5. Tetap Harus Pergi

1030 Kata
Secangkir teh hangat menemani Reina yang sedang termenung dengan tatapan kosong. Mengingat kejadian buruk beberapa hari terakhir ini dia cukup dibuat depresi. Kenyataan bahwa dia harus benar-benar pergi dan melupakan Bian selamanya akan dia lakukan. Bukan, bukan karena dia tidak menyukainya lagi. Namun, hidupnya lebih berharga dibandingkan menentang takdir ini berulang kali. "Kamu benar tidak apa-apa, Rein?" tanya Tiya. Reina hanya bisa menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan sendunya. Perlahan dia mulai menangis, entah rasanya sakit dan berat untuk menghadapi hari-hari berikutnya. Selain usaha ibunya yang sudah hancur, mereka juga harus meninggalkan kota ini. Tak hanya itu, Reina harus memaksa hatinya untuk lupa ketika rasa yang dia miliki masih melekat dengan sangat baik. "Maafkan, Reina." Tangis wanita itu langsung pecah. Dia memeluk Tiya erat karena tak punya siapa-siapa lagi. Dadanya seakan sesak untuk menerima kenyataan ini dan ancaman yang menurutnya berlebihan tersebut hingga menghancurkan seluruh hidupnya. "Sudah. Tidak ada yang perlu disesali, kita pergi saja dari kota ini. Untuk kebaikan kamu, ibu tau ini sulit. Tapi, percayalah perlahan kamu bisa melakukannya. Anak ibu kuat, kan?" Tiya menatap Reina yang semakin menenggelamkan kepalanya pada d**a ibunya. "Kuat tidak kuat harus kuat, kan?" lirih Reina dengan nada bergetar. Sekali lagi dadanya sesak hanya untuk sekedar mengatakan hal itu. "Ibu tidak ingin anak ibu menderita hanya karena satu pria. Yakin, diluar sana masih ada banyak orang yang sayang sama kamu." Tangannya lembutnya mengelus pucuk kepala Reina lembut, bagaimanapun juga Reina butuh semangat untuk terus melanjutkan hidupnya tanpa seseorang yang mungkin menjadi bagian dari masa depannya tersebut. Reina menganggukkan kepalanya paham. Realita memang kejam, tapi dia juga tak bisa terus memaksa untuk terus mendapatkan ancaman seperti ini selamanya. Pada akhirnya dia menyerah dan tetap ingin hidup dengan tenang meskipun harus melepaskan apa yang sudah dimiliki sejak lama. "Kalian benar-benar akan meninggalkan kota ini?" Bibi Yeni yang merupakan tetangga mereka dan wanita paruh baya yang ditemui Reina pagi itu untuk menanyakan keberadaan ibunya merasa ibah. Reina dan Tiya dikenal cukup baik di desa mereka dan tidak semua orang tahu mengenai kejadian ini. Hanya Yeni yang tahu karena dia yang melihat Tiya menangis ketika tokonya dihancurkan. Sementara orang lain hanya tahu bahwa mereka sedang kemalingan. "Bagaimana lagi, Yeni. Aku dan Reina juga tak mungkin terus seperti ini. Reina masih punya masa depan dan harus bahagia nantinya." Harapan seorang ibu tak akan membiarkan anaknya terus menderita meskipun harus merasakan sakit hati tapi yakin bahwa akan terbiasa lupa nantinya. "Aku paham, Tiya. Tapi, kemana kalian akan pergi?" tanyanya lirih tak tega. "Entah. Mungkin akan ke tempat saudara terlebih dahulu dan kita mencari tempat tinggal nanti." Tak pernah terbayangkan mereka akan mengalami nasib buruk seperti ini. Untuk itu, mereka tak pernah menyiapkan apapun dan tak tahu harus bagaimana nantinya. "Reina, kamu yang sabar, ya. Bibi tidak bisa membantu banyak hal. Tapi, Bibi akan mendoakan supaya kalian nyaman dan berhasil ditempat baru." "Amin. Terima kasih, Bibi." "Jika ada yang mencari mengenai keberadaan kami, tolong rahasiakan dan katakan saja kamu tidak tahu. Paham kan maksud aku, Yen?" pinta Tiya. Dia tak ingin diganggu lagi dan benar-benar ingin memulai kehidupan baru di tempat yang baru pula. "Baik, aku cukup paham. Semoga kalian bahagia," jawab Yeni seraya tersenyum guna menyemangati Reina dan ibunya yang begitu tertekan. *** Hari itu juga Reina dan ibunya pergi meninggalkan tempat tersebut. Ketika mereka hendak menunggu angkutan umum, dua pengawal yang kemarin mengantar Reina kembali muncul. Bukan tanpa sebab, mereka memang ditugaskan untuk mengantar Reina ke tempat tujuannya yang dipastikan sudah berada diluar kota. Reina juga tak bisa menolak, sekali ancaman yang dibuat dua pengawal itu membungkam mulutnya dan seolah membuatnya seperti orang bodoh yang menyetujui apapun yang dikatakan dua pengawal tersebut. Hening, sepanjang perjalanan Reina maupun Tiya tak membuka suaranya sama sekali. Dia terus menatap jalanan yang dilaluinya penuh kenangan. Mungkin dia juga tak akan pernah kembali lagi dengan segala kenangan yang ditinggalkannya dengan sengaja. Hampir memakan waktu lima jam mereka sampai ke tempat tujuannya. Dua pengawal itu juga langsung pergi setelah memastikan Reina dan Tiya masuk ke dalam rumah yang masih asing di sana. Rasa lelah yang menjalar keseluruh tubuh dan pikirannya yang cukup kacau membuat langkah Reina terhenti ketika hendak melangkah ke dalam rumah tersebut. Saudaranya yang menyambut dengan hangat langsung menyuruh mereka untuk beristirahat. Namun, tak terduga bahwa Reina langsung tersungkur ke lantai tanpa aba-aba. "Rein!!" pekik Tiya panik ketika mendapati putrinya itu jatuh pingsan dan terkulai tak berdaya di lantai. "Papa, angkat Reina ke kamar tamu!" teriak Naya, saudara ibu Reina yang masih memiliki ikatan sepupu. Suami Naya yang datang langsung membohong Reina dan membawanya ke kamar tamu. Setelah selesai dia langsung ke luar, sementara Naya dan Tiya yang berada di kamar itu tampak panik untuk mengecek suhu dan keadaan Reina yang lain. "Apa yang terjadi, Tiya?" tanya Naya penasaran. Pasalnya Tiya hanya mengatakan bahwa usahanya bangkrut dan menumpang tempat sementara pada dirinya. "Dia disekap hampir dua minggu ini, sehari yang lalu dia kembali dan diminta untuk meninggalkan kota kami. Kita tidak punya pilihan lain, jadi izinkan kami tinggal sementara di sini." Terpaksa Tiya harus mengatakan itu. Dia tak ingin salah paham sebelum Naya mendengarnya sendiri entah dari mana yang pasti akan melukainya jika dia tak memberitahu terlebih dahulu. "Disekap? Dia melakukan kesalahan besar apa?" Naya semakin membulatkan matanya tak percaya. Pandangannya beralih menatap Reina yang masih tak sadarkan diri. "Biarkan Reina yang menceritakannya sendiri. Aku tidak sanggup," desis Tiya seraya menundukkan kepalanya. Selang beberapa detik saja dia meneteskan air matanya yang sudah tak bisa ditahan lagi. Naya menghembuskan nafasnya berat. Meskipun dia sangat ingin tahu, namun harus tetap mengerti keadaan Tiya yang memilih supaya Reina saja yang menjelaskan. Karena bagaimanapun juga ini juga masalah pribadi Reina. "Kamu istirahat saja dulu di kamar. Biar aku siapkan makanan untuk kalian berdua. Nanti aku panggil dokter untuk memeriksa keadaan Reina, sepertinya dia juga demam." Naya menepuk-nepuk pundak Tiya menguatkan. "Terima kasih banyak, Naya." *** "Sudah kalian pastikan Reina dan ibunya benar-benar meninggalkan kota ini?" Suara itu terdengar sangat licik dan tegas. Sementara seseorang di seberang sana yang menerima telepon tersebut menjawabnya dengan tegas dan jelas. "Saya pastikan dia sudah benar-benar pergi, Nyonya! Kami akan tetap memantau selama tiga bulan sesuai permintaan Nyonya. Sekali lagi, kami pastikan dia tak akan pernah kembali lagi." *** Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN