POV Dr.Raditya
Pasien terakhir sebelum istirahat makan siang sudah keluar. Aku melangkah menuju ruangan khusus yang disiapkan untuk setiap dokter saat istirahat. Malas rasanya harus ke kantin khusus pegawai rumah sakit. Aku putuskan meminta office boy untuk membeli makan siang di kafe khusus diet yang berada di seberang rumah sakit.
Drrtt. Drrtt.
Ponselku bergetar. Ada panggilan masuk. Aku intip layar, ternyata dari Fery. Dia adalah temanku yang sudah mengambil spesialis kandungan.
“Iya, Fer?”
“Hallo, Bro! pasti lagi makan siang,” sapanya dengan kekehan.
“Belum, masih nunggu OB beliin ke bawah,” jawabku. “Tumben nelpon siang-siang. Ada perlu apa, nih?”
Fery terdengar mengembus napas panjang sebelum memulai kalimat berikutnya. “Gue tadi pagi ketemu sama pacar elu. Si Vira. Dia datang ke klinik gue. Dia nggak ngenalin gue, karena gue pake masker. Tapi gue inget banget sama dia. Dari namanya juga gue yakin kalau itu dia,” ucap Fery panjang kali lebar.
“Singkat aja, ada apa sama Vira?”potongku nggak sabar. Aneh rasanya jika Vira mendatangi Fery yang notabene seorang dokter kandungan.
“Dia hamil, Dit. Sekitar delapan minggu. Mungkin dia mau mastiin dulu sebelum dia ngomong sama elu,” katanya.
Deg.
Dan entah apa lagi yang diucapkan oleh Fery yang sepertinya menyangka jika itu adalah bayiku. Kenapa hatiku sakit saat mengetahui jika Vira sudah bisa move on dengan lelaki lain?
“Dit … Dit,” panggil Fery di telepon.
“Ah, iya.” Aku kembali sadar.
“Dari wajahnya sepertinya dia kalut. Apa kalian memang belum memutuskan untuk married?” tanya Fery lagi.
“Sorry, Fer. Gue tutup dulu, ya. Ada telepon.” Aku memotong kalimat Fery karena interkom di meja berdering.
“Dokter Radit, ada tamu yang ingin bertemu. Katanya penting sekali,” ujar resepsionis.
“Beliau menunggu anda di lobby klinik,” lanjutnya.
Siapa ya?
“Boleh, suruh ke ruangan saya aja langsung,” jawabku lalu menutup gagang telepon. Selang beberapa saat pintu ruangan ada yang mengetuk.
“Silakan masuk.” Aku berucap tanpa bangkit dari kursi.
Saat pintu terbuka, mataku melebar.
“Vira?” ucapku dengan alis bertaut lalu bangkit. Aku lihat wajahnya kuyu.
“Dit, kita menikah ya,” ucapnya to the point dan membuatku mematung seketika. Baru saja aku mendengar dari Fery soal kehamilan wanita di hadapanku ini dan sekarang dia tiba-tiba mengajakku menikah. Hal yang selama ini dia tolak mentah-mentah.
Dia semakin mendekat padaku dan memelukku tiba-tiba.
“Aku putuskan, kalau aku mau nikah dan ikut pindah sama kamu,” katanya dengan isakan. Pelukannya begitu erat. Tapi, tanganku sama sekali tidak ingin membalas pelukannya. Aku melengos. Entah kenapa, tiba-tiba rasanya jijik berdekatan dengan makhluk cantik satu ini.
“Dit …?” ucapnya lemah sambil mengurai pelukannya. Aku bahkan tidak sanggup membalas tatapannya. Picik sekali wanita di depanku ini. berbuat dengan orang lain dan ingin memberikan getahnya padaku.
“Sorry, Vir. Seperti yang sudah aku bilang sama kamu. Aku sudah punya calon istri,” jawabku berbohong.
“Siapa? Perempuan udik itu? Yang jangankan derajatnya, bahkan pakaiannya saja sudah pasti menjadi keset untukku. Itu yang kau bilang calon istrimu? Kamu bohong, kan, Dit? Kamu pasti bohong,” cecarnya dengan tangisan.
Aku melengos dengan dengkusan pelan.
“Vir,” ucapku lemah. “Hubungan kita sudah berakhir. Kita lebih baik di jalan masing-masing.” Aku menepuk pundaknya lalu pergi dari ruangan dan meninggalkannya. Lebih baik aku makan di kantin saja. Makanan yang sudah dibeli oleh OB bisa kukasihkan pada orang lain. sumpek rasanya jika terus berhadapan dengan Vira. Entah kepalsuan apa lagi yang akan ditunjukannya.
Aku duduk di kursi. Suasana sudah mulai lengang. Aku mulai menyuap sayur dan mengunyahnya saat ponsel kembali bergetar. Siapa lagi ini? aku membiarkannya sebentar dan melanjutkan mengunyah makanan. Namun, ponselku tak mau berhenti berdering. Mengganggu konsentrasi saja. Aku pun mengintipnya. Dari nomor baru ibu?
“Iya, Bu?” Aku segera mengangkatnya.
“Dit,” katanya pelan. “Sepertinya Yasmin dianiaya lagi sama mantan suaminya.” Ibu mendesah resah. Nada khawatir terdengar jelas dari kalimatnya.
“Adit akan mengajaknya untuk melaporkan tindak kekerasan itu, Bu,” jawabku. Aku tahu apa maksud dari perkataan Ibu. Dia ingin agar aku membantu Yasmin.
“Iya. Terima kasih,” ujarnya dengan nada sedikit lega. Aku menjawabnya dengan gumaman.
“Dit,” ucapnya lagi dengan nada yang ragu.
“Ya, Bu?”
Ibu mengembus napas panjang. “Bolehkah Ibu minta sesuatu dari kamu?” tanyanya.
“Mintalah, selama Adit bisa kabulkan, akan Adit kabulkan untuk Ibu.”
Aku bisa membayangkan jika saat ini ibuku tengah tersenyum bahagia ketika mendengar jawabanku.
“Bisakah kamu melindungi Yasmin dari kejahatan mantan suaminya?” pungkas Ibu. Aku paham yang dimaksud ibu dengan melindungi gadis itu. Aku bisa menebak ke mana arahnya.
Dengan semua keadaan yang ada, mungkin ini adalah jalan takdir dari Tuhan untukku menikahi seseorang. Mungkin pertemuan jodohku bukan berdasarkan pertemuan yang diawali dengan pacaran. Akan tetapi, atas firasat dan pilihan seorang ibu. Iya, mungkin itu memang yang terbaik untukku.
Aku pun sudah melakukan salat istikharah saat memutuskan berpisah dengan Vira. Aku meminta Tuhanku untuk mengantarkanku pada jodoh terbaik yang dikirimkan oleh-Nya. Dan mungkin, Yasmin adalah jawaban dari semua doaku juga Ibu.
“Dit, sudah dulu, ya. Yasmin udah kembali dari toilet,” ucapnya berbisik. Sepertinya mereka sedang berada di mall, karena aku bisa menangkap keramaian di sana.
**
Saat aku pulang, ternyata memang benar, kondisi Yasmin lebih parah dari kemarin. Luka di bibir yang hampir mengering kini menganga lagi. Aku mendekat untuk mengeceknya, tetapi dia seperti berusaha menyembunyikan.
“Dia menyakitimu lagi?” tanyaku dengan tatapan lekat. Dia menunduk dan terlihat menelan salivanya berat.
“Ayo ikut aku!” Aku menarik lengannya. Dia terbengong untuk sesaat, tetapi aku memaksanya.
“Ayo!” ajakku lagi. Dia akhirnya menurut, walaupun dengan wajah kebingungan. Sudah waktunya mengakhiri drama yang mengenaskan ini.
Dia kaget saat aku memarkir mobil di kantor polisi. Entah dia naif atau bodoh karena tidak mau melaporkan tindak kejahatan yang dilakukan oleh Mas Agus. Memang benar jika penganiayaan itu masa penahanannya tidak akan lama. Tetapi, setidaknya ada efek jera dan bisa mempercepat proses perceraiannya.
Walaupun secara agama mereka sudah bercerai, tetapi di mata hukum mereka masih berstatus suami istri. itu yang akan menyulitkanku untuk melindunginya nanti.
“Kenapa kamu seperti tidak mau kalau Mas Agus bertanggungjawab atas semua perbuatannya padamu?” tanyaku padanya setelah dia menjalani tahapan pemeriksaan juga visum. “Apa karena kamu masih mencintainya?” Aku menatapnya lekat. Entah kenapa, hatiku merasa tidak nyaman.
Sial! Apakah ini cemburu?
Dia menggeleng. “Bukan, bukan seperti itu. Saya takut jika Mas Agus hanya dipenjara sebentar, lalu setelah itu dia kembali untuk balas dendam. Saya takut sekali, Pak Dokter. Saya hanya ingin hidup tenang,” jawabnya terlihat ketakutan.
Iya, memang benar. Tapi, bodoh rasanya jika harus membiarkan orang jahat itu melenggang begitu saja tanpa menjalani hukuman. Aku yakin Mas Agus tidak akan dengan mudah melepaskan Yasmin. Dia pasti memiliki pikiran untuk mengikatnya dalam pernikahan yang sebetulnya tidak sah di mata agama.
Manusia licik seperti itu, mudah sekali menebaknya.
Aku mengembus napas kasar. Yasmin terlalu naif dan itu bisa dengan mudah dimanfaatkan oleh Mas Agus. Walaupun Yasmin memang kuat menghadapi perlakuan kasar Mas Agus, tapi aku tidak tahu apa yang direncanakan Mas Agus ke depannya untuk menyakiti Yasmin.
Mungkin ini saatnya aku mengutarakan niat baikku padanya. Jika dia memang jodohku, Tuhan pasti akan membuatnya mudah.
“Kalau begitu, menikahlah denganku agar aku bisa melindungimu,” ucapku lirih. Namun, berhasil membuatnya melongo.
Ya, mungkin ide ini sedikit gila. Melamar wanita di saat sedang banyak masalah. Tapi, aku yakin ini saat yang tepat agar Mas Agus tidak lagi bisa menyentuhnya.
“Pak Dokter … tidak sedang becanda, kan?” Dia balik bertanya dengan wajah melongo. Jujur, walaupun dalam keadaan babak belur, wajahnya itu masih terlihat cantik, padahal tidak terpoles sapuan bedak ataupun lipstik.
Aku melengos. Jangan-jangan dia mau menolakku. Tapi, terlanjur basah. Masa iya mau mundur.
“Memangnya saya terlihat lagi becanda?” ucapku memasang wajah serius. Dia terpaku sejenak lalu menunduk dalam.
“Saya ini, hanya anak yang dibuang di panti asuhan. Saya juga dibuang oleh mantan suami hanya karena masalah sepele. Lalu, sekarang Pak Dokter melamar saya. Rasanya … saya seperti sedang bermimpi,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Aku tak bisa menjawab. Hanya terpaku dan menatapnya tak berkedip.
“Jadi?” Aku masih menunggu jawaban darinya.
“Apa Pak Dokter tidak akan menyesalinya? Saya baru saja bercerai dan masih menjalani masa iddah—“
“Bukankah Mas Agus tidak pernah menyentuhmu?” tanyaku to the point.
Dia tersipu malu.”Apa Pak Dokter akan membatalkan lamaran ini jika tahu saya tidak lagi perawan?” katanya dengan wajah menunduk dalam.
“Bukan. Bukan itu maksudku. Kalau Mas Agus tidak pernah menyentuhmu, itu artinya kamu tidak perlu menjalani mas iddah.”
Dia mendongak seketika. “Benarkah?” Matanya berbinar bahagia.
Aku mengangguk pelan.
“Saya … saya ….” Dia tampak ragu entah malu untuk menjawabnya. “Bersedia,” katanya dengan wajah bersemu merah.
Aku pun mengembus napas lega. Paling tidak, tidak perlu merasa malu karena ditolak oleh seorang wanita.
“Kita adakan pernikahan secara agama dulu, karena secara hukum kamu masih terikat dengan Mas Agus. Kamu ajukan gugatan cerai segera setelah hasil visum keluar. Kamu juga harus bersiap menghadapi Mas Agus di pengadilan.”
Yasmin manggut-manggut. Semoga saja memang dia mengerti.
“Kamu tidak masalah jika akad nikah dilakukan secara sederhana?” tanyaku lagi. Dia mennggeleng.
“Nggak apa-apa. Saya sudah terbiasa hidup sederhana,” jawabnya. Aku mengangguk.
“Kita lakukan pesta pernikahan setelah kamu resmi bercerai dari Mas Agus. Dan kemungkinan pestanya dilakukan di kampung Ibu. Apa kamu masalah?” Aku kembali meminta persetujuan. Lagi-lagi dia menggeleng.
“Saya, terserah Pak Dokter saja.” Dia kembali tersipu.
“Mahar apa yang kamu minta dari saya?”
Dia mendongak dan terbengong. “Apapun yang Pak Dokter kasih, saya akan menerimanya,” jawabnya lirih. Namun, dengan raut wajah yang terharu.
Tiba di rumah aku mengatakan semuanya pada Ibu. Beliau menangis dan memelukku erat. “Terima kasih, Dit. Ibu bahagia sekali,” katanya.
Bingung juga, bagaimana bisa Ibu begitu cepat menyayangi seseorang.
**
Aku menyewa jasa sebuah WO untuk menyiapkan acara akad nikah yang sederhana di akhir pekan. Tidak banyak yang datang, hanya beberapa teman, tetangga dan pengurus panti. Yasmin memakai wali hakim karena tidak memiliki orangtua.
Acara yang sederhana, namun terasa khidmat. Dia didandani dengan make up flawless sesuai keinginannya. Sangat cantik. Kebaya putih yang sangat pas di tubuhnya dengan siger Sunda membuat dia tampil seperti seorang ratu.
Matanya berkaca-kaca saat aku mengucap ijab kabul atas nama dirinya dengan mas kawin logam mulia seberat 100 gram.
Dia mencium tanganku untuk pertama kalinya. Dan aku pun mencium keningnya. Tangis haru dari Ibu membuatku bahagia. Dia memeluk kami bergantian dan mencium Yasmin dengan ucapan doa penuh syukur.
Kini giliranku untuk berusaha. Semoga aku bisa segera jatuh cinta padanya. Yasmin. Wanita yang kini telah halal bagiku.