Bab 7 Tawaran

1497 Kata
POV Yasmin Aku meminta dr.Radit untuk masuk dulu ke rumah agar aku bisa mengobati luka di pipi juga ujung bibirnya yang pecah. Bersyukur aku bisa mengusir Mas Agus dengan mengguyurnya pakai seember air bekas ngepel tadi pagi. Kebetulan aku belum sempat membuangnya karena lupa. “Dikompres dulu, Pak Dokter.” Aku mengulurkan tangan yang memegang handuk kecil yang telah direndam air es. Dia meringis saat aku mengusap ujung bibirnya dengan handuk dingin. Tatapan dr.Radit terlihat kosong. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Apakah dia memikirkan hal buruk tentangku? Entahlah. “Mas Agus itu suami kamu?” Akhirnya dr.Radit membuka suara. Aku menghentikan mengompres pipinya yang merah bekas tinju Mas Agus. “Lebih tepatnya … mantan,” ucapku lirih. Entah kenapa aku ingin sekali menceritakan tentang apa yang telah terjadi dengan pernikahanku juga Mas Agus. Aku menceritakan secara garis besar saja. “Apa? Hanya karena make up, dia sampai menuduh kamu tidak perawan bahkan menuduh kamu hamil?” dr.Radit terkekeh. “Sangat lucu. Mitos dari mana itu? ” ucapnya sambil menggeleng kecil. “Karena tidak terima dengan tuduhannya, saya pergi malam itu juga setelah Mas Agus menjatuhkan talak.” Aku menjelaskan. Dr.Radit manggut-manggut pelan. Mungkin merasa miris dengan nasibku ini. “Jadi, maksud kamu habis mengunjungi rumah teman saat itu … sebetulnya kamu pergi dari rumah mantan suami?” tanyanya. Aku mengangguk. Dr.Radit melirik ke arlojinya yang melingkar di tangan. “Sudah malam. saya pamit dulu,” katanya. “Emh, lukanya ….” Aku menunjuk bibir dr.Radit yang pecah dengan wajah khawatir. Dia tertawa kecil. “Tidak perlu khawatir, saya ini seorang dokter. Saya bisa mengobatinya nanti.” Duh, kenapa bisa sampai lupa kalau dia seorang dokter. Aku memundurkan kursi agar dr.Radit bisa leluasa bangkit. “Terima kasih,” ujarnya sambil mengulas senyum. Aku kembali mengangguk dengan jantung yang mendadak bertalu kencang. “Saya antar ke depan.” Tiba-tiba aku begitu berani. Namun, dr.Radit menolaknya. “Tidak usah. Kamu istirahat saja, sudah malam. Saya permisi. Assalamualaikum,” ucapnya setelah melewati pintu keluar. Aku menjawab salam itu dengan lirih. Berdiri di ambang pintu sambil menatap punggung tegap itu hingga menghilang di gelapnya malam. Kenapa hatiku merasakan desiran aneh? *** POV Dr.Radit “Apa? Menikah dan tinggal di kampung?” Vira tertawa atau lebih tepatnya mengejek. “Kamu kan, tau sendiri, Dit. Kalau aku sudah terbiasa dengan kehidupan di kota. Kenapa kamu nggak terusin aja kerja di rumah sakit? Kenapa harus pulang kampung segala?” Vira terlihat tak setuju ketika aku mengatakan ingin mengabdikan diri di kampung halaman. “Sudah terlalu lama aku meninggalkan ibuku di sana sendirian, Vir. Beliau sudah tua. Aku ingin merawatnya di hari tua, sekaligus mengamalkan profesiku sebagai dokter di sana.” “Halaah. Hari gini mikirin beramal? Harusnya kamu manfaatin profesi kamu untuk cari uang sebanyak-banyaknya, Dit. Dan itu sudah pasti bisa kamu dapatkan di sini. Kamu bisa ambil spesialis kandungan. Buka praktek aborsi, uangnya pasti gede, Dit.” Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang Vira ucapkan. Seolah semua itu tidak akan dipertanggungjawabkan. “Astagfirullah, Vir. Hidup itu tidak hanya melulu tentang uang. Kita juga harus pikirkan tentang akhirat.” Vira malah memberengut. Kadang, sempat terpikir untuk melakukan apa yang Vira usulkan. Demi rasa sayangku padanya. Namun, lagi-lagi hatiku menolaknya. Setelah itu aku memutuskan untuk menjauhi Vira secara perlahan. Aku yakin lambat laun dia pasti menyadarinya. Dari mulai tak pernah lagi menjemputnya, mengajaknya jalan di akhir pekan dan mulai jarang meneleponnya. “Kamu berubah, Dit. Apa karena aku menolak lamaranmu dan pindah ke kampung ibumu?” dia bertanya. “Kita tidak memiliki visi dan misi yang sama, Vir. Mungkin sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini,” jawabku walaupun ada yang teremas di dalam d**a. Aku mencintainya. Iya, aku mencintai fisiknya yang sempurna. Tapi tidak dengan jiwa dan sifatnya yang tercela. Berat, tapi aku yakin bisa melupakannya walau perlahan. “Kau tidak bisa memutuskan secara sepihak begini, Dit. Kau anggap apa aku? Sampah yang bisa kapan saja kau buang?” Dia marah. Wajar saja. Dua tahun bukan waktu sebentar untuk semudah itu melupakan. “Aku akan tetap dengan pendirianku pindah ke kampung. Merawat ibuku dan membuat sebuah klinik di sana. Lalu, kamu sendiri, jelas-jelas tidak mau. Jadi untuk apa lagi kita pertahankan?” Aku dengar dia terisak. Lagi-lagi ini terasa berat untukku memutuskan. Hati dan otak yang tidak sejalan. “Kita coba dulu untuk saling jaga jarak. Lama-lama akan terbiasa,” ujarku akhirnya. Dia pun memutuskan sambungan telepon. Entah dia sakit atau kecewa, tapi akupun merasakan hal yang sama. Pernah sekali aku melihat dia jalan dengan seorang lelaki di mall. Dalam pandanganku mereka mesra dan mulai saat itu aku menganggap jika Vira sudah melupakanku. Akupun mulai memblokir nomor Whatsappnya. Hingga malam itu, saat aku makan malam dengan Ibu dan juga Yasmin. Aku kembali bertemu dengannya. Dia masih secantik dulu, tapi rasa dalam hatiku sudah memudar. “Apa dia wanita yang pernah kamu ceritakan itu, Dit?” pertanyaan Ibu membuyarkanku dari lamunan. Aku menoleh. “Ah, iya,” jawabku singkat. “Sangat cantik,” gumam Ibu dan aku pun setuju dengannya. “Ibu tidak ingin menghancurkan masa depanmu, Dit. Jika kamu memang mencintainya, pergi dan kejarlah. Ibu ini sudah tua, tidak perlu kamu pikirkan. Kamu justru harus memikirkan masa depanmu yang masih panjang. Kamu pasti lebih maju jika di kota,” katanya. Tapi, bagiku itu justru membuatku semakin yakin jika aku harus merawatnya. Umur Ibu entah sampai kapan, dan aku ingin membahagiakan di sisa umurnya. Aku hanya tersenyum sebagai jawaban kalau aku tidak bisa memutuskan sesuai keinginannya. “Lalu, kenapa kamu justru mengenalkan Yasmin sebagi calon istri?” tanyanya dengan wajah yang serius. Aku tertawa tanpa suara. Mungkin memang ide itu sedikit gila. “Apa kamu menyukainya?” tanyanya lagi. Suka? Apa mungkin dalam waktu sesingkat itu? Hatiku bahkan masih terasa kebas. Tak ingin jatuh cinta. “Dia memang bukan wanita yang hebat dalam karirnya. Tapi Ibu yakin jika dia wanita yang hebat untuk keluarganya. Dia memiliki hati yang lembut, walau jiwanya setegar karang.” Ibu berucap dengan tatapan menerawang jauh. “Apa Ibu menyukainya?” Aku justru balik bertanya. “Eh?” Ibu mengalihkan tatapannya padaku dan terlihat salah tingkah. “Emh, Ibu … emh … tentu saja menyukainya. Dia gadis yang sangat baik juga cantik,” jawabnya tersipu. Mungkin dia tidak mau memaksakan kehendaknya padaku. Tapi Ibu benar, Yasmin gadis yang sangat baik. Mungkin jika aku tidak pernah mengenal Vira, aku akan mudah menyukainya sebagai wanita. Entah kenapa, sejak Ibu sering menceritakan kebaikan-kebaikan Yasmin selama beliau tinggal dengannya, hatiku mulai terusik. Setiap kejadian yang menimpa kami seolah kebetulan. Apakah ini justru pertanda dari Tuhan jika dia adalah wanita yang cocok untuk mendampingiku dan merawat Ibu di kampung? “Besok Ibu mau pulang ke Suniagara. Apa kamu tidak keberatan untuk mengantar Ibu berpamitan pada Yasmin?” pintanya di hari ke empat beliau di Jakarta. “Tentu saja,” jawabku dan membuat Ibu terlihat bahagia. Aku sengaja pulang lebih awal agar bisa mengantar Ibu menemui Yasmin untuk berpamitan. Ibu memintaku membelikan sekeranjang buah-buahan juga aneka makanan. “Ibu kasihan sama dia, Dit. Ibu lihat dia sering makan mi instan. Tapi waktu ada Ibu di sana, dia membelikan Ibu makanan enak, sementara dia sendiri makan mi rebus.” Lagi-lagi hatiku tersentuh. Dia begitu mengagungkan orangtua. “Kamu tahu waktu Ibu tanya kenapa dia malah makan mi instan?” tanyanya dan aku hanya diam memperhatikan. “Dia bilang, jika itu makanan favoritnya.” Ada setitik air jatuh dari sudut matanya. Beliau secepat kilat menunduk dan menyekanya dengan punggung tangan. Demi permintaan Ibu, aku pun membeli sekeranjang buah-buahan juga makanan untuk stoknya selama beberapa hari. Aku bawakan daging, sayur juga beberapa makanan kaleng. “Ibu!” pekiknya saat kami tiba di rumah kontrakan sempit itu. Ada satu keanehan yang aku tangkap. Di wajahnya terdapat luka-luka. Dia juga seperti habis menangis. Apakah ini ada hubungannya dengan malam itu? Waktu aku mengantarnya pulang dan terlibat perkelahian dengan Mas Agus? “Neng Yasmin kenapa?” tanya Ibu dengan nada khawatir. Dia menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, Bu. Tadi saya kepeleset di tempat kerja,” jawabnya sambil melirik padaku. Dia tahu jika aku curiga. “Coba dicek, Dit. Apakah ada yang bahaya,” pinta Ibu. Aku menganngguk dan memintanya untuk duduk agak menjauh dari Ibu. Dari penampakannya aku yakin jika itu bukan memar karena terjatuh, tetapi aku menangkapnya jika itu bekas pukulan. “Apa ini karena Mas Agus?” tanyaku berbisik agar tak terdengar oleh Ibu. Dia mendongak perlahan. Mata bulatnya menatapku seolah takut aku tahu segalanya. “Maaf, jika aku sudah membuatmu susah,” ucapku lagi pelan. Dia menggeleng. “Mas Agus memang begitu. Tapi jangan takut, aku bisa melawannya,” jawabnya pelan. Aku mendengus pelan. “Bisa melawan dengan hasil babak belur begini?” tanyaku. Dia tertawa pelan. Gadis macam apa ini? Dalam keadaan terluka masih saja bisa tertawa. “Jangan khawatir, aku akan segera pindah kerja biar dia tidak bisa memukulku lagi,” katanya dengan isak yang mulai terdengar. Dia menunduk dalam. Aku menghela napas panjang. “Apa kamu mau jika bekerja denganku di kampung?” tanyaku dan membuatnya mendongak seketika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN