Bab 8 Sebuah Ajakan

1454 Kata
Bab 8 POV Yasmin Mas Agus pasti masuk kerja hari ini. Aku harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Mungkin dia akan melakukan kekerasan, menghina atau entah apa. Melihat mobilnya saja sudah berasa seekor kelinci melihat elang. Aku mengendap, mudah-mudahan tiak bertemu dengannya di gedung yang tidak begitu besar itu. Apalagi posisiku selalu berada di depan karena menerima tamu dan telepon. “Sstt, Yasmin, sini,” bisik Tina office girl di sini. Aku mendekat. “Pak Agus udah masuk kerja. Tadi udah dateng,” katanya. Tina mungkin mengkhawatirkanku karena aku sudah menceritakan semua padanya juga pada beberapa teman yang heran karena aku pulang sebelum waktu cuti habis, juga pulang tanpa Mas Agus. Mereka saja merasa heran dengan mitos yang terlalu mengada-ada. “Ya sudah, nggak apa-apa. Aku mau pura-pura nggak lihat aja kalau dia lewat,” jawabku. Mau gimana lagi, kami berada di satu gedung yang sama. “Si Dini seneng banget paas tau kamu cerai sama Pak Agus. Kamu tau sendiri, kan, kalau dia ngincer Pak Agus sejak lama,” kata Tina lagi sambil menggerakan alat pelnya di lantai. “Ya udah, nggak apa-apa. Aku udah nggak peduli lagi sama Mas Agus.” Aku melangkah menuju meja resepsionis. Hampir jam sembilan, sebentar lagi telepon pasti ramai berdering minta disambungkan dengan berbagai divisi. “Bener, Yasmin. Kamu jangan sampai mau balik lagi sama dia. Nggak punya otak dan perasaan. Masa baru kawin udah nyerein,” cerocosnya setengah berbisik. Aku hanya tertawa pelan sambil geleng-geleng. “Dulu aja, kalian yang ngomporin biar aku nerima Mas Agus. Aku sampe nggak enak nolak gara-gara kalian nyaranin.” Aku mendelik pada Tina. Wanita berseragam biru itu malah cengengesan. “Sorry, Yas. Dulu, aku nggak tau kalau Pak Agus bakalan kayak gitu. Abis, lihatnya dia itu gagah dan ganteng. Punya jabatan pula. Kita nyaranin kamu sama dia, biar hidup kamu lebih baik,” kekehnya. Iya, mungkin niat mereka baik saat mengompori agar aku mau menerima Mas Agus. Dia itu manajer personalia yang membawahi GA juga di sini, dengan kata lain, aku dan Tina adalah bawahannya. Dia mendukungku dengan Mas Agus karena silau melihat dia sebagai manajer, tanpa tahu persis bagaimana sifat aslinya. Saat Mas Agus nembak aku untuk jadi pacarnya, aku bilang kalau aku hanya mencari calon suami bukan cari pacar. Lalu, Mas Agus bilang kalau dia bersedia segera menikahiku. Aku juga bilang, mungkin pernikahan kami hanya akan berlangsung sederhana, karena aku tidak punya orangtua. Hanya Ibu Ida, sang pengurus panti dan penghuni panti yang menjadi saudaraku. Namun, Mas Agus menyarankan agar pernikahan kami diadakan di kampungnya saja. Semua biaya dia yang akan menanggungnya, begitu yang dia bilang. Bagiku yang seorang anak yatim piatu, tawaran dari seorang lelaki yang ingin berniat baik, begitu menyentuh hati. Apa lagi yang aku cari? Yang penting Mas Agus bertanggung jawab. Itu pikirku. Soal cinta, itu bisa datang belakangan. Selain itu, jika aku sudah menikah, Bu Ida pasti merasa tenang. * Hari ini dua kali Mas Agus lewat ke depanku, tapi aku abaikan. Dengan ujung mata aku bisa lihat jika dia memperhatikanku dengan tatapan sinis. Peduli amat. Aku nggak akan mau berurusan lagi sama dia. Satu per satu staff pada pulang. Begitu juga Mas Agus. Leganya hatiku melihat dia pergi. Sebelumnya aku merasa khawatir jika dia menunggu semua pulang dan menyekapku di sini. Duh, pikiran macam itu? Semua sudah pulang, aku pun segera membereskan telepon, menyetingnya agar terhubung ke pos satpam. Di halaman parkir mobil Mas Agus sudah tidak ada. Aku pun semakin tenang. Gegas ke jalan untuk mencari angkot. Ternyata yang lain sudah tidak ada. Sebuah tangan menarikku paksa. Aku menoleh, ternyata Mas Agus yang menarikku menuju mobilnya yang terparkir agak terhalangi sebuah mobil lagi. Dia bahkan membekap mulutku. “Ikut aku, ada yang mau aku bicarakan,” ucapnya pelan, namun tegas. Aku ingin teriak, tetapi tangan besarnya menutup rapat mulutku. “Aku nggak akan berbuat kasar kalau kamu menurut,” katanya. Dia mendudukan aku di jok samping pengemudi. Dia lalu naik di sisi yang lain. Dengan kecepatan tinggi dia membawaku entah ke mana. “Mau ngomong apa? Di sini aja.” Aku membentak. Dia menoleh sambil menyeringai. “Nanti saja,” katanya dengan wajah menyebalkan. Ternyata dia membawaku ke rumahnya. Mau ngapain juga harus bicara di sini? Aku mengerutkan dahi. Mas Agus turun dan membuka pintu di mana aku duduk. “Ayo turun,” katanya sambil menarik tanganku dengan kasar. Aku terhuyung karenanya. “Kenapa harus ke sini segala?” tanyaku berusaha mempertahankan diri dari tarikannya. Dia tidak menjawab, malah semakin menarikku dengan semua kekuatannya. “Mas, apa-apaan ini?” ucapku setengah berteriak. Namun, dia menarik tubuh dan membekap mulutku. Kemudian menyeretku masuk ke rumah itu. “Lepaaass,” ucapku tidak jelas karena mulut masih dibekap. “Kau bisa menyerahkan tubuh pada siapapun. Aku juga mau mencicipi tubuhmu,” katanya menjijikan. Aku semakin berontak. “Aku sudah habis uang banyak untuk menikahimu kemarin. Karena itu aku mau menikmati tubuhmu sekarang.” Astagfirulloh. Kerasukan setan apa lelaki ini? Dengan sekuat tenaga aku membuka mulut dan menggigit tangan yang membekapku. Mas Agus mengaduh dan melepaskan tangannya dari mulutku. Aku berusaha lari, namun dia mengejar dan menraik tanganku. Setelah itu mengempaskanku hingga kepalaku terantuk ujung meja. Penglihatanku berkunang-kunang. Kembali kurasakan tangan Mas Agus menarikku agar kembali berdiri. Dia menarik tengkuk dan menciumku dengan brutal. Dengan sisa kesadaran aku menendang selangkangannya dengan lutut hingga dia berteriak kesakitan dan melepaskanku. Aku terhuyung hendak berlari. Namun, dia kembali menarikku dan membuatku kembali menghadapnya. Lalu, entah berapa kali dia mendaratkan tamparan dan tinjunya di tubuh juga wajahku. Aku kembali mengumpulkan kekuatan. Lalu mengangkat kaki dan dengan kekuatan penuh aku mendaratkan lututku di selangkangannya hingga dia membungkuk lalu terjengkang. Dengan napas yang masih tersengal, aku berlari setelah meraih tas selempang yang tercecer di luar. Setelah dirasa aman, aku berhenti. Menengok ke belakang, tidak ada yang mengejar. Apakah Mas Agus pingsan? Semoga saja tidak mati, atau aku akan dipenjara nanti. Akhirnya aku memesan taksi online agar bisa segera sampai di kontrakan. Ada-ada saja kelakuan Mas Agus yang membuat rugi. Uangku tidak seberapa untuk menyambung hidup hingga gajian nanti. Sampai di rumah, aku langsung mandi. Wajah dan tubuhku terasa sakit saat kena air. Ujung bibirku pecah. Aku selonjoran sambil menikmati semangkuk mi instan. Makanan yang bisa menahanku dari rasa lapar. Sebuah ketukan terdengar dari luar. Jantungku terasa mau copot. Apakah itu Mas Agus? Aku menyimpan mangkuk dan mengintip dari balik gorden. Ternyata Bu Wati dan dr.Radit yang datang. Aku pun segera membukanya. “Ibu.” Aku memekik bahagia dan memeluknya. Dalam keadaan seperti ini, rasanya bahagia sekali ada orang yang menemani walaupun hanya sejenak. Aku lihat dr.Radit menenteng keranjang berisi buah-buahan juga sekeresek besar makanan. Entah apa. Bu Wati kaget melihat keadaanku yang babak belur. Begitu juga dengan dr.Radit, dia pasti curiga telah terjadi apa-apa denganku. Namun, aku bilang jika aku terpeleset di tempat kerja. Bu wati meminta anaknya untuk memeriksaku. Dan benar saja, ternyata dr.Radit curiga jika Mas Aguslah yang telah melukaiku. Aku tidak mengatakan jika lelaki itu ingin memperkosaku. Aku bilang jika aku pasti bisa melawan jika Mas Agus berusaha melukaiku lagi. Agar dia tidak perlu merasa khawatir. “Apa kamu mau jika bekerja denganku di kampung?” tanyanya ketika aku bilang jika aku akan mencari pekerjaan yang lain. Aku mendongak seketika. Seolah menemukan secercah harapan di sana. Di mata dr.Radit yang masih menatapku. “Saya hanya lulusan SMA, Pak Dokter. Apa mungkin bisa?” Aku balik bertanya. “Kenapa tidak? Kalau kamu mau, aku akan mengajarimu nanti,” katanya membuat hidupku seolah menemukan setitik cahaya. “Baiklah. Untuk sementara saya akan pindah kontrakan dulu, agar Mas Agus tidak bisa menemukanku lagi,” kataku walaupun entah akan mendapat uang dari mana untuk pindah. “Bagaimana kalau untuk sementara kamu tinggal di rumah saya? Agar kamu aman dan Ibu ada teman sampai kita pindah ke Suniagara,” tawarnya membuat mataku melebar seketika. “Ah, tidak Pak Dokter. Nanti saya malah merepotkan,” tolakku sambil mengibaskan tangan. “Tidak akan merepotkan. Justru nanti mungkin saya yang akan merepotkan kamu untuk menemani Ibu keliling Jakarta. Antar beliau untuk mencari baju-baju. Ajak Ibu ke tempat wisata agar tidak merasa bosan. Tapi … itu juga kalau kamu mau dan tidak keberatan,” ungkapnya. Membuat aku tidak kuasa untuk menolak. “Bagaimana?” tanyanya membuat aku terpaku. Apa mungkin aku bisa menolak permintaannya? Aku melirik pada wanita sepuh itu. Bu Wati mengulum senyum walau tatapannya tertuju pada televisi. Itu pasti hanya akal-akalannya saja. Beliau pasti mendengar percakapan kami. “Ambilah semua baju. Ikut saya sekarang,” katanya. “Sekarang?” Aku sampai melongo. “Iya,” jawabnya tegas lalu menoleh pada sang ibu. “Bu, Ibu tidak keberatan, kan, jika mengundur waktu pulang, agar kita bisa pindah bersama?” tanyanya. Bu Wati tersenyum. “Tentu saja,” katanya sambil mengedipkan matanya padaku. Ebuuseet. Apa maksudnya itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN