2. Keputusan Terpaksa

1075 Kata
Bian yang sedang duduk menengadah pada single sofa yang ada di kamarnya dikejutkan dengan kedatangan mamanya yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu kamarnya. Dia kembali memejamkan matanya tak peduli. "Bian, kamu coba hubungi Natya, ya." Bian yang tengah menenangkan pikirannya perlahan membuka mata, menatap mamanya malas. Seperti tak ada obrolan lain yang Lina ucapkan. Selalu itu dan Bian seolah sudah bosan. Lina yang menunggu respon putranya itu sedikit kesal karena Bian terlihat tak memperdulikannya. Dia menarik tangan Bian, menyuruhnya untuk duduk dengan benar. Namun, dengan sigap juga Bian menghempaskan tangan mamanya. "Untuk apa?" sergahnya tak suka. "Kalian harus dekat, kalian akan menikah." Bian menundukkan kepalanya, mengacak rambutnya frustasi. Dihembuskannya napas berat untuk menghilangkan sedikit saja beban pikiran yang tengah menyelimuti kepalanya sekarang. "Nanti kalau kamu tidak sibuk, mama akan atur pertemuan kalian." Lina bersuara lagi, bahkan Bian belum merespon apapun mengenai ucapannya. "Ya udah. Nggak usah kirim pesan, bakal ketemu juga, kan?" decak Bian dengan ekspresi datarnya. Dia melangkah untuk menjauhi Lina yang masih berdiri di tempatnya semula. Bian enggan menanggapi lagi, dia beralih naik ke tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya di sana. Menarik selimutnya hingga menutupi bagian bawah tubuhnya, sengaja memejamkan matanya padahal dia belum ingin benar-benar tertidur. "Biar kamu nggak canggung kalau ketemu sama dia. Jadi, kalian sudah saling kenal meskipun hanya berkirim pesan." Lina yang berjalan mendekat masih saja keukeuh dengan keinginannya itu, bahkan sekarang dia sedang duduk ditepi ranjang tepat disebelah putranya itu berbaring. Lina yang melihat ponsel Bian di atas nakas langsung meraihnya kemudian mengetikkan nomor Natya yang ada di ponsel miliknya. Menyimpannya ke dalam ponsel milik Bian. Tak hanya itu, Lina juga langsung mengirimkan sebuah pesan pada Natya, seolah-olah dirinya adalah Bian. "Nah, mama sudah mengirimkan pesan ke nomor Natya. Sudah mama simpan juga, kalau dia balas jangan dicuekin. Jangan bikin malu mama," pekik wanita paruh baya itu kemudian meletakkan kembali ponselnya di nakas. Bian yang hanya berpura-pura tertidur langsung membuka mata dan menyahut ponselnya. Dia mengecek pesan yang dikirim mamanya, niatnya ingin menghapus. Namun, ternyata wanita di seberang sana sudah membacanya terlebih dahulu. "Belum, kamu Bian, kan?" Bian berdecak kesal ketika pesannya langsung dibalas dan dia dalam keadaan berada dalam room chat tersebut. Pandangannya beralih pada Lina yang berada di ambang pintu seraya tersenyum memperingatkan. Setelahnya dia tak melihat lagi karena mamanya sudah menutup pintunya rapat. Bian yang enggan merespon harus terpaksa membalasnya karena dia sudah membaca pesan itu. "Tidurlah. Sudah malam." Send. Bian meletakkan ponselnya kembali di nakas, tak peduli lagi jika Natya membalasnya. Dia terduduk untuk mengambil sesuatu pada laci nakas yang terdapat sebuah fotonya bersama Reina. Senyuman yang perlahan coba dia ukir ketika melihat tawa Reina di dalam foto itu justru membuat dadanya sakit dan air matanya mengalir sempurna. Bian menundukkan kepalanya seraya menyeka air matanya seorang diri dengan punggung tangan. "Kamu di mana, Rein? Kembalilah sebelum aku benar-benar menikah. Ini sama sekali bukan kamu yang menghilang tiba-tiba. Aku akan tetap menunggumu, apapun yang terjadi. Tidak ada seorangpun yang bisa menggantikanmu." Tak ada yang bisa Bian lakukan lagi. Dia benar-benar sudah kehilangan jejak Reina yang entah menghilang ke mana. *** Tidak ada yang berubah dari keputusan yang sudah dibuat. Tak ada pilihan lain dan tak ada alasan lagi Bian bisa menolak seperti sebelumnya. Pria itu sedang menatap dirinya di depan cermin dengan perasaan yang sangat menyedihkan. Hatinya masih belum sembuh, namun dia harus menerima realita bahwa dirinya harus segera menikah. Rahendra dan Lina yang sudah duduk terlebih dahulu di meja makan mengalihkan pandangannya pada Bian yang berjalan ke arah mereka dengan wajah kusut tanpa senyuman. Lina mengerutkan keningnya, dia tak suka dengan ekspresi Bian yang seperti ini. Namun, siapa sangka ketika dia menarik kursi untuk bergabung menikmati sarapannya senyuman yang dia sembunyikan tadi tiba-tiba terpancar dengan jelas. Lina yang hendak bersuara tampak diurungkan. "Selamat Pagi. Sudah siap nanti malam?" tanya Rahendra menyapa putranya itu yang baru duduk bergabung. "Siap, Pa. Aku akan berangkat bersama Leo, kan?" ucap Bian hanya ingin memastikan. Karena sejauh ini dia hanya dekat dengan Leo. "Tentu saja. Kemanapun kamu, dia harus selalu ikut." Rahendra tersenyum, dia tak tau Bian belum paham bahwa Leo adalah asisten pribadinya. Dia juga sengaja mempekerjakan pria yang lebih tua lima tahun dari anaknya itu sekitar lima bulan yang lalu untuk mengatasinya. Bukan hanya itu, Rahendra sengaja mencari yang umurnya tak terlalu jauh dengan Bian supaya putranya itu lebih nyaman. "Ah, baiklah. Setidaknya aku tak sendirian." "Kenapa tidak mengajak Natya saja?" usul Lina yang membuat Bian menghentikan sarapannya. Bian terdiam tak ingin menanggapi, entah kenapa dia muak dengan topik yang mamanya bawa selalu itu tak pernah mencoba membicarakan hal lain. "Dia sepertinya sibuk, Ma. Dia semalam mengatakan sibuk akhir-akhir ini dengan jadwal pemotretannya." Bian mulai beralibi, dia tahu mengenai profesi Natya itu juga dari Lina yang selalu menceritakan wanita itu tanpa jeda. "Jadi, kalian berkirim pesan sampai jam berapa?" tanya Lina mulai penasaran. "Entah, aku lupa. Karena aku tertidur duluan," jawab Bian sekenanya. Dia benar-benar tak ingin membahas ini karena terlalu sering membicarakan wanita yang bahkan tak pernah dia inginkan. "Kamu sudah punya keputusan, Bian?" Mendengar Lina kembali membicarakan itu, malah membuat Rahendra menanyakan perihal keputusan Bian. "Aku tidak punya pilihan lain." "Jadi kamu setuju kan dengan perjodohan ini?" Lina tampak antusias bahkan dia menatap Bian tak percaya. "Itu yang mama mau, kan?" lirik Bian sarkastik. Kemudian diakhiri dengan pejaman mata untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia tersenyum penuh kebohongan, pada kenyataannya tak menyukai keputusan ini. Tapi, tak bisa melakukan apapun. "Benar. Jadi, kamu kapan ada waktu untuk bertemu sama Natya?" tanya Lina lagi, dia meletakkan sendok yang masih diapit jarinya di atas piring. Tatapannya fokus tertuju pada bian yang diajak bicara sekarang. "Dia bisa meng-cancel apapun jika mau. Jadi urus saja sebelum dia berubah pikiran." Rahendra yang diam-diam seolah mendorong Bian untuk serius mengenai keputusan itu ikut bersuara. "Tapi, tidak begitu juga, Pa. Aku masih baru di perusahaan. Tidak bisa seenaknya seperti itu," sangkal Bian. Dia juga tak enak belum sebulan menjabat sebagai CEO langsung bisa melakukan hal seenaknya. "Tidak akan ada yang peduli dengan itu. Mereka hanya tau kamu bosnya. Sudah lanjutkan sarapannya." Rahendra menghentikan obrolan mengenai perjodohan itu yang entah akan berakhir seperti apa jika Bian menanggapi dengan kesan keterpaksaan. "Nanti mama akan menemui Resi untuk mengatur pertemuan kalian." Lina kembali menikmati sarapannya dengan senyuman yang masih terus mengembang karena perjodohan yang diharapkan akan segera terlaksana. Meskipun dia sadar Bian terlihat sangat terpaksa, dia yakin setelah bertemu Natya, putranya itu akan perlahan menerima Natya sebagai istrinya nanti. "Terserah saja," decak Bian. *** Bersambung ✍️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN