POV Yasmin
Aku diminta membawa barang-barang yang benar-benar diperlukan saja. Semua perabotan aku tinggalkan atas permintaan dr.Radit. Lagian memang repot juga kalau aku bawa perabotan, walaupun sayang rasanya. Semua aku beli dengan jerih payahku selama bekerja.
“Nanti saya ganti yang baru dan lebih bagus,” kata dr.Radit yang sepertinya bisa menebak apa yang aku pikirkan. Aku bisa apa kalau sudah begini?
Sekeranjang buah dan makanan yang dibawa dr.Radit akhirnya dibawa lagi. Aku menatap sedih pada rumah kontrakan yang selama beberapa tahun ini menjadi saksi perjuanganku mencari nafkah. Namun, kini aku berpindah ke rumah yang seumur-umur pun tidak pernah aku memimpikan akan menginjakan kaki di rumah sebagus ini. Sangat luas dan bersih. Padahal selama ini katanya dr.Radit hanya tinggal sendiri. Kapan dia membersihkan rumah sebesar ini, jika pagi-pagi sudah berangkat dan sore baru pulang.
Dr.Radit menempatkanku di kamar yang bersebelahan dengan kamar yang ditempati Bu Wati. Mataku kembali membulat saat melihat ruangan berisikan spring bed berukuran sedang yang pasti sangat empuk. Lemarinya tinggi, bagus dan menyatu ke tembok.
“Simpanlah baju-bajumu di sana,” kata dr.Radit. Aku mengangguk. Ternyata memang jauh lebih bagus dari perabotanku di kontrakan. Aku tertawa sendiri setelah dr.Radit keluar dari kamar ini.
Malamnya aku sengaja memasak sayur dan daging yang sempat dibeli dr.Radit untukku. Walaupun tidak bisa memasak ala chef hotel bintang lima, tapi aku bisa memasak menu sederhana. Dulu aku suka bantuin Bu Ida memasak untuk anak-anak panti sebelum aku bekerja dan meninggalkan tempat itu. Walaupun kadang aku masih suka menengok mereka ke sana.
“Wah, wangi sekali. Masak apa, nih?” tanya Bu Wati yang selesai mengaji setelah salat Magrib.
“Cuma oseng kangkung pakai irisan daging sapi aja, Bu. Sebagian lagi aku pakaikan bumbu teriyaki. Hanya manfaatin bahan-bahan yang ada saja,” jawabku sambil menata piring berisi sayuran. Wangi nasi yangsedang ditanak di magicom juga tercium hampir matang. Wangi pandan yang sangat menggugah selera.
“Sebentar lagi Isya, habis itu kita makan bersama,” kata Bu Wati.
Tak lama adzan Isya berkumandang. Aku pun bergegas berwudhu agar bisa berjamaah dengan Bu Wati. Sementara itu dr.Radit pergi ke mesjid. Koko putih dipadu celana kain warna abu kecoklatan membuat wajahnya semakin bercahaya. Kenapa hatiku jedag-jedug begini? Sebuah rasa yang belum pernah aku rasakan pada siapapun.
Bu Wati mengucap dua kali salam. Lalu, aku meraih tangannya untuk kucium. Walau tidak bisa mencium tangan ibu kandung, setidaknya aku bisa mencium tangan yang menganggapku putrinya.
Beliau merangkul dan mencium pipiku penuh sayang. Kenapa hatiku terasa perih? Aku anak yang dibuang dan kini merasa disayang.
Setelah dr.Radit kembali dari mesjid, aku segera menyiapkan piring untuk makan. Memindahkan nasi ke dalam wadah dan menyimpannya di meja.
“Saya ambilkan nasinya, Bu,” tawarku pada Bu Wati. Namun, beliau malah menunjuk pada sang putra.
“Tolong ambilkan untuk Adit dulu,” katanya dengan sopan. Duh, kenapa hatiku berdebar cepat gini saat mengambil piring untuk dr.Radit? Bahkan tanganku sedikit gemetar. Bu Wati malah terlihat menahan tawa.
“Tidak usah grogi. Latihan kalau punya suami,” katanya cengengesan. Wajahku memanas seketika. Sudah pasti semerah tomat.
Aku melirik pada dr.Radit dia hanya memasang wajah yang datar. Aku pun bergegas mengisi piring itu dengan nasi dan memberikan lagi padanya. Mengisi piring Bu Wati, lalu milikku sendiri. Kami kemudian makan dalam diam.
Malam ini rasanya sulit sekali memejamkan mata. Bayangan demi bayangan dr.Radit selalu melintas di pikiran. Apakah aku jatuh cinta padanya?
**
Seperti kebiasaanku setiap hari, setelah salat Subuh aku membersihkan rumah lalu membuat sarapan. Ternyata saat keluar kamar, Bu Wati sudah duluan menyapu. Aku segera meraih sapu itu untuk melanjutkan.
“Sudah, biarin aja. Ibu sudah kesal diam terus,” kata Bu Wati. Namun, aku bersikeras ingin melanjutkan menyapu.
“Kenapa ini malah berebut sapu?” tanya dr.Radit yang baru kembali dari mesjid.
Aku pun melepaskan sapu yang sedari tadi berusaha kurebut dari tangan Bu Wati.
“Kami rebutan pengen nyapu, Dit.” Bu Wati terkekeh. Dr.Radit malah menggelengkan kepalanya sambil menahan tawa.
“Kalian tidak usah repot-repot. Aku pakai robot untuk menyapu. Tuh!” tunjuk dr.Radit pada benda bulat yang berkeliling ke seluruh ruangan.
Bu Wati melongo. “Oh, pantesan Ibu nyapu berasa nggak ada debunya. Ealaah, Dit … Dit,” katanya sambil tertawa. Aku pun juga sama.
“Sudah kalian jalan-jalan aja. Cari udara segar. Atau siap-siap buat jalan-jalan,” katanya lalu masuk ke kamar.
Hampir jam delapan dr.Radit baru berangkat. Dia memberikan sebuah kartu pada Bu Wati yang kemudian oleh wanita sepuh itu malah diberikan padaku.
“Ibu nggak ngerti cara pakenya. Pegang sama Neng Yasmin saja, ya,” ucapnya terkekeh. “Nanti kalau mau apa-apa Ibu tinggal bilang.”
Jujur, aku merasa tidak enak pada dr.Radit. Takutnya aku disangka memanfaatkan keadaan. Namun, sepertinya beliau tidak keberatan.
“Iya, pegang saja sama kamu,” katanya. Sepercaya itukah mereka pada orang baru sepertiku? Bagaimana kalau seandainya aku ini orang jahat?
Ya Tuhan, lindungilah orang-orang baik ini dari perbuatan jahat. Pertemukanlah mereka dengan orang-orang baik. Doaku dalam hati.
“Emh, Pak Dokter,” ujarku ketika dr.Radit hendak pergi.
“Iya?” Dia berbalik dan menatapku.
“Saya mau pamitan dulu ke kantor sambil mengajukan surat resign,” ucapku lirih. “sekalian nganter Ibu keliling.”
“Ya, boleh. Hati-hati,” katanya dan kembali melanjutkan langkahnya.
**
Untuk mengajukan resign, mau tak mau aku harus menghadap atasan yang tak lain adalah Mas Agus. Tidak ada pilihan lain aku harus memberikan surat pengunduran itu padanya.
Saat melihatku, dia bagai singa yang melihat mangsa. Aku berdiri agak gemetar. Bersiap jika dia melakukan sesuatu yang tidak senonoh seperti kemarin.
“Akhirnya kamu datang juga padaku, Yasmin. Apa kamu sudah pikirkan masak-masak, kalau aku lelaki paling baik untukmu?” tanyanya jumawa. Dia berdiri dan mendekat. Rasanya aku mendadak mual ingin memuntahkan isi perut.
“Aku mau memberikan surat pengunduran diri,” ucapku menutupi rasa takut sekuat tenaga. Kutaruh amplop berisikan surat itu di atas meja. Dia meliriknya sekilas, lalu kembali menatapku.
“Masalah kita belum selesai, Yasmin,” katanya mengulurkan tangan dan menggenggam rahangku kuat. Sakit. Namun aku tahan. Aku menatapnya nyalang.
“Kau sudah jatuhkan talak padaku. Itu artinya kita tidak ada hubungan apa-apa selain mantan suami istri,” jawabku sinis.
“Kau berhutang padaku. Aku habis uang banyak untuk pernikahan kita. Dan sekalipun aku belum menyentuhmu,” katanya dengan raut muka menjijikan.
Aku tersenyum sinis. “Aku menawarkannya padamu saat masih sah menjadi istrimu, tapi kamu menolaknya.”
“Aku menginginkannya sekarang. Agar tidak perlu ada tanggungjawab setelahnya,” jawabnya membuatku semakin membencinya. Tatapanku semakin nyalang. Dalam mulut aku mengumpulkan air liur, lalu menyemburkannya tepat di muka ba ji ngan itu.
“Aku tidak akan sudi. Kau bukan siapa-siapaku lagi!” ucapku tegas. Matanya melebar nyalang. Dia lepaskan cengkeramannya di rahangku. Namun, sedetik kemudian tamparannya lah yang bersarang di pipiku. Perih juga panas terasa.
Aku mendongak menatapnya. Dia menyeringai.
“Kau bisa memberikannya pada orang lain, kenapa tidak padaku?” tanyanya membuat napasku tersengal menahan amarah.
Rasanya percuma untuk berbicara banyak padanya. Otaknya sempit seperti udang.
“Aku sudah ajukan pengunduran diri. Jadi, mulai hari ini aku tidak akan masuk kerja lagi,” kataku tegas. Dia tertawa.
“Aku bisa saja menahanmu dan membuatmu harus membayar finalty yang besar, Yasmin. Akan aku buat kamu tidak bisa membayarnya hingga kamu harus jual diri,” katanya dengan tawa yang sangat menjijikan.
Tak ingin mendengar lagi ocehannya, aku berbalik hendak meninggalkan tempat itu. Namun, si ke pa rat itu menarikku seperti kemarin.
“Aku belum selesai bicara padamu!” bentaknya dan kembali melayangkan tamparan di wajahku. Luka yang kemarin saja masih terasa, lalu sekarang dia tambah lagi.
“Lepaskan atau aku akan berteriak!” aku balik membentak. Dia sepertinya takut dan melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tanganku.
“Aku berharap kita tidak pernah bertemu lagi,” ucapku sebelum pergi dan membanting pintu ruangannya yang berada paling ujung gedung ini.
Bu Wati yang menunggu di sofa tempat tamu menunggu melihatku dengan heran. Aku tahu pasti bibirku yang pecah kembali berdarah. Padahal kemarin sudah diobati oleh dr.Radit.
Di meja tempatku biasa bekerja sudah ada Dini yang menggantikanku karena aku tidak masuk. Aku datang ke sini sekitar pukul sebelas. Dia menatapku dengan sinis seperti biasanya. Dari dulu dia memang tidak pernah menyukaiku karena menganggap rival untuk mendapatkan Mas Agus.
“Ayo, Bu,” ajakku pada Bu Wati.
“Wajah kamu kenapa lagi?” tanyanya khawatir. Namun, aku tidak mau menjawabnya sekarang, jadi aku hanya menggeleng kecil.
Namun, sore hari saat dr.Radit pulang dari tempat kerjanya, dia mengajakku ke suatu tempat. Aku bingung karena sepertinya dia agak sedikit marah. Saat melihat tempat itu aku baru sadar jika dr.Radit membawaku ke kantor polisi.
“Kok ke sini, Pak Dokter?” tanyaku bingung. Namun, dia tidak menjawab. Hanya turun dan mengajakku serta.
“Ayo,” katanya. “Kamu harus melaporkan tindak kekerasan ini. Kalau tidak dia tidak akan jera.”
Aku terbengong. Namun, sedetik kemudian dr.Radit menarikku agar turun. “Kamu harus menjalani visum agar ada bukti untuk menuntut di pengadilan,” katanya lagi.
“Apa harus?” tanyaku diselingi rasa takut. Takut jika Mas Agus hanya sebentar dipenjara lalu kembali mencariku karena dendam.
Dr.Radit menatapku seolah bertanya, ‘apa kamu bodoh?’
“Dia harus mendapatkan balasan untuk setiap perlakuan kasarnya padamu, Yasmin. Sekarang waktu yang tepat karena luka-luka itu masih begitu jelas. Kamu bisa menuntutnya,” ujar dr.Radit dengan wajah memelas.
Akhirnya aku menurut. Menjalani serangkaian pertanyaan dan pemeriksaan. Selama itu pula dr.Radit menemaniku tanpa terlihat lelah. Padahal dia baru pulang dari rumah sakit.
“Kenapa kamu seperti tidak mau kalau Mas Agus bertanggungjawab atas semua perbuatannya padamu?” tanya dr.Radit saat kami sudah ada di dalam mobil untuk pulang. “Apa karena kamu masih mencintainya?” dia menoleh padaku.
Aku menggeleng cepat. “Bukan, bukan seperti itu. Saya takut jika Mas Agus hanya dipenjara sebentar, lalu setelah itu dia kembali untuk balas dendam. Saya takut sekali, Pak Dokter. Saya hanya ingin hidup tenang,” jawabku dengan bibir gemetar.
Terdengar dr.Radit menghela napas panjang. Suasana malam yang begitu sunyi, membuat suaranya terdengar jelas. Apa dia kesal padaku?
“Kalau begitu, menikahlah denganku agar aku bisa melindungimu,” katanya seraya menoleh dan metapku lekat.
Sumpah demi apapun juga. Hei! Siapapun yang ada di sana, tolong cubit aku. Aku tidak sedang bermimpi, kan?
Dokter Radit … apakah dia sedang melamarku?