11. Mimpi Buruk

1071 Kata
     "Bian! Tolong aku!"      Suara itu terdengar menggema dan menyayat pendengaran Bian.      Bian yang sedang mengedarkan pandangannya tak menemukan sama sekali dimana keberadaan orang dengan suara yang tak asing untuknya tersebut.      "Bian," lirih suara itu semakin melenyap perlahan.      Sekali lagi Bian memutar arah pandangannya. Ketika dia menemukan setitik cahaya dari dimensi lain. Rasa penasarannya mencuat, dengan langkah ragu dia berjalan. Cahaya itu semakin dekat dan seolah menghempas kepalanya yang membuat dia melengos seperti kesakitan. Saat itu juga, dengan sangat jelas Bian melihat wajah Reina.      Keterkejutan terlihat sangat jelas. Dengan nafas yang memburu dan kerutan tak percaya pada keningnya dia mendekat. Namun, yang dia tangkap Reina semakin ditarik oleh dua orang tak dikenal dan semakin menjauh dengan langkah memundur sedikit menyeretnya.      "Rein!!" teriak Bian berusaha mengulurkan tangannya. Air mata yang dia miliki sudah tak sanggup untuk bersembunyi lagi.      Tangisan Reina yang terlihat jelas dengan pakaian berantakan dan kotor wanita itu tak kuat menahan kesakitannya.      Entah ada penghalang apa yang membuat Bian justru terpental ketika hendak meraih pergelangan Reina yang memang di ulurkan oleh wanita tersebut.      "Reina!!" teriaknya lantang.      Reina terlihat dihempaskan ke jurang, kemudian dia pria asing yang tak jelas tersebut membalikkan tubuhnya untuk menatap Bian. Tapi, ketika Bian berusaha menerawang mereka pandangannya langsung kabur dan cahaya tampak menyorot matanya yang membuat dia mengangkat tangan kanan untuk menutupi sebagian wajahnya. Melindungi dari cahaya itu. "Reina!!" Untuk yang kesekian kalinya Bian menyebut nama itu. Kali ini dia terbangun dari tidurnya dengan wajah pucat dan keringat dingin yang memenuhi seluruh wajahnya. Bian mengusap wajahnya kasar, lalu menghembuskan nafasnya berat. Dia termenung sejenak, mimpi yang dia alami baru saja benar-benar seperti nyata. Bahkan dia mulai berpikir Reina benar-benar sedang dalam bahaya. Bian meraih arloji miliknya yang ada di atas nakas tepat di sebelah tempat tidurnya. Jam setengah dua dini hari. Dia kembali meletakkan benda itu dan bangun dari tempat tidurnya. Kepalanya mendadak pening, dia keluar kamar untuk mencari air minum yang mungkin bisa membuatnya lebih tenang.      Tangan Bian meraih ganggang kulkas, mengambil sebotol air yang ada di tuperwear kemudian beralih mengambil gelas dan kini dia berjalan ke meja makan untuk duduk di sana. Kembali menerawang apa yang sudah terjadi dalam mimpinya, membuat Bian merindukan Reina yang entah sekarang ada di mana. Rumah Reina yang terakhir kali dia lihat tak berpenghuni. Kala itu juga Bian tak mencari tahu lagi. Mungkinkah Reina yang sengaja pergi dan menghilang? Pikiran itu pernah terbesit di otaknya. Tapi, kesalahan apa yang sudah Bian lakukan sehingga membuat Reina seperti itu? Beberapa spekulasi yang ada din pikirannya seolah serang berperang batin dengannya. Tak ada yang jelas dan Bian sudah lelah. Dia juga sempat berpikir mamanya melakukan suatu pada Reina. Tapi, tak ada bukti yang mengarah ke sana. Bian menuangkan air putih ke dalam gelas hingga penuh. Kemudian meneguknya sedikit. "Sayang, kamu sedang apa?" Lina yang tak sengaja melihat lampu ruang makan menyala langsung menghampiri seseorang yang mungkin asing, nyatanya anak sendiri. "Mama belum tidur?" tanya Bian. Bukannya menjawab dia malah melontarkan kalimat tanya pada Lina. "Mama sedang mengecek pintu. Kamu?" tanya Lina lagi yang belum mendapatkan jawaban dari putranya itu. "Bian mimpi buruk, Reina. Dia meminta tolong padaku." Mendengar itu, Lina langsung mendekat antusias bahkan kini sudah duduk di sebelah Bian. "Kamu memimpikan Reina? Dia mengatakan sesuatu?" Tatapan matanya yang seolah ingin tahu malah membuat Bian sedikit curiga. "Apa mama melakukan sesuatu padanya?" lirih Bian hampir tak terdengar namun penuh penekanan. Tatapannya sedikit tajam dan penuh rasa penasaran. "Maksud kamu apa? Mama menyelakai dia?" decih Lina mulai tersinggung. Dia meraih gelas yang masih berada di genggaman Bian, mengisinya penuh dan langsung menghabiskannya dalam sekali teguk. "Bukankah mama yang terobsesi dengan perjodohanku? Cukup masuk akal jika mama dalang dari menghilangnya Reina." Tatapan penuh kekesalan dan kekecewaan sudah Bian perlihatkan meskipun kenyatannya belum jelas apa Lina benar-benar melakukan itu semua. "Bian!" pekik Lina seraya menghentakkan gelas yang tadinya masih dia pegang. Bian tidak takut, dia semakin menajamkan matanya. Terus menyorot bola mata milik mamanya sendiri yang semakin dia curigai. "Untuk apa mama melakukan itu? Karena perjodohan? Kamu pikir mama sejahat itu?" Lina tertawa renyah yang sengaja dia perdengarkan pada putranya. "Jika memang mama menginginkan Natya itu sudah lama. Maka, Reina sudah lama lenyap." Bian berdecih kemudian langsung meninggalkan wanita paruh baya itu yang masih mematung di tempatnya semula. Lina kembali duduk, membenturkan pinggulnya padan kursi cukup keras. Nafasnya memburu karena kesal, tatapannya juga menajam ketika mengingat bagaimana Bian menatapnya tadi. Bian yang sudah kembali ke dalam kamarnya hanya diam. Setelah mengalami mimpi buruk itu, tentu saja dia tak bisa tidur dengan nyenyak kembali. Ponsel miliknya yang ada di sisi kanan ranjang diraihnya. Nama Reina masih tersimpan di daftar kontak yang ada di ponselnya. Namun, sekali lagi Bian meminta keajaiban ketika menekan tombol dengan gambar telepon tersebut, selalu terdengar bahwa nomornya sudah tak aktif. Jika berdiam seperti ini mungkin tidak akan tenang. Terlebih ketika Bian menyetujui perjodohannya Reina tiba-tiba menghampiri ke mimpi seolah tak ingin semuanya terjadi. Tapi, sekali lagi Bian harus mencari ke mana lagi? *** Masih sama dengan penampilan setiap harinya. Setelah jas rapi dan senyuman sapa dipagi hari. Namun, terlihat sangat jelas matanya begitu sayu. "Semalam kamu tidak tidur?" tanya Rahendra. Bian menarik kursi dan duduk di depan papanya tersebut. "Tidak bisa tidur." Lina yang paham tanpa Bian menjelaskan hanya diam saja. Entah kesal tidak terima dengan ucapan Bian atau malah takut karena Bian tahu perbuatannya. Lina lebih memilih diam, dia juga sudah meyakinkan Bian bahwa menghilangnya Reina sama sekali tak ada urusan dengannya.      "Hari ini kamu fitting gaun untuk Natya, kan? Kamu juga kelihatan lelah. Ambil cuti sehari saja," saran Rahendra.      "Kenapa harus cuti selama aku bisa mengatur waktu. Tenang saja, papa tidak perlu khawatir. Hari ini juga ada beberapa pertemuan dengan klien, jadi kurasa jika tidak terlalu mendesak aku tak akan mengambil cuti." Bian tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya yang tertuju pada makanan yang sedang dia nikmati sekarang. *** Perjalanan ke kantor cukup memakan waktu yang lama. Sekitar dua jam dan selama itu juga Bian tak sadar memejamkan matanya di dalam mobil dan tak tahu bahwa mereka sudah sampai. "Tuan, maaf. Tapi, kita sudah sampai." Leo memegang lengan Bian penuh kehati-hatian berharap bosnya itu segera bangun.      "Ah, maaf. Aku ketiduran, bisa ambilkan minum." Leo langsung meraih botol mineral yang ada di jok tengah mobil dan memberikan pada Bian. Ketika Bian meneguk botol mineral tersebut tiba-tiba pandangannya beralih pada sosok wanita yang sudah tak asing lagi baru turun dari taksi dan langsung masuk ke dalam perusahaannya. "Untuk apa Natya datang ke sini?"       **** Bersambung.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN