3. Luka Reina

1104 Kata
Tempat kumuh dan tertutup yang mengerikan di sana menjadi mimpi buruk untuk Reina. Dia tak pernah berpikir akan berakhir seperti ini. Air matanya terus mengalir tanpa henti, bahkan suaranya tercekat hanya untuk mengaduh kesakitan yang berasal dari ikatan di tangannya yang melilit dengan erat. Mulutnya tersumpal kain, dibuka ketika orang tak dikenalnya memberi makan dan minum. Reina sangat tersiksa, bajunya lusuh, ikatan di tangannya membuat pergelangannya memar karena mencoba untuk memberontak meskipun dia tau tak akan mudah. Tapi, sungguh dia ingin pergi dari tempat itu. "Bukankah sudah diperingatkan sebelumnya? Ternyata kamu cukup keras kepala. Harusnya paling tidak sadar diri, kamu siapa!" Suara itu, hampir setiap hari Reina mendengarnya melalui ponsel pria bertubuh kekar yang menjaganya hampir 24 jam. Bahkan tanpa menemuinya Reina tau siapa yang ada di seberang sana. Dia enggan menjawab, lagipula juga tak bisa menjawab karena mulutnya tersumpal kain. "Makan!" Pria dengan tubuh kekar dan wajah yang cukup menyeramkan itu menaruh piring plastik dengan kasar ke lantai tepat di depan Reina hingga membuat isinya hampir keluar. Reina menatap nyalang karena tak terima diperlakukan seperti itu. Bukan yang pertama kalinya dia berada di tempat ini, sebelumnya wanita itu sudah melarikan diri dan menyetujui permintaan seseorang yang membuatnya seperti ini. Namun, karena tak mempercayai entah bagaimana caranya, Reina kembali diculik dan diperlakukan tak baik. Dia sudah tak ingin berhubungan apapun lagi dengan orang tersebut, tapi ketakutan yang mendominasinya membuat Reina benar-benar menderita sekarang. "Kalau tidak mau biar aku kasih ke kucing liar, mereka juga butuh makan sepertinya." Pria itu tersenyum beringas penuh olokan. Dia menatap Reina yang semakin menyalangkan matanya. "Ah, aku lupa belum membuka kain itu," decak pria itu seraya membuang puntung rokoknya. Dia berjongkok, kemudian menarik rambut Reina yang sudah berantakan supaya pemiliknya lebih menengadahkan kepalanya. Reina diam, air matanya sudah habis untuk diperlihatkan. Satu yang dia khawatirkan sekarang, ibunya. Dia tak memiliki siapapun selain ibu, Reina tak yakin bahwa toko kue milik ibunya juga akan baik-baik saja. Sudah cukup egois dia sejauh ini hanya mementingkan perasaannya sendiri, tanpa tau akibat yang dirasakannya sekarang akan berdampak pada orang-orang terdekatnya, terutama ibu. "Makan! Atau kamu mau mati dan—" "Berhenti membicarakan apapun. Tak penting lagi," sarkas wanita itu, dia meraih piring yang diberikan dengan kasar oleh pria di depannya sekarang. Terdengar suara tawa begitu nyaring memenuhi pendengaran Reina. Entah sampai kapan dia akan tetap tinggal di tempat mengerikan ini, yang pasti dia ingin kembali dan saling memeluk ibunya. Pria itu pergi, namun tak jauh. Dia hanya membiarkan Reina makan tanpa ingin melihatnya. Sementara Reina yang semakin muak dengan kesehariannya yang berantakan seperti ini kembali menangis. Dia benar-benar merindukan ibunya sekarang. "Kapan aku dibebaskan! Lagipula aku tak akan mengganggunya lagi," lirih Reina ketika melihat pria suruhan seseorang itu mendekat dan mengambil piringnya mengganti dengan menaruh segelas air putih. Dia menatap Reina nanar seraya berjongkok. Mata Reina yang sejak tadi menyorotnya berharap pria itu takut justru semakin mendekat dan tersenyum sinis seraya mengelus pipi Reina lembut. "Jika kamu mau menurut denganku, mungkin kamu akan lebih cepat terbebas," bisiknya tepat pada telinga Reina yang membuat pemiliknya merinding. Reina yang reflek langsung menendang dengan keras hingga membuat pria itu terjengkang. Namun, sama sekali tak ada perlawanan dan dia semakin tertawa melihat Reina yang mulai ketakutan. Wajah lusuh dan kotor milik Reina sama sekali tak menutupi kecantikannya yang membuat pria itu mendekat dan mendaratkan pukulan keras yang dia hantam pada bagian kepala wanita di depannya itu. "Nikmatilah hidupmu di sini!" Reina kesakitan hingga melengos, hantaman yang diberikan sangat keras. Tak lupa, pria itu kembali melilit kaki Reina dengan tali hingga membuat wanita itu berteriak kesakitan ketika dengan sengaja dia memberatkan talinya. Ada senyuman puas yang dipancarkan. Reina melihat pria itu mulai pergi dan hanya dirinya sebatang kara yang tersiksa sekarang. Rasanya untuk hidup saja dia enggan, ingin sekali memejamkan matanya abadi. Namun, untuk bunuh diri saja dia bisa. "Bisakah bunuh aku?" lirih Reina seraya tertawa, pandangannya mulai kabur. Tapi, dia melihat sosok wanita cantik dengan gaya elegan yang terlihat mewah. Setelahnya semua gelap dan dia memejamkan matanya. *** Natya yang sedang sibuk dengan pemotretannya di perusahaan sedikit terkejut ketika menyadari kedatangan Lina yang melambaikan tangannya di ruang istirahat yang tak jauh dari pandangannya. "Tante, sudah lama?" sapanya kemudian ikut duduk disebelah Lina. "Tidak. Tante baru saja sampai. Ngomong-ngomong mama kamu kemana, sayang? Tante sudah coba berulang kali menghubungi tapi tidak ada respon." Lina mulai berbasa-basi sebelum mengatakan tujuannya datang hingga menemui wanita itu ke tempat kerjanya. "Ah, pasti mama sedang bersama temannya yang lain. Tante mau minum apa? Biar aku suruh asisten aku belikan di depan." Natya berusaha bersikap sopan, berulang kali dia menunjukkan senyumannya supaya lebih terlihat ramah. "Tidak usah repot-repot, sayang. Tante juga setelah ini masih ada urusan." "Ah, iya." "Bagaimana semalam kalian saling berkirim pesan?" tanya Lina pada akhirnya. Entah kenapa dia sangat penasaran mengenai kedekatan awal putranya dengan wanita yang ditemuinya sekarang itu. "Bian mengatakannya pada Tante?" tukas Natya tak percaya. Dia hanya berpikir apakah ada pria yang sedekat itu dengan ibunya hingga membicarakan soal pesan sekalipun. Bahkan, dia sama sekali tidak menceritakan itu pada mamanya sendiri. "Tentu saja. Dia sangat dekat dengan Tante. Ah, dia mengatakan ketiduran semalam. Jadi, dia tak membalas lagi." Lina menepuk pundak Natya seraya tersenyum, sesungguhnya dia yang berperan dalam hubungan ini, bukan Bian. "Ah, begitu. Pantas saja," lirih Natya. "Kamu kapan punya waktu luang? Tante akan mengatur pertemuan kalian." "Aku harus bertanya mengenai jadwal pada asistenku terlebih dahulu. Bagaimana, kalau nanti aku menghubungi Bian saja?" tawar Natya. Dia tampak berpikir kenapa mama Bian terlalu ikut campur. Sejujurnya, dia tak suka dengan itu, tapi dia mencoba mengikuti permainan wanita itu saja. "Ah, baiklah. Tante harus segera pergi," pekik Lina. Entah menyetujui atau tidak, dia sama sekali tak menunjukkan wajah cemasnya. Dia juga lebih banyak tersenyum, jadi Natya menganggapnya biasa saja. "Lina, kamu sudah lama?" Tiba-tiba Resi muncul dan berjalan mendekat ke arah Natya dan Lina yang masih berada di ruang tunggu. "Resi, kamu aku hubungi ngga ngerespon, ya." Lina sengaja menunjukkan wajah sebalnya, namun beberapa detik kemudian dia tertawa ringan. "Mungkin aku sedang di jalan. Tadi aku ada pertemuan dengan teman lain. Maklum lah wanita sosialita, kalau mau, kamu gabung aja sama kita," ajak Resi pada calon besannya tersebut. "Aku sedang buru-buru, Res. Nanti kita calling aja, ya." Lina meraih tasnya yang ada di sofa kemudian melambaikan tangannya pada Resi dan Natya yang juga masih ada di ruangan yang sama. "Tante pergi dulu ya, Natya." Natya hanya meresponnya dengan anggukan. Setelah bayangan Lina menghilang, Natya menatap mamanya dalam diam, begitupun sebaliknya yang dilakukan Resi. "Kenapa, sayang?" tanya Resi pada akhirnya setelah mengamati ekspresi Natya yang seakan ingin mengatakan sesuatu padanya. "Aku mencurigai sesuatu, Ma." *** Bersambung ✍️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN