Pelukan Bunda

1261 Kata

Masih dengan napas terengah dan jantung berdebar keras, Nana mencengkram leher kausnya. Rasa terbakar masih membara di dalam tubuhnya. Semua indranya masih terasa sangat sensitif karena sentuhan-sentuhan Frans barusan. Ia merasa nyaris gila dan merasa harus mengumpulkan kewarasannya yang tercerai berai. Bagaimana ia bisa berpikir itu semua adalah mimpi? Bagaimana mungkin ia melupakan bahwa Frans sejak semalam tidur di kamarnya? Apakah selalu kekurangan tidur selama enam tahun telah membuatnya menjadi mayat hanya karena alarmnya tidak berbunyi dan dekapan Frans terasa begitu nyaman? Masih tersenyum jahil, reaksi Nana dan rona merah padam pada wajahnya membuat Frans ingin melumat bibirnya lagi. Sayangnya, itu tidak mungkin ia lakukan sekarang. Dengan begitu, Frans melakukan hal lainnya, ya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN