"Aku berangkat dulu ya Ma."
"Iya hati-hati nak, jangan bikin ulah ini terakhir kamu MOS." Jawabnya. Adya hanya terkekeh mengangguk dan mencium punggung tangan Mama Zara.
"Bawa mobilnya jangan ngebut ya Kak" ujar Papa Ammar.
Adya mengangguk. "Iya engga." Adya berjalan menghampirinya dan mencium tangannya.
"Udah ah Kakak jalan yaaa."
"Assalamualaikum!" Adya mendengar suara orangtuanya membalas salamnya. Lalu Ia berjalan dengan santai menuju mobil hitam miliknya.
"Hari terakhir hari terakhir." Gumamnya bersemangat, bagaimana tidak, Ia bersemangat karena akan terbebas dengan permainan konyol dan tidak masuk akalnya itu.
Hanya butuh waktu lima belas menit Adya sudah sampai di pekarangan sekolahnya, Ia memarkirkan mobilnya, merapikan pakaian dan keluar mobil.
Adya merasa berjalan dari parkiran hingga kelasnya seperti berjalan dari rumah sampai ke sekolah berjalan kaki. Sangat jauh, belum lagi mata-mata manusia-manusia disetiap lorong sekolahnya itu melihat dirinya dengan tatapan yang berbeda-beda.
"Assalamualaikum Adya ganteng datang!" teriaknya saat membuka pintu kelas.
"Berisik." ucap Dina si wakil ketua kelas.
"Ck, cabe jalan raya." Gumam Adya lalu berjalan ke tempat duduknya.
"Gaya ape lo heh pake kaca mata?" Tanya Adya dengan menepuk bahu Tara.
"Ah rese lo." gumamnya.
"Bintitan dia makanya pake kacamata." ucap Ucup menjawab pertanyaan Adya.
"Enggak anjir!" elaknya. Adya terkekeh dan mengambil kacamata yang di pakai Tara.
"Dya sini nggak!" Adya menggeleng lalu memakainya dan mengambil ponselnya dari saku celananya.
"Ganteng loh gue Tar" ucapnya. Tara hanya mendengus sebal mengabaikan ucapan lelaki yang berada di sampingnya.
"Adya!"
Adya menoleh ke asal suara, Ia memicingkan matanya mencoba mengingat siapa nama perempuan itu, padahal baru saja kemarin mereka berkenalan tetapi Adya sudah lupa.
"Apa?"
"Dina minta Id Line lo!"
"Sumpah engga!" ujar Dina mengelak.
Adya terkekeh. "Gue nggak ngerti mainnya, pake BBM doang." Jawabnya asal, mereka hanya terkekeh menggeleng seperti tidak percaya apa yang Adya ucapkan barusan.
Tiba-tiba pintu terbuka memperlihatkan dua orang berlawan jenis masuk ke dalam kelas. Dua orang mentor kelas Adya yang datang, Tiara dan Rey.
"Hai semuanya, ini hari terakhir kita. Have fun ya!" ucap Rey.
"Kalian semua udah bawa yang kita suruh kemarinkan?"
Mereka yang berada di kelas semua mengangguk. Para mentor menyuruh siswa baru untuk membawa coklat, bunga dan apapun yang romantis untuk diberikan kepada orang yang mereka sukai selama Masa Orientasi Siswa berlangsung. Adya hanya membawa satu coklat, dan Ia tidak tahu kepada siapa Ia akan berikan coklat itu.
"Oke sekarang kalian ganti baju olahraga dulu aja deh ya, ada games nanti di lapangan, hari ini kita seneng-seneng aja." ucap Tiara. Seisi kelas bersorak senang, mereka senang karena sedari kemarin mereka mendapatkan kegiatan yang sangat melelahkan.
"Adya?"
"Hah apa kak?"
"Mata lo minus?" tanya Tiara.
Adya menggeleng. "Kenapa emang?" tanyanya polos.
"Itu kacamata?"
Adya menyentuh matanya dan ternyata kacamata Tara masih Ia pakai. "Oh, ini punya Tara, gue gantengkan tapi?"
Tiara hanya terkekeh dan menggeleng, sedangkan teman-temannya berdecak mendengar ucapannya. Ih emang kenapa? Gue salah? Emang bener ganteng kan ya? Batin Adya.
"Udah sekarang ganti baju kalian, kita tunggu di lapangan" ujar lelaki yang berada di depan kelas, lalu Ia berjalan keluar dan di ikuti Tiara.
---
Para siswa yang mengikuti Masa Orientasi Siswa sudah berkumpul memenuhi lapangan mengikuti intruksi para mentornya masing-masing, membuat lingkaran untuk setiap kelas.
"Pinun gaya apa sih segala pake manset gitu" ujar lelaki yang melihat penampilan Adya saat ini.
"Cewe dia mah bukan cowo takut item." jawab Tara.
"Rewel deh lo pada gue nenenin diem nih." Ucap Adya malas.
"Najis." gumam beberapa orang yang mendengar perkataan Adya. Sedangkan Adya hanya tertawa melihat ekspresi wajah teman-temannya yang bergidik geli.
"Tes-tes, ayo semuanya untuk berkumpul dulu!” Ujar si ketua Osis yang memakai microphone.
Mereka semua berbaris dengan rapih di lapangan mengikuti intruksi, ditemani sinar matahari yang menyentuh langsung kekulit mereka.
Untung pake manset. Batin Adya.
"Kalian gue bagi perkelompok ya sekarang."
"Tenang. Cowo sama cowo dan cewe sama cewe, hanya aja beda kelas. Kita acak!" Adya hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Yah Nun, kita nggak bakalan sekelompok nih" ucap Tara.
Adya memandang Tara dengan wajah sedihnya. "Aku tetep setia sama kamu, kamu tenang aja ya."
"s***p lo." Ujar Tara yang mendorong wajahku ke belakang dan Ia mundur beberapa langkah menjauhi Adya.
Adya terbahak. "Tenun jangan jauhin aku dong." Adya melihat Tara yang bergidik takut mendengar perkataannya.
"Oke, untuk laki-laki. Nama panggilan yang berawalan dari T silahkan berpindah kearah utara ya!” Tara berjalan ke arah utara seraya melambaikan tangannya kearah Adya dan lelaki itu membalas lambaiannya dengan kecupan jauh.
"Nama panggilan P juga silahkan berpindah kearah selatan.” Adya mendengar intruksi tersebut dengan gagahnya berjalan ke arah selatan, paling games-games alay doang ini mah. batinnya
"Woy Pinun!" Adya merasa terpanggil, Ia menoleh keasal suara. Tara
"Selatan di sana d***o. Itu Barat!"
Adya tersadar, Ia terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Semua orang melihatnya dengan tersenyum jahil, wajahnya sedikit memerah karena malu dilihat orang banyak.
---
Kini Adya sudah mengganti seragamnya kembali seperti awal, hanya permainan-permainan kecil yang mereka lakukan di lapangan. Yang menurut Adya tidak ada manfaatnya. Jika permainan-permainan tersebut bisa mereka menangkan, hadiahnya adalah tanda tangan dari para Osis, Adya tidak mengincar hadiah itu karena Ia tidak menginginkan tanda tangan mereka.
Imah-Mentor kelas Adya datang ke kelasnya dengan membawa kantung plastik yang sudah dia gulung-gulung. "Oke kalian sekarang siapkan barang yang kemarin kita sudah suruh kalian untuk bawa ya, setelah itu kelapangan lagi sekarang!" ajaknya.
Oh dia membawa kantung plastik untung nanti jika ada yang memberikan dia sesuatu. Uh pede sekali.batin Adya.
"Dya lo mau kasih ke siapa?"
Adya menggeleng. "Gue kasih lo aja ya Tar, gue takut kalo kasih ke cewe dia baper sama gue."
"Ck, engga! Ogah ah. Kasih cewe yang cantik aja di sini, kan lumayan." jawabnya dengan menaik turunkan alisnya.
Adya menggeleng lagi. "Nggak mau, belom saatnya ah."
"Ahhh cemen lo! Bukan Adya tampan ini mah kalo takut sama cewe."
Adya hanya memutar bola matanya malas, Ia tidak perduli dengan ejekan temannya itu, karena Adya sudah membuat prinsip untuk hidupnya. Dia tidak mau membuat wanita manapun sakit hati karena ulahnya. Sekarang mereka sudah kembali berkumpul di lapangan. Dengan barisan setiap kelas.
“Sekarang untuk perempuan dulu ya! Kalian boleh kasih ke siapapun barang yang kalian pegang saat ini. Bebas. Dan yang merasa laki-laki silahkan diam ditempat jangan ada yang bergerak.” Para lelaki mengangguk mengerti. Termasuk Adya.
“Gue itung sampai tiga, kalian silahkan jalan ke tujuan kalian masing-masing.” Ujar laki-laki yang memegang microphone itu. Sedangkan para wanita mengangguk dengan wajahnya yang memerah karena malu.
Si ketua Osis sudah menyebutkan angka tiga, aku masih terdiam di barisanku tidak bergerak sama sekali.
Aku hitung sampai sepuluh juga pasti ada bunga ataupun coklat di hadapanku. Batin Adya
Satu.
Dua.
"Buat lo." wanita berbehel berbicara tersenyum malu dan sedikit menunduk kepada Adya seraya menyodorkan coklat ditangannya.
"Makasih." Jawab Adya dengan tersenyum dan mengambil coklat dari tangan wanita itu.
Tiga.
Empat.
Lima.
"Adya." lelaki itu menoleh keasal suara. Lima perempuan dihadapannya dengan membawa bunga juga coklat.
"Buat lo." ucap mereka bersamaan. Nahloh.
"Iya makasih ya." Jawab Adya dengan susah payah mengambil pemberian mereka semua.
Enam.
Tujuh.
Delapan.
Sembilan.
Sepuluh.
Adya tidak menyangka akan mendapatkan coklat, bunga juga surat cinta sebanyak ini, dengan susah payah Ia membawa barang dan makanan tersebut ke kelas, dengan bantuan Tara dan Ucup tentunya. Kalian mau tahu seberapa banyak yang Ia dapatkan dari perempuan-perempuan manis yang ada dihadapannya tadi itu?
Lima bucket berbagai macam bunga.
Sepuluh coklat berbagai merk.
Beberapa surat cinta yang beramplop lucu
Dan foto-foto wanita yang memberikan hadiah ini kepada Adya.
Dan kalian harus tahu, coklat yang Adya bawa dari rumah tidak Ia berikan kesiapapun, coklat itu dimakan oleh dirinya sendiri saat orang-orang sibuk berlari kesana-sini untuk memberikan hadiah mereka masing-masing ke orang yang mereka kagumi.
"Gila Dya lucky banget lo!" ucap Ucup.
Adya terkekeh. "Adya ganteng dan tampan." Jawabnya dengan sombong.
Ucap memutar bola matanya malas lalu mengambil satu coklat milik Adya "Buat gue ya? Gue nggak dapet nih."
Adya tertawa dan mengangguk. "Ambil aja gapapa. Makanya lo ganteng kaya gue dong." Yang dijawab desisan oleh Ucup.
"Heh becekan pasar ngapa lo jadi banyak banget dapetnya." ujar Tara.
"Kan gue bilang. Adya ganteng dan tampan."
"Gue juga ganteng tapi cuma dapet tiga coklat doang sama dua surat."
"Berarti ganteng lo belom maksimal kaya gue." Jawab Adya dengan terkekeh.
"Fix sih ini mah lo jadi most wanted tahun ini." ujarnya.
Adya menggeleng. "Guenya yang nggak mau" jawabnya.
"Terima aja sih lu mah ribet banget buaya albino." ucapnya dengan kesal dan menjitak kepala Adya. Sialan. batinnya
"Tar bantuin gue masukin mobil dulu ini semua ih!" Ujar Adya meminta banturan Tara.
Tara mengangguk dan membantunya membawa hadiah semua ini ke dalam mobil. Aku yakin, Mama akan berisik nanti jika aku sudah di rumah dan memberitahu ini semua.
Aku sangat yakin.
Mulut Mama kan bawel.
Apa lagi jika sudah membicarakan perempuan yang ada di sekolahku. Ucap Adya dalam hati.
*******
Hallo! Salam kenal dari author!
Aku harap kalian enjoy dengan cerita ini.
Selamat membaca dan jangan lupa klik love dan komen ya! :)