Teman Baru

1558 Kata
-Adya POV- Aku sedang bersama Tara saat ini di kantin sekolah, bukan karena sekarang jam istirahat, tapi kamilah yang berlari lebih dulu ke kantin sebelum bel istirahat berbunyi. Tapi tenang aku pergi ke kantin karena tidak ada guru kok di kelasku. Mereka semua sedang ada rapat jadi para siswa tak ada jam pembelajaran. Aku yakin, pasti kalian juga suka situasi seperti ini kan? "Gue nggak ngerti sama nih sekolah, kita baru masuk seperti biasa tiga hari udah ada rapat aja mereka." ujar Tara. Aku mengangguk. "Gapapa sih, enak malah nggak ada matematika." Tara menoyor kepalaku. "Lu bilang dari awal nggak bisa itung-itungan tapi giliran di suruh maju bisa jawab anjir." Aku terkekeh dan memakan satu suap bakso yang ada di dalam mangkuk. "Itu terpaksa gue ngeluarin jurus avatar sama naruto biar di nilai baik sama itu guru." Jawabku sedangkan Tara hanya mutar kedua bola matanya dan melanjutkan makannya kembali.     Aku memang tak bisa matematika, namun saja jika aku di suruh maju ke depan, ataupun hal penting yang mengharuskanku menghitung. Otakku terkadang langsung berjalan mulus, seketika menjadi Adya yang pintar matematika. Tapi setelah itu berubah lagi menjadi Adya si bodoh. "k*****t gue nggak diajak" bahuku ditepuk seseorang dari belakang. "Lo nggak ada di kelas Cup yaudah kita duluan." jawab Tara.     Astaga aku lupa mengenalkan Ucup. Nama dia sebenarnya bukan Ucup tetapi Yusuf, namun kita semua memanggilnya Ucup dan dia berkata kalau sewaktu SMP dia juga di panggil Ucup, jadi bagi dia tidak ada masalah.     Dan aku, Tara, dan Ucup sudah menjadi teman baik. Tiga lelaki tampan, tetapi aku yang sangat tampan. Ingat itu! "Eh katanya ada anak baru." "Anak baru?" Beoku. Ucup mengangguk. "Bukan baru sih, dia anak kaya kita juga, cuman nggak ikut MOS kemarin." Aku dan Tara mengangguk mengerti. "Cewe atau cowo?" Tanyaku. "Cowo." jawabnya. "Eh tapi kata anak kelas sih cewe, nggak tahu deh ah." lanjutnya lagi. "Kelasan kita?" Tanya Tara. Ucup menghendikkan bahunya. "Meneketahu iya kali, nggak perduli sih kalo cewe, gue udah punya yayang." ucapnya dengan tersenyum manis. Tara dan aku bergidik geli. Wajahnya sangat menjijikan. "Ah paling anak SD lu pacarin." Aku terbahak  "Kalo enggak ya bocah SMP yang kalo pacaran di pinggir jalan raya gelap-gelapan duduk di trotoar." Ucup menoyor kepalaku dan Tara. "Sialan! Enggak!" "Nggak begitu juga kali cucunya opa upin ipin." jawabnya dengan meminum minumanku. "Eh ini kita bertiga doang yang rame anjir." ujar Tara. Aku terkekeh. "Yang di kantin kita doang ya iyalah rame kita doang." "Ketawa lo kaya cewe makanya rame." ucap Ucup aku hanya memutar kedua mataku. "Eh Dya gue punya temen cewe, lo mau nggak gue kenalin?" ujar Ucup. Aku langsung menggeleng saat mendengar tawarannya. "Engga." "Adya di suruh deket sama cewe? b***l gue sekarang kalo dia mau." ucap Tara dengan terkekeh. Aku hanya memutar bola mataku malas. "Bukannya nggak mau, belum waktunya." "Lo udah SMA cuy, ya kali nggak mau deket sama cewe?" "Belum waktunya Cup, cita-cita gue aja belum terwujud." jawabku. "Apa emang cita-cita lo?" Tanya Tara "Bikin orangtua gue nangis bahagia karena kesuksesan gue." jawabku dengan lantang dan tersenyum membayangan wajah kedua orangtuaku. "Gue cuma takut aja Dya." Aku mengerutkan alisku. "Takut kenapa?" "Takut lo dibilang homo." Aku menjitak kepala Ucup. "Kalo ngomong lo gembel jalanan." "Lah orang mana ada yang tahu anjir, kalo cuma ada yang tahu lo nggak pernah pacaran ataupun deket sama cewe doang gimana? Gatau prinsip lo?" "Biarin. Urusan mereka, gue nggak perduli yang penting bikin orangtua gue bahagia dulu." Tara mengangguk. "Gue juga deh." "Terus mau putusin Tiara?" Tanyaku. Dia meringis lalu terkekeh. "Ya nggak lah, enak aja!  Embep gua itu."     Kalian tau Tiara? Kakak kelas yang menjadi mentorku saat MOS kemarin? Yap, dialah pacar Tara. Dasar ploybay cap gorilla, baru juga masuk sekolah sudah dapat pacar saja. "Nggak usah ngomongin gue di otak lo, gue ganteng makanya gue punya pacar. Emang lo!" ucap Tara. Aku terkekeh dan menggeleng "Idiot."     Dan satu lagi! Tara mempunyai kelebihan membaca pikiran orang, sialan aku punya teman seperti ini harus berhati-hati, tidak bisa membicarakannya di dalam pikiranku. "Ehh tiga srigala masuk lo! Udah ada guru tuh!" ujar Dina yang baru saja masuk ke kantin.     Kita bertiga langsung berdiri meninggalkan meja kantin, tenang saja sudah kami bayar kok makanannya jadi tidak akan di teriaki kalau kita belum bayar. "Guru siapa Din? Bukannya dikit lagi istirahat?" Tanya Ucup. Dina menghendikkan bahunya. "Gatau mereka bilang suruh kumpul dulu." "Mereka?" Beoku. "Ada dua guru" jawabnya. Kami berempat sudah tiba di kelas dan melihat ada guru yang tak aku kenal dua orang dan satu wanita yang berpakaian sama denganku. Aku, Tara, Ucup, dan Dina di persilahkan duduk oleh kedua guru itu, aku melihat wanita berseragam yang berada di depan melihat ke arah kami yang baru saja masuk, lalu mengangguk ke arah kedua guru itu. "Baik anak-anak bisa fokus ke depan sebentar?" Kami semua langsung terdiam dan melihat tiga orang yang di depan. Aku yakin anak itulah yang anak baru itu. "Tar dia kenapa tuh?" Tanyaku. Tara melihat wanita itu fokus dan langsung menggeleng "Setan gue pusing, nggak bisa baca dia." ujarnya dengan menutup matanya. Kok bisa? "Perempuan yang di sebelah saya adalah teman baru kalian, kalian bisa berkenalan nanti setelah bel istirahat berbunyi dan sekarang biarkan dia yang mengenalkan namanya." "Hai. Saya Zefanya Ganes Alaric kalian bisa panggil saya Anya, maaf kalau saya kemarin tidak bisa mengikuti Masa Orientasi. Dan saya harap saya bisa berteman baik dengan kalian." ucapnya. "Wes bule bro." ucap Ucup yang di depanku. "Baik Anya kamu bisa duduk di bangku kosong yang ada." Wanita itu mengangguk. "Terimakasih Pak." "Dia sebenernya bukan kelas kita, cuman pilih kelas karena ada kalian." bisik Dina yang ada di sebelahku. "Masa iya?" Dina mengangguk "Anak pemilik sekolah." bisiknya lagi lalu fokus kembali melihat ke depan. "Mau anak pemilik sekolah, juragan minyak, bangsawan juga gue nggak perduli." gumamku. "Yah gue udah punya Tiara lagi." ujar Tara. "Emang kenapa kalo udah punya Tiara?" Tanyaku. "Kasian Anya nggak ada yang bisa ngelindungin dia di sekolah." Aku menoyor kepalanya. "Menjijikan." "Dasar homo." gumamnya.     Aku mendengar kedua guru itu berpamitan keluar dengan bersamanya bel istirahat berbunyi. Aku meletakkan tas di atas meja dan merenggangkan badanku. "Kantin lagi nyok." ucap Ucup yang sudah berbalik badan ke arah kami. "Nyok ah masa nggak nyok" jawab Tara. "Nyok nyok nyok!" Teriakku saat kelas sedang hening, setelah itu aku berlari keluar kelas karena aku yakin ada beberapa anak yang kaget dengan teriakkanku tadi. Aku terbahak mendengar u*****n teman-teman kelasku karena teriakan merduku. "Dasar bocah dableg! bocah baru kaget itu hape mahalnya sampe jatoh." ucap Tara Aku tertawa lagi. "Sumpah demi apa?" "Demi dewa neptunus bawa saos tar-tar" "Jayus." ucapku bersamaan dengan Ucup. Tara menggeplak kepalaku dan Ucup lalu berlari menjauhi kami. "Udah Cup biarin aja dia lari, pengen di kejar tuh dia." ucapku. "Gue juga ogah ngejar dia. Macem orang India kali pake lari-larian." Aku terkekeh dan melihat Tara dengan memberikan jari tengahnya kepada kami. Sialan emang. --- “Kakak! Mandi dong, Papa sebentar lagi tuh pulang, kamu nih mau ikut atau nggak sih? Belom mandi juga dari tadi!” Aduh Ratu Negara suaranya kenapa nyaring sekali sih? Mengganggu tidurku yang indah ini saja. batinku "Adya anak Mama yang ganteng mau bangun nggak neng?" "Ih Mama, aku cowo jangan panggil aku neng." protesku. "Dari pada Pinun? Udah cepet mandi!" Aku hanya menghela napasku. Bodo amat dah ah gue kesel. "Mama cium nih ya bulak-balik kalo nggak mau bangun dan nggak mau mandi." Aku langsung terbangun dari tidurku. "Mana anduk." "Ntar Mama ambilin, udah sana mandi dulu."     Aku mengangguk dan berjalan ke arah kamar mandi, hari ini jadwal makan malam diluar dengan keluargaku, walaupun Papa sibuk namun dia masih bisa menyisihkan harinya untuk keluarga kecilnya walaupun hanya dari sore hari. Gapapa. Yang penting bisa kumpul juga udah alhamdulillah. "Papa ini makanan apaan sih?" Tanyaku. "Kamu jangan kampung-kampung banget apa Kak, ini makanan enak iga bakar namanya." jawab Papaku. Astaghfirullah. Gue di bilang anak kampung.     Kami sekeluarga saat ini sedang berada di restoran baru yang berada di persimpangan rumahku, Papa yang memberi ide untuk mencoba makanan disini, akupun tidak menolah selama itu makan gratis.    "Makanya jangan makan ayam mulu, bertelor baru tahu rasa." ucap Mama. "Nyambung aja kaya listrik." gumamku. "Di cobain dulu kak, kalo nggak suka kamu pesen ayam aja." ucap Papa. Wah. Boleh nih. Tinggal bilang nggak enak, terus ganti deh. "Enggak! Makan yang udah di beli. Sayang-sayang kalau nggak dimakan." Yah. Gagal sudah rencanaku.     Aku hanya memandang makanan itu, belum aku sentuh sama sekali. Ini apanya yang mau dimakan? Tulang sebesar ini harus dimakan? Memangnya aku anjing makan tulang? "Adya anak mama yang ganteng, di makan neng." Aku berdecak. "Kakak nggak ngerti makannya, udah ah beli ayam aja." "Makan!" Ucap Mama tegas. Aku menghela napasku dengan perlahan aku menyentuh makanan ini dan memakannya dengan terpaksa. Eh tapi enak juga, tapi lebih enakan ayam. Aku cinta ayam!     Entah kenapa aku sangat menyukai ayam, mau ayam itu dimasak apapun juga aku pasti menyukainya, yang terpenting ayam itu sudah mati ya. Jika ada yang penyuka ayam sepertiku, aku rasa kita jodoh.. tapi bohong. "Enak nggak neng?" Aku hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Mama. "Neng?" Aku terdiam. "Iya Adya iyaa enak nggak makanannya?" Ucapnya lagi. Aku mengangguk. "Enakan ayam." Mama hanya mendengus sebal mendengar ucapanku. Memang benarkan? Lebih baik aku makan ayam dari pada makanan ini.  ******* Hallo! Salam kenal dari author! Aku harap kalian enjoy dengan cerita ini. Selamat membaca dan jangan lupa klik love dan komen ya! :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN