Setelah membuka pagar sebuah rumah dengan banyak pilar dan lorong–mirip bangunan PUSKESMAS, El memasuki pekarangan nan asri. Mulanya, Bas hanya berdiri gamang di depan pagar, tangannya menyentuh pagar kayu itu, tapi tidak jugfa mendorongnya. Barulah ketika seorang anak balita berhambur menghampiri El, Bas memutuskan untuk masuk. Itu anaknya? Sudah sebesar itu? Ternyata, bukan cuma satu anak, melainkan: banyak. Dari yang jalannya tertatih satu-dua hingga yang bisa berlari kencang, laki dan perempuan–semuanya berlari memeluk sampai El kewalahan. Entah karena alasan apa, diam-diam, Bas lega. Anak itu bukan anaknya El. Tapi, rumah apa ini? Panti asuhan? “Bas?” Di sela-sela kewalahannya menghadapi anak yang kecil-kecil itu, El menengok pada Bas lalu kepalanya bergerak, memberi isyarat agar

