Kening Nana mengkerut. Ia menatap Frans tajam seraya menggeleng pelan. “Kau mungkin masih suamiku di mata hukum. Namun kau tidak berhak sembarangan menilaiku seperti itu.” Frans menarik napas dalam dan menghembuskannya panjang. Lalu ia mengangguk pelan. “Baiklah jika kau memang tidak berpikir begitu. Namun kenapa kau mengatakan hal itu padanya?” “Mengatakan penyebab aku pergi darimu? Kau pikir aku memiliki alasan logis lain yang bisa aku gunakan untuk menejalaskan kepada orang-orang mengapa aku berkeliaran seorang diri dalam keadaan hamil? Apakah aku harus memperburuk namaku dengan mengarang cerita lain - mengatakan aku tidak mengetahui ayah dari bayiku?” Pertanyaan Nana membuat Frans terdiam dengan sensasi tertusuk di dalam dadanya. “Aku tidak bermaksud menambah bebanmu. Namun kenapa k

