Tiba-tiba ponsel Frans berdering. Itu adalah ponsel baru yang saat di jalan tadi, sudah ia jelaskan kepada Nana bahwa itu sengaja ia pesan khusus untuk menagani pekerjaannya sehingga ia bisa menggunakan ponselnya yang biasa hanya untuk urusan pribadi.
“Maaf, aku harus mengangkat ini,” Ucap Frans pada Nana.
Wanita itu mengangguk dan mengambil dua langkah untuk menjauhi Frans sebelum membuka dressnya dan berganti dengan pakaian rumah karena ia akan memasak nanti.
“Ya, Sofia?” Ucap Frans langsung begitu ia mengangkat panggilan tersebut.
“Oh, itu boleh. Tolong kerjakan semuanya dan kumpulkan di dalam satu folder. Kirimkan ke emailku hari ini. Aku akan memeriksa fisiknya besok. Oke.”
“Apakah itu yang bernama Sofia?” Tanya Nana ketika Frans sudah menutup telepon. Ia melangkah mendekatinya.
Frans mengangguk, “Ia sudah mulai bekerja sejak satu minggu yang lalu. Seingatku aku sudah mengatakannya padamu,” ia nampak berpikir karena ia mungkin saja lupa.
“Kau sudah mengatakannya,” Nana mengangguk, “Lalu, bagaimana kinerjanya? Apakah ia benar bisa menagani proyek-proyek itu?”
“Meski tidak sehebat ayahnya, aku akui ia cukup membantu. Kelebihannya, ia selalu cepat tanggap bahkan di luar jam kerja. Ia memiliki inisiatif yang tinggi.” Jelas Frans.
Kemudian Frans menarik tangan Nana lagi dan meletakkan pipinya di punggung tangan lembut itu, “Aku minta maaf, Na. Aku berjanji akan langsung memberhentikannya saat semua proyek itu sudah beres. Itu hanya membutuhkan tiga sampai empat bulan lagi,”
Nana tertawa kecil, “Apa yang kau bicarakan, Frans? Tentu saja itu tidak apa. Kau tahu sendiri aku bukan istri yang mudah cemburu. Aku mengerti bahwa itu penting untuk pekerjaanmu. Kau pun sedang sangat sibuk sekarang. Tidak mungkin aku membuatmu semakin kepusingan karena kecemburuan tidak masuk akal. Bahkan menurutku, kau tidak perlu memecatnya jika kinerjanya memang bagus.”
Frans menatap wajah Nana dengan mengulas senyum lembut, “Aku sangat beruntung bisa mendapatkan istri sepertimu. Terima kasih sudah mau menikahi pria yang tidak bisa menepati janji sepertiku,”
“Frans...” Nana menggeleng seraya mencubit pipi pria itu pelan. Kemudian ia memberikan kecupan singkat di bibirnya agar pria itu berhenti mengatakan hal yang tidak perlu.
Ya, secara teknis, Frans memang sudah melanggar janji yang dahulu ia buat untuk dirinya sendiri; bahwa ia tidak akan memiliki sekertaris perempuan agar bisa menjaga perasaan Nana. Sejak dulu, semua sekertaris perempuan Frans pasti akan berusaha menggodanya karena Frans adalah direktur playboy.
Namun, kini Frans bukan playboy yang akan tidur dengan banyak wanita lagi. Ia sudah memiliki Nana sebagai istrinya dan bersumpah akan setia untuk selamanya. Dan Nana selalu mempercayai itu. Nana percaya bahwa Frans tidak akan mengkhianatinya.
***
Frans menatap Nana dengan kedua tangan melipat di depan d**a. Ia menghela panjang, “Bagaimana kau bisa cepat sehat jika kurang beristirahat?”
“Aku tidak sakit, Frans. Jaga ucapanmu,” Sahut Nana sambil berbalik dari dapur untuk meletakkan sepiring nasi uduk di atas meja makan. “Bangun dan beraktivitas di pagi hari adalah kebiasaan yang sehat.”
“Ya... Kau selalu saja memiliki pembelaan, Nana.” Ucap Frans.
“Tapi itu adalah fakta, Frans. Dokter juga sudah berkata seperti itu. Yang penting aku tidak tidur terlalu larut,” Jawab Nana penuh sindiran.
Frans langsung melirik Nana dengan mata menyipit. “Jadi ini adalah salahku lagi? Baiklah...” Ia mengangguk-angguk.
“Meski begitu, aku tidak mengatakan bahwa jawabanmu salah, Na. Pembelaan yang aku maksud adalah ini...” Lanjut Frans dengan menunjuk sepiring perkedel yang berada paling dekat dengannya daripada masakan yang lain.
Nana langsung terkekeh, “Itu.. ada benarnya.”
Sarapan di rumah bersama sudah menjadi kebiasaan Frans dan Nana setelah mereka menikah. Itu adalah kebiasaan baru untuk mereka karena selama melajang, mereka selalu makan di luar dengan jam tidak teratur.
Sangat banyak perubahan yang terjadi dalam hidup Frans dan Nana. Frans yang tadinya tidak pernah menyukai masakan rumah, kini memiliki makanan favorit bernama perkedel. Nana yang tidak pernah memiliki kesempatan untuk menyalurkan hobi memasaknya, kini bisa setiap hari memasak karena ada seseorang yang selalu menanti masakannya.
“Hari ini aku akan mampir ke kantor yah, Frans. Aku memiliki janji dengan Kiky.” Jelas Nana sambil menyuap nasi uduknya.
“Oh.. Aku kira itu karena kau mau bertemu denganku,” Sahut Frans dengan nada merajuk.
Nana tertawa kecil, “Kita sudah bertemu setiap hari di rumah. Aku sudah jarang bertemu dengan Kiky. Ia berkata ia memiliki banyak pekerjaan.”
Setelah sarapan, Nana mengantar Frans ke depan teras untuk berangkat kerja. Sementara itu, para ART yang membereskan meja makan sesuai ketentuan yang sudah sangat lama Frans tetapkan. Meski itu membuat Nana merajuk selama satu minggu, Frans tetap tegas untuk melarang Nana mengerjakan pekerjaan rumah selain memasak. Ia tidak mengijinkan istrinya melakukan apa pun bahkan hanya sekedar membereskan meja makan.
Sebenarnya setelah mereka menikah, Nana sempat bekerja di perusahaan cabang milik Tora sebagai karyawan administasi. Frans mengalah pada Nana dan membiarkan wanita itu bekerja asalkan itu bukan pekerjaan berat dan tidak banyak menyita waktunya. Namun setelah Nana hamil, Frans meminta Nana berhenti bekerja dan Nana mau tidak mau menyetujuinya karena ia juga mengkhawatirkan kandungannya. Setelah kecelakaan yang terjadi pada Nana, kondisi kandungannya jadi melemah hingga membuatnya harus memendam keinginannya untuk kembali bekerja hingga hari ini.
***
Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah lobby gedung tinggi di pusat Kota Jakarta. Seorang security segera membukakan pintu penumpang mobil tersebut dari luar karena ia sudah mengenal jelas bahwa itu adalah istri dari direktur utama perusahaan tempatnya bekerja.
“Siang, Pak. Terima kasih,” Ucap Nana begitu turun dari mobil.
“Selamat siang, Bu. Sama-sama.” Jawab pria berseragam hitam itu. Ia melangkah kembali ke posnya di samping pintu kaca utama sambil terus memperhatikan sosok wanita anggun namun berwajah imut yang baru saja melangkah memasuki pintu gedung. Rasanya sulit dipercaya bahwa itu adalah wanita yang sama yang menyapanya dua tahun lalu namun dalam balutan seragam cleaning service. Dunia ini memang penuh dengan kejutan.
Nana menaiki lift dengan sebuah rantang makanan tingkat empat di tangannya. Setelah ia masuk ke dalam, ia memencet tombol lantai 48 yang merupakan lokasi ruangan suaminya berada.
Selagi lift yang Nana tumpangi beranjak naik, ia menghela panjang. Rasanya ia masih tidak terbiasa dengan lirikan mata sembunyi-sembunyi para karyawan yang ia lewati.
Kisah Frans, seorang pemilik perusahaan besar yang menikahi petugas kebersihan perusahaannya sendiri sudah menjadi bahan omongan yang seakan kekal selama bertahun-tahun. Itu masih saja hangat dan tatapan yang sama selalu Nana dapatkan setiap ia datang mengunjungi suaminya. Ia pun banyak mendapatkan senyuman-senyuman bersahabat yang ia ketahui memiliki cibiran di baliknya. Itulah yang membuat Nana tidak suka terlalu sering mengunjungi kantor Frans. Selain takut mengganggu pekerjaan Frans, ia juga merasa tidak nyaman dengan lingkungan yang harus ia lewati.
Lift berhenti dan pintunya terbuka. Nana melangkah menyusuri lorong kantor sepi itu dan tiba di depan sebuah pintu besar dengan dua daun pintu. Ia membuka pintu tersebut dan mengintip ke dalam sebelum melangkah masuk. Ia segera mendapatkan salam dari tiga sekertaris pria Frans yang mejanya terletak di dekat pintu masuk.
“Selamat siang, Bu,” Sapa salah satu sekertaris itu. Ia adalah Adrian, sekertaris Frans yang sudah bekerja cukup lama untuknya.
“Selamat siang. Apa Pak Earvin ada di dalam?” Tanya Nana.
Adrian mengangguk, “Pak Earvin ada di dalam. Silahkan masuk, Bu.”
Nana tersenyum lalu mengucapkan terima kasih. Namun sebelum ia benar-benar masuk ke dalam pintu ruangan Frans, ia sempat melirik pada satu meja kosong di antara keempat meja sekertaris. Karena ketiga meja sekertaris yang terisi itu diduduki oleh pria, maka Nana langsung mengetahui bahwa pemilik meja kosong itu adalah sekertaris perempuan Frans yang baru.
Tanpa mengetuk pintu, Nana langsung masuk ke dalam ruangan Frans. Bukannya Nana tidak sopan, namun, Frans sempat menegur Nana yang mengetuk pintu dahulu sebelum masuk ke ruangannya. Frans berkata bahwa Nana bersikap layaknya orang asing dan seakan-akan Frans merasa waspada pada istrinya sendiri.
Nana masuk ke dalam ruangan Frans dan melangkah melewati ruang tamu untuk menuju meja kerja Frans yang dibatasi oleh pembatas ruangan. Saat baru saja memasuki pintu, Nana sudah mendengar suara Frans yang sedang berbincang dengan perempuan yang kemungkinan adalah sekertarisnya.
“Jadikan itu di hari jumat. Aku akan membahas grafik ini dengan para investor. Tolong buat salinan sesuai dengan jumlah orang yang datang beserta sekertaris mereka.” Ucap Frans dengan menatap tab besar yang tengah ia pegang.
“Baik, Pak.” Jawab wanita yang berdiri di samping mejanya.
Kemudian Frans mengangguk dan menyerahkan tab tersebut kembali pada wanita itu. Namun matanya segera teralihkan pada sosok wanita yang tengah menenteng rantang sambil berdiri di samping pembatas ruangan.
“Nana,” Ucap Frans dengan senyum lebar.