“El, bisa buka pintunya sebentar? Gue mau ngomong.” Bas mengetuk pintu kamar El, meminta waktunya untuk bicara empat mata. Bukannya ingin menyatakan perasaan, Bas cuma ingin El berjanji tidak akan menyakiti diri sendiri. Di dalam kamar, El baru selesai berganti pakaian, sementara di luar, Bas masih basah kuyup dan tak mementingkan dirinya dibanding apa pun juga siapa pun, kecuali El. “Kenapa?” tanya wanita itu, seraya berjalan mendekati pintu, tanpa bermaksud membukanya, cuma ingin mendengar apa yang akan Baskara katakan. “Buka dulu,” pinta Bas, dengan suara serak gejala flu. Berenang di laut lepas panas-panas begini sama seklai bukan ide bagus. “Aku pengen lihat kamu.” El tertegun karena cara Bas memanggilnya yang berbeda. Terdengar lembut dan menenangkan, seperti seorang pria kepada

