuskan untuk menyudahi aktivitas belajarnya. Ia tidak fokus dengan apa yang dia pelajari sebab pikirannya bercabang ke mana-mana. "Percuma saja aku belajar, tidak ada yang masuk di kepalaku semua yang sudah ku pelajari," ucapnya pada diri sendiri. Dien sejak tadi merasa gelisah. Ia tidak bisa diam dan mulutnya gatal untuk membicarakan masalah ini pada mamanya sedangkan ia tidak tahu kapan mamanya akan pulang karena mamanya sama sekali tidak mengabari. Hanya mengirimkan uang saja untuk kebutuhan mereka. Mamanya terlalu sibuk bekerja di luar kota sehingga Dien merasa jarak di antara dirinya dan mamanya semakin jauh. "Aku jarang menikmati waktu bersama dengan mama dan cece-ceceku. Sejak dulu, semuanya terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak ada yang peduli denganku kecuali keluarganya Roma. Dihina bagaimana pun mereka oleh mama, mereka tetap menerima kehadiranku di tengah-tengah mereka." Dien mungkin tidak akan bisa membayangkan bagaimana ia hidup tanpa bertemu dengan Roma dan mengenal baik keluarga Roma. Dien tidak akan bisa berpisah dengan keluarga keduanya. "Ah, aku haus sekali." Dien merasakan kekeringan di tenggorokannya. Ia pun bergegas keluar kamar setelah merapikan buku-bukunya. Saat sebelum benar-benar keluar dari kamarnya, ia melihat sesuatu yang membuat matanya terbuka lebar dan menarik dirinya masuk kembali ke dalam kamar. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN