Pagi itu, rumah mereka tidak lagi diisi suara muntah dramatis dari kamar mandi. Tidak ada langkah tergesa, tidak ada suara keran dibuka mendadak, tidak ada Rafka yang panik sambil mengetuk pintu kamar mandi dengan wajah pucat seperti orang yang baru menyadari hidupnya bisa berubah total dalam satu malam. Pagi itu sunyi dan tenang. Rafka sudah kembali ke versi dirinya yang lebih stabil—walau masih sesekali menatap gelas protein shake di meja dapur dengan ekspresi trauma, seolah minuman itu pernah mengkhianatinya di kehidupan sebelumnya. Ia berdiri cukup lama, menimbang-nimbang, lalu mendorong gelas itu menjauh beberapa sentimeter. Anggita memperhatikan dari ambang pintu dapur, menyandarkan bahu ke kusen sambil menyilangkan tangan. Senyum kecil terbit di bibirnya, senyum yang tidak disadar

