Bel pintu berbunyi tepat setelah Anggita selesai membereskan meja makan. Tubuhnya masih terasa berat karena nyeri haid dua hari pertama belum benar-benar hilang, tapi aroma teh jahe hangat yang Rafka buat tadi pagi sedikit membantu meredakan. Ia membuka pintu perlahan. “Mamaaa!” Suara Rafka dari belakangnya mendahului Anggita menyadari siapa tamunya. Imelda, mama Rafka, tersenyum semanis biasanya—senyum khas ibu yang hangat tapi punya karisma seorang wanita mapan. Rambutnya yang disanggul rapi dan kemeja hijau zamrud membuatnya terlihat elegan, tapi tatapannya melunak begitu melihat menantunya. “Sayang, kamu pucat. Lagi sakit ya?” Anggita refleks menunduk sedikit, malu. “Hmm… lagi haid, Ma.” “Ohh pantas. Sini, sini mama peluk dulu.” Imelda memeluknya lembut, tidak berlebihan, tapi cu

