Kehamilan Anggita memasuki minggu keempat. Masih sangat awal. Terlalu awal, kata dokter. Terlalu rapuh, kata Rafka dan terlalu menyesakkan, kata Anggita—dalam hati. Pagi itu, Anggita bangun dengan tubuh yang sebenarnya baik-baik saja. Tidak mual. Tidak pusing. Tidak lemas. Ia bahkan sempat berdiri di depan cermin kamar mandi, mengikat rambutnya, lalu tersenyum kecil pada pantulan dirinya sendiri. Ia hamil. Fakta itu masih terasa asing, tapi tidak menakutkan. Yang menakutkan justru… suaminya. “Gita sayang.” Suara Rafka terdengar dari belakang, terlalu cepat, terlalu siaga. “Iya?” Anggita menoleh. “Kamu jangan berdiri lama-lama.” “…aku cuma ikat rambut.” “Duduk aja. Aku ambilin kursi.” “Raf—” Rafka sudah bergerak. Menarik kursi kecil dari sudut kamar, meletakkannya tepat di depan w

