Pagi itu, matahari Jepang menyelinap masuk lewat kisi-kisi kayu shoji, menebarkan cahaya keemasan yang lembut. Aroma kayu hinoki samar-samar memenuhi kamar, memberikan kesan hangat dan damai. Burung kecil di luar jendela terdengar seperti menyanyi menyambut pagi. Sayangnya, suasana damai itu tidak berlaku untuk Anggita. Karena dia terbangun bukan oleh cahaya matahari melainkan oleh Rafka yang sedang jongkok di samping ranjang, menatap wajahnya seperti arkeolog baru menemukan fosil langka. “…Apa? Kamu sudah bangun?” gumam Anggita dengan suara serak. "Udah dari tadi." "Kamu liatin aku sejak tadi?" Rafka langsung nyengir, “My little wife cantik banget pas bangun tidur.” “Rafka, sumpah, kalau kamu foto aku—” “Aku nggak foto,” katanya cepat, lalu menoleh ke samping. Di meja kecil: HP-ny

