Bab 11 Rumah yang dituju

1128 Kata

Sinar matahari masuk perlahan melalui tirai jendela kamar, menari di lantai kayu. Anggita membuka mata, sedikit pusing tapi senyum kecil tersungging begitu menyadari siapa yang ada di sampingnya. Rafka masih terlelap, posisi setengah telentang dengan satu tangan melingkari pinggangnya. “Rafka…” gumamnya pelan. “Bangun, dong. Sarapan dingin nanti. Biasanya kamu selalu bangun pagi, lho.” Pria itu mengerang pelan, wajahnya masih tertidur tapi bibirnya membentuk senyum tipis. “Lima menit lagi… Gara-gara kamu, aku kelelahan semalam,” gumamnya setengah mengeluh. Anggita menggeleng, menahan tawa. “Dih, harusnya aku yang bilang begitu, tauk. Bangun atau aku mandiin, nih!” katanya pura-pura mengancam. Rafka membuka mata setengah sadar, lalu mendelik. “Mandikan aku? Di sini? Gila, Gita.” “Ter

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN