bc

Secret Wedding

book_age18+
1.0K
IKUTI
3.4K
BACA
goodgirl
CEO
drama
sweet
bxg
city
first love
secrets
selfish
like
intro-logo
Uraian

Setelah kepergian Reina yang tiba-tiba seakan lenyap dari sisi Bian, membuat pria itu memiliki banyak tanda tanya. Sampai akhirnya dia harus terpaksa menyetujui perjodohan yang sama sekali tak diinginkan. Bahkan, tak pernah bertemu dan menyukai calon istrinya, Natya.

Dalam satu tahun pernikahan yang mereka jalani tanpa rasa, tidak ada yang berubah sedikitpun. Bian masih memikirkan Reina dan Natya masih berusaha mengambil hatinya.

Hingga di suatu pertemuan tak terduga. Bian dan Reina kembali dipertemukan oleh semesta yang membuat mereka kembali merasakan perasaan yang belum pernah berakhir sebelumnya.

Bagaimana perasaan Natya sebagai istri Bian jika mengetahui suaminya masih mengharapkan masa lalunya kembali? Dan bagaimana Bian menyikapi kembalinya Reina ke dalam hidupnya yang sudah berstatus sebagai suami dari wanita lain? Apakah Reina akan kembali ke pelukan pria itu sebagai selingkuhan?

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Menghilang Tanpa Jejak
Satu minggu sudah berlalu, yang di tunggu masih tak ada kabar. Bahkan tak meninggalkan jejak sedikitpun. Bian menekan pelipisnya kuat berharap sakit pada kepalanya segera mereda. Hari ini peresmian dirinya menjadi CEO (Chief Executive Officer) di Greenice Company yang sebelumnya dipegang oleh Rahendra, papanya. Harusnya dia berbahagia, karena setelah peresmian itu dia ingin merayakannya bersama Reina, kekasihnya. Tapi, siapa sangka wanita itu tiba-tiba menghilang tak ada kabar sedikitpun. Segala cara sudah Bian lakukan, termasuk mendatangi rumahnya berulang kali. Nihil, dia tak mendapatkan apapun dan juga tak ada informasi mengenai wanita itu. Reina benar-benar menghilang, tak meninggalkan jejak lagi. Entah sengaja atau tidak, Bian tak peduli. Dia akan terus mencari dan menunggunya. Bian merasa, ada sesuatu yang dia lewatkan hingga kehilangan wanita yang sangat berharga di hidupnya tersebut. "Datanglah ke opening Artama Corp untuk menambah relasi." Bian menoleh, lalu tersenyum seraya menganggukkan kepalanya paham. Dia meraih kartu nama yang diberikan Rahendra. Pria paruh baya itu mendekat, menghampiri putra tunggalnya tersebut kemudian menepuk-nepuk punggungnya seolah paham apa yang sedang Bian pikirkan akhir-akhir ini. "Pa," panggilnya dengan nada sedikit melemah dan menundukkan kepalanya. Rahendra membawanya duduk pada sofa yang ada di ruangan, berdampingan lalu menatap Bian nanar. "Sejauh ini, kamu masih berharap wanitamu kembali?" tanya pria paruh itu. Dia memalingkan wajahnya ketika Bian menatapnya sendu. "Harusnya hari ini aku sudah bertunangan dengan dia. Tidak salah, kan? Aku patah seperti ini karena memiliki masa depan yang jauh dengannya." Bian ingin meloloskan air matanya yang sejak tadi sudah membuat dadanya sesak. Namun, dia tak ingin papanya melihat itu semua. "Bian," lirih Rahendra menjeda ucapannya seraya tersenyum untuk menguatkan putranya itu. "Tidak semua yang kita harapkan akan berakhir sesuai ekspektasi. Terkadang kita juga dikecewakan oleh takdir. Kamu anak papa dan mama satu-satunya dan kamu sudah papa percaya untuk mengurus perusahaan ini. Jadi, pikirkan lagi untuk masa depanmu yang lebih jelas. Kita akan semakin tua dan kamu hanya satu-satunya yang kita punya." Bian memaku, mencerna dengan baik yang papanya katakan. Benar, dia hanya harapan satu-satunya untuk segala hal. Yang bahkan, dia tak menginginkan, seperti perjodohan yang berulang kali sudah ditolak sebelumnya. "Aku paham. Aku akan memikirkannya secepat mungkin, meskipun akan melukai perasaanku sendiri," pekik Bian merasa nafasnya tercekat. Dia ingin menunggu, namun tak ingin mengecewakan kedua orangtuanya yang menginginkan dirinya untuk segera menikah. "Jangan terbebani, papa tidak suka. Papa tidak memihak siapapun, tapi kamu perlu memikirkan permintaan mama karena tak ada pilihan lain untuk mencari. Kamu akan semakin sibuk dan papa yakin semuanya akan baik-baik saja." Rahendra merangkul putranya itu dari samping memberinya semangat. "Jika suatu saat Reina tiba-tiba kembali, bagaimana menurut papa?" tanya Bian. Dia menoleh, menunggu jawaban apa yang akan papanya lontarkan. "Maksud kamu? Setelah meninggalkanmu seperti ini?" decak pria paruh baya itu. Dia bukan tak menyukai Reina, dia juga tak pernah ikut campur masalah percintaan anaknya. Tapi, melihat Bian terpukul akhir-akhir ini karena wanita itu menghilang tanpa sepatah kata, tentu saja Rahendra ikut terluka, untuk anaknya. "Lupakan. Bian akan datang ke Artama Corp, papa jangan khawatir mengenai perusahaan. Bian akan bekerja keras," tegas Bian yang kini mulai bangkit seraya membenarkan jasnya kemudian melangkah ke arah kursi kebesarannya, duduk di sana seraya meraih beberapa map yang akan di cek. Melihat Bian yang jelas berusaha untuk kuat, sedikit rasa khawatir Rahendra mencuat. Dia hanya berharap anaknya tidak akan mudah menyerah dan lemah hanya karena rasa. *** Pertemuan Lina dengan Resi beserta putrinya terlihat begitu menyenangkan. Mereka saling berbagi senyuman dan tawa di sebuah restoran dengan label ruangan VIP yang sengaja mereka pesan terlebih dahulu. Dekorasi mewah serta interior yang megah menunjukkan bahwa mereka benar-benar orang yang memiliki banyak uang. "Jadi, kapan saya akan bertemu dengan Bian?" tanya wanita dengan rambut pirang bergelombang serta aksesoris yang begitu pas dia kenakan. Bisa dipastikan, dia seumuran Bian. "Nanti Tante Lina atur, ya. Kamu tenang saja, untuk saat ini Bian masih cukup sibuk karena baru meresmikan Greenice Company." Lina terlihat begitu bangga dan bahagia. Sejak lama dia sangat menginginkan Natya untuk menjadi menantunya meskipun Bian selalu menolak, dia akan punya cara lain untuk tetap melanjutkan perjodohannya. "Mama harap kamu suka sama Bian, sayang." Resi menatap anaknya seraya tersenyum bahagia. "Semoga, Ma. Akan Natya usahakan." "Kamu masih tetap menjadi model eksklusif di Star Management?" tanya Lina. Sebelumnya dia sudah mengetahui banyak tentang Natya, untuk itu dia tak pernah ragu menjodohkan dengan Bian, putra tunggalnya. Natya menganggukkan kepalanya. "Apa Bian akan menyukai profesi seperti saya?" Masih dengan nada yang sangat sopan, Natya hanya berusaha untuk berhati-hati dalam berbicara. Sejak lama dia sudah mendengar tentang Bian, namun satu hal yang tak diketahui. Bian sudah menolaknya berulang kali. Bahkan ketika mereka tak pernah bertemu, Bian dengan tegasnya mengatakan tak menginginkan siapapun kecuali Reina. "Tentu saja. Dia tidak akan menolak wanita secantik kamu, jangan khawatir." Senyuman mereka mengembang bersamaan bersama tawa yang mereka ciptakan. Natya yang memang tak memiliki siapapun sejak awal sudah menyetujui perjodohan ini. Meskipun sudah hampir setengah tahun Resi membicarakan mengenai hal ini dan mereka tak pernah dipertemukan, seolah Natya tak mempermasalahkan. Karena, dia juga seakan sibuk dengan jadwalnya yang padat. Jadi, bagi dia waktu yang terus berjalan tersebut bukanlah waktu yang lama dan tidak terlalu buru-buru untuk masa depannya. "Kamu simpan nomor telepon Bian, ya. Nanti Tante Lina akan suruh Bian untuk menghubungi kamu terlebih dahulu." "Boleh, Tante." Natya mencari ponselnya yang ditaruh di dalam minaudiere bag yang diletakkan pada kursi kosong di sebelahnya. Dia menyerahkan ponselnya pada Lina yang mengambilnya dengan hati-hati. *** Natya yang duduk di depan meja riasnya terlihat membersihkan wajah. Sejenak pikirannya kembali pada pertemuan siang tadi. Dia menoleh, menatap ponselnya yang sengaja dia taruh di atas tempat tidur tak jauh dari tempatnya sekarang. Tak ada notifikasi apapun, yang mungkin sedang dia tunggu. Natya tersenyum, awalnya dia menganggap perjodohan ini hanya permainan semata. Namun, melihat Mama Bian memperlakukannya dengan baik, haruskah dia serius untuk masa depannya? Natya berdiri, meraih ponselnya dan mencari kontak Bian. Dia hanya menatapnya tanpa ingin menghubungi. Namun, entah kenapa dia seolah sedang menunggu sapaan dari pria yang akan menjadi suaminya tersebut. Wanita itu mulai membaringkan tubuhnya dengan ponsel yang sudah dia taruh di atas nakas, tepat di bawah Lampu ruangan yang sedikit redup. Ting! Bunyi yang berasal dari ponselnya tersebut membuat mata Natya yang tadinya ingin memejam kembali terbuka sempurna. Tangannya terulur untuk meraih benda pipih tersebut. "Sudah tidur?" *** Bersambung ✍️

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.8K
bc

Kali kedua

read
221.9K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
1K
bc

TERNODA

read
201.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.3K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook