BAB 1-Pertemuan tak terduga
Langit Jakarta mendung sore itu, seakan menggambarkan suasana hati Nayla yang campur aduk. Ia berdiri ragu di depan gedung pencakar langit megah bertuliskan "Arkana Group", perusahaan raksasa yang selama ini hanya ia dengar dari berita dan internet.
"Benarkah aku dipanggil ke sini?" gumamnya, menggenggam surat undangan dengan logo perusahaan yang tampak sangat formal.
Langkah kakinya terasa berat ketika menaiki lift menuju lantai tertinggi. Beberapa menit kemudian, pintu lift terbuka, dan di baliknya berdiri seorang pria dengan jas hitam elegan, menatap Nayla dengan sorot mata tajam.
"Kau Nayla?" tanyanya singkat.
"Iya... saya Nayla," jawabnya gugup.
"Ikut aku. Tuan Arkana sudah menunggumu."
Nayla mengikuti pria itu ke dalam ruangan luas bergaya modern. Di balik meja kerja besar dari kaca, berdiri seorang pria paruh baya dengan aura otoritas kuat. Matanya menatap Nayla dalam-dalam—bukan seperti melihat orang asing, tapi seperti seseorang yang telah lama ditunggu.
"Jadi ini kamu... anakku," ucap pria itu pelan namun tegas.
Nayla membeku. Dunianya runtuh dalam sekejap.
"Apa maksud Anda... anak?"
Namun sebelum Nayla bisa mengurai emosi, pintu ruangan terbuka kembali. Seorang pria muda masuk, dengan tubuh tegap dan wajah dingin bak patung marmer.
"Jadi... ini dia yang tiba-tiba muncul mengaku anak?" katanya sinis.
Mata Nayla bertemu dengan mata pria itu—penuh penolakan, seolah kehadirannya adalah ancaman.
Dan di situlah, babak baru dalam hidup Nayla dimulai.
Nayla masih berdiri mematung, mencoba mengolah ucapan pria paruh baya yang mengaku sebagai ayahnya.
“Aku tak pernah tahu siapa ayahku,” ucap Nayla pelan. “Ibuku tak pernah membicarakannya. Bahkan... aku tak punya satu foto pun.”
Pria itu, Tuan Arkana, menunduk sejenak. “Dan ibumu memilih untuk menjauhiku. Tapi aku tak akan menyangkal darahku.”
Sementara itu, pria muda yang tadi masuk—Arka—masih berdiri di dekat pintu, menatap Nayla dengan tatapan tajam. “Dia bisa saja bohong. Datang dengan cerita basi, lalu berharap dapat warisan.”
Wajah Nayla menegang. “Aku tidak butuh uangmu. Bahkan aku tidak tahu siapa kalian sebelum surat ini datang!”
“Cukup!” Tuan Arkana membentak. “Nayla datang karena aku yang memintanya. Kalau ada yang ingin mempertanyakan darah dan nama keluarga ini, itu urusan ayah, bukan kamu.”
Arka terdiam. Tapi Nayla bisa menangkap sesuatu di matanya. Amarah... dan luka lama yang belum sembuh.
Dalam diam, Nayla tahu—masuk ke dunia ini tidak akan mudah.Nayla menarik napas panjang. Hatinya terasa penuh oleh campuran emosi yang sulit dijelaskan—antara kaget, marah, dan bingung. Ia bahkan belum tahu harus memanggil pria itu dengan sebutan apa. Ayah? Atau sekadar… Arkana?
Tuan Arkana berdiri dari kursinya. “Aku tidak meminta kamu memanggilku Ayah sekarang,” ucapnya pelan. “Aku hanya ingin kamu tinggal di sini selama beberapa waktu. Kita mulai dari mengenal satu sama lain.”
Nayla terdiam. Tawaran itu terdengar menggiurkan, tapi juga berbahaya. Ia tak pernah tinggal di rumah mewah. Hidupnya selama ini sederhana. Ibunya membesarkannya seorang diri dengan hasil menjahit dari rumah.
“Di mana aku akan tinggal?” tanyanya akhirnya.
“Sementara ini di lantai atas. Ada kamar kosong di sebelah kamar Arka.”
“Dia tidak suka aku ada di sini,” balas Nayla singkat.
“Aku tahu,” jawab Tuan Arkana, terdengar berat. “Tapi dia akan terbiasa. Ini rumahmu juga sekarang.”
Nayla mengangguk perlahan. Ia menatap jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota. Jalanan di bawah terlihat seperti aliran sungai cahaya. Dunia ini berbeda. Segalanya baru. Terlalu banyak rahasia dan terlalu sedikit waktu untuk mencernanya.
Sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Dari nomor tak dikenal.
"Selamat datang di keluarga Arkana. Tapi jangan terlalu percaya siapa pun di rumah ini."
Jantung Nayla berdegup lebih cepat.
Siapa yang mengirim pesan itu? Arka? Atau seseorang lain?
Nayla menggenggam ponselnya kuat-kuat. Di balik pintu megah, ruangan marmer, dan senyuman pura-pura, ia tahu—keluarga ini menyimpan lebih dari sekadar rahasia.
Dan dia… sudah terjebak di dalamnya.Suasana ruangan itu terasa semakin dingin, meski tak ada AC yang menyala lebih kuat. Nayla masih berdiri di dekat jendela, menatap keluar, mencoba menyembunyikan getaran gugup di ujung jarinya.
Langkah kaki pelan terdengar mendekat dari belakang. Sekilas, ia pikir ayahnya kembali bicara, tapi suara yang muncul lebih dingin dan tajam.
"Aku tidak peduli kamu siapa, tapi jangan berharap mendapat tempat di keluarga ini dengan mudah."
Nayla menoleh. Arka berdiri di ambang pintu, tangan dimasukkan ke saku celananya, pandangan penuh curiga.
“Aku bahkan belum sempat bicara apa-apa padamu.”
“Dan aku berharap kamu tak usah bicara banyak,” tukas Arka. “Hidup kami sudah rumit tanpa kamu di dalamnya.”
Nayla ingin membalas, tapi menahan diri. Ini bukan waktunya perang mulut. Bukan sekarang. Ia memilih diam, membiarkan kata-kata Arka menamparnya diam-diam.
Setelah pria itu pergi, Nayla mengambil surat dari ibunya sekali lagi, membaca ulang dengan mata berkaca-kaca.
"Temuilah pria itu, Nayla. Kenali siapa dirimu sebenarnya. Tapi hati-hati, bukan semua keluarga akan menyambutmu dengan tangan terbuka."
"Tapi kamu harus kuat. Karena kamu adalah putri dari darah yang tak bisa diingkari."
Nayla menggenggam surat itu erat. Dalam hati, ia bersumpah.
Apa pun yang terjadi… ia akan mencari tahu segalanya. Tentang ayahnya. Tentang masa lalu ibunya. Dan tentang alasan kenapa semuanya disembunyikan darinya.
Ini bukan sekadar tentang keluarga.
Ini tentang kebenaran yang terlalu lama terkubur.Nayla duduk perlahan di sofa kulit hitam yang terasa asing. Tangannya gemetar saat menyimpan surat ibunya kembali ke dalam tas kecilnya. Ia menatap sekeliling ruangan—semuanya mewah, berkelas, tapi terasa dingin. Tidak ada kehangatan rumah di sini.
Tiba-tiba pintu dibuka pelan dari luar. Seorang wanita berseragam rapi masuk dan tersenyum sopan.
“Selamat sore, Nona Nayla. Saya Siska, kepala pelayan di rumah ini. Tuan Arkana meminta saya mengantarkan Anda ke kamar.”
Nayla berdiri dan mengangguk pelan. “Terima kasih…”
Sepanjang perjalanan menuju lantai atas, langkah kakinya terasa berat. Lorong rumah itu panjang dan sunyi, dindingnya dihiasi lukisan-lukisan mahal yang tidak ia kenal. Dunia ini benar-benar bukan miliknya.
Siska membuka pintu sebuah kamar besar yang lebih luas dari seluruh rumah kontrakannya dulu. Tempat tidur king size, meja kerja dari kayu jati, dan jendela besar dengan pemandangan langit Jakarta.
“Silakan beristirahat, Nona. Kalau butuh sesuatu, tekan saja bel ini.”
Siska menunjuk tombol kecil di dekat pintu. Lalu pergi, meninggalkan Nayla sendirian.
Nayla melangkah pelan ke jendela, menatap lampu kota yang mulai menyala satu per satu.
Dalam hati, ia tahu ini baru permulaan.
Di rumah ini, tak semua orang senang dengan kehadirannya.
Di keluarga ini, bukan hanya cinta yang tersembunyi—tapi juga rahasia, dendam, dan kebenaran yang bisa menghancurkan segalanya.
Dan mulai malam ini…
Nayla harus bersiap menghadapi semuanya.