Nana tersenyum tidak enak kemudian mendaratkan kecupannya di bibir Frans, “Tidak untuk hari ini, Frans. Berhentilah bersikap seperti anak kecil, oke?” ia tertawa kecil dengan menatap sepasang mata pria itu dengan sayang.
“Baiklah... Karena kau yang meminta, apa yang bisa aku lakukan?” Gumam Frans dengan tawa kecil sembari memberikan pelukan selamat pagi ‘normal’nya.
***
Setelah bersiap-siap, Frans dan Nana keluar dari kamar mereka. Nana mengenakan dress selutut berwarna biru langit dan Frans mengenakan kemeja berwarna senada.
“Ah, aku melupakan ponselku.” Tiba-tiba, Frans menghentikan langkahnya.
“Aku sudah membawanya,” Nana mengeluarkan ponsel Frans dari dalam tasnya.
Frans menggeleng, “Bukan yang itu. Aku membeli satu ponsel lagi.”
Kedua alis Nana terangkat, “Benarkah?”
“Aku akan menjelaskannya padamu nanti. Aku akan mengambilnya dahulu sekarang,” Ucap Frans dengan melesat kembali ke kamar mereka.
Masih dengan kening mengkerut, Nana memasukkan ponsel Frans kembali ke dalam tas pestanya. Jadi Frans membeli ponsel baru? Kelihatannya ponsel itu cukup penting hingga ia harus turut membawanya di hari libur. Kenapa Frans tidak memberitahukan itu pada Nana? Entahlah… Nana akan menunggu penjelasan Frans nanti.
Selagi menunggu Frans, Nana melangkah mendekati tangga dan entah mengapa perhatiannya tertarik pada pintu kamar yang terletak tepat menghadap tangga. Tanpa sadar, Nana sudah menghampiri pintu itu dan membukanya.
Sebuah pemandangan kamar bayi yang sangat rapih dan lucu menyapa Nana. Ayunan bayi, meja ganti popok, kursi menyusui, ranjang bayi, buku-buku, dan furnitur lainnya sangat serasi dengan dekorasi dinding dan lantai kamar tersebut yang didominasi oleh warna krem.
Itu adalah kamar bayi terindah yang bisa diimpikan oleh semua calon ibu. Sayangnya, kamar itu kosong tanpa penghuni. Yang lebih menyedihkan, tidak ada satu bayi pun yang sempat mengisinya.
Nana merasakan sentuhan pada kedua pundaknya. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui bahwa itu adalah Frans, suaminya.
“Na, kenapa kau masuk ke sini? Bukankah kita akan segera berangkat?” Tanya Frans pelan.
“Ini masih terasa aneh, Frans. Di bayanganku, ruangan ini tidak pernah kosong. Ini tidak seharusnya kosong dan dingin.” Ucap Nana bergetar.
“Maaf, Na... Aku benar-benar minta maaf.” Ucap Frans dengan mengecup pundak istrinya.
Nana menggeleng pelan, “Tidak, Frans. Itu bukan salahmu. Bukan juga salahku. Mungkin benar bahwa Tuhan belum mengijinkan kita merawat seorang anak. Aku hanya masih tidak menyangka bahwa dia diambil kembali terlalu cepat, bahkan ketika aku masih belum sempat memeluknya,”
“Sst.. Aku mengerti, Na. Namun semua sudah terjadi dan kita harus kuat melewatinya bersama. Kita masih memiliki banyak waktu. Pernikahan kita bahkan belum genap dua tahun. Aku sudah mengatakan bahwa anak hanyalah pelengkap pernikahan. Yang terpenting adalah kita berdua selalu saling mencintai dan tetap bersama, hm?” Ucap Frans sebelum memutar tubuh Nana agar menghadapnya.
“Jangan menangis, sayang. Kau tidak mau merusak riasanmu, ‘kan?” Frans merendahkan pundaknya untuk menyamai tinggi Nana dan mengusap titik air mata yang sudah menggenagi sudut mata indah itu. “Tersenyumlah...”
Meski Nana tidak sanggup tersenyum, ia hanya menggerakkan sudut bibirnya sekilas dan mengangguk pelan, “Maaf aku tiba-tiba seperti ini, Frans. Tidak seharusnya aku masuk ke sini.”
Frans menggeleng, “Aku tahu ini berat untukmu, Na. Kau melewati masa yang sangat sulit dan menyakitkan. Kesedihan yang aku rasakan tidak sebanding dengan semua yang harus kau lalui,”
“Satu tahun lagi. Kita tunggu satu tahun lagi. Jika anak itu belum datang juga, kita yang akan memaksanya datang ke sini.” Lanjut Frans dengan mengusap punggung istrinya.
Ucapan Frans membuat Nana tertawa kecil. Ia paham yang Frans maksud adalah program bayi tabung yang sudah mereka bicarakan beberapa bulan ini. Sama seperti Nana, Frans juga sangat menginginkan seorang anak. Namun berhubung pernikahan mereka masih berusia muda, mereka setuju untuk berusaha menghadirkan sang buah hati dengan cara natural sekaligus mempersiapkan rahim Nana yang sempat mengalami cedera.
Itu adalah kejadian hampir dua tahun yang lalu. Setelah dua bulan pernikahan mereka, Nana mendapati dirinya hamil. Saat itu, Frans dan Nana benar-benar diselimuti kebahagiaan hingga mereka mempersiapkan diri sematang-matangnya dengan berbagai ilmu soal ibu dan tumbuh kembang anak.
Selama kehamilan Nana, Frans mempersembahkan seluruh hidupnya untuk sang istri. Ia selalu mendampingi dan berusaha keras memberikan segalanya yang terbaik untuk Nana karena ia bermimpi untuk memiliki sebuah keluarga kecil miliknya sendiri.
Namun, sebuah tragedi terjadi ketika kehamilan Nana menginjak usia empat bulan. Malam itu, Nana terbangun dari tidurnya karena merasa kelaparan. Merasa kasihan pada Frans yang terlihat kelelahan setelah mengurus projek besar, Nana berpikir untuk mencari makan sendiri di dapur yang terletak di lantai bawah.
Ketika Frans terbangun mendapati Nana tidak ada di ranjang mereka, ia segera mencarinya. Namun, ia merasa jiwanya terlepas dari tubuhnya ketika ia mendapati Nana sudah terbaring tak sadarkan diri di persimpangan tangga dengan kepala terluka dan darah menggenang di lantai, tepatnya di antara kedua kakinya. Rupanya, Nana terjatuh karena keram kaki saat sedang menuruni tangga.
Itu adalah masa yang sangat kelam bagi pasangan itu, terutama Nana. Calon bayi mereka tidak dapat diselamatkan dan Nana harus menjalani prosedur kuretase yang sangat menyakitkan. Penderitaan Nana tidak sampai di sana. Setelah kecelakaan itu, rahimnya menjadi sangat lemah hingga ia terus mengalami keguguran. Dan kini, Nana berakhir kesulitan untuk kembali hamil meski sekeras apa pun mereka berusaha.
Frans merasa sangat bersalah atas apa yang telah dialami oleh Nana. Meski Nana selalu menepis hal itu, Frans diam-diam tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri yang gagal melindungi istrinya yang sedang mengandung buah hati mereka. Jika saja ia lebih becus sebagai suami, mungkin saat ini mereka sedang bermain bersama anak mereka yang lucu.
***
Itu adalah sebuah restoran bintang lima yang sudah dipesan secara khusus untuk sebuah pesta yang dihadiri oleh orang-orang penting.
Salah satu orang penting itu adalah Earvin Frans Bahradja, pemilik dari perusahaan telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara dan perusahaan perhotelan dan hiburan terbesar ke tiga di Asia dan Eropa. Miliuner muda tampan itu ditemani oleh istrinya yang bernama Nana.
“Maaf kami terlambat, Tora.” Ucap Nana langsung, begitu pria dengan lesung pipit menghampiri mereka.
Tora menggeleng, “Inti acaranya baru saja akan dimulai. Lagipula, seharusnya bukan kau yang meminta maaf, Nana. Rasanya aku mengetahui siapa yang membuat kalian terlambat datang,” ucapnya dengan menatap Frans yang wajahnya nampak agak merajuk.
“Jika bukan karena Andrew, aku masih berada di atas ranjang dan menikmati hari liburku sekarang. Setidaknya kau bisa berterima kasih,” Sahut Frans sinis.
Ini adalah pesta ulang tahun pertama anak Tora yang bernama Andrew. Kisah cinta Tora bersemi setelah Nana dan Frans menikah. Ia akhirnya jatuh cinta dan menikah dengan teman masa kecilnya yang bernama Calista dan dikaruniai seorang putra tampan.
Meski Frans dan Nana turut berbahagia atas bertambahnya usia putra dari sahabat mereka, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka merasa sedih karena tidak kunjung dikaruniai buah hati.
***
Mobil Limosin itu berhenti di depan sebuah rumah besar yang terletak di atas bukit buatan. Dari dalamnya, seorang pria berbalut kemeja biru turun. Ia merentangkan tangannya ke dalam pintu yang sama dan menarik seorang wanita keluar dari sana. Kemudian ia merangkul wanita itu untuk masuk ke dalam rumah.
“Kau yakin akan memasak? Apakah kau tidak lelah setelah acara itu?” Tanya Frans dengan mengekori Nana melangkah ke dalam walk-in-closet di kamar mereka.
Nana menggeleng dan tertawa kecil, “Itu hanya pesta ulangtahun bayi, Frans. Kita pun lebih sering duduk dan mengobrol. Apa yang melelahkan dari itu?”
“Ngomong-ngomong, Tora terlihat sangat mencintai Calista. Ia bahkan tidak bisa berpaling lebih dari lima menit dari wajah istrinya,” Gumam Frans seraya duduk di kursi panjang berlapis kulit yang terletak di tengah ruangan itu.
“Kau menyadarinya juga? Haha.. Aku pun melihatnya, Frans. Aku tidak pernah melihat Tora nampak jatuh cinta sampai seperti itu. Ia juga terlihat tidak berhenti tersenyum di sepanjang acara. Ia sangat bangga putranya sudah mencapai umur satu tahun. Dekorasi pestanya saja lebih mewah dari pesta pernikahan,” Ucap Nana dengan tawa kecil.
Namun tawa itu segera pudar, disusul oleh helaan napas berat, “Kira-kira kapan, yah, kita merayakan pesta ulangtahun anak kita? Sama seperti Tora, aku juga pasti akan merasa sangat senang.” Kemudian ia melirik Frans yang tengah menatapnya sendu, “Apakah kau akan menatapku seperti Tora menatap Calista ketika aku sudah memberikan anak untukmu?”
“Hei...” Keluh Frans dengan menarik tangan Nana untuk berdiri di hadapannya. “Kelihatannya aku kurang menatapmu selama ini, yah? Baiklah.. Aku tidak akan berpaling satu detik pun dari wajahmu,” ucapnya dengan memegangi kedua tangan mungil Nana yang menghilang di dalam genggamannya.
Nana tertawa kecil lalu menangkup kedua pipi suaminya, “Aku hanya bercanda, Frans. Maaf jika kau tersinggung.” Ia memberi kecupan singkat pada dahi pria itu, “Tapi, bukankah Andrew sangat lucu? Aku benar-benar tidak sabar memiliki bayi selucu itu juga.”
Frans menatap Nana sendu sebelum menarik pinggangnya untuk memeluknya. Ia menempelkan pipinya di perut Nana, “Aku juga sangat menginginkannya, Na. Aku akan membuat pesta ulangtahun berpuluh kali lipat lebih mewah dari yang tadi. Anak itu akan menjadi anak paling beruntung di dunia karena memiliki aku sebagai ayahnya. Kita harus bersemangat. Anak itu pasti akan segera hadir di sini,” ia mengecup perut Nana beberapa kali.