4. Pergi Dari Kota Ini!

1072 Kata
Pandangan Reina yang memburam membuat dia tak melihat dengan jelas siapa wanita yang berdiri di depannya sekarang. Yang pasti, tampilannya elegan dan bisa dipastikan orang kaya. Satu lagi, wanita itu ada hubungannya dengan Bian. "Kamu mendengarku tidak!" Reina mengangkat wajahnya yang terasa begitu berat. Dia mencoba memfokuskan pandangan pada wanita itu tapi penglihatannya benar-benar terganggu dan sama sekali tak bisa menerawang dengan jelas. "Katakan saja dan lakukan semaumu," lirih Reina kembali terdengar lemah seraya memalingkan wajahnya. Senyuman yang merekah dari tepi bibir wanita tersebut membuatnya berjongkok untuk memposisikan dirinya di depan Reina yang sedang terkulai lemas bersandar pada sebuah tembok kumuh yang menjadi tempat tinggalnya akhir-akhir ini. "Jauhi Bian. Aku sering mengatakan itu sebelumnya, tapi kamu selalu melanggar dan tidak takut dengan ancaman yang kubuat. And see, tau sendiri apa yang aku lakuin?" Dia tertawa keras namun sama sekali tak membuat Reina ingin membuka matanya atau malah membalas ucapannya. "Jawab, bodoh!" pekiknya dengan nada yang ditekan seraya menampar Reina supaya membuka matanya dan melihat dirinya sekarang. "Lepaskan aku," lirih Reina yang seakan sudah tidak tahan lagi. Air matanya mengalir tanpa suara. Hatinya masih sama, sejak beberapa hari yang lalu mengharapkan Bian akan datang dan menyelamatkan dirinya. Tapi, sepertinya itu nihil. Sampai sekarang merasakan berada di titik terendah, Bian seolah tidak tahu. Haruskah dia benar-benar pergi dan menghilang saja? Melihat Reina yang tak berdaya dengan buliran kristal yang terus membasahi wajahnya, wanita itu kembali berdiri dan mengisyaratkan pada dua bodyguard yang menjaga Reina untuk mendekat. "Lepasin dia," pintanya seraya terus menatap ke arah Reina untuk melihat penderitaan yang dibuatnya sendiri. Kedua bodyguard tersebut melepaskan ikatan yang terkait pada kedua tangan Reina kemudian kembali berdiri dan membiarkan Reina terbebas dari penyiksaan yang dibuat wanita tak bernurani tersebut. "Biarkan aku pergi dan jangan mengusikku lagi." Reina bersuara lirih yang terdengar menyakitkan. Dengan mengatakan itu maka dia mantap akan menghilang dan benar-benar melupakan Bian semampunya. Tak hanya memikirkan soal Bian, Reina juga sedang mengkhawatirkan keberadaan ibunya. Hampir dua minggu dia disekap di tempat kumuh ini tanpa tau kabar ibunya bagaimana. Dia tak yakin ibunya aman sementara dirinya berada ditangan wanita jahat tersebut. "Katakan kamu tidak akan pernah mengganggu Bian lagi. Kamu akan menjauhi dia sampai kapanpun!" tegas wanita itu seolah tak menerima penolakan apapun dari Reina yang terlihat masih tak rela. Dengan terpaksa dan bukan keinginannya, Reina menganggukkan kepalanya perlahan. Sejujurnya, Reina sedang melawan rasa sakitnya karena ini adalah keputusan terberat setelah dia menentang permintaan itu berulangkali. "Apa yang harus aku lakuin kalau kamu melanggar janji ini?" tanyanya santai. "Terserah saja. Aku sudah tak peduli." Mulut Reina memang sudah tak memiliki pilihan lain. "Bagus. Karena dia akan segera menikah juga kurasa kamu benar-benar akan melakukan permintaan itu. Ambil dan pergi sejauh-jauhnya." Beberapa lembaran uang yang sudah disiapkan di dalam amplop dia berikan dengan cuma-cuma pada Reina untuk melindungi hubungan Bian kedepannya. Reina menatap amplop berwarna coklat s**u itu lamat-lamat. Dia menolaknya dan mengalihkan pandangan ke sembarang tempat. "Aku tak butuh." "Yakin? Setelah Toko Roti ibumu hancur? Kurasa kamu juga perlu beberapa uang untuk hidup di kota lain." Tawa licik wanita tersebut terdengar meremehkan. Reina mengerutkan keningnya mendengar bahwa usaha ibunya juga terancam. Dengan kata lain, ibunya mungkin saja juga diperlakukan tak baik. "Kamu juga menyakiti ibuku? Kamu tidak puas dengan apa yang sudah kamu lakukan padaku!" Tak tahan lagi, Reina kini meninggikan suaranya karena bersangkutan dengan satu-satunya keluarga yang dia punya, ibu. "Jika boleh jujur, tidak. Aku belum puas. Tapi, kalau kamu mau benar-benar meninggalkan Bian, aku juga akan diam. Bukankah ini salahmu sendiri? Kamu yang menantang aku melakukan ini, bukan?" desis wanita itu tepat ditelinga Reina seolah sedang berbisik. "Dimana ibuku!" Dengan wajah geram dan penuh amarah, Reina menatap tajam wanita itu. "Entah," ucapnya tanpa beban. "Aku hanya menyuruhnya pergi dari rumah jelek itu setelah menghancurkan Toko Rotinya." Sekali lagi dia tertawa yang membuat Reina semakin jengah. "Kamu!" decak Reina yang langsung mendorong tubuh wanita tersebut dengan keras hingga membentur ke tembok. Dua pengawal yang masih berada di sana langsung mencengkram pergelangan Reina. Yang terbentur ke tembok malah semakin tertawa puas. Melihat bagaimana ekspresi Reina seakan membuatnya senang karena berhasil membuatnya menderita. "Pergi dari kota ini. Dua orang ini yang akan mengawalmu untuk pergi dan memastikan kamu benar-benar sudah pergi dari kota ini." Setelah membenarkan pakaiannya, dia kembali menatap Reina dan mendekat untuk menunjukkan kepuasannya karena sudah berhasil menghancurkan kehidupan kekasih Bian tersebut. "Antar dia pulang. Jangan lupa, kalian masih punya tugas mengawasi dia sampai dia benar-benar meninggalkan kota ini. Kalian paham! Uang ini, kasih saja ke dia setelah sampai. Kurasa orang miskin akan membutuhkannya." Lagi, dia menertawai Reina tanpa sungkan dan langsung melenggang pergi meninggalkannya. "Baik, Nyonya." Kedua pengawal itu membawa Reina keluar dari tempat kumuh tersebut. Mereka menarik dan memaksanya untuk segera masuk ke dalam mobil. Dengan tatanan rambut yang berantakan dan baju yang sudah berbau tak sedap, Reina menangis. Dia sangat merindukan ibunya yang entah dia harus mencari kemana setelah ini. Sesampainya di depan rumahnya dia memaku. Kedua pengawal tersebut kembali menarik pergelangannya dengan paksa, menyuruhnya untuk segera keluar. Suasana gelap yang sedang berlangsung pukul tiga pagi tersebut membuat kedua pengawal itu lebih leluasa untuk menyakitinya. "Masih mau uang ini? Jika tidak, untuk kami saja." Mereka tertawa terbahak-bahak, namun dengan cepat Reina mengambil uang itu dari tangan salah satu pengawal. "Ternyata kamu munafik juga." Tak peduli apa yang mereka katakan, kini Reina berjalan memasuki halaman kecil rumahnya. Kakinya bergetar dan dadanya sesak. Rumah itu seperti tak berpenghuni lagi, ditambah pandangannya beralih Toko Roti yang sudah hancur berantakan. Di dalam rumah itu, rumah tempatnya mengadu segala hal dan berbagi bersama ibunya benar-benar sepi tak berpenghuni. Kaki Reina mendadak keluh dan dia terduduk seraya menunduk serta menangis tanpa bisa berhenti. "Ibu dimana," lirihnya. Sementara dua pengawal yang masih memantaunya itu sedikit menjauh, namun masih bisa menjangkau apa yang dilakukan Reina selanjutnya. Setelah memastikan semua ruangan di rumahnya benar-benar kosong Reina kembali keluar dan mencari tetangga yang mungkin bisa ditanya mengenai keberadaan ibunya. Tapi, Reina tak menemukan siapapun karena terlalu pagi. Akhirnya dia terduduk di pinggir jalan seraya memeluk kakinya yang ditekuk dan wajah yang dia gelamkan di antara kedua kakinya. Entah sudah berapa jam rasanya tetap menyakitkan jika dia tak bisa menemukan ibunya untuk apa bertahan? "Reina? Kamu sudah kembali?" Sontak suara itu langsung membuat Reina mengangkat wajahnya. Dia menatap Bibi Yeni yang merupakan tetangganya disekitar rumahnya tersebut. "Bibi, dimana ibu saya?" Wajah Reina cemas penuh harap. Bahkan dia masih terus menangis dan tak bisa menghentikannya sebelum benar-benar melihat bahwa ibunya baik-baik saja. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN