Pintu rumah Nana yang sebelumnya terkunci, sudah terbuka. Nana baru saja menjemput Lucy kembali sekaligus memberikan pesanan terakhir pesta pernikahan kepada Mas Marwan yang kembali datang dengan motornya. Setelah menutup warteg, Nana dan Frans duduk di ruang tengah rumah bersama Lucy, putri mereka. Sejak tadi, Frans dan Nana tidak saling bicara, meski Frans sempat beberapa kali mencoba membuka percakapan yang berakhir gagal. Kini, suasana di antara mereka menjadi canggung, terutama bagi Nana yang terlihat tegang. Bagaimanapun, sebagai orangtua yang selama ini merawat Lucy, ialah yang harus menjelaskan dan memperkenalkan Frans sebagai ayah gadis kecil itu. “Mama, apakah mama sudah berikan Om Frans perkedel?” Tanya Lucy. Nana tersenyum tipis dan menggeleng pelan. “Maaf, sayang, tapi ha

