BAB - 4

3362 Kata
Pada malam hari ini udaranya terasa begitu dingin menusuk hingga menembus kulit, daging sampai ke tulang. Rintik-rintik hujan jatuh ke kepala seorang lelaki, yaitu Roma---yang tengah mengayuh sepeda dengan ransel hitam di punggungnya. Cengkraman di jari jemarinya pada stank sepedanya menguat. Sangat menguat yang mungkin bila ia lepaskan akan timbul memerah di telapak tangannya. Seiring kakinya terus mengayuh sepeda onthel bututnya pemberian dari ayahnya terakhir sebelum momen yang paling menyedihkan dalam hidupnya terjadi----ia mengingat kejadian di mana selama hidupnya ia selalu dihina-hina. Apa yang terjadi dalam hidupnya selama ini selalu dia pendam. Ia tak ingin terlihat seperti lelaki lemah tak berdaya yang harus dikasihani oleh semua orang. Tidak. Dia tidak ingin orang-orang menatap dirinya remeh. Karena itu dia selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik walaupun ia tidak bisa menjadi orang yang paling nomor satu. Dia memang selalu berada di urutan terakhir dan selalu terbelakang. Sejak kecil ia berusaha melakukan apa yang dia bisa lakukan. Apa yang seharusnya ia lakukan. Roma menghentikan laju sepedanya tepat di depan sebuah rumah di daerah kosan tempat tinggalnya. Masuk ke dalam gang-gang kecil. Kawasan yang bukan tempat elit. Lingkungan yang biasa saja.            Seorang gadis di teras rumahnya tengah mengajari adik lelakinya. Gadis itu bernama Sintia. Anak dari pemilik kosan tempat tinggalnya. Gadis yang baik hati dan murah senyum. Sangat menyayangi adik lelakinya. Apa yang Sintia lakukan berhasil membuat Roma mengenang satu momen di masa lalunya. Yang tak ia sadari nyatanya membuat sebagian dari dirinya merindukan sosok yang pernah hadir dalam kehidupan masa kecilnya. Roma menggelengkan kepalanya, mengerjapkan matanya. "Roma," panggil gadis itu yang dari tempatnya menyadari adanya Roma di depan pagar rumahnya. Roma terkesiap. Ia pun hanya tersenyum singkat. Kemudian tanpa basa-basi, dia pergi dari sana. Sintia agak keheranan memang melihat Roma yang gelagatnya seperti sedang gelisah tapi ia tak berani untuk bertanya lebih jauh karena Roma orang yang misterius menurutnya. Perasaan Roma kali ini bercampur aduk. Kebiasaan ia pasti duduk sendirian sambil mencoret-coret kertas dan melamun. Lama sekali. Membiarkan dirinya hanyut pada pikirannya, maksudnya pada kenangannya di masa lalu. Pada anak perempuan yang bawel itu. Anak perempuan cengeng yang selalu membuat Roma kerepotan dan harus melindungi anak perempuan itu dari orang-orang yang selalu menganggu dirinya.            "Roma!" Roma mengerjapkan matanya. Ia menoleh ke samping di mana ia melihat anak perempuan itu berdiri di samping tubuhnya. Roma yang tengah terduduk di kasurnya yang ada di lantai itu sempat kaget dan bingung kenapa ada anak perempuan ini di sini. "Roma jangan dicoret-coret begitu," katanya. Semakin membuat Roma dibuat bingung. Ia berhalusinasi? Tapi anak perempuan ini nampak nyata di hadapannya. Anak perempuan itu mengambil pena dan kertas yang ada di atas paha Roma yang kakinya ditekuk satu dan yang satunya diselonjorkan. Roma memerhatikan anak perempuan itu. Menilik tiap senti wajah yang perlahan-lahan mulai ia kenali. Entah dari dorongan mana, tangannya terjulur untuk menyentuh wajah anak perempuan itu. Dan tangan itu menangkup sisi tiap wajah anak perempuan itu. Iya, dia menatap Roma. Tersenyum. Senyuman yang sangat Roma kenali. Roma sudah lama tak pernah merasa sesenang ini bisa melihat dia lagi.            "Dien?" * * * * Dien tidak pernah berhenti menyerah untuk membantu Roma meskipun Roma seringkali mengabaikan dirinya. "Sekali saja Roma," pinta Dien saat sepulang sekolah. Roma berhenti berjalan. Dien berdiri di samping tubuh Roma, menghadap tubuh Roma yang Roma sendiri tubuhnya menghadap ke depan bukan ke samping di mana Dien berdiri. Anak lelaki itu mengepalkan kedua tangannya dan menahan nafas juga menutup matanya rapat-rapat. Ia berusaha menetralkan emosinya ketika mengingat kejadian kemarin keluarganya dihina-hina oleh keluarganya. Dien tanpa diduga meraih tangan kiri Roma yang terkepal dan perlahan membukanya, hal itu membuat Roma sedikit kaget tanpa buka suara. Dien masih menggenggam pelan tangan Roma. Dengan kepala tertunduk. Roma memandangnya tajam.            "Dien minta maaf soal kemarin. Roma tau, Dien selalu berusaha membela Roma. Roma sudah seperti Abang buat Dien. Roma selalu melindungi Dien supaya Dien tidak disakiti. Dien... Dien cuma mau melakukan sesuatu yang bisa membawa perubahan untuk Roma. Hanya itu saja. Dien bakal berusaha sebaik mungkin." Lama kelamaan ia bicara begitu terburu-buru. Dien mendongakkan kepalanya. Ia masih berusaha untuk meyakinkan Roma. "Dien.. Roma mohon jangan marah ya sama Dien."            "Ayo!" ajak Roma tiba-tiba. Dien kaget mendengar ajakannya. Sekarang berganti malah Roma membalas genggaman Dien lebih kuat daripada Dien. Dien masih bingung. Bahkan saat Roma mulai berjalan dan otomatis tangannya tertarik, Dien malah tidak berjalan. Ia masih menetap. Roma menoleh ke belakang. Dien tak mengubah posisinya malah masih melempar tatapan bingung dan ekspresi kebingungan. "Kenapa diam di situ? Ayo!" ajaknya lagi. Masih dengan menggenggam tangan Dien dan Dien melihat ke arah tangan mereka. Roma paham. Anak itu pasti kaget melihat perubahan sikapnya yang tiba-tiba. Jadi membingungkan baginya. Roma kembali mendekatinya. "Kamu bilang mau ajarin aku biar pintar, kan? Biar aku bisa menyelesaikan ujianku waktu Ebtanas nanti," jelas Roma. Dien ber'o' ria. Nyatanya Roma akhirnya mau juga menerima tawarannya. Dia memandang Roma begitu bahagia. Ada rasa lega yang ia rasakan. Roma dapat memercayainya saja itu sudah bisa bikin Dien tak bisa berkata-kata lagi. Selain mengatakan kalimat ini. "Baiklah kalo begitu. Roma siap belajar, kan? Roma harus rajin belajar juga supaya nilai Roma bagus," katanya sungguh-sungguh. Dien benar-benar mendukung Roma untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi. Dien selalu ada untuk Roma kapanpun Roma butuhkan. Dien tidak pernah meninggalkan Roma sekalipun Roma selalu bersikap dingin padanya dan seolah tidak memedulikan dirinya tapi Dien tahu, Roma tidak akan pernah menyakiti dirinya apalagi hatinya. Roma tidak akan mengecewakannya. Roma akan selalu menjadi pelindung dirinya. Tak akan satu pun orang yang bisa menyakiti Dien selama itu ada Roma yang selalu bersedia berdiri paling depan untuk melawan orang-orang yang ingin melukainya. Sebenarnya, Melly dan Mella harus menjaga Dien begitu ketat dalam dua puluh empat jam selama mamanya harus bekerja, kembali ke Bangka Belitung dalam waktu yang mendadak. Jadwal mamanya ada di Surabaya memang sebenarnya itu tiap hari natal dan tahun baru ia akan pulang atau di hari-hari cuti yang panjang seperti hari Imlek,  hari raya dan hari-hari raya lainnya. Namun, karena sekarang mamanya menjadi manager, iya sesuka hatinya ia bisa pulang ke Surabaya bila waktunya ia sudah menyelesaikan urusan pekerjaannya namun karena katanya ada urusan penting yang tidak bisa ditunda atau dihandle oleh orang lain, barulah Lucia, mamanya itu kembali ke Bangka Belitung.             "Roma memang anak nakal Ce tapi Roma anak yang baik sebenarnya,"             "Sebenarnya?" sela Mella. Mella sebenarnya juga tidak menyukai Roma. Mella sama seperti mamanya. Mella Cece yang baik tapi memang Mella sedikit berbeda dari Melly yang mau mendengarkan, mau melihat dari berbagai sisi pandang, mau memposisikan dirinya pada orang yang sedang bercerita padanya seperti Dien, Melly memposisikan dirinya bagaimana kalau dirinya menjadi Dien. Sedangkan Mella orang yang tergesa-gesa dalam mengambil keputusan dan tidak mau mendengarkan apa yang sedang orang bicarakan apalagi bila sudah menyangkut pada hal-hal yang tidak dia sukai. Ia menutup telinganya rapat-rapat. Dan Melly juga punya mulut yang pedas, cerewet dan tukang ngadu. Mana kala Dien juga jadi sulit mau cerita padanya. Terbukti hari itu saja, Melly malah mengadu pada mama soal orang tua Roma dipanggil oleh kepala sekolah karena berantem demi membela Dien dari Dani dan kawan-kawan yang lainnya yang telah mengganggu dan menghinanya.             "Kamu tidak tahu dia Dien." Mella tetap kekeuh menyangkal pernyataan Dien dan berpikir kalau Dien telah salah besar jika harus membela anak lelaki yang sungguh Mella tak menyukai anak itu. Dia mendukung mamanya bila harus menjauhkan Dien dari Roma. Mereka tak sepantasnya berteman. Jika ini dibiarkan, sampai besar mereka akan terus bersama apalagi mengingat Dien sangat bahagia sekali sudah bertemu dengan Roma. "Dia gak pantas buat kamu. Dia anak yang nakal. Sungguh Ce," ujarnya sangat yakin pada pendiriannya. "Aku pernah liat dia sepulang ngampus. Dia lagi sama anak-anak berandalan. Mereka... Anak jalanan semua, Ce. Malah dia mainnya sama anak-anak yang nggak sekolah, preman pasar dan... dan juga mainnya sama orang-orang yang udah gede. Nggak sesuai banget sama umurnya," terang Mella menjelaskan hal tersebut, sesuatu yang dia lihat. Dan dia ingin Dien bisa melihat Roma yang sebenarnya. "Apa pantas anak yang masih sekolah yang umurnya bahkan belum belasan tahun ke atas tapi mainnya sudah sejauh itu? Mainnya sama anak-anak yang tidak benar? Teman-temannya preman semua dan dia pastinya bakal membawa pengaruh yang buruk untuk Dien." Setelah kepergian ibu mereka, Dien harus disidang tapi lebih tepatnya Mella lah yang bersikap keras sama Dien. Mella tau jika Dien memang sering di-bully dia juga tidak akan tinggal diam tapi dia juga tidak bisa menghiraukan begitu saja jika Dien masih saja berteman dengan Roma padahal Roma itu anak yang tidak baik untuknya. "Mella!" panggil sang kakak. Mereka berada di ruang tamu. Melly pun bangkit dari duduknya ketika ia harus mengambil tindakan sebagai pihak netral di sini. "Sudah cukup," tukasnya. Melly tidak bisa melihat Dien harus menangis karena merasa terintimidasi di sini. Sudah cukup perkataan dan perlakuan mamanya. Sekarang tidak lagi jika harus Melly kembali mengatakan hal yang membuat Dien sedih. "Hubungan mereka hanya sebatas berteman. Kita semua tau Roma memang bukan anak yang baik karena dia berteman dengan preman, berlaku kasar, sering berantem. Tapi anak sekecil itu pantas untuk kita judge dia. Kita nggak tau luar dalamnya Roma itu seperti apa dan kita cuma melihat dia dari luarnya saja. Selama ini Roma selalu melindungi Dien ketika teman-temannya selalu menghina fisiknya dan Dien pun tidak pernah mempunyai seorang bahkan satu orang saja kecuali Roma. Kalo Roma kebahagiannya untuknya kenapa harus kita pisahkan mereka?" imbuhnya. Dan Dien bersyukur seseorang mau membela dirinya di saat dia sendiri tidak bisa membela dirinya sendiri. Dia masih kecil. Tidak akan ada yang mau mendengarkan suaranya saat ia berbicara. Sepatah dua patah pasti ia akan langsung dibuat bungkam. Seakan-akan dirinya tidak punya hak. Tapi apa yang Ce Melly lakukan untuknya, lebih dari kata cukup. Dia membelanya memang tapi dia tetap bersikap netral untuk melihat dari berbagai sisi bukan hanya satu sudut pandang saja. Lagipun, Melly akan terus mengawasi Dien dan Dien tidak akan juga merusak kepercayaan yang sudah diberikan oleh Melly. "Tapi Ce..." "Aku paham. Kita..." Sambil menoleh ke belakang di mana adiknya duduk di sofa. "Kita nggak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Dien. Kita menyayanginya termasuk memerhatikan siapa orang yang Dien jadikan teman untuknya tapi Mella... Kita bisa mengawasi mereka. Memberikan Dien perhatian agar dia selalu terbuka pada kita tentang masalahnya. Dengan kita bersikap keras dan banyak membatasinya itu nggak baik buatnya apalagi dia tidak punya seorang teman selain hanya Roma saja," tuturnya "Ce..." "Aku mohon mengertilah," mohonnya yang akhirnya terpaksa harus Melly iyakan walau sebenarnya dirinya tak ingin Dien mempunyai seorang teman seperti Roma. Jika saja Melly tidak membelanya saat itu, mungkin dia tidak akan berada di sini. Bersama Roma. Bersama pak Suryono. Di sawah di mana Biasanya Suryono jika sedang libur bekerja pastinya bakal bekerja di sawah menemani istrinya yang juga bekerja di sawah milik orang lain untuk ia urus. Mereka berempat berada di Rangkang Blang di tengah-tengah sawah. Roma tengah belajar bersama Dien dengan Dien yang mengajari Roma materi-materi untuk ujian Ebtanas beberapa bulan mendatang. "Sudah berhenti dulu belajarnya, sekarang waktunya makan," suruh ibunya Roma. Roma menyudahi kegiatannya bersama Dien. Keduanya pun mencuci tangan bersama oleh ibunya yang menuangkan air ke tangan mereka di pinggiran Rangkang Blang supaya tidak membasahi papan kayu sebagai tempat mereka duduk dan beristirahat.            "Ah, Ibu, Bapak... Dien mau bilang soal masalah yang kemarin," ujar Dien tiba-tiba. Suryono dan Sri bingung kenapa Dien harus membahas masalah yang kemarin? Lagipun dia masih terlalu kecil. Anak seumuran itu tak perlu membahas masalah perdebatan antara para orang tua. "Dien atas nama mama dan keluarga Dien.... Dien minta maaf. Ini semua gara-gara Dien. Maaf atas perkataan mama kemarin itu," ucapnya bersungguh-sungguh. Sangat tulus tidak ada cara ia untuk mengambil simpatik dari kedua orang tua Roma. Ia pun bersedih juga merasa ini semua kesalahannya dan ia sangat tidak enak hati pada mereka. Itu pun saat awal Dien ke rumah Roma karena Roma yang mengajak Dien ke rumahnya, Dien sempat berpikir apakah dia masih diterima di keluarga Roma?            Dien juga tidak mengatakan keresahannya pada Roma selama mereka pulang bareng dari sekolah. Roma memang heran kenapa Dien tiba-tiba jadi pendiam dan dia juga tidak menanyakannya tapi ternyata Dien jujur sendiri di sini.            "Dien sempat kaget ternyata Bapak sama Ibu juga Roma masih terima Dien di tengah-tengah keluarga kecil ini," ungkap Dien. Mengulang kembali beberapa jam ke belakang, saat Roma memanggil bapak dan ibunya untuk keluar. Keduanya sangat terkejut melihat Dien ada di sini. Dien berpikir keduanya akan marah melihat dia masih beraninya datang ke sini tapi justru Suryono dan Sri bukan marah, apa yang merasakan lebih tepatnya tak menyangka setelah kejadian kemarin, mereka berpikir Dien tidak akan lagi datang bermain ke rumah mereka tapi kenyataannya dia ada di depan mata mereka. Mereka sangat bahagia. Dan dengan senang hati mengajak Dien untuk pergi ke sawah bersama-sama. Bersyukur sekali hari ini Roma dan Dien bisa pulang cepat karena ada rapat para guru untuk menyiapkan persiapan ujian beberapa bulan ke depan. Jadi, ada waktu untuk mereka bisa belajar bersama dan Dien ada waktu untuk menghabiskan waktu bersama dengan kedua orang tuanya yang kedua. Keluarga keduanya yang sudah Dien anggap.            Sementara itu, Roma memerhatikan sekali bagaimana cara bicara Dien yang teramat tulus mengungkapkan isi hatinya tanpa ada kebohongan. Roma akui, Dien memang anak yang cengeng, cerewet, lemah dan terlihat seperti anak perempuan yang memang paling ribet sedunia apalagi ia juga anak yang manja, kelihatannya, sih. Pikir Roma namun Dien bisa berbicara layaknya orang dewasa pada umumnya. Di usianya yang masih belia ini, dia mampu berpikiran luas dan berani mengatakan maaf meskipun dia tidaklah bersalah tapi demi keluarga dan nama baik mamanya ia mewakili kata maaf pada keluarga kecil ini yang selalu dianggap sebelah mata oleh banyak orang.            "Dien kenapa bicara begitu? Kamu tidak perlu meminta maaf," kata Sri bicara lebih dekat lagi dari hati ke hati pada Dien. Anak itu terlihat sangat bersedih sekali.            "Kita nggak mengambil hati omongan mama kamu, Dien. Sudah, jangan kamu pikirkan soal masalah kemarin. Kita senang. Sangat senang kamu masih tetap mau berteman dengan anak lelaki Bapak yang satu ini. Kasian. Dia butuh teman seperti kamu," ucapnya, mencolek dagu mungil anak perempuan itu.            "Pak," sahut Roma dengan nada protes. "Roma nggak pernah bilang begitu."            "Halah! Sudah. Dien, gimana? Susah nggak ngajarin bocah ndhableg ini?" Suryono bertanya sambil makan lauk pauk yang ia santap juga bertanya sambil mulutnya ngatain anaknya sendiri. Iya, sebenarnya pengalihan saja supaya Dien tidak memikirkan masalah kemarin lagi. Dan bicara kata 'ndhableg' Kalo dalam bahasa Jawanya 'ndhableg' itu adalah bodoh. Roma mendelik tajam ke bapaknya. Ia pasang muka masamnya tapi ada galaknya ya mewarisi wajah bapaknya kalau lagi kumat galaknya.            "Pak roma kui ora ndableg," bela Sri. (Pak Roma ini bukannya ndhableg)            "Lah, trus opo?"            "Tapi mbelit," jawab Sri ketawa seraya mengacak rambutnya Roma. (Tapi males)            "Bukkkkk!!!" rajuk Roma sebal dengan ulah kedua orang tuanya yang selalu saja memojokkan dirinya jika sudah ada Dien bersama mereka.            "Halahhhhh! Nek mbelit opo ora la bijine terahman kui yo jeblok trus. Emng dasar nduwe anak ndableg. Ngeyel. Semprul," nyinyir bapaknya makin jadi. (Halahhhh! Mau males atau nggak emang nilai dia itu jebot terus. Emang dasar kita punya anak ndhablek. Ngeyel. Semprul)            "Roma ternyata cepat nyambungnya, kok, Buk, Pak," kata Dien tiba-tiba. Dia malah memihak Roma supaya tidak semakin tersudutkan.            "Hoo rungokno! Roma kui ora sedablek kui," timpal Roma membela dirinya. (Tuh, dengerin! Roma nggak sedhablek itu) Tiba-tiba kepalanya ditoyor dari belakang oleh bapaknya dengan tangan Suryono----yang duduk di sampingnya jadi mudah saja kalau mau menoyor kepala anaknya seenak jidat dia.            "Gak usah kakean gaya. Lagek semono ae lo," cibir bapaknya menyelepekan kemampuan Roma. (Nggak usah banyak gaya. Baru cuma segitu doang) "Buktikno ngko iso ora intok nilai apik pora. Contoe we ndwe mundak bijine...." (Buktiin nanti bisa dapet nilai bagus apa nggak. Semisal kamu ada peningkatan nilainya...) Bapaknya merangkul Roma dari samping. "Bapak traktir mangan wong telu. Ng ngon enak. Nang restoran koyo wong-wong sugih ngunui. Gelem ra?" (Bapak traktir makan kalian bertiga. Makan tempat enak. Di restoran kayak orang-orang kaya gitu. Nah, mau nggak?) Dien dan Sri berseru senang sambil menyatukan kedua tangan mereka berhadapan posisinya. Tentunya membayangkannya saja akan sangat menyenangkan sekali. Suryono nyengir liat istri dan Dien yang sudah seperti ia anggap anaknya sendiri.            Wah! Ini bisa jadi semangat atau motivasi untuk Roma supaya bisa makin meningkatkan nilainya. Eh tapi ya Roma sempat memikirkan sesuatu yang tidak dipikirkan oleh Ibunya dan Dien yaitu.... "Emang Bapak punya duit mau traktir kita makan enak?" Nah, baru sewaktu ditanya begitu, ketiganya pada terdiam. Suryono mendelik kesal ke arah Roma mendengar pertanyaan anak lelakinya. "Kamu ini banyak tanya! Belajar sana. Urusan itu biar Bapak yang urus. Merusak suasana bahagia saja kamu ini," omel sang Bapak yang diam-diam Dien tertawai karena Roma ternyata banyak bicara juga bila bersama kedua orang tuanya tapi tidak jika sudah tidak bersama mereka. Roma terkesan dingin, kaku dan angkuh. * * * * Hari ke hari Dien telah memerhatikan betul-betul bahwa Roma belajar dengan sangat rajin dan giat. Ada kemajuan yang Dien lihat juga orang tua Roma. Suryono dan Sri bahkan tak percaya bisa melihat anaknya rajin belajar dan tidak pernah absen. Sri sendiri melihat anak lelakinya tiap malam itu pasti lagi sedang baca buku. Mereka tidak melihatnya secara langsung memang hanya mengintip dari balik gorden pintu kamar milik Roma saja. Selama Dien mengajar pun tak pernah Dien melihat Roma mengeluh lelah ataupun protes ini itu. Iya, memang ada materi-materi yang tidak ia pahami dan ia kesal sendiri kalau tidak bisa ia kerjakan. Tapi, Dien tetap sabar mengajari Roma.            Dien menunggu di depan kelas. Di mana semua anak kelas sudah pada pulang. Hanya saja tersisa empat orang lagi. Hari itu ada kuis matematika. Siapa yang bisa mengerjakan soal yang diberikan baru dibolehkan pulang. Jika ditanya siapa orang pertama yang telah menyelesaikannya? Ya tentu jawabannya Dien. Sedangkan Roma? Roma memang dari dulu selalu menjadi yang terakhir tapi tak ada satu pun jawaban yang bisa ia kerjakan. Untungnya Roma malas belajar di saat kelas enam saja seandainya ia malas belajar dan nakal di saat masih duduk di bawah kelas enam, mungkin lagi ia tak akan bisa naik kelas. Sudah dibuktikan. Roma itu cuma malas belajar saja dan sering main sama anak-anak tidak benar, makanya Roma jadi keikutan nakal apalagi dia selalu dihina oleh orang-orang karena keluarganya sudah miskin tapi punya hutang ya tau sendiri orang yang tinggal di perkampungan bagaimana pastinya info mudah tersebar dari mulut ke mulut meskipun lingkungan bukan hanya di perkampungan saja yang seperti itu. Makin juga dari cacian yang ia terima menjadikan Roma sebagai anak yang nakal yang terus mengerjai para warga hingga kesal dan melabrak Roma sampai datang ke rumahnya.            "Heh! Usupppp!!! Kamu tidur, ya, di belakang itu. Cepetan. Mau kamu saya suruh pulang belakangan. Roma, ayo mana? Belum selesai kamu?! Jangan sampai tidak mengerjakan, ya! Ayo, cepat! Cepat! Cepat kerjakan!" titah pak guru, menegur sana sini muridnya yang masih di dalam kelas.            Dulu mungkin gurunya marah-marah Roma pasti akan menjawab dan makin tidak mau mengerjakan tugasnya. Dia langsung main pulang saja. Tidak ada sopan dan tata kramanya namun hari ini, Dien bisa melihat Roma teramat sungguh-sungguh dalam mengerjakan kuisnya. Di tengah-tengah pak guru tengah mengawasi mereka ke meja-meja mereka itu, Roma sempat mencuri perhatian ke Dien. Dien menatapnya. Dien masih menunggu Roma di depan kelas sampai ia selesai mengerjakan tugasnya.            "Pak saya sudah selesai," seru Roma tiba-tiba berselang beberapa detik setelah ia ditegur tadi. Sempat tak menyangka, sih, gurunya bisa melihat Roma memberikan kertas yang berisikan jawaban dan soalnya. Biasanya Roma yang paling terakhir pulang tapi ini tidak. Dia menyalimi tangan pak guru tersebut kemudian pergi dari sana bersama Dien. "Wah, kesambet apaan anak itu?" herannya sambil berdecak. Guru tersebut sangat tidak menyangka Roma mengalami kemajuan yang signifikan karena selalu berteman dengan Dien. Roma dan Dien memang sepasang sahabat yang saling melengkapi dan akan terus begitu. []       
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN