Hari berganti hari minggu pun berganti minggu, keadaan Nela sudah mulai membaik. Gadis yang dulu bar-bar petakilan dan juga selengekan, kini terlihat pendiam, tatapannya dingin, bibirnya akan tersenyum ketika ia mengingat kejadian yang menimpanya. “Sekarang katakan sama, Mas. Siapa pria yang memaksamu hamil anaknya?” tanya Arnelo. “Aku sudah bilang kan, jangan membahas dia lagi. Aku tidak mau mengingat hal itu lagi. Jangan menyebut pria itu lagi. Biarkan aku hidup damai dengan calon anakku,” ucap Nela. Arnelo menghela napasnya dengan berat, ia ingin marah dan berteriak kepada adiknya itu, tapi ia mencoba menahannya, karena mental Nela adalah yang terpenting saat ini. Ia tahu jika adiknya itu dipaksa untuk hamil, bodohnya dia sebagai seorang Kakak, malah tidak sadar dengan penampilan Nel

