Kening Nana mengkerut. “Apa maksudmu? Kau pikir aku wanita macam apa?” Sebuah tawa kecil lolos dari bibir Frans. Ia mengusap air matanya dengan jari jempolnya. Hal itu membuat Nana merasa cemas. Tentu saja ia takut menjadi korban manipulasi Frans lagi, sama seperti dahulu. “Itu benar. Aku bertanya karena aku tahu kau wanita macam apa. Jika Lucy adalah darah dagingmu, bukankah itu artinya ia adalah darah dagingku juga?” Tanya Frans. Rahang Nana mengetat. Ia menatap Frans dengan kedua mata membesar. Kedua tangannya mengepal. “Bagaimanapun, akulah yang melahirkan dan membesarkan Lucy. Jika kau tidak pernah datang ke sini, kau tidak akan pernah tahu bahwa ada seorang anak yang memiliki darahmu.” “Sekeras apa pun kau menyangkal, kau tidak bisa menghapuskan fakta bahwa Lucy adalah darah dagi

