Rafka membeku beberapa detik setelah mendengar kalimat “dimakan aku”. Tatapannya langsung berubah dari lembut… menjadi sesuatu yang membuat lutut Anggita terasa lemas. “Gita…” Suara Rafka menurun, berat, rendah, dan penuh peringatan manis, “…kamu jangan ngomong gitu kalau nggak siap.” Anggita hanya mengangkat dagu. Aries—penuh tantangan. “Aku keliatan nggak siap?” Dalam satu gerakan, Rafka mengangkat tubuh Anggita dari pangkuannya, menggendongnya bridal style. “Rafkaaa—” “Hus,” bisiknya tepat di telinga, membuat seluruh tubuh Anggita merinding. “Malam ini… kamu bukan cuma dimanja. Kamu disayangi habis-habisan.” Anggita memeluk leher Rafka lebih erat. Anggita masih berada di dalam gendongannya, tubuhnya menghangat pelan, seperti bara kecil yang baru dikipas. Napasnya mengenai leher

