El berlarian, melongok dari satu tenda ke tenda lainnya, juga matanya menyapu ke segala arah. Tenda-tenda darurat dipasang di pasar ikan, tapi, banyak juga penduduk Nyiur Sunyi yang telantar di luar tenda dan raungan meledak di mana-mana. “Bu? Mbak?” panggilnya, begitu terus, tapi tak ada sahutan. Ketika akhirnya matanya melihat Sara, langsung saja El teriak, “MBAK! MBAK SARA!” Sara menengok. Marwah di sampingnya. Mereka sama-sama berlari, lalu berpelukan dan menangis. El merengkuh wajah kedua perempuan itu, bergantian memeriksa dari ujung kuku hingga ujung rambut. “Mbak gapapa. Ibu juga gapapa, cuma lututnya tergores sedikit waktu lari. Dari fisik kita baik-baik aja, El. Tapi, kita benar-benar nggak nyangka, Gino–” El melihat sekeliling. Orang-orang yang dia temui sehari-hari, tampak
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


